
Marijo bergegas mendatangi kediaman Ki Broto Seno ditemani oleh istrinya.
"Selamat malam Aki, maaf malam-malam begini menganggu istirahat anda. Saya terpaksa datang kemari karena suami saya terus kesakitan, dan dia bilang hanya Aki yang bisa menyembuhkannya," Sriti istri Marijo
"Kau terlihat begitu pucat, pasti kau sangat kesakitan karena luka di punggung mu itu,"
Ki Broto mendekati Marijo kemudian memeriksa punggungnya.
"Apa masih sakit?" tanya Ki Broto
"Tentu saja, rasa sakit ini sangat menyiksaku hingga Aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Aku begitu tersiksa karena ini dan rasanya aku ingin mati saja daripada terus menanggung rasa sakit ini seumur hidupku," sahut Marijo
"Rasa sakit itu akan segera berakhir dan menghilang jika saja kau mau meminta maaf kepada Tejo atas apa yang telah kau lakukan padanya. Selain rasa sakit dipunggung mu menghilang, karma mu yang selama ini telah memenjarakan dirimu dalam Neraka, juga akan berakhir saat Tejo mau memaafkan dirimu." jawab Marijo
"Kalau begitu pertemukan aku dengan Tejo, aku janji akan meminta maaf kepadanya. Aku juga tidak akan mengganggu Tapa Brata nya," ucap Marijo
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Ki Broto
"Tentu saja, kau boleh membunuh ku jika aku yak menepati ucapan ku," tantang Marijo
"Baiklah aku percaya,"
"Tapi mereka tidak akan percaya jika aku datang ke sana tanpa sesuatu yang bisa membuatnya percaya kalau aku memang sudah mendapatkan restu darimu," sahut Marijo
"Tunjukkan cincin ini jika mereka menyangsikan ucapan mu," Ki Broto Seno
Marijo menyeringai saat mendapatkan cincin sakti milik Ki Broto Seno.
Ditemani beberapa anak buahnya, Marijo bergegas menuju ke hutan Ijen mencari keberadaan Arya Tejo.
"Aku harus membunuhnya agar hidup ku bisa tenang. Aku tidak mau terus menerus hidup menderita seperti sekarang. Aku tidak pernah bisa menikah dengan wanita yang kucintai seumur hidup ku. Aku tidak mau keturunan ku menanggung karma hanya bisa menikah dengan Wanita yang tidak mereka cintai. Cukup aku yang merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka, karena tidak bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Cukup aku yang menjalani karma ini dan aku juga yang harus mengakhirinya di sini." ucap Marijo
Setibanya di Alas Ijen Marijo langsung menyembelih seekor anj*ng hutan untuk memancing Arya Tejo keluar.
Namun seberapa banyak ia membunuh hewan itu, Arya Tejo tak kunjung keluar dari tempatnya bertapa.
"Baiklah, jika cara ini tidak berhasil maka aku punya cara lain untuk memancing mu keluar,"
Marijo sengaja mengutus anak buahnya untuk menemui Bayu agar menemuinya.
"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Bayu
"Ki Broto memerintahkan aku untuk memberikan darah ini kepada Arya Tejo," jawab Marijo sembari memberikan sebotol darah Anj*ng hutan padanya.
"Kenapa bukan Aki sendiri yang datang ke sini, lagipula sekarang adalah waktunya ia untuk datang mengunjungi kami. Jadi untuk apa mengutus mu kemari?" tanya Bayu
"Itu karena dia sedang sakit, sehingga beliau mengutus ku datang menemui kalian," sahut Marijo
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, jika kau benar-benar diutus oleh Guruku," ucap Bayu
"Apa benda ini cukup untuk membuktikan bahwa aku tak membohongi mu?" tanya Marijo menunjukkan sebuah cincin sakti milik Ki Broto
Bayu memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Baiklah aku percaya padamu," jawab Bayu kemudian mengajak Marijo menemui Arya Tejo
Dasar bodoh, kau memang terlalu bodoh sehingga mudah dikelabui.
Marijo diam-diam mengambil senjata api miliknya dan menebak Bayu hingga lelaki itu tewas.
Dor, dor, dor!!
Burung-burung seketika berterbangan meninggalkan hutan setelah mendengar bunyi letusan senapan api.
"Sekarang penjaga mu sudah tewas, jadi bersiaplah untuk menyusulnya Arya Tejo, hahaha," ucap Marijo tertawa
Ia segera menuju gua tempat Arya Tejo melakukan tapa Brata.
