INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Terimakasih sudah menyelamatkan sahabatku



*Ting tong!!


Luci segera bergegas keluar saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Bu Wenni?" sapanya saat melihat wanita itu berdiri didepan gerbang rumahnya


"Luci, sedang apa kamu disini?" tanyanya penasaran


"Aku bekerja di sini sebagai Asisten rumah tangga. Kalau ibu sendiri ada perlu apa datang kesini?" jawab Luci balik bertanya


"Oh kau bekerja disini, semoga saja kau betah disini, dan tidak terjadi sesuatu padamu," sahut Wenni


"Apa maksudnya tante?" tanya Luci


"Ah tidak papa, hanya bercanda Lu, Aku datang kesini untuk mengantar pesanan Mas Arya," jawab wanita itu menunjukkan sebuah kendi besar yang dibawanya.


"Apa itu??" tanya Luci penasaran


"Itu sejenis minuman untuk meningkatkan kesehatan Mas Arya," jawab Wenni


"Oh minuman kesehatan rupanya, btw kapan Ibu pulang dari rumah sakit??, bukankah seharusnya tante masih harus dirawat?"


"Aku terpaksa pulang lebih awal karena Vie sakit keras, tidak ada yang merawatnya jadi mau tidak mau aku harus pulang untuk merawat putri ku," jawab wanita itu.


"Kau benar, sudah tiga hari Vie gak masuk kuliah karena sakit. Kalau boleh tahu dia sakit apa Bu?" selidik Luci


"Entahlah, setiap kali aku membawanya berobat ke dokter atau rumah sakit, seketika ia kembali segar bugar dan ceria. Tapi ketika kami kembali ke rumah maka ia kan kembali kesakitan lagi," tutur Wenni getir


"Apa dia kena guna-guna?" tanya Luci semakin penasaran.


Wenni hanya mengangkat bahu tak menjawab pertanyaan Luci.


"Entahlah, setahuku Vie memang orang yang suka ceplas-ceplos, tapi dia tidak punya musuh karena semua teman-temannya tahu bagaimana karakternya," terang Wenni


"Mungkin kena guna-guna pacar kali Tan," tanya Luci lagi


"Kau tahukan kalau Vie itu jomblo jadi mana ada lelaki yang mengirimkan guna-guna padanya,"


"Mungkin dia pernah menolak atau menyakiti seorang pria, atau menyakiti seseorang?. Dab kalau boleh tahu terkahir Vie pergi kemana Bu?"


"Entahlah aku tidak tahu soal itu karena selama ini aku di rumah sakit. Setahuku dia memberitahu aku kalau dia melamar pekerjaan di sebuah sekolah negeri di kawasan pasar Minggu bersama Prima, dan setelah itu Vie jatuh sakit," kenang Retno


"Memangnya Prima itu siapa tante?"


"Dia adalah teman Vie saat SMA, kebetulan dia datang ke rumah saat Vie memang membutuhkan pekerjaan. Dan dia menawarkan dia untuk melamar di sekolahnya," jawab Wenni


"Aku yakin ada yang tidak beres dengan Prima, kalau boleh tahu dimana alamat sekolah itu, aki harus menemui Prima untuk menanyakan penyebab sakitnya Vie,"


Wenni kemudian mengambil sebuah pulpen dan menuliskan alamat di telapak tangan Luci.


"Ok, terimakasih tante semoga Vie lekas sembuh," ucap Luci


Ia kemudian mencoba mengangkat kendi itu tapi karena terlalu besar gadis itu tak kuat mengangkatnya.


Sepertinya, Luci membutuhkan bantuan ku.


Guntur yang memperhatikan Keduanya dari kejauhan segera mencoba mendekati mereka.


"Biarkan saja kendi itu tetap di sini, Arya pasti akan memindahkannya setelah ia pulang kerja." ucap Wenni menyingkirkan tangan Luci yang terus-menerus mencoba mengangkatnya.


"Tapi bagaimana kalau minuman ini basi?"


"Tidak mungkin, aku selalu mengirimkan darah segar jadi tidak mungkin Basi," jawab Wenni keceplosan


"Apa Darah segar??"


