INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Kamar Rahasia



Satu jam perjalanan, akhirnya Luci dan Gili tiba juga di rumah Arya.


*Buuggghhh!!.


Gili segera menutup bagasi mobilnya membawakan belanjaan Luci.


Sementara itu mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya membuat Arya segera melihat siapa yang datang mengunjunginya.


"Ah, biar aku saja yang membawa belanjaannya, Mas Gili tidak perlu repot-repot membawanya," ucap Luci merebut belanjaan di tangan Gili


"Seorang lelaki sejati tidak akan pernah membiarkan seorang wanita kesusahan, jadi biar aku saja yang membawanya, ok." jawab Gili kemudian merebut kantong belanjaan dari tangan Luci


Dasar modus,


Arya terlihat kesal melihat drama Gili dan Luci.


Luci akhirnya mengalah dan membiarkan Gili membawa masuk belanjaanya ke rumah Arya.


"Kenapa pagi-pagi begini hatiku terasa begitu nyeri," ucap Arya saat melihat keduanya dari balkon


"Itu tandanya kamu jelous sama mereka," celetuk Leo menghampirinya


"Tidak mungkin, mana mungkin aku cemburu dengan Gili, tidak mungkin lelaki perfect seperti dia menyukai Luci si upik abu bukan?"


"Bisa saja, buktinya Arya Tejo sang Raja nan rupawan juga sudah mulai mabuk kepayang dibuatnya, apalagi seorang jones seperti Gili," sahut Leo


"Lihat saja, ia begitu antusias membawakan belanjaan Luci, kalau bukan karena cinta semuanya mustahil terjadi pada cowok angkuh seperti dia," imbuh Leo


"Lihat saja keduanya begitu Cute, uunch tidak ku sangka dibalik sikap dingin dan angkuhnya ternyata Gili itu cowok yang sweat dan romantis,"


"Biasa saja, aku yakin pasti dia sedang tebar pesona atau ada udang di balik bakwan," cibir Arya


"Dia bisa saja modusin banyak wanita cantik, tapi kenapa ia malah memilih Luci yang buruk rupa. Memang Cinta membutakan segalanya," sahut Leo


"Ish!!" cibir Arya


"Sepertinya aku harus tanya sama Luci, pelet apa yang dipakainya hingga para cogan begitu tergila-gila dan menempel padanya, bukan hanya CEO saja yang tergila-gila karenanya, tapi sekuriti kompleks juga sepertinya terkena jerat asmara sang penakluk pria," tutur Leo terkesima menatap kegusaran Guntur yang terus menatap Luci dari kejauhan.


"Sepertinya saingan mu bertambah satu Jo, dan kamu tidak bisa meremehkan Guntur, meskipun dia hanya seorang satpam komplek. Tapi dia itu seperti kuda hitam yang siap melibas siapapun yang mendekati Luci. Aku bisa mengendus aroma sang juara darinya," imbuh Leo


Luci kemudian mempersilakan Gili untuk menunggu Arya Tejo di ruang tamu.


"Tunggulah di sini, aku akan memberitahu Mas Arya jika kau sudah datang," ucap gadis itu


"Ok,"


"Btw Mas Gili mau minum apa?" tanya Luci


"Apa aja, asalkan kau yang membuat pasti semuanya terasa enak," jawab Gili


"Ah Mas bisa aja," ucap Luci tersipu-sipu


"Ehekkk, ikan hiu makan sate bulus, cie-cie ada yang modus!" seru Arya


"Halo Arya, maaf aku datang tanpa memberitahu mu sebelumnya," ucap Gili segera beranjak dari duduknya


"Memangnya kita cukup dekat untuk saling berkunjung saat liburan seperti ini?" tanya Arya sinis


"Oh itu... maksud saya datang kesini adalah untuk membicarakan masalah rapat kerja kita besok," jawab Gili


"Kenapa tidak menelpon saja, dan untuk apa repot-repot datang kemari?"


"Itu Karena aku begitu tertarik dengan mu dan ingin tahu banyak tentang dirimu," terang Gili


"Sorry aku masih normal dan aku tidak tertarik dengan laki-laki," jawab Arya kemudian duduk di sofa


Luci tertawa kecil saat mendengar ucapan Arya.


"Memangnya ada yang lucu, kenapa kamu tertawa?" tanya Arya membuat Luci segera berhenti tertawa


"Oh itu..., itu karena kalian berdua begitu lucu, meskipun kalian belum akrab tapi sepertinya kalian klop," jawab Luci


"Klop???" tanya Arya dan Gili bersamaan


"Iya klop kaya anak kembar yang terpisah sekian abad dan kini bertemu lagi, benar begitu Lu?" tanya Leo


"That's right baby," jawab Luci kemudian bergegas meninggalkan mereka


**********"


"Assalamualaikum!"


