INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Rasa Penasaran Leo



Tak, tak, tak!!


Takeda Yamato berjalan mengendap-endap menuju kamar Takeshi Yamada.


Aku harus menyingkirkan Takeshi agar bisa memiliki balung wangi itu


Ia kemudian membuka pintu kamar Takeshi perlahan-lahan.


*Krieet!!


"Apa dia sudah datang, rasanya sabar untuk menikmati tubuh gadis itu. Membayangkan aroma wanginya saja sudah membuatku tergila-gila. Akhirnya aku bisa menemukan balung wangi di tempat ini." ujar Takeshi begitu bahagia


Ia kemudian menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhnya dan bergegas menyambut kedatangan Luci sang balung wangi.


"Takeda!!, kenapa kau datang ke kamarku. Jika kau ingin melaporkan sesuatu kepadaku, kau bisa menungguku di luar. Aku tidak mau kedatanganmu mengganggu kesenangan ku malam ini, jadi pergilah,"


"Maaf komandan tapi aku hanya ingin melaporkan sesuatu padamu di kamar ini. Diluar terlalu banyak serdadu, jadi aku khawatir banyak yang menguping pembicaraan kita," jawab Takeda


"Kalau begitu, katakanlah apa yang ingin kau sampaikan padaku,"


"Karena informasi yang ingin kuberikan padamu bersifat sangat rahasia, maka aku minta padamu untuk mendekat padaku, karena aku hanya akan membisikkan pesan itu padamu," ucap Takeda menggerakkan jari tengahnya telunjuknya


"Baiklah," Takeshi segera berjalan menghampiri Takeda


"Sekarang katakanlah," titah Takeshi


Takeda segera mendekati Takeshi dan kemudian membungkuk dan mulai mengatakan sesuatu kepada Takeshi.


"Maafkan aku komandan jika aku harus menghianatimu, karena aku juga sangat menginginkan tulang wangi itu. Sama seperti dirimu aku juga tidak mau membagi wanita itu dengan orang lain termasuk dirimu, jadi ku putuskan untuk membunuhmu," ucap Takeda kemudian menusuk Takeshi hingga lelaki itu jatuh tersungkur bersimbah darah.


Melihat sang komandan sudah tewas Takeshi buru-buru pergi meninggalkan kamar itu.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah Luci menuju kamar Takeshi.


Luci berjalan pelan menuju ke kamar Takeshi Yamada, wanita itu begitu gugup dan ketakutan hingga seluruh tubuhnya berkeringat dan bergetar.


"Kenapa kamu belum datang juga Tejo, aku sudah tidak tahan lagi. Aku sangat takut, rasanya aku ingin mati saja jika harus melayani nafsu lelaki jepang itu," Luci kemudian membuka pintu kamar itu perlahan-lahan.


*Krieeet!


Betapa terkejutnya dia saat melihat Takeshi Yamada sudah tewas bersimbah darah di lantai kamarnya.


"Owh," Luci buru-buru memeriksa denyut nadi lelaki itu.


"Takeshi sang, bangunlah!" serunya sembari mengguncang tubuh lelaki itu.


"Dia sudah mati, kalau begitu aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka mengira aku yang membunuhnya." ucap Luci segera keluar dari kamar itu


Jantungnya kembali berdegup kencang saat ia melihat begitu banyak serdadu Jepang yang dengan senjata lengkap berdiri di depan kamar Takeshi Yamada.


Takeda Yamato sengaja menjebak Luci dan menyuruh para serdadu untuk membunuhnya.


"Wanita itu sudah membunuh Komandan Takeshi Yamada, jadi tunggu apalagi bunuh dia Sekarang!" Seru Takeda Yamato


"Tunggu, ada salah paham disini, A...a..aku tidak membunuhnya, aku menemukannya sudah tewas didalam kamar, jadi tolong jangan bunuh aku," ucap Luci memohon


"Jangan berbohong gadis manis, sebaiknya kau mengaku saja atau timah panas ini akan segera menembus jantung mu," ancam Takeda


"Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak membunuhnya, percayalah padaku. Kalau kalian tidak percaya silakan cek sendiri mayatnya," jawab wanita itu


"Kau memang pandai bersilat lidah gadis kecil, kenapa wanita selalu berisik,"


Takeda Yamato segera mengambil pistolnya dan menembak wanita itu tepat mengenai jantungnya.


*Dor, dor, dor!!!


*Bruuughh!!!!


Seketika Luci jatuh bersimbah darah di lantai.


Benarkah aku akan segera mati, apakah ini akhir dari hidupku, mati mengenaskan di dunia yang seharusnya tidak aku datangi.


"Tejo datanglah, bawa aku pergi dari sini!" ucap Luci kemudian menutup matanya


Dalam sekejap Tejo sudah berdiri di samping Luci.


"Luci!!, bangun Luci, buka matamu!" Seru Arya Tejo mengguncang tubuh wanita itu.


"Luci bangun, kau harus bertahan, kau tidak boleh mati!"


"Bertahanlah sebentar aku akan membawamu pulang!" seru Arya Tejo


Saat para serdadu Jepang mulai mengangkat senapannya, Arya Tejo segera bangun dan berdiri.


"Beraninya kalian membunuh wanita ku!!" teriaknya hingga membuat semua serdadu langsung menutup telinganya dan membuang senjatanya.