"Maksud ku air yang masih segar," sahut Wenni


"Oh begitu, aku kaget saja saat mendengar kata darah, aku sampai berpikir kalau mas Arya itu seorang vampir yang suka meminum darah segar," ujar Luci


"Mana mungkin ada vampir hidup di jaman sekarang, yang benar saja,"


"Iya Bu, maaf aku terlalu banyak nonton Drakor jadi ya suka ngehalu," jawab Luci


"Kalau begitu aku pamit pulang, kamu hati-hati disini," ucap Wenni berpamitan


"Iya bu, tante juga hati-hati," sahut Luci melambaikan tangannya


"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Guntur menghampiri keduanya


"Mas Guntur, Ah kebetulan sekali, kalau boleh Aku minta tolong padamu untuk memindahkan kendi ini ke dalam rumah?. Mas Guntur kuat kan mengangkatnya?" jawab Luci


"Tentu saja, katakan dimana aku harus meletakkannya," sahut Guntur


"Letakan saja di depan kamar mas Arya, biasanya aku selalu meletakkannya di sana," jawab Wenni


"Baiklah, dengan senang hati," jawab Guntur menyeringai


Ia kemudian mengangkat Kendi itu dan membawanya kedalam ditemani Luci.


*Dreet, dreet, dreet!!


"Siapa sih yang menelpon," Luci segera mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungkannya.


"Letakan saja di sini, maaf aku tinggal sebentar Mas Arya telpon," ucap Luci kemudian meninggalkan lelaki itu.


"Hmm, silakan," sahut Arya kemudian meletakkan kendi itu didepan kamar Arya.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku bisa masuk juga ke rumah ini.


Guntur menatap sekelilingnya, " Lumayan besar juga rumah ini, kenapa ia memilih tinggal di rumah sebesar ini seorang diri, kenapa dia tidak mencari pendamping hidup atau sejenisnya. Bukankah dia sudah begitu mapan, lalu untuk apa kekayaannya jika ia terus hidup sendiri," Guntur menatap lekat sebuah foto kuno yang tergantung di ruangan itu.


"Aku yakin wanita itu pasti kekasihnya, dia tidak bisa melupakannya hingga kini. Dan memutuskan untuk hidup sendiri seumur hidupnya,"


Tiba-tiba netranya berhenti di depan kamar bersegel di samping kamar Arya.


"Dilarang masuk selain Sang Raja atau kau akan menanggung akibatnya, ruangan apa ini kenapa semua orang dilarang masuk ke ruangan ini. Aku yakin Arya menyimpan rahasianya di kamar ini."


"Haruskah aku masuk ke kamar ini untuk mencari tahu ada apa didalam sana??" ucapnya begitu bimbang


Dalam hati Guntur begitu ingin masuk kedalam kamar itu namun segel di depan pintu kamar itu membuatnya berkali-kali mengurungkan niatnya.


"Sebaiknya aku segera masuk sebelum Luci kembali, peduli setan dengan karma yang akan aku dapat setelah membuka kamar itu," ucap Guntur


Ia kemudian memantapkan hatinya dan perlahan membuka pintu ruangan terlarang itu.


*Kriieekkkk!!!


Wuushh!


Hawa panas menyeruak keluar saat pintu kamar itu mulai terbuka.


"Ada apa ini kenapa tiba-tiba rumah ini terasa begitu panas," ucap Luci menghentikan obrolannya


"Ada apa, apa sesuatu terjadi denganmu?" tanya Arya khawatir


"Entahlah, tiba-tiba saja ruangan itu terasa begitu panas," jawab Luci


"Apa kau tidak menyalakan pendingin ruangannya?" tanya Arya


"Aku memang tidak pernah menyalakan AC bila si rumah, aku takut kedinginan makanya ku matikan," jawab Luci


"Kalau begitu nyalakan agar kamu tidak kepanasan, pakI suhu ruangan saja agar tidak terlalu dingin,"


"Baik Mas," jawab Luci kemudian menyalakan AC ruang tamu.


Tiba-tiba saja angin kencang berhembus keluar dari ruang rahasia, menyapu semua yang ada di ruangan itu. Guntur segera memeluk pilar bangunan saat angin itu menghempasnya keluar.


*Brakkkk!!


"Wah ada apa ini," ucap Luci segera berpegangan pada kursi saat tiba-tiba ia merasakan angin berhembus kencang kearahnya


*Brakkkk!!


"Suara apa itu?" tanya Arya


"Lukisan di dinding jatuh Mas, huaa... sepertinya ada gempa!" seru Luci membuat Arya Tejo segera matikan ponselnya.


Setelah gempa kilat selesai tiba-tiba Luci merasakan ada sesuatu yang menariknya. Ia berusaha memegang sesuatu yang bisa menahannya agar tidak terhisap oleh kekuatan gaib itu.


Arya yang sudah merasa sesuatu yang buruk terjadi di rumahnya segera melesat kembali ke rumahnya.