Vie segera beranjak dari tempat tidur begitu mendengar ada yang datang mengunjunginya.


"Waalaikum salam," jawab gadus iyu dengan senyum mengembang ketika dilihatnya seorang sahabat lamanya yang datang berkunjung.


"Kamu apa kabar Vie?" tanya gadis sambil memeluk Vie erat


"Alhamdulillah aku baik Prim, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Vie kemudian mengajak gadis itu masuk dan duduk


"Alhamdulillah sehat Vie, btw aku turut sedih loh pas denger ibu kamu jatuh sakit dan harus dirawat lama di rumah sakit. Kamu pasti sedih dan kesepian karena ibumu masih di rawat di rumah sakit bukan?. Semoga kamu sabar menghadapi ujian ini, aku yakin ibumu akan cepat sembuh lagi Vie. So jangan sedih dan terus semangat," ucapnya sambil menyemangatinya


"Tentu saja, thanks ya Prima doanya. Semoga besok Ibuku sudah diijinkan untuk pulang dari rumah sakit," sahut Vie


"Sama-sama Vie, btw sekarang kamu kerja dimana?" tanya Prima


"Masih seperti dulu, SPG rokok," jawab Vie santai


"Sayang sekali kalau mahasiswa seperti dirimu harus bekerja sebagai SPG, kenapa kamu gak coba cari kerjaan lain saja yang sesuai dengan jurusan mu," tutur Prima


"Susah, aku sudah beberapa kali mencoba melamar kerja tapi tak satupun diterima, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi SPG rokok," jawab Vie sinis


"Apa kamu tidak bosen bekerja bertahun-tahun bekerja sebagai SPG?" tanya prima


"Tentu saja gue bosen banget, tapi mau gimana lagi?. Andai saja ada yang mau menawari ku pekerjaan yang bagus dengan gaji yang lumayan, pasti aku mau banget tuh,"


"Kebetulan banget Vie, di sekolah tempat ku ngajar lagi butuh guru IPS tuh, kamu mau gaK ngajar di sana?" tanya Prima


"Emang kamu ngajar dimana?" tanya Vie sumringah


"Di SMP Negeri, kamu mau gak?" jawab Prima balik bertanya


"Bolehlah, tapi gajinya gimana, kalau gajinya lebih kecil dari SPG rokok aku tak mau,"


"Kalau gaji UMR dong, lagipula kerjaan guru itu kan gak banyak dan tidak menghabiskan banyak waktu jadi sesuailah dengan gajinya. Dengan mengajar selain kau bisa menyalurkan ilmu yang kau pelajari selama ini. Kamu juga bisa tetap merawat ibuku, karena punya banyak waktu luang. Dan jika kau memang beruntung kamu bisa ikut seleksi PNS jika ada lowongan," sahut Prima


"Baiklah kalau gitu, sekarang aku buat lamarannya dan aku titipkan lamarannya sama kamu gimana?" ucap Vie


"Gak usah nitip, datang aja langsung ke sana sama aku," jawab Prima


"Ok sip, yaudah tunggu bentar ya. Btw kamu mau minun apa nih?" tanya Vie


"Apa aja yang penting dingin,"


"Ok wait ya," jawab Vie segera menuju ke dapur


Tidak lama Vie keluar dengan membawa segelas minuman dingin untuk sahabatnya.


"Sebaiknya kamu bikin lamaran sekarang, terus kita antar ke sana, supaya besok kamu sudah bisa ngajar," jawab Aida


"Ok, btw lo gak ngajar hari ini?" tanya Vie


"Aku gak ada jam hari ini, makanya aku main kesini," jawab Prima


"Ok, yaudah tunggu bentar ya," Vie segera ke kamar untuk mengambil kertas folio dan alat tulis.


Hampir satu jam Vie membuat lamaran pekerjaan dibantu oleh Prima yang setia menemaninya.


"Akhirnya selesai juga," ucap Vie begitu senang saat berhasil membuat surat lamaran pekerjaan beserta CV nya.


Ia kemudian segera bersiap-siap untuk pergi mengantar lamaran pekerjaan itu bersama Prima.


"Kuy kita jalan!" seru Vie saat sudah rapi


"Ok," Prima segera mengambil kunci motornya dan melesat meninggalkan halaman rumah keluarga Idrus.


