
#Cerita ini hanya Fiktif belaka, Semua adegan, tokoh, setting, alur adalah murni imajinasi author, so harap bijak dalam membaca.#
"Arrgghhh!!!" teriak Leo mengobrak-abrik semua benda-benda yang ada di atas mejanya
"Dasar jal*ng sialan, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup tenang sehari saja!"
"Arrrrrghhh!!"
Ah, kenapa kau berisik sekali Leo, tidak bisakah kau membiarkan ku tidur sebentar saja sebelum aku pergi ke Bandara.
Arya segera beranjak dari ranjangnya dan melesat menemui Leo.
Sementara itu kemarahan Leo semakin menjadi, ia seperti seorang yang kesetanan malam itu, dia menghancurkan semua benda yang ada dihadapannya hingga membuat para pengunjung club ketakutan dan berhamburan keluar meninggalkan tempat itu.
Beberapa orang keamanan club yang mencoba mengamankannya harus tersungkur ke tanah setelah terkena pukulan keras Leo.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" seru Leo membuat semua orang berlarian menjauhinya
"Aku tidak pernah meminta jadi anakmu, lalu kenapa kau tidak bunuh saja aku sewaktu dalam kandungan, atau saat aku bayi, kenapa membesarkan aku jika kau akhirnya malah menyiksa ku, kau merusak hidupku, kau membuat ku malu, dasar Lont* sialan!!" teriaknya sambil melemparkan botol minum keras ke lantai.
*Prang!!!
"Haish, dasar bocah sialan, kenapa kau selalu mempermalukan dirimu seperti ini setelah bertemu ibumu!" Arya menggelengkan kepalanya saat melihat Leo mengamuk di Club malam
"Kalian berdua sama saja, sama-sama egois dan tidak mau memahami satu sama lain," Arya melangkahkan kakinya perlahan mendekati Leo
Ia memang sengaja datang ke Club itu karena mendengar tangisan dan teriakan Leo. Arya berdiri di samping Leo dan mencoba menenangkan pemuda itu. Namun Leo yang masih tersulut emosi tidak mendengar ucapan Arya dan terus mengamuk. Tentu saja Hal itu membuat Arya juga terpancing emosi.
"Cukup Leo, cukup!. Hentikan semuanya, jangan permalukan dirimu. Sebaiknya ayo kita pulang!" ucap Arya mencoba membujuknya
Leo seketika berhenti melemparkan botol-botol minuman keras itu dan menangis tersedu-sedu.
"Hmm, haruskah aku memeluknya untuk menenangkan dia seperti dalam sinetron??" ucap Arya terus memperhatikan Leo
"Kasihan sekali hidup mu Leo, orang-orang di luar sana pasti mengira hidupmu bahagia karena bergelimang harta. Tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya, kau harus menanggung kesedihan yang teramat dalam dan luka yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun juga. Hanya waktu yang akan mengakhiri penderitaan mu dan juga menyembuhkan lukamu Le, semoga kau sabar untuk menghadapi semua itu. Sekarang lebih baik kita pulang, akan bahaya bagimu jika ada wartawan yang melihat mu dalam keadaan seperti ini," Arya segera merangkul Leo dan membawa pemuda itu pergi meninggalkan tempat itu .
Arya sengaja membawa Leo ke rumahnya.
Ia kemudian membaringkan pemuda itu di kamar tamu.
"Untuk sementara tinggalah disini aku ingin kau menjaga Lusi sama aku pergi," ucap Arya berpamitan
"Apa kamu juga akan meninggalkanku?" tanya Leo getir
"Jangan Galau begitu dong, Lo tahu kan kalau besok aku harus menghadiri rapat penting di Singapura. So Aku harus pergi sekarang ke Bandara, aku harap kau bisa menjaga Lusi dan menjaga rumah ini. Pastikan dia selalu aman dan jangan sampai dia memasuki ruang terlarang itu." pesan Arya
"Baiklah, hati-hati di jalan !" sahut Leo.
Arya kemudian mengambil kopernya dan bergegas pergi menuju Bandara.
Sedangkan Leo berusaha memejamkan matanya, meski ia bekum merasa mengantuk.
"Satu hal yang harus kau ingat Leo, berapapun uang yang kau berikan padaku tidak akan pernah bisa membayar semua hutang-hutang mu padaku," ucap Juleha
"Memangnya berapa hutangku padamu, katakan saja berapa jumlahnya aku pasti akan membayarnya tunai!" seru Leo menggebrak meja
Wanita itu menyeringai kemudian menghisap dalam-dalam rokoknya.
