INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Mencari Jalan Pulang



*Wuushh!!


Leo segera menebaskan goloknya saat sang Buto Ijo hendak menyerangnya. Gerakannya begitu cepat hingga sang Buto Ijo tak menyadari serangan balik dari Leo.


Arya dan Guntur berdecak kagum dengan kemampuan Leo yang begitu memukau. Kepiawaiannya dalam ilmu bela diri dan kemahirannya memainkan emosi lawan membuat pemuda itu benar-benar tak terkalahkan.


Meskipun ia tidak memiliki indra keenam, namun Leo mampu mengalahkan mahluk tak kasat mata dengan kemampuan bertarungnya.


"Wah Luar biasa Le!" seru Arya memujinya,


"Biasa aja Bro," jawab Leo kemudian menghampirinya


"Btw Luci gimana nih?" tanya Leo


"Kita tunggu sampai dia siuman baru kita pulang," sahut Guntur


"Ok," jawab Arya dan Leo serentak


Guntur kemudian menghampiri Luci dan memeriksanya.


"Sepertinya dia perlu nafas buatan," ucapnya lirih


Ia kemudian mencondongkan badannya, namun dengan cepat Arya Manarik bahunya.


"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, kalau ada orang yang harus memberikan nafas buatan itu ya gue," ucapnya sambil menyingkirkan Guntur


Leo segera menarik Guntur dan membisikkan sesuatu padanya. Keduanya terkekeh saat melihat wajah Tejo yang memerah saat mendekat yakin itu sebuah firasat," bisik Leo


"Firasat apa?" tanya Guntur penasaran


"Lihat saja nanti, pasti seru," sahut Leo


Kedua pemuda itu ikut tegang saat Arya mulai menempelkan bibirnya.


*Plaakkk!!


"Awwww!" seru Arya saat Luci menampar wajahnya.


"Sakit Lu," ucap Arya memegangi pipinya


"Maaf gak sengaja," jawab Luci segera bangun dan meninggalkan Arya.


Leo dan Guntur seketika memalingkan wajahnya pura-pura tidak melihat apapun di depannya.


Arya segera berlari menyusul Luci diikuti oleh Leo dan Guntur.


"Sepertinya kita tersesat deh, karena dari tadi kita terus menerus berputar-putar di tempat ini," ucap Arya


"Benar," jawab Guntur memperhatikan sekelilingnya


"Coba kau panggil kunang-kunang penunjuk jalan tadi," ucap Leo


"Hanya kau yang bisa mengundang kunang-kunang itu," jawab Guntur


"Gue, yang bener aja!" celetuk Leo


"Benar, hanya lo yang bisa memanggil ibumu bukan," tambah Arya


"Ibuku?" Leo tersenyum sinis mengingat Juleha yang mengorbankan dirinya demi untuk menyelamatkannya.


Ibu, maafkan aku, selama ini aku begitu membencimu tanpa tahu kau begitu menyayangi ku,


"Baiklah biar aku yang akan memanggil kunang-kunang itu," ucap Leo


Lelaki itu kemudian memejamkan matanya.


"Aku tidak menyangka ternyata Leo punya kekuatan supranatural yang tidak terduga, aku benar-benar bangga padanya," ucap Arya


"Benar dia bahkan bisa memanggil kunang-kunang yang dukun saja tidak bisa melakukannya," sahut Guntur


"Benarkah," tanya Luci


"Benar Lu, lihat saja ... sekarang dia sedang memanggil kunang-kunang," jawab Guntur


"Oh, begitu rupanya,"


Satu jam kemudian....


"Kok lama ya, apa Leo gak berhasil memanggil kunang-kunang itu!" celetuk Luci


"Mungkin jalanan macet kali makanya mereka sedikit terlambat," sahut Arya


"Memang bisa begitu?" tanya Luci


"Bisa aja, apa sih yang gak bisa," sahut Arya


Lelaki itu kemudian menghampiri Leo dan membisikkan sesuatu padanya.


"Gimana berhasil gak?"


"Gimana bisa berhasil cara manggilnya aja gue gak tahu," sahut Leo


"Astoge, sialan kenapa gak bilang dari tadi!" celetuk Arya


Guntur tertawa terbahak-bahak melihat kedua sahabat itu saling berdebat.


Ia kemudian menghampiri keduanya dan merangkulnya dari belakang.


"Sorry Bro, gue gagal," ucap Leo dengan wajah bersalah


"Bukan gagal tapi belum menemukan rahasianya," jawab Guntur


"Apa kau tahu bagaimana cara memanggilnya?" tanya Leo


"Tidak juga, lagipula aku bukan orang yang serba tahu semuanya. Tapi mungkin aku bisa sedikit membantu mu," sahut Guntur


"Ok, gimana caranya?" Leo begitu bersemangat ketika Guntur hendak memberitahukan sesuatu kepadanya


"Pertama bayangkan wajah ibumu, kemudian kamu bayangkan apa yang membuat dia begitu menyayangimu dan selanjutnya bayangkan benda kesukaannya dan juga sesuatu yang membuatnya sangat sedih," terang Guntur


Leo seketika terdiam mendengar ucapan terakhir Guntur, lelaki itu masih mengingat dengan jelas saat ia tetap menolak ibunya di hari terakhirnya.