Hanya butuh waktu dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba di Sekolah Menengah Pertama yang berlokasi di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan.


Ketika tiba di sekolah itu Vie merasakan ada hawa panas yang menyeruak menerpa wajahnya.


Vie tiba-tiba menghentikan langkahnya saat hendak memasuki halaman sekolah.


"Kenapa berhenti?"


"Apa kamu tidak merasakan sesuatu yang ganjil di sekolah ini," tanya Vie merinding


"Tidak ada apa-apa, mungkin itu hanya perasaan mu saja Vie. Lagian selama aku mengajar di sekolah ini tidak ada hal ganjil terjadi di sini, semuanya aman-aman saja," jawab Prima


"Masa sih kamu gak bisa merasakan ada sesuatu yang tak kasat mata di sekolah ini sedang memperhatikan kita?"


"Ya sudah pasti ada yang selalu mengawasi kita Vi, bukankah ada dua malaikat yang selalu mengikuti kemanapun kita pergi so jangan takut," sahut Prima


"Aku serius Prima, beneran aku takut banget," jawab Aida memegang erat lengan Prima


"Memang sejak kapan kamu punya Indra keenam?" telisik Prima


"Aku tidak punya Indra keenam, tapi entah kenapa aku takut banget saat memasuki sekolah ini. Padahal biasanya aku gak seperti ini." jawab Vie


"Gak papa Vie, namanya juga bangunan peninggalan Belanda, udah pastilah sekolah ini jadi sarang lelembut," jawab Prima enteng


"Tuh kan, tadi kamu bilang sekolah ini aman tapi sekarang kamu bilang begitu," gerutu Vie


"Itu karena aku tidak mau membuat mu takut Vie, lagipula bukan hanya di sekolah ini saja yang ada penunggunya. Hampir di semua tempat aku yakin ada penunggunya, tinggal bagaimana kita saja. Mereka juga tidak akan mengganggu kita jika kita tak mengusik mereka. Seperti kata pepatah, lo asik gue santai, lo usik gue bantai. So jangan takut jalanin aja dulu. Toh buktinya aku sudah mengajar disini selama dua tahun tapi tidak ada kejadian aneh di sini," terang Prima


Vie hanya tersenyum tipis saat mendengar penjelasan Prima. Ia tahu betul jika sahabatnya itu juga sebenarnya sama takutnya dengan dirinya. Namun Ia tidak mau ambil pusing karena Vie memang sedang butuh pekerjaan karena kontrak kerjanya sebagai SPG Rokok akan segera berakhir.


Prima kemudian mengajak Vie masuk ke dalam. Sebelumnya Prima menemui seseorang guru piket yang bertugas hari otu.


"Pagi Bu Melly, Apa Pak Gustaf ada?" tanya Prima kepada guru piket


"Ada tuh, baru saja datang, memangnya ada apa?, apa kamu bawa guru baru ya," jawab wanita itu


"Iya, yaudah aku tinggal dulu ya," sahut Prima


"Ok Bu Rima," jawabnya lembut


Prima kemudian mengajak Vie masuk ke ruangan kepala sekolah.


Kembali bulu kuduk Vie langsung berdiri ketika memasuki ruangan kerja Pak Gustaf Alamsyah sang Kepala Sekolah.


"Silakan duduk," ucap lelaki itu mempersilakan kedua wanita itu duduk


"Selamat siang pak, Perkenalkan dia sahabat saya Oktavia Idrus, dia adalah mahasiswa semester 5 fakultas ekonomi universitas Jayabaya. Saya sengaja mengajaknya kesini untuk mengajukan lamaran pekerjaan sebagai guru IPS pengganti Bu Irna. Untuk lebih jelasnya silakan bapak bisa melakukan interview padanya." ucap Prima membuka percakapan diantara mereka


"Ok, baiklah, kalau begitu bisakah Bu Rima meninggalkan kami berdua sejenak?"


"Tentu Pak," sahut Prima kemudian meninggalkan keduanya


Gadis itu menunggu Vie di meja piket, tak terasa setelah menunggu selama hampir satu jam Vie akhirnya keluar juga dari ruangan pak Gustaf.


*************


*Ting tong!!


Luci segera bergegas keluar saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Bu Wenni?" sapanya saat melihat wanita itu berdiri didepan gerbang rumahnya


"Luci, sedang apa kamu disini?" tanyanya penasaran


"Aku bekerja di sini sebagai Asisten rumah tangga. Kalau ibu sendiri ada perlu apa datang kesini?" jawab Luci balik bertanya


"Aku mengantar pesanan Mas Arya," jawab wanita itu menunjukkan sebuah kendi besar yang dibawanya.