*Wuushh!!!


*Grep!!


Ia segera menarik tubuh Guntur dan melemparkannya keluar dari ruang rahasianya.


*Brakkk!!!


"Argghh!!" Guntur mengerang kesakitan saat tubuhnya menghantam furniture ruang tamu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Luci menghampiri pemuda itu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lecet tidak masalah," jawab Guntur


Arya yang begitu geram dengan tingkah Guntur segera menarik kerah baju pemuda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Mungkin hari ini kau masih bisa selamat dari maut, tapi aku tidak bisa menjamin jika kau mengulangi lagi perbuatan konyol itu. Jangan pernah kepo dengan sesuatu yang seharusnya tidak kau tahu karena itu bisa menjadi kesialan bagi hidupmu," tutur Tejo kemudian menghempaskan tubuh Guntur hingga menghantam dinding ruangan.


*Buuggghhh!!!


"Arrrrrghhh!!" pekik Guntur memegangi punggungnya yang terasa remuk.


"Bawa dia pergi dari sini sebelum aku membunuhnya!" seru Arya membuat Luci segera berlari menghampiri Guntur dan membawa pemuda itu pergi meninggalkan rumah itu.


"Sebenarnya apa yang kau cari di rumah ini Arya, aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku,"


*********


Malam harinya Luci sengaja meminta ijin kepada Arya untuk menjenguk Vie yang sedang sakit.


"Aku akan mengijinkan mu jika kau tidak pergi sendirian menjenguk temanmu itu,"


"Kalau begitu aku akan menjenguk Vie bersama Mas Guntur," jawab Luci sumringah


"Tidak boleh, aku tidak akan memberimu izin jika kau menjenguk bersama dengan Guntur,"


jawab Arya Tejo


"Kenapa tak boleh pergi dengan dia??" tanya Luci


"Apa kau lupa kalau Guntur sedang terluka karena kecelakaan tadi siang. Tentu saja aku tidak mengizinkan mu pergi dengan lelaki yang sedang terluka parah, karena itu berarti dia tidak akan bisa melindungi saat kau dalam bahaya. Cari teman yang lain selain Guntur," jawab Arya Tejo


"Kau tahu kan aku tidak punya teman selain Vie dan Guntur, jadi kalau tidak ada mereka aku terpaksa akan pergi sendiri,"


"Kamu tidak boleh pergi seorang diri, berbahaya jika seorang anak gadis pergi malam-malam sendirian. Aku tidak mau disalahkan jika sesuatu terjadi padamu. Itu sangat berbahaya apalagi sekarang sudah malam. Bagaimapun juga aku tidak mau disalahkan jika sesuatu terjadi padamu. Jika kau tidak keberatan aku bisa saja mengantar mu menjenguk Oktavia, meskipun aku tahu jadwal ku padat merayap, akan aku usahakan untuk mengcancel beberapa schedule ku agar bisa menemanimu ke rumah Vie," ucap Arya Tejo


"Benarkah kau akan mengantar ku?" tanya Luci tak percaya


"Tentu saja, aku akan mengantarmu menjenguk sahabatmu meskipun aku harus menanggung banyak kerugian karena telah mengcancel beberapa jadwal penting ku," jawab Arya Tejo


"Kalau itu bisa membuat mu rugi besar kau tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri lain kali, jadi jangan cancel schedule bisnis kamu hanya demi aku," jawab Luci dengan wajah gusar


"Bukan begitu Lu, aku tidak masalah jika harus menanggung kerugian, lagipula aku ini sangat kaya raya jadi bagiku uang tidak masalah. Sekarang bersiaplah aku akan mengantarmu sebelum malam semakin larut," bujuk Arya


"Tapi...."


"Sudahlah jangan pakai tapi-tapian, tawaranku ini limited edition jadi cepatlah bergegas," ucap Arya


"Jangan meragukan niat tulus Arya padamu, percaya dia melakukan semuanya karena cinta. Cinta yang membuatnya menjadi begitu perhatian dan peduli padamu, Love is Blind!" seru Leo tiba-tiba muncul di tempat itu


"Cinta???"


"Sudahlah cepat ganti baju dan jangan pernah hiraukan ucapan Leo sang Casanova," ucap Aya segera mendorong Luci masuk ke kamarnya.


"Cinta, bagaimana kau bisa merubahku yang begitu dingin dan kaku kini menjadi begitu ingin selalu berada disisi mu," ucap Leo


"Berisik!!" seru Arya segera membungkam mulut Leo


"Sekarang enyahlah dari tempat ini," imbuhnya kemudian menjentikkan jarinya.


