
*Srak, srak, srak!!
Mendengar ada suara orang mendekat, Tejo segera memeluk Surti dan membawanya terbang bersembunyi di pepohonan.
"Itu Marijo, mereka pasti akan membunuh mu jika melihat kita bersama, sebaiknya bawa aku pergi bersama mu. Aku tak mau hidup bersama lelaki seperti dia," ucap Surti
"Jejaknya masih hangat, pasti dia belum jauh dari sini," ucap Marijo mengendus jejak kaki Surti
Lelaki itu kemudian menatap ke sekelilingnya, mencari keberadaan keduanya.
"Jika benar ini jejak Surti, berarti Tejo masih hidup," ucap Marijo
Aku harus segera menemui Ki Ponijan, aku yakin Tejo dan Surti akan ke sana untuk mencari tahu tentang kalung Serigala yang ku ambil. Aku harus segera ke sana sebelum mereka datang.
Marijo kemudian meninggalkan hutan dan menuju kediaman Mbah Ponijan.
*Braakkkk!!!
Marijo segera mendobrak pintu rumah Mbah Ponijan dan mengobrak-abrik isi rumahnya.
"Kenapa kau merusak kediaman ku Marijo," ucap Ponijan bangun dari persemediannya
Lelaki itu menatap lekat kearah kalung yang melingkar di leher Marijo.
"Ternyata ada yang mencuri kalung itu darinya, aku yakin dia sudah menjadi Asu Baung sekarang." ucap lelaki itu kemudian menyalakan rokoknya dan duduk di kursinya.
"Ketahuilah Marijo, kalung itu tidak akan pernah bisa berfungsi sebagaimana mestinya jika sang penunggunya telah meninggalkannya. Kau telah memulai sebuah karma yang akan kau jalani sampai anak cucumu nanti. Sekarang Tejo mungkin sudah menjadi sosok Asu Baung, dan dia akan semakin sakti jika berhasil menemukan sang balung wangi yang bisa menjadikannya manusia kembali," terang Mbah Ponijan mengepulkan asap rokoknya
"Apa itu balung wangi?" tanya Marijo
"Balung wangi adalah manusia pilihan yang mana semua mahluk gaib sangat menginginkannya karena aromanya yang begitu menggoda. Bagi para lelembut, iblis ataupun siluman, balung wangi adalah sumber kekuatan mereka. Bagi mahluk gaib yang berhasil memakannya maka ia akan menjadi sakti mandraguna. Kau telah mengambil kalung itu, maka bersiaplah menerima karma seumur hidup mu dan tujuh keturunan mu. Kau tidak akan pernah bisa menjadi kaya dan akan terus hidup dalam kekurangan." jawab Mbah
"Kalau begitu aku akan mengembalikan kalung ini padamu karena percuma saja aku memilikinya jika aku tidak bisa menjadi sakti apalagi aku harus hidup miskin seumur hidup ku, aku tidak mau!" sahut Marijo
"Nasi sudah menjadi bubur, kalung itu memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan mu makan terimalah nasibmu." sahut Mbah Ponijan
"Aku tidak mau menjalani karma seumur hidupku, kau yang memberikan kalung ini pada Tejo maka kau juga yang harus membantu ku melepaskan karma itu," ucap Marijo menarik kerah baju Mbah Ponijan
"Hanya kau dan keturunan mu yang bisa mengakhiri karma itu bukan aku,"
"Katakan padaku bagaimana caranya aku bisa mengakhiri karma itu!" selidik Marijo
"Karma sudah dimulai sejak kau berusaha menikahi kekasih Tejo, dan seterusnya kau akan selalu kehilangan benda ataupun orang-orang yang kau sayangi." jawab Ponijan
"Persetan dengan Surti, yang penting sekarang katakan bagaimana caranya aku bisa mengakhiri karma itu!" hardik Marijo mengguncang tubuh Ponijan.
"Baca saja buku tua milikku itu, kau pasti akan menemukan cara untuk melepaskan karma itu," sahut Ponijan
"Aku hanya ingin mendengarnya dari mulutmu jadi katakan padaku atau aku terpaksa membunuh mu," ancam Marijo
"Bunuhlah aku, dan aku pastikan kau dan keturunan mu akan terus mencari keturunan ku untuk menanyakan hal itu padaku. Bukankah lebih baik mati di tanganmu daripada mati di tangan siluman itu," jawab Ponijan
"Kau benar-benar ingin mati rupanya, kau sudah memancing kemarahan ku jadi jangan salahkan aku jika aku akan membunuh mu," ucap Marojo kemudian menghunuskan belati ke jantung Ponijan
"Sekarang pergilah ke Neraka, dukun sialan!"