"Kenapa kau selalu menganggu ketenangan ku Marijo, tidak bisakah kau melihat aku sekali saja," ucap Tejo berdiri di belakang Marijo
Tentu saja Marijo terkejut bukan main saat sudah berdiri di belakangnya. Ia segera berbalik dan menodongkan senjata apinya, namun Tejo dengan cepat merebut senjata api itu dan kemudian menghancurkannya.
"Sekarang hanya kita berdua, aku tidak menyesal tapa Brata ku gagal. Asal aku bisa membunuhmu itu sudah membuat ku bahagia Marijo," Tejo segera mengangkat tubuh Marijo
Ia kemudian melemparkannya hingga tubuh Marijo terhempas menghantam pepohonan.
Arya Tejo kembali menyeret lelaki itu kemudian menghajarnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
"Bunuhlah aku Tejo, jika kau ingin membalas dendam kepada ku. Tapi kau harus tahu jika kau membunuhku maka kau akan selamanya hidup abadi sebagai seekor Asu Baung. Dan itu juga berarti bahwa aku dan keturunan ku tidak akan menabung karm atas dirimu. Jadi lakukanlah, bunuh aku sekarang Tejo!" seru Marijo
Mendengar ucapan Marijo, Aryo Tejo mulai bergeming, iapun akhirnya mengurungkan niatnya. Lelaki itu melangkah mundur dan kuku-kukunya yang tajam tiba-tiba menghilang dari jari-jari tangannya.
Marijo menyeringai melihat kebimbangan di mata Arya Tejo. Ia segera mengambil sebuah belati dari balik bajunya dan kemudian menikam jantung Arya Tejo.
"Matilah kau Asu Baung!" serunya kemudian menarik pisau itu dari tubuh Arya Tejo
"Kali ini aku tidak mau gagal lagi untuk kedua kalinya. Aku harus memastikan sendiri kau benar-benar mati kali ini," Marijo kemudian menarik sebuah golok dari sarungnya dan menebas Kepala Arya Tejo
Seketika Angin berhembus kencang, pepohonan pun roboh satu persatu membuat anak buah Marijo berlarian meninggalkan hutan Ijen.
"Kau benar-benar iblis Marijo, aku pastikan kau dan keturunan mu akan terus mencari ku untuk meminta pengampunan dari ku atas apa yang sudah kau lakukan padaku hari ini!" suara Tejo menggema membuat Marijo begitu ketakutan
"Bagaimana mungkin kau bisa hidup lagi setelah aku membunuh mu," ujar Marijo
Lelaki itu menatap kepala Tejo yang tergeletak di tanah, ia kemudian menghampirinya.
Perlahan ia mengambil kepala serigala itu dan menatapnya lekat.
"Apa benar kau begitu sakti hingga tak bisa mati?" tanya Marijo
Mendadak Tejo membuka matanya membuat Marijo yang ketakutan langsung melemparkan kepala itu.
"Hahahaha, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu Marijo!" teriak Arya Tejo
Ia kemudian melesat dan mengejar Marijo yang melarikan diri. Tejo berhasil mengigit punggung Marijo hingga membuat lelaki itu mengerang kesakitan.
"Arrrrrghhh!!"
"Apa yang terjadi Aki?" tanya Guntur saat mendengar Ki Brojo Anom berteriak kesakitan
"Ah tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja tadi," jawab Ki Brojo Anom.
"Apa ada sesuatu yang menyakitimu?" tanya Guntur lagi
"Hanya seekor nyamuk, dan itupun sudah aku bunuh," jawab Brojo Anom
"Oh begitu rupanya. Baiklah kalau begitu aku pamit dulu Aki,"
"Hmm, pergilah...." sahut Brojo Anom kemudian mengantarkan Guntur hingga ke depan pintu rumahnya.
"Kenapa rasanya begitu nyata, aku seperti benar-benar merasakan jika Arya Tejo mengigit punggung ku," Brojo Anom kemudian melepaskan kaos yang dipakainya dan berdiri di belakang cermin.
"Apa benar luka ini adalah kutukan dari Arya Tejo, apa benar semua keturunan Marijo memiliki luka yang sama di punggungnya??"
"Jika benar begitu, maka aku harus segera mengembalikan kalung ini kepada Arya Tejo. Karena hanya dengan mengembalikan kalung ini maka aku bisa membunuhnya. Aku pastikan akan membalaskan dendam leluhur ku atas apa yang kau lakukan pada mereka Tejo," ucap Brojo Anom mengepalkan tangannya.