INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Keluar dari Lukisan



Aku tidak bisa menggambarkan fisiknya secara jelas, hanya saja dia memiliki tahi lalat di bawah mata kirinya," jawab Guntur


"Sepertinya dia benar-benar berkata jujur, tidak ada kebohongan di matanya. Andai saja dia berbohong tidak mungkin dia akan tahu detail fisik Ki Ponijan yang sudah meninggal tujuh puluh lima tahun silam. Aku yakin dia benar-benar bertemu dengannya," Arya berpikir keras untuk memecahkan tentang teka-teki tentang siapa Guntur sebenarnya.


"Baiklah aku akan mencari tahu sendiri siapa dia sebenarnya," Arya segera beranjak dari duduknya


Ia segera melesatkan mobilnya mengikuti kemana perginya Guntur.


"Lelaki itu, bagaimana dia mengenal dukun jahat itu, apa dia ayahnya?" Arya terus mengamati Guntur yang menemui Ki Brojo Anom


"Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat, aku harus terus mengikutinya," Arya kembali melajukan kendaraannya mengikuti kemana Guntur pergi


"Bukankan itu kediaman Alvin?, kenapa mereka datang kemari, apa mungkin mereka kaki tangan Alvin??"


Begitu banyak pertanyaan dalam benak Arya saat melihat Ki Brojo bersama Guntur mendatangi kediaman Alvin Syailendra.


"Sebaiknya aku harus mengamati lebih dekat apa yang mereka bicarakan dengan iblis licik itu," Arya segera turun dari mobilnya


Ia menguping pembicaraan ketiganya dari atas genting.


Arya menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar semua yang mereka bicarakan.


"Seekor Asu memang bukan pendengar yang baik, tapi dia memiliki penciuman terbaik di muka bumi ini!" tiba-tiba Arya mengendus aroma api di dalam rumah


"Tidak ada yang boleh mengetahui identitas asliku, jadi maafkan aku jika aku harus menyingkirkan dirimu," Alvin kemudian menyalakan korek api dan bersiap membakar lukisan di tangannya.


*Wuushh!!


Melihat Alvin hendak membakar lukisan wajah Guntur, seketika Arya melesat dan mengambil lukisan dari tangannya.


"Fiuh, untung aku datang tepat waktu jadi aku bisa menyelamatkan mu Guntur," ucap Arya menyombongkan dirinya


"Sial, kembalikan lukisan itu dan jangan pernah ikut campur dalam urusan ku!" hardik Alvin membuat seisi rumah itu berguncang


"Tentu saja aku harus ikut campur, karena kau akan memusnahkan satu-satunya orang yang bisa menjadikan aku manusia kembali," jawab Arya begitu enteng


"Dasar bodoh, kau pikir kau akan kembali menjadi manusia setelah meminum darah selama tujuh puluh lima tahun lamanya. Jangan bermimpi Arya, kau tidak akan pernah menjadi manusia kembali," sahut Alvin


"Kita lihat saja nanti, apa ucapku atau ucapan mu yang benar setelah aku mengeluarkannya dari lukisan ini,"


"Oi, Guntur satpam komplek...cepat keluar kalau tidak kau akan dipecat karena pergi tanpa ijin saat jam kerja!"


Apa ada yang memanggil ku,


Guntur segera membuka matanya dan menatap sekelilingnya.


"Dimana aku?, apa aku sudah mati?" Guntur terlihat begitu kebingungan saat menyadari jika dirinya tidak berada di rumah Alvin.


"Kenapa semua orang yang ada disini adalah laki-laki?" pemuda itu semakin bingung saat melihat semua orang yang ada di tempat itu semuanya laki-laki.


"Tolong aku!!"


"Tolong aku, tolong!"


Guntur begitu ketakutan saat semua orang yang ada di tempat itu meminta tolong padanya.


"Tolong bawa aku keluar dari sini!!"


"apa yang harus aku lakukan??"


"Kau tidak akan bisa mengeluarkannya Arya!" seru Alvin


Lelaki itu segera melepaskan pukulannya kearah Arya hingga lelaki itu terhempas dan lukisannya terlepas dari tangannya.


"Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku tanpa Wira Andika," Alvin kembali mengambil lukisan itu dan segera menyalakan korek api di tangan kirinya.


Selamatkan mereka, bawa mereka keluar dari sini. Kau bisa melakukannya


Guntur tiba-tiba melihat Ki Ponijan ada diantara para lelaki itu.


"Kakek,"


Tiba-tiba tubuh Guntur bergetar hebat, ia kemudian merasakan tubuhnya seperti mendapat sebuah kekuatan yang membuatnya merasa begitu kuat dan berani.


Ia kemudian menggerakkan tangannya dan mulutnya bergerak melantunkan sebuah Kidung merdu yang mampu menggetarkan seluruh alam gaib.


Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui. Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna. ( Kidung Sunda pupuh 2).


Tiba-tiba tangan Alvin bergetar, membuat ia menjatuhkan lukisan di tangannya.


"Ada apa ini, apa yang terjadi dengan ku?" Alvin merasakan seluruh tubuhnya seperti mati rasa hingga ia tak bisa bergerak.


*Brakkk!!


Saat lukisan itu jatuh dari tangannya sebuah cahaya muncul dari lukisan itu.


Alvin segera menutup matanya yang silau dengan cahaya yang terpancar dari lukisan wajah Guntur.


"Siapapun dirimu, kau pasti bukan manusia biasa, hingga mampu mengguncang dunia bawah sadar orang-orang itu," ucap Alvin


Ia segera bangun dan mencoba meraih lukisannya. Namun tubuhnya tiba-tiba terpental saat mencoba menyentuh lukisan itu.


"Arrgghhh!!"


Kali ini Alvin benar-benar terkejut saat melihat Guntur keluar dari lukisan itu bersama orang-orang yang ada di lukisan itu sebelumnya.


Bagaimana kau bisa keluar dari lukisan itu dan mengeluarkan semua orang yang ada di dalamnya. Sebenarnya siapa dia???,


"Wah kau benar-benar keren!" seru Arya mendekati Guntur


"Apa yang sudah aku lakukan??, apa aku menyakiti orang lain?" tanya Guntur begitu kebingungan


"Tentu saja tidak, kau justru menyelamatkan mereka dengan mengeluarkannya dari dalam lukisan!" seru Arya menghampiri Guntur


"Benarkah aku yang melakukannya?" tanya Guntur


"Tentu saja, sekarang kau juga harus mengeluarkan semua orang yang masih terkurung dalam lukisan itu!" jawab Arya menunjuk kearah lukisan-lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu


"Bagaimana aku bisa melakukannya?" tanya Guntur


"Lakukanlah seperti yang kau lakukan saat keluar dari lukisan itu!" sahut Arya


"Baiklah, kalau begitu aku membutuhkan secangkir kopi pahit dan sebatang rokok," jawab Guntur


"What???" tanya Arya membelakakan matanya


"Sediakan aku secangkir kopi pahit dan sebatang rokok untuk memanggil leluhur ku agar ia datang membantu ku," jawab Guntur


"Tidak perlu, untuk apa memanggil leluhur mu jika kau bisa melakukannya sendiri!"


"Tapi...."


"Jangan bilang tapi, cepat lakukan atau aku akan melaporkan kepada kepala keamanan komplek untuk memecat mu!" sahut Arya


Guntur kemudian menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.


"Tidak akan ku biarkan kau mengacaukan rencana ku!" seru Alvin segera melepaskan pukulan kearahnya


Tiba-tiba saja Tubuh Alvin langsung mental dan terhempas saat menyentuh tubuh Guntur.


*Braakkk!!


"Wah keren, dia benar-benar keren. Tidak kau sangka satpam komplek bisa mengalahkan Alvin si Iblis licik itu,"


Guntur kemudian menggerakkan tubuhnya seperti seorang yang sedang menari, ia meliuk-liukkan tubuhnya begitu gemulai membuat Alvin semakin geram.


Pemuda itu segera bangkit dan kembali melepaskan pukulannya kearah Guntur, namun kembali tubuhnya terhempas saat akan menyentuh Guntur.


*Arrrrrghhh!!!