"Apa kau sanggup membayar rasa takut ku selama mengandung dirimu, bisakah kau hitung berapa nilai uang yang harus ku terima saat aku harus meregang nyawa setiap hari karena teror saat mengandung dirimu?. Jika kau sudah bisa menghitungnya maka bayarlah hutangmu itu," jawab Juleha menghembuskan asap rokok ke wajah Leo
Entah kenapa kata-kata juleha terus terngiang-ngiang di telinga Leo hingga membuat pemuda itu tak bisa memejamkan matanya.
"Sebenarnya apa maksud Juleha mengatakan semua itu padaku, apa dia sengaja ingin meneror ku dan membuat ku merasa bersalah dengan kata-katanya itu. Dasar Lont* sialan!" Leo beranjak dari ranjangnya dan menuju ke dapur untuk mengambil air minum
Saat ia sedang meneguk air, ia melihat Luci keluar dari kamarnya. Gelagatnya begitu aneh hingga membuat Leo segera mengikutinya.
"Mau kemana dia malam-malam begini?" ucap Leo terus membuntuti Luci
Gadis itu segera naik keatas dan berhenti di depan kamar Arya.
"Jangan bilang dia mau tidur di kamar Arya, haish dasar wanita memang susah di tebak, di luar ia bilang tidak tapi dalam hatinya justru sebaliknya. Selamat bersenang-senang Luci, semangat!" ucap Leo memberi dukungan kepada gadis itu
Bukannya masuk ke kamar Arya, Luci justru berpaling ke ruang terlarang.
"Sial, apa yang kau lakukan di sana Luci, kalau tidak boleh masuk ke ruangan itu atau sesuatu yang buruk akan terjadi padamu," Leo segera berlari untuk mencegah Luci memasuki ruangan itu
*Wuushh!!!
Seketika angin kencang menghisap tubuh Luci hingga tersedot masuk kedalam ruang rahasia itu. Leo yang berusaha menariknya agar Luci tidak masuk kedalam justru terlempar ke luar dan pintu ruangan pun segera tertutup kembali.
*Brakkkk!!
"Arrgghhh, oh pinggang ku rasanya sakit sekali!" pekik Leo memegangi pinggangnya
"Bahaya, Luci bisa mati jika tidak keluar dari ruangan itu, aku harus segera menghubungi Arya. Aku harus memberitahukannya jika Lusi dalam bahaya karena tersedot masuk ke dalam ruang rahasia," Leo buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Arya.
"Halo kamu di mana?" tanya Leo
"Aku masih di jalan, emangnya kenapa, jangan bilang kamu merindukan aku?" jawab Arya sambil terkekeh
"Cepatlah kembali, Luci dalam bahaya!" seru Leo
Arya segera menepikan mobilnya dan berhenti.
*Ciiit!!!
"Apa katamu, Luci dalam bahaya?" tanya Arya
"Benar, dia masuk kedalam ruang terlarang itu," sahut Leo
"Sial, bagaimana bisa, bukankah aku sudah memintamu untuk menjaganya, aish dasar tidak becus!" maki Arya
"Sorry bro gue lagi enggak mood banget hari ini, jadi maaf kalau gue sampai kecolongan," sahut Leo
"Baiklah aku mengerti, tunggu aku dan jangan pernah masuk ke ruangan itu tanpa diriku," jawab Arya
"Baiklah, aku akan setia menunggu mu," jawab Leo kemudian mematikan ponselnya
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu denganmu,"' Leo kembali naik ke lantai dua.
Ia sengaja berdiri didepan ruang rahasia itu melihat apa yang terjadi di ruangan itu.
Leo sengaja menempelkan telinganya di pintu ruang rahasia untuk mendengarkan sesuatu di ruangan itu.
"Sepi,"
"Jangan melakukan hal-hal bodoh jika kau tidak ingin mati!" seru Arya tiba-tiba sudah berada di ruangan itu.
"Lalu apa yang harus kita , lakukan untuk menyelamatkan Luci?" tanya Leo
"Tentu saja kita harus menyusulnya ke ruangan itu, tapi tidak semua orang bisa masuk ke ruangan itu," jawab Arya
"Kalau begitu aku ikut,"
"Tidak semua orang bisa menemukan jalan ke ruang rahasia itu, karena bisa jadi kau bisa masuk ke ruangan itu tapi tidak bisa kembali lagi." jawab Arya
"Apa maksudnya?"
"Kau tahu kenapa ruangan ini selalu aku segel dan tidak seorangpun boleh masuk ke sana ?" tanya Arya
"Dahulu kala ruang rahasia itu adalah penjara bagi ku. Penjara karena aku telah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Kesalahan ku adalah aku membunuh manusia dengan sengaja dan itu karena dendam...." kenang Arya
*************
Banyuwangi tahun 1956.