"Hanya ada satu hal yang membuat ibuku bahagia sekaligus bersedih karena terharu,yaitu saat aku merindukannya. I miss you mom," ucap Leo berkaca-kaca


Lelaki itu langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikannya air matanya yang hampir jatuh membasahi pipinya.


Tiba-tiba ratusan kunang-kunang berdatangan ke tempat itu, membuat semuanya langsung berteriak senang.


"Yeay, akhirnya lo berhasil juga Bro!" seru Arya mengangkat tubuh Leo


"Sekarang kuy kita balik ke vila!" seru Leo


"Kuy!" mereka kemudian mengikuti kunang-kunang meninggalkan hutan itu.


Tidak lama merekapun kembali lagi ke Villa.


Guntur dan Leo langsung merebahkan tubuhnya ke sofa setibanya di Villa, begitupun Luci yang langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


Hanya Arya yang langsung menuju ke dapur, ia segera mengambil air dari lemari es dan meneguknya. Hampir semua botol air mineral yang ada di lemari es sudah ia habiskan, namun rasa dahaganya tak kunjung reda.


Karena begitu lemas Arya kemudian jatuh terkulai di lantai. Mendengar suara benda jatuh Guntur segera menuju ke dapur untuk memeriksanya.


"Mas Arya!" serunya sembari menepuk-nepuk pipinya


Leo yang penasaran segera menyusul ke dapur, betapa terkejutnya ia saat melihat Arya terkapar di lantai.


Arya terlihat begitu pucat, badannya sangat dingin sedingin es, membuat Leo segera menggendongnya dan membaringkannya di sofa.


"Sepertinya ia kehabisan tenaga, ia membutuhkan darah segar untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang mulai drop," ucap Leo


"Bagaimana kita bisa mencari darah segar di tempat seperti ini," sahut Guntur


"Sebenarnya kami punya pemasok darah segar khusus untuk Arya, tapi dia ada di Jakarta mustahil dia bisa sampai ke tempat ini dengan cepat," jawab Leo


"Kalau begitu tidak ada cara lain selain mencuri salah satu hewan di hutan sebelag pantai," jawab Guntur


"Astoge, gak nyangka lo ternyata GSM," jawab Leo


"Apaan tuh GSM?" tanya Guntur


"Ganteng-ganteng suka maling wkwkwkwk," jawab Leo terkekeh


"Haish siapa yang suka mencuri, gue ini pria baik-baik," sahut Guntur


"Ya aku percaya, so jadilah badboy demi menyelamatkan sahabat mu kali ini saja," ucap Leo


"Baiklah, dengan terpaksa," sahut Guntur


"Ada apa sih ribut-ribut!" seru Luci yang baru keluar dari kamarnya


Gadis itu seketika berteriak histeris saat melihat Arya tergeletak tak sadarkan diri.


"Mas Arya, apa yang terjadi dengannya?" tanya gadis itu dengan wajah gusar


"Sepertinya dia kehabisan energi setelah menerobos pagar gaib sang dukun untuk menyelamatkan mu," jawab Leo


"Kalau begitu kita harus membawanya ke dokter," ucap Luci


"Tidak perlu, biarkan aku yang akan merawatnya. Lagipula aku sudah menjadi teman, dokter, adek, sekaligus pembantunya sejak aku kecil jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkannya," jawab Leo


"Kalau begitu pindahkan dia ke kamar saja!" ucap Luci memberi perintah


Leo kemudian segera menggendong Arya dan membaringkannya ke atas ranjang.


Ia kemudian segera menyelimuti Arya.


"Aku harus pergi untuk mencari obat, tolong jaga Arya selama aku pergi," ucap Leo


"Iya, tanpa di suruh pun aku akan menjaga dan merawatnya," sahut Luci


"Ok, thanks, kalau gitu gue pergi dulu ya papay!" Leo segera bergegas pergi meninggalkan Vila


Luci segera membuka baju Arya saat melihat noda bekas darah di bajunya.


Matanya membelalak saat melihat luka di tubuh Arya. Ia kemudian dengan telaten membersihkan luka itu dengan alkohol dan menutupnya dengan kain kassa.


Sementara itu Guntur terus memperhatikan gadis itu dari balik pintu.


Kenapa aku tak suka melihat Luci begitu care terhadap Arya,


"Arrgghhh!!" tiba-tiba Arya terbangun saat Luci masih membalut lukanya


"Apa masih sakit?" tanya Luci mengernyit


Arya hanya mengangguk kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu gadis itu.


Selesai membalut luka Arya, gadis itu membaringkannya ke atas ranjangnya.


"Cepatlah sembuh Mas Arya," ucapnya mengusap lembut wajah pemuda itu