
Sekarang keluarlah, kuntilanak merah!" ucap Arya kemudian menyayat lengan Luci.
Aroma wangi darah Luci membuat mahluk gaib itu tak bisa menahan nafsunya.
"Balung wangi!" seru mahluk itu kemudian keluar dari tubuh Vie
Arya segera menjambak rambut sang kuntilanak begitu ia keluar dari tubuh Oktavia.
"Sekarang kembalilah ke Neraka!" Arya melepaskan pukulannya kearah mahluk itu hingga sukmanya hancur menjadi kepulan asap hitam.
"Fiuh!" Arya segera menangkap tubuh Vie yang jatuh pingsan dan membaringkannya di ranjangnya.
"Syukurlah Mas Arya datang tepat waktu, terimakasih Mas Arya sudah datang menolong putriku," ucap Wenni begitu bahagia
"Bukan aku yang menyelamatkan putrimu, tapu Luci. Kalau tidak ada dia aku tidak yakin bisa mengeluarkan mahluk itu yang sudah menyatu dengan sukma putrimu," jawab Arya
"Terimakasih Lu, sudah datang menyelamatkan Via, Tante memang gak bisa membalas kebaikan mu, tapi aku yakin Tuhan akan membalas semua kebaikan yang kau berikan kepada kami malam ini. Sekali lagi terimakasih,"
Setelah melihat Vie kembali sadar, Luci kemudian berpamitan pulang.
"Terimakasih sudah menyelamatkan sahabatku, semoga Tuhan akan membalas semua kebaikanmu," ucap Luci
"Kenapa berterima kasih padaku, bukankah kau yang menyelamatkannya jadi untuk apa berterimakasih padaku," sahut Arya
"Justru aku harusnya minta maaf padamu karena sudah membuatmu terluka, sorry...." ucap pemuda itu kemudian mengusap lengan Luci yang terluka.
Ajaib, setelah Arya menyentuh lengan itu, tiba-tiba lukanya langsung menutup dan mengering.
"Wah ajaib sekali, bagaimana lukanya bisa cepat menutup dan mengering?" tanya Luci
"Semua karena cinta," jawab Arya
"Eh...." jawab Luci menganga
"Becanda Lu, serius amat jadi orang, wkwkwkwk!" sahut Arya terkekeh
***********
Studio pemotretan Hari Sentanu.
Leo terus berpose mengikuti arahan sutradara dan pengarah Gaya. Lelaki itu terlihat makin rupawan dengan semua pakaian mewah yang dikenakan. Berbagai aksesoris dan pernak-pernik lebaran membuat gayanya semakin elegan.
Meskipun ia seorang model papan atas tetap saja seorang Leo terlihat begitu membumi dan rendah hati. Itulah kenapa banyak wanita jatuh hati padanya.
"Ok, cukup pemotretan hari ini, terima kasih semuanya," ucap seorang sutradara
"Akhirnya selesai juga," Leo segera menuju ruang ganti dan melepaskan pakaiannya
Selesai berganti pakaian ia segera keluar meninggalkan studio itu.
"Terimakasih banyak Leo untuk hari ini dan selamat menikmati akhir pekan," ucap seorang crew menyalaminya
"Terimakasih juga sudah memberiku pekerjaan di akhir pekan ini, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Leo kemudian masuk kedalam mobilnya.
Ia melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah club malam di kawasan Kemang.
Suara alunan musik menggema membuat suasana tempat itu semakin meriah. Semua pengunjung nampak bergembira dan menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik DJ
"Selamat malam sayang, Akhirnya kamu sampai juga," ucap seorang wanita menyambut kedatangan Leo
"Malam honey," sahut Leo kemudian mencium wanita itu
"Ada yang menunggu mu di atas," bisik wanita itu melepaskan diri dari cumbuan Leo
"Dasar brengsek, Jangan pernah mengabaikan aku jika kau masih ingin hidup tenang bocah sialan!" seru seorang wanita paruh baya menarik Leo
"Sial, bisakah kau tidak mengganggu ku sekejap saja!" hardik Leo begitu geram
"Aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengabaikan diriku," jawab wanita itu kemudian menyalakan rokoknya
"Tunggu aku di tempat biasa, aku harus menyelesaikan urusanku dengan jal*ng ini dulu,"
"Baik sayang," sahut wanita itu mengecup bibir Leo
"Sekarang apalagi yang kau mau?" tanya Leo
"Aku butuh rumah, jadi tolong berikan rumah yang nyaman untuk ku," jawab wanita itu
"Dengar Juleha, aku ini bukan anakmu jadi berhentilah memeras ku. Apa selama ini uang pemberian ku tidak cukup untuk biaya hidupmu?, haruskah kau memeras ku setelah apa yang kau lakukan padaku dulu?"