Selamat malam Aki, maaf malam-malam begini menganggu istirahat anda. Saya terpaksa datang kemari karena suami saya terus kesakitan, dan dia bilang hanya Aki yang bisa menyembuhkannya," Sriti istri Marijo
"Kau terlihat begitu pucat, pasti kau sangat kesakitan karena luka di punggung mu itu,"
Ki Broto mendekati Marijo kemudian memeriksa punggungnya.
"Apa masih sakit?" tanya Ki Broto
"Tentu saja, rasa sakit ini sangat menyiksaku hingga Aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Aku begitu tersiksa karena ini dan rasanya aku ingin mati saja daripada terus menanggung rasa sakit ini seumur hidupku," sahut Marijo
"Rasa sakit itu akan segera berakhir dan menghilang jika saja kau mau meminta maaf kepada Tejo atas apa yang telah kau lakukan padanya. Selain rasa sakit dipunggung mu menghilang, karma mu yang selama ini telah memenjarakan dirimu dalam Neraka, juga akan berakhir saat Tejo mau memaafkan dirimu." jawab Marijo
"Kalau begitu pertemukan aku dengan Tejo, aku janji akan meminta maaf kepadanya. Aku juga tidak akan mengganggu Tapa Brata nya," ucap Marijo
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Ki Broto
"Tentu saja, kau boleh membunuh ku jika aku yak menepati ucapan ku," tantang Marijo
"Baiklah aku percaya,"
"Tapi mereka tidak akan percaya jika aku datang ke sana tanpa sesuatu yang bisa membuatnya percaya kalau aku memang sudah mendapatkan restu darimu," sahut Marijo
"Tunjukkan cincin ini jika mereka menyangsikan ucapan mu," Ki Broto Seno
Marijo menyeringai saat mendapatkan cincin sakti milik Ki Broto Seno.
Ditemani beberapa anak buahnya, Marijo bergegas menuju ke hutan Ijen mencari keberadaan Arya Tejo.
"Aku harus membunuhnya agar hidup ku bisa tenang. Aku tidak mau terus menerus hidup menderita seperti sekarang. Aku tidak pernah bisa menikah dengan wanita yang kucintai seumur hidup ku. Aku tidak mau keturunan ku menanggung karma hanya bisa menikah dengan Wanita yang tidak mereka cintai. Cukup aku yang merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka, karena tidak bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Cukup aku yang menjalani karma ini dan aku juga yang harus mengakhirinya di sini." ucap Marijo
Setibanya di Alas Ijen Marijo langsung menyembelih seekor anj*ng hutan untuk memancing Arya Tejo keluar.
Namun seberapa banyak ia membunuh hewan itu, Arya Tejo tak kunjung keluar dari tempatnya bertapa.
"Baiklah, jika cara ini tidak berhasil maka aku punya cara lain untuk memancing mu keluar,"
Marijo sengaja mengutus anak buahnya untuk menemui Bayu agar menemuinya.
"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Bayu
"Ki Broto memerintahkan aku untuk memberikan darah ini kepada Arya Tejo," jawab Marijo sembari memberikan sebotol darah Anj*ng hutan padanya.
"Kenapa bukan Aki sendiri yang datang ke sini, lagipula sekarang adalah waktunya ia untuk datang mengunjungi kami. Jadi untuk apa mengutus mu kemari?" tanya Bayu
"Itu karena dia sedang sakit, sehingga beliau mengutus ku datang menemui kalian," sahut Marijo
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, jika kau benar-benar diutus oleh Guruku," ucap Bayu
"Apa benda ini cukup untuk membuktikan bahwa aku tak membohongi mu?" tanya Marijo menunjukkan sebuah cincin sakti milik Ki Broto
Bayu memperhatikan cincin itu dengan seksama.
"Baiklah aku percaya padamu," jawab Bayu kemudian mengajak Marijo menemui Arya Tejo
Dasar bodoh, kau memang terlalu bodoh sehingga mudah dikelabui.
Marijo diam-diam mengambil senjata api miliknya dan menebak Bayu hingga lelaki itu tewas.
Dor, dor, dor!!
Burung-burung seketika berterbangan meninggalkan hutan setelah mendengar bunyi letusan senapan api.
Begitupun dengan Tejo, pemuda itu mulai membuka matanya saat mendengar suara pistol.
"Sekarang penjaga mu sudah tewas, jadi bersiaplah untuk menyusulnya Arya Tejo, hahaha," ucap Marijo tertawa
Ia segera menuju gua tempat Arya Tejo melakukan tapa Brata.