"Kalian para siluman keparat, bersiaplah untuk ku kirim kembali ke Neraka," Arya segera melepaskan pukulan kerasnya ke tanah hingga semua orang yang ada di situ seketika musnah menjadi kepulan asap hitam.


Ia kemudian menggendong tubuh Luci dan membawanya pergi dari tempat itu.


Ia kemudian membaringkan Luci ke ranjangnya.


"Selamat tidur gadis kecilku semoga mimpi indah," ucap Arya kemudian mengecup keningnya


Lelaki itu segera menyambar kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan tempat itu.


"Oi brengsek!" seru Leo berlari kearah Arya


"Oh, bagaimana kau bisa keluar dari kamar Rahasia itu?" tanya Arya mengernyitkan keningnya


"Kenapa kau panik seperti itu, pasti kau sengaja meninggalkan kan aku disana agar aku mati dimakan para lelembut penghuni hutan itu bukan, ayo ngaku saja!" cecar Leo


"Ah itu, maaf aku lupa jika aku mengajak mu tadi. Aku baru ingat dan berpikir untuk menjemput mu tapi...kau sudah kembali dengan selamat, jadi syukurlah... aku tidak perlu repot-repot kembali lagi ke hutan angker itu lagi,"


"Ah kau benar-benar gak setia kawan, teganya kau melupakan aku hanya karena seorang wanita. Ingat Bro sahabat itu lebih penting dari apapun juga di dunia ini, tanpa sahabat hidup mu tak akan bermakna. Jika kau putus dengan pacarmu maka kau bisa mencari wanita lain sebagai penggantinya. Namun jika kau kehilangan seorang sahabat kau tidak akan pernah menemukan lagi seorang yang begitu baik dan care padamu selain aku," jawab Leo


"Unnchhh, aku minta maaf bro, aku benar-benar khilaf, tolong maafkan aku sobat!" ucap Arya memeluk erat Leo


"Semoga saja ucapan mu benar, awas saja kalau lo bohong. Aku sumpahin lo kutuan tujuh turunan," jawab Leo


"Tentu saja aku tidak berbohong, ngomong-ngomong...setahuku belum pernah ada seorangpun yang bisa keluar dengan selamat dari alas Ijen mmm...maksudku kamar rahasia itu tanpa bantuan ku. Kalau boleh tahu siapa kau sebenarnya??, kenapa kau bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat tanpa luka atau cacat sedikitpun. Asal kau tahu bahkan Luci sang balung wangi harus menderita luka tembak karena sudah lancang masuk ke ruangan itu," tutur Arya Tejo


"Apa itu sebabnya kau membakar hutan itu!" seru Leo


"Tentu saja, aku harus membakar kampung iblis itu agar aku bisa menyelamatkan Luci, tapi bagaimana kau bisa tahu aku membakar hutan itu untuk menghidupkan kembali Luci yang sudah mati di kampung Iblis?" tanya Arya Tejo penasaran


"Ah sial, apa kau tahu aku hampir mati terpanggang di sana, kalau bukan karena kakek tua itu aku juga mungkin sudah mati di sana," sahut Leo


"Kakek tua??" Leo langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Leo


"Iya, dia bilang dia kakekku, dia menunjukkan aku pintu keluar hutan itu dan memberiku cincin ini," jawab Leo menunjukkan sebuah cincin padanya


"Ah sial, ku pikir kau benar-benar bertemu dengannya ternyata kau membohongi ku!" sahut Arya langsung melemparkan cincin mainan ke wajah Leo


Leo terkekeh melihat kemarahan di wajah Tejo.


"Wkwkwkwk, makanya jadi orang jangan suka bohong, kesel kan kàlau do bohongi. Btw apa Luci benar-benar masih hidup?" tanya Leo


"Lihat saja besok, kalau dia tidak membuatkan sarapan untuk mu berarti dia mati," jawab Arya kesal


"Jangan begitu, jawablah dengan benar. Entah kenapa aku begitu mengkhawatirkan gadis itu,"


"Jangan bilang kau jatuh cinta padanya, ingat dia milikku, jadi jangan coba-coba merayunya atau aku akan mengirim mu ke Neraka!" ancam Arya Tejo


"Iya aku tahu, lagipula meskipun aku seorang player pantang bagiku menikung teman sendiri, lebih baik aku patah hati seumur hidup daripada harus menyakiti hati sahabat ky sendiri," jawab Leo


"Unncchh so sweat, jadi makin cinta deh sama kamu," ucap Arya langsung memeluk Leo


"Love you too," jawab Leo mengecup pipi Arya


"Dih gelay!" seru pemuda itu


"Wkwkwkwkwk,"


"Sekarang aku harus pergi, tolong jaga Luci," ucap Arya


"Tentu, kau juga hati-hati, jaga dirimu dan cepatlah kembali!" sahut Leo


Leo kemudian segera naik ke lantai dua setelah arya meninggalkan rumah itu.


Lelaki itu berdiri tepat didepan kamar rahasia dan menatap lekat pintu masuk ruangan itu.


"Kali ini aku harus masuk sendiri ke ruangan itu dan memastikan sendiri apakah lelaki yang kulihat di sana memang benar aku," Leo kemudian menarik gagang pintu kamar itu dan membukanya.


Jangan lupa bantu like komen dan Favoritkan ya guys.


Yuks berikan komentar Terbaik mu di kolom komentar, dan nantikan kejutan dari Author.


Salam sayang dari Zahra.. muaaaach!!!