Leo tiba-tiba lenyap setelah Arya menjentikkan jarinya.


"Sebaiknya kau bermain-main dulu dengan selir-selir mu itu,"


*************


Pukul sembilan malam Arya dan Luci tiba di kediaman Keluarga Idrus. Wenni menyambut kedatangan keduanya dengan ramah.


"Silakan masuk Mas Arya," wanita itu membawa keduanya menemui Vie dilamarnya


"Ya ampun kasian banget lo besti, padahal kamu baru sakit tiga hari tapi badan mu sudah kurus kering begini," ucap Luci mengusap wajah Vie yang sedang terlelap


"Balung wangi!" seru Vie tiba-tiba membuka matanya dan menyeringai


"Astaga!" seru Luci begitu kaget melihat ekspresi Wajah Vie yang menyeramkan


Gadis itu segera berlari dan berlindung di belakang Tejo.


"Balung wangi," ucap Vie menggerakkan lidahnya


Gadis itu segera beranjak dari ranjangnya dan berjalan mendekati Luci.


"Balung Wangi," ucapnya menyeringai


Ia menggerakkan kepalanya dan tangannya berusaha menyentuh Luci yang bersembunyi dibelakang Arya.


Tejo segera menahan lengan Vie saat gadis itu berusaha menyentuh Luci.


"Jangan pernah menyentuh milikku, atau aku akan menghancurkan sukma mu!" ancam Arya dengan tatapan mata elangnya


"Hihihi!!" seketika Vie tertawa keras seperti suara kuntilanak membuat Luci dan Wenni segera menutup telinganya.


"Aku tidak takut padamu Asu Baung," jawab gadis itu menggerakkan kepalanya


"Dasar mahluk jahanam, beraninya kau menganggu keponakanku!" Arya segera menyentuh ubun-ubun gadis itu dan mencoba mengeluarkan lelembut yang merasuki gadis itu.


"Keluarlah brengsek!" serunya saat mahluk itu semakin terkekeh dan tak mau keluar dari tubuh Oktavia.


"Kau tidak akan bisa membunuh ku Asu Baung, karena jika kau membunuhku maka kau juga akan membunuh gadis ini, hihihihihi!"


"Wah kau begitu percaya diri sekali, siapa bilang aku tidak akan membunuh mu, aku akan memancing mu keluar dari tubuh keponakan ku dan segera menghancurkan Sukma mu," jawab Tejo menyeringai


"Coba saja kalau kau bisa,"


Arya tejo segera mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celananya dan kemudian menarik lengan Luci.


"Sekarang keluarlah, kuntilanak merah!" ucap Arya kemudian menyayat lengan Luci.


Aroma wangi darah Luci membuat mahluk gaib itu tak bisa menahan nafsunya.


"Balung wangi!" seru mahluk itu kemudian keluar dari tubuh Vie


Arya segera menjambak rambut sang kuntilanak begitu ia keluar dari tubuh Oktavia.


"Sekarang kembalilah ke Neraka!" Arya melepaskan pukulannya kearah mahluk itu hingga sukmanya hancur menjadi kepulan asap hitam.


"Fiuh!" Arya segera menangkap tubuh Vie yang jatuh pingsan dan membaringkannya di ranjangnya.


"Syukurlah Mas Arya datang tepat waktu, terimakasih Mas Arya sudah datang menolong putriku," ucap Wenni begitu bahagia


"Bukan aku yang menyelamatkan putrimu, tapu Luci. Kalau tidak ada dia aku tidak yakin bisa mengeluarkan mahluk itu yang sudah menyatu dengan sukma putrimu," jawab Arya


"Terimakasih Lu, sudah datang menyelamatkan Via, Tante memang gak bisa membalas kebaikan mu, tapi aku yakin Tuhan akan membalas semua kebaikan yang kau berikan kepada kami malam ini. Sekali lagi terimakasih,"


Setelah melihat Vie kembali sadar, Luci kemudian berpamitan pulang.


"Terimakasih sudah menyelamatkan sahabatku, semoga Tuhan akan membalas semua kebaikanmu," ucap Luci


"Kenapa berterima kasih padaku, bukankah kau yang menyelamatkannya jadi untuk apa berterimakasih padaku," sahut Arya


"Justru aku harusnya minta maaf padamu karena sudah membuatmu terluka, sorry...." ucap pemuda itu kemudian mengusap lengan Luci yang terluka.


Ajaib, setelah Arya menyentuh lengan itu, tiba-tiba lukanya langsung menutup dan mengering.