"Kenapa kau selalu menganggu ketenangan ku Marijo, tidak bisakah kau melihat aku sekali saja," ucap Tejo berdiri di belakang Marijo
Tentu saja Marijo terkejut bukan main saat sudah berdiri di belakangnya. Ia segera berbalik dan menodongkan senjata apinya, namun Tejo dengan cepat merebut senjata api itu dan kemudian menghancurkannya.
"Sekarang hanya kita berdua, aku tidak menyesal tapa Brata ku gagal. Asal aku bisa membunuhmu itu sudah membuat ku bahagia Marijo," Tejo segera mengangkat tubuh Marijo
Ia kemudian melemparkannya hingga tubuh Marijo terhempas menghantam pepohonan.
Arya Tejo kembali menyeret lelaki itu kemudian menghajarnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
"Bunuhlah aku Tejo, jika kau ingin membalas dendam kepada ku. Tapi kau harus tahu jika kau membunuhku maka kau akan selamanya hidup abadi sebagai seekor Asu Baung. Dan itu juga berarti bahwa aku dan keturunan ku tidak akan menabung karm atas dirimu. Jadi lakukanlah, bunuh aku sekarang Tejo!" seru Marijo
Mendengar ucapan Marijo, Aryo Tejo mulai bergeming, iapun akhirnya mengurungkan niatnya. Lelaki itu melangkah mundur dan kuku-kukunya yang tajam tiba-tiba menghilang dari jari-jari tangannya.
Marijo menyeringai melihat kebimbangan di mata Arya Tejo. Ia segera mengambil sebuah belati dari balik bajunya dan kemudian menikam jantung Arya Tejo.
"Matilah kau Asu Baung!" serunya kemudian menarik pisau itu dari tubuh Arya Tejo
"Kali ini aku tidak mau gagal lagi untuk kedua kalinya. Aku harus memastikan sendiri kau benar-benar mati kali ini," Marijo kemudian menarik sebuah golok dari sarungnya dan menebas Kepala Arya Tejo
Seketika Angin berhembus kencang, pepohonan pun roboh satu persatu membuat anak buah Marijo berlarian meninggalkan hutan Ijen.
"Kau benar-benar iblis Marijo, aku pastikan kau dan keturunan mu akan terus mencari ku untuk meminta pengampunan dari ku atas apa yang sudah kau lakukan padaku hari ini!" suara Tejo menggema membuat Marijo begitu ketakutan
"Bagaimana mungkin kau bisa hidup lagi setelah aku membunuh mu," ujar Marijo
Lelaki itu menatap kepala Tejo yang tergeletak di tanah, ia kemudian menghampirinya.
Perlahan ia mengambil kepala serigala itu dan menatapnya lekat.
"Apa benar kau begitu sakti hingga tak bisa mati?" tanya Marijo
Mendadak Tejo membuka matanya membuat Marijo yang ketakutan langsung melemparkan kepala itu.
"Hahahaha, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu Marijo!" teriak Arya Tejo
Ia kemudian melesat dan mengejar Marijo yang melarikan diri. Tejo berhasil mengigit punggung Marijo hingga membuat lelaki itu mengerang kesakitan.
"Arrrrrghhh!!"
"Tejo!!!" suara Ki Broto Seno menggema di seluruh Alas Ijen
"Aku sudah melarang mu untuk tidak membunuh Marijo tapi kau tak mengindahkan peringatan dariku. Kau sudah melanggar pantangan besar yang harus kau hindari jika ingin menjadi manusia kembali. Karena kau sudah melanggar perintah ku maka aku akan mengurung mu di hutan ini selamanya. Bertapa lah agar kau bisa merenungi kesalahan mu dan kau bisa menjadi manusia lagi. Kali ini kau tidak akan bisa keluar dari hutan ini sampai ada seseorang yang bisa mengeluarkan dirimu dari penjara ini," tutur Ki Broto Seno
Selesai memberikan ultimatum kepada Arya, tiba-tiba langit menjadi gelap. Angin kencang berhembus menghempaskan tubuh Tejo.
"Dimana ini??" Tejo mulai mengerjapkan matanya dan menatap sekelilingnya.
"Ternyata aku masih di dalam hutan Ijen, kalau begitu aku harus segera pergi dari sini sebelum Ki Broto datang dan memenjarakan aku!" Tejo segera berlari meninggalkan hutan, namun semakin ia berlari maka ia akan terus kembali ke tempat yang sama.
"Tidak mungkin, apa aku benar-benar terperangkap dalam hutan ini selamanya?. Apa aku benar-benar akan menjadi siluman asu baung yang akan menjadi penunggu hutan ini, tidak...aku tidak mau,"
"Tidaaaaakkkk!!!