"Kau benar-benar manusia serakah yang tak tahu diri, kelak keturunan ku yang akan membunuh mu sebagai karma atas perbuatan mu padaku," ucap Ponijan
"Jangan mengutukku tua bangka!" seru Marijo kembali menikam lelaki itu hingga ia roboh ke tanah.
Sementara itu, setelah memastikan semuanya aman, Tejo kemudian membawa Surti pergi dari hutan. Ia tak punya tempat tujuan hingga memutuskan untuk menemui Mbah Ponijan.
Mendengar ada seseorang yang memasuki rumah itu membuat Marijo segera bersembunyi.
"Hanya di sini tempat teraman untuk kita, dan aku juga ingin menanyakan sesuatu pada Ki Ponijan," sahut Tejo
Lelaki itu kemudian memasuki kediaman dukun itu. Rumah Ki Ponijan terlihat berantakan, seperti habis kerampokan.
Tejo bahkan menemukan sang dukun terkapar dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Siapa yang melakukan semua ini padamu Aki?" tanya Tejo
"Ternyata benar dugaan ku, kau berjodoh dengan Pangeran Adipala Sayuti. Meskipun kau tidak memiliki kalung itu kau bisa memiliki kekuatannya," jawab Ki Ponijan
"Apa maksudnya?"
"Percayalah padaku, lebih baik kau tidak memakai kalung itu lagi seumur hidup mu jika kau masih ingin tetap menjadi manusia." jawab lelaki itu
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali menjadi manusia?" tanya Tejo lagi
"Suatu saat kau akan tahu bagaimana caranya kembali menjadi manusia," jawab Ki Ponijan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
*Tak, tak, tak!!
Marijo segera menodongkan senjata apinya kepada Tejo.
"Marijo!" seru Surti
Namun gadis itu tak bisa berbuat apa-apa karena anak buah Marijo langsung membekapnya.
"Ternyata benar ucapan dukun itu, kau berubah menjadi Asu Baung setelah aku mengambil kalung mu. Tapi sayang sekali kau tidak akan pernah menjadi manusia lagi karena aku akan menghabisi mu disini," ucap Marijo menodongkan senapannya dipelipis Tejo
"Aku yakin bisa mengakhiri karma itu jika aku berhasil mengirim mu ke alam baka sekarang. Dan aku akan menggantikan posisi mu untuk menikahi Surti dan menjadi pewaris tunggal Lurah Mardiyono," Marijo segera menarik pelatuk senjata apinya dan menembakkan beberapa peluru ke kepala Tejo.
"Tejo!!!" seru Surti saat menyaksikan tubuh kekasihnya ambruk ke lantai.
"Kali ini aku harus memastikan jika kau benar-benar mati agar kau tak mengganggu kehidupan ku lagi," ujar Marijo kembali menembakkan peluru ke jantung Tejo
Tak puas melihat Tejo terkapar di lantai ia juga menikam leher Asu Baung untuk memastikan ia sudah mati.
"Sekarang tamatlah riwayat mu Tejo, dan aku tidak akan pernah menanggung karma mu karena aku sudah membunuhmu," Marijo menyeringai dan kemudian meninggalkan kediaman mbah Ponijan.
"Lingsir wengi (Saat menjelang tengah malam),
Sepi durung biso nendro (Sepi belum bisa tidur)
Kagodho mring wewayang (Tergoda dengan bayangmu) Angreridhu ati (Di dalam hati). Kawitane (Awal mulanya), Mung sembrono njur kulino (Cuma bercanda terus terbiasa)
Ra ngiro (Tidak menyangka), Yen bakal nuwuhke tresno (Kalau bisa menjadi cinta)."
Sayup-sayup terdengar suara seorang sinden menyanyikan lagu Lingsir wengi di malam pernikahan Marijo dan Surti.
Surti yang begitu membenci Marijo berusaha mencari sesuatu untuk bunuh diri. Ia kemudian mengambil sebuah pisau kecil dan menyayat urat nadinya. Namun Marijo berhasil memergokinya dan segera menggagalkan rencana bunuh diri Surti.
"Aku tidak mau terkena karma dengan kehilangan wanita yang ku sayangi. Baiklah karena kau begitu ingin mati maka aku akan mengabulkan keinginan mu agar kau bisa menemui Tejo di Neraka." Marijo kemudian merebut pisau dari tangan Surti dan menyayat leher gadis itu hingga ia jatuh tersungkur ke lantai.
"Sekarang aku sudah menghapus karma itu dengan membunuh, karena itu berarti aku tidak kehilangan atau ditinggalkan orang-orang yang ku sayangi tapi aku yang membuangnya, hahahaha!" ucap Tejo terkekeh
**********
Mencium aroma darah sang kekasih membuat Tejo bangkit dari kematian. Luka-lukanya tiba-tiba menghilang dan ia kembali hidup seperti sedia kala.
"Marijo... tunggulah pembalasan ku!" pekiknya