"Apapun yang terjadi antara kau dan aku itu adalah masa lalu, dan tetap saja hubungan ibu dan anak takan pernah terputus sampai kapanpun juga. Sekarang kau sudah menjadi artis terkenal, pengusaha kaya raya, so sudah seharusnya kau juga harus membiayai kehidupan ibumu bukan. Anggap saja itu sebagai imbalan karena aku mau melahirkan mu ke dunia ini. Bisa saja waktu itu aku menggugurkan mu sewaktu masih dalam kandungan bukan, tapi seperti pesan ayahmu aku mempertahankan dirimu sampai kamu lahir. Membelikan sebuah rumah bagimh bukanlah perkara yang besar, bahkan kontrak kerja mu lebih mahal daripada harga sebuah rumah, jadi kau bisa kan membelikan ibu rumah," terang wanita itu
"Wah kau benar-benar ibu yang tak tahu diri, setelah menyia-nyiakan aku selama tujuh belas tahun, sekarang kau mengakui aku sebagai anakmu hanya demi uang dan rumah, benar-benar tidak tahu diri, ck, ck, ck!"
"Aku akan membelikan mu rumah dengan satu syarat," imbuh Leo
"Katakan saja apa syaratnya?"
"Pergilah dari hidup ku dan hubungan kita berakhir setelah aku memberi mu sebuah rumah, apa kau setuju?" tanya Leo mencoba bernegosiasi
"Dasar anak durhaka, kau mengatakan aku ini tak tahu diri, tapi kau juga melakukan hal yang sama pada diriku. Jadi apa bedanya kau denganku brengsek, jika kau keberatan memberi ku jatah bulanan ataupun memberikan aku rumah untuk tempat tinggal, kau tidak perlu memberikannya, katakan saja kau tidak mampu aku pasti akan berhenti mengemis padamu," jawab wanita itu
"Satu hal yang harus kau ingat Leo, berapapun uang yang kau berikan padaku tidak akan pernah bisa membayar semua hutang-hutang mu padaku," imbuh Juleha
"Memangnya berapa hutangku padamu, katakan saja berapa jumlahnya aku pasti akan membayarnya tunai!" seru Leo menggebrak meja
Wanita itu menyeringai kemudian menghisap dalam-dalam rokoknya.
"Apa kau sanggup membayar rasa takut ku selama mengandung dirimu, bisakah kau hitung berapa nilai uang yang harus ku terima saat aku harus meregang nyawa setiap hari karena teror saat mengandung dirimu?. Jika kau sudah bisa menghitungnya maka bayarlah hutangmu itu," jawab Juleha menghembuskan asap rokok ke wajah Leo
Ia kemudian mengambil tas usang miliknya dan kemudian pergi meninggalkan Leo.
"Arrgghhh!!!" teriak Leo mengobrak-abrik semua benda-benda yang ada di atas mejanya
"Dasar jal*ng sialan, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup tenang sehari saja!"
"Arrrrrghhh!!"
Leo seperti seorang yang kesetanan malam itu, dia menghancurkan semua benda yang ada dihadapannya hingga membuat para pengunjung club ketakutan dan berhamburan keluar meninggalkan tempat itu.
Beberapa orang keamanan club yang mencoba mengamankannya harus tersungkur ke tanah setelah terkena pukulan keras Leo.
"Aku tidak pernah meminta jadi anakmu, lalu kenapa kau tidak bunuh saja aku sewaktu dalam kandungan, atau saat aku bayi, kenapa membesarkan aku jika kau akhirnya malah menyiksa ku, kau merusak hidupku, kau membuat ku malu, dasar Lont* sialan!!" teriaknya sambil melemparkan botol minum keras ke lantai.
"Haish, dasar bocah sialan, kenapa kau selalu mempermalukan dirimu seperti ini setelah bertemu ibumu!" Arya menggelengkan kepalanya saat melihat Leo mengamuk di Club malam
Ia sengaja datang ke Club itu karena mendengar tangisan dan teriakan Leo. Arya kemudian berjalan menghampiri Leo yang masih terus mengamuk.
"Cukup Leo, cukup!. Hentikan semuanya, ayo kita pulang,"
Leo seketika berhenti melemparkan botol-botol minuman keras itu dan menangis tersedu-sedu.
"Hmm, haruskah aku memeluknya untuk menenangkan dia seperti dalam sinetron??" ucap Arya terus memperhatikan Leo
"Kasihan sekali hidup mu Leo, orang-orang di luar sana pasti mengira hidupmu bahagia karena bergelimang harta. Tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya, kau harus menanggung kesedihan yang teramat dalam dan luka yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun juga. Hanya waktu yang akan mengakhiri penderitaan mu dan juga menyembuhkan lukamu Le, semoga kau sabar untuk menghadapi semua itu. Sekarang lebih baik kita pulang, akan bahaya bagimu jika ada wartawan yang melihat mu dalam keadaan seperti ini," Arya segera merangkul Leo dan membawa pemuda itu pergi meninggalkan tempat itu .