"Apa itu??" tanya Luci penasaran


"Itu sejenis minuman untuk meningkatkan kesehatan Mas Arya," jawab Wenni


"Oh minuman kesehatan rupanya, btw kapan Ibu pulang dari rumah sakit??"


"Aku terpaksa pulang lebih awal karena Vie sakit keras, tidak ada yang merawatnya jadi mau tidak mau aku harus pulang untuk merawat putri ku," jawab wanita itu.


"Kau benar, sudah tiga hari Vie gak masuk kuliah karena sakit. Kalau boleh tahu dia sakit apa Bu?" selidik Luci


"Entahlah, setiap kali aku membawanya berobat ke dokter atau rumah sakit, seketika ia kembali segar bugar dan ceria. Tapi ketika kami kembali ke rumah maka ia kan kembali kesakitan lagi," tutur Wenni getir


"Apa dia kena guna-guna?" tanya Luci semakin penasaran.


Retno hanya mengangkat bahu tak menjawab pertanyaan Luci.


"Memangnya terkahir Vie pergi kemana Bu?"


"Setahuku dia memberitahu aku kalau dia melamar pekerjaan di sebuah sekolah di kawasan pasar Minggu bersama Prima, dan setelah itu Vie jatuh sakit," kenang Wenni


"Memangnya Prima itu siapa tante?"


"Dia adalah teman Vie saat SMA, kebetulan dia datang ke rumah saat Vie memang membutuhkan pekerjaan. Dan dia menawarkan dia untuk melamar di sekolahnya," jawab Wenni


"Aku yakin ada yang tidak beres dengan Prima, kalau boleh tahu dimana alamat sekolah itu, aku harus menemui Prima untuk menanyakan penyebab sakitnya Vie,"


Wenni kemudian mengambil sebuah pulpen dan menuliskan alamat di telapak tangan Luci.


"Ok, terimakasih tante semoga Vie lekas sembuh," ucap Luci


Ia kemudian mencoba mengangkat kendi itu tapi karena terlalu besar gadis itu tak kuat mengangkatnya.


"Biarkan saja kendi itu tetap di sini, Arya pasti akan memindahkannya setelah ia pulang kerja." ucap Wenni menyingkirkan tangan Luci yang terus-menerus mencoba mengangkatnya.


"Tapi bagaimana kalau minuman ini basi?"


"Tidak mungkin, aku selalu mengirimkan darah segar jadi tidak mungkin Basi," jawab Wenni keceplosan


"Apa Darah segar??"


"Maksud ku air yang masih segar," sahut Wenni


"Oh begitu, aku kaget saja saat mendengar kata darah, aku sampai berpikir kalau mas Arya itu seorang vampir yang suka meminum darah segar," ujar Luci


"Mana mungkin ada vampir hidup di jaman sekarang, yang benar saja,"


"Iya Bu, maaf aku terlalu banyak nonton Drakor jadi ya suka ngehalu," jawab Luci


"Kalau begitu aku pamit pulang, kamu hati-hati disini," ucap Wenni berpamitan


"Iya bu, ibu juga hati-hati,"


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Guntur menghampiri keduanya


"Ah kebetulan sekali, kalau boleh Aku minta tolong padamu untuk memindahkan kendi ini ke dalam rumah?" jawab Luci


"Tentu saja, katakan dimana aku harus meletakkannya," sahut Guntur


"Letakan saja di depan kamar mas Arya, biasanya aku selalu meletakkannya di sana," jawab Wenni


"Baiklah, dengan senang hati," jawab Guntur menyeringai


Ia kemudian mengangkat Kendi itu dan membawanya kedalam ditemani Luci.


*Dreet, dreet, dreet!!


"Letakan saja di sini, maaf aku tinggal sebentar Mas Arya telpon," ucap Luci kemudian meninggalkan lelaki itu.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku bisa masuk juga ke rumah ini.


Guntur menatap sekelilingnya, dan netranya segera berhenti di depan kamar bersegel di samping kamar Arya.


"Dilarang masuk selain Sang Raja atau kau akan menanggung akibatnya, ruangan apa ini kenapa semua orang dilarang masuk ke ruangan ini. Aku yakin Arya menyimpan rahasianya di kamar ini. Sebaiknya aku segera masuk sebelum Luci kembali," Guntur perlahan membuka pintu ruangan terlarang itu


*Kriieekkkk!!!


Tiba-tiba saja angin kencang berhembus dan menghisap pemuda itu masuk kedalam kamar itu.


*Wuushh!!!


*Brakkk!!!