
*Grep!!
Leo segera menangkap tubuh Oktavia saat para begal itu mendorongnya.
"Terimakasih sudah menolong ku," ucap gadis itu segera melepaskan diri dari pelukan Leo
"Makannya jangan suka memakai barang-barang KW karena itu bisa menarik para penjahat. Karena bagaimanapun juga meskipun barang-barang itu imitasi tetap saja akan terlihat asli jika dipakai wanita cantik seperti dirimu," ucap Leo membuat wanita itu tersanjung namun juga merasa malu.
Sialan, dasar brengsek aku kira dia memuji ku tapi ternyata justru mengolok-olok diriku.
"Tunggu, sepertinya aku familiar dengan wajahmu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya gadis itu mengernyitkan hidungnya
Leo langsung menatap gadis didepannya itu.
"Tentu saja gadis manis, kita sudah dua kali bertemu. Bahkan aku masih ingat dipertemuan pertama kita, Kau adalah teman Luci yang merayuku saat di rumah Arya bukan?"
Seketika wajah Vie memerah saat mendengar ucapan Leo.
Sial, ternyata dia masih mengingat ku,
"Leo, kau Leo bukan?" tanya Vie memastikan
"That's right baby,"
"Tunggu, kenapa wajahmu babak belur seperti itu, apa kau habis berkelahi?" tanya Vie
"Biasalah masalah masalah keluarga, kakak adik berantem dah biasa kan," jawab lelaki itu
"Oh aku kira kau abis kena begal juga,"
Leo segera meninggalkan Vie dan langsung masuk ke mobilnya, sedangkan Vie langsung bergegas menuju halte bus.
Lelaki itu kemudian menghentikan mobilnya dan mengajak Vie untuk masuk kw dalam mobilnya.
"Naiklah!" ajak Leo
"Terimakasih," ucap Vie segera naik keatas mobil Leo
"Dimana rumah mu?" tanya Leo membuka obrolan
"Pasar Minggu,"
"Good, kalau gitu kau temani aku sebentar ke klinik kecantikan, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Leo
"Kamu mau ke klinik kecantikan??"
"Hmm, emangnya kenapa, tidak boleh gitu kalau cowok metroseksual seperti diriku ke klinik kecantikan?" tanya Leo
"Gak papa sih, cuma aneh aja," sahut Oktavia
"Aku hanya ingin mengobati luka di wajahku, aku tidak mau karena luka ini bisa membuat ku terlihat jelek di mata para penggemar ku," jawab Leo
"Oh, kalau soal menyamarkan luka aku bisa membantu mu,"
"Maksudnya?" tanya Leo
"Sebenarnya aku pernah belajar make up artis meskipun hanya sebentar, jadi aku sedikit tahu bagaimana cara menyamarkan luka memar di wajahmu,"
"Wah tidak sia-sia aku menolong mu, kuylah," jawab Leo tersenyum bahagia.
*************
Arya berjalan mengendap-endap menuju ke dapur, pria itu sengaja ingin memberikan kejutan kepada Luci yang masih sibuk memasak makan malam untuknya.
"Coba tebak siapa aku!" ucap Arya memeluk gadis itu dari belakang
*Dug!
Luci segera menyikut lelaki itu hingga Arya memekik kesakitan. Bukan tanpa alasan gadis itu menyikutnya, ia masih trauma hingga mengira jika Gili yang memeluknya.
"Aww, sakit!" ucap Arya memegangi perutnya
Luci segera membalikkan badannya dan sembari memegang pisau dapur di tangannya untuk berjaga-jaga. Namun betapa terkejutnya Luci saat melihat siapa yang kesakitan di depannya.
"Mas Arya!" ucapnya begitu terkejut saat melihat Arya mengerang kesakitan sembari memegangi perutnya.
Luci segera mendekati lelaki itu, "Apa masih sakit?" tanyanya khawatir
"Banget, ternyata sikutan mu sangat luar biasa," sahut Arya menggodanya
"Maaf aku tak sengaja, aku kira kau Gili," jawab wanita itu
"Gili??" tanya Arya mengernyit
"Iya tidak lama ia datang ke mari, aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku rasa ia memiliki tujuan tertentu, hingga sengaja menemui ku saat kau tidak bersamaku," terang Luci
"Jadi ia mulai meneror mu disaat aku sedang fokus mengurusi perusahaan ku. Dasar bajing*n, tidak akan ku biarkan dia mengganggu mu lagi. Aku akan meminta Leo menjagamu mulai sekarang," ucap Arya
******
Alvin berjalan memasuki ruang kerja Gili. Lelaki itu segera duduk di depan Gili dan sengaja mengangkat kakinya di atas meja kerjanya.
"Bagaimana, apa kau sudah bertemu gadis itu?" tanya Alvian menginterogasi Gili
"Hmm, aku sudah menemuinya, tapi sepertinya dia lebih cerdik dari yang aku kira," jawab Gili
"Bilang saja kau gagal menangkap gadis itu. Ingat Gili...waktumu tidak banyak. Jika sampai akhir bulan kau tidak mendapatkan darah balung wangi itu maka kau akan membusuk menjadi mayat." ucap Alvin menggebrak meja
"Baik Yang Mulia, aku janji akan mendapatkan gadis itu sebelum akhir bulan," jawab Alvin
"Dasar manusia tak berguna, sudah aku membekali mu dengan kekuatan supranatural, tapi kau masih saja gagal menangkap gadis lemah itu. Apa aku yang harus turun tangan menangkap gadis itu," gerutu Alvin
"Coba saja kalau kau bisa," umpat Gili lirih
"Apa kau bilang, beraninya kau meremehkan aku!" Alvin segera menarik dasi Gili
"Maafkan aku yang mulia, hamba tidak bermaksud meremehkan anda," ucap Gili
Alvin kemudian melepaskan lelaki itu ean tidak lama melepaskan pukulannya ke wajah tampan Gili hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Gili hanya mengepalkan tangannya menahan penganiyaan Alvin. Ia sengaja menahan emosinya karena ia tahu tidak akan bisa mengalahkan Alvin yang lebih kuat darinya.
"Beraninya mayat hidup seperti mu memaki ku, kau tahu aku bisa saja membunuh mu sekarang juga, dasar manusia tak berguna!" seru Alvin melemparkan Gili hingga menghantam furniture ruangan itu.
Alvin terus meluapkan kekesalannya dengan menghajar Gili hingga babak belur. Setelah puas meluapkan amarahnya ia kemudian menghampiri Gili dan merapikan penampilan CEO muda itu.
"Aku harap ini bisa menjadi pelajaran untuk mu agar kau bisa menghormati aku yang sudah membangkitkan mu dari kematian," ucap Alvin merapikan dasi Gili
Alvin menyeringai dan menginjak kepala pemuda itu.
"Baiklah aku akan mengampuni mu kali ini karena aku juga masih membutuhkan dirimu. Sebaiknya kau ikuti saja semua perintah ku jika kau masih ingin hidup panjang. Ingat...kau tidak lebih dari boneka bagiku, jadi jangan pernah membangkang perintah tuan mu inj!" seru Alvin kemudian meninggalkan ruangan itu
"Baik Yang Mulia," jawab Gili mengepalkan tangannya.
Lelaki itu kemudian berteriak lantang untuk melepaskan rasa kesalnya.
"Aaarrrggghh!, dasar Iblis sialan kau pikir aku takut denganmu, aku berjanji akan membunuhmu setelah aku meminum darah balung wangi itu. Aku pastikan kau adalah orang pertama yang harus aku singkirkan agar kau tidak bisa menindas ku lagi," ucap Gili sinis.
*********
Kampus Universitas Jayabaya.
Semua mahasiswa begitu heboh dengan kedatangan Leonard Sugiono di kampus mereka. Bagaimanapun seorang idol seperti Leo tetap menjadi daya tarik bagi para wanita.
Alih-alih menjadi bodyguard untuk menjaga Luci, Leo lebih memilih menyamar menjadi mahasiswa baru sehingga tak seorangpun mengetahui tujuannya di kampus itu.
Sebaliknya Luci merasa risi karena pemuda itu terus mengikutinya kemana ia pergi hingga muncul rumor Leo masuk ke kampus itu untuk mendekatinya.
"Apa kau tidak bosan seharian mengikuti ku, seperti hari ini Gili tidak akan muncul, jadi kau boleh pulang," ucap Luci
"Meskipun aku bosan tetap saja aku tidak boleh meninggalkan dirimu sendirian, asal kau tahu aku ini orang yang memegang teguh amanah. So aku akan terus mengikuti mu hari ini sampai kau pulang ke rumah dengan selamat," jawab Leo
"Baiklah, kalau begitu tunggu disini sebentar, aku harus ke toilet," Luci kemudian berjalan meninggalkan Leo
Namun pemuda itu terus mengikutinya hingga di depan toilet.
"Apa kau akan ikut masuk juga?" tanya Luci dengan wajah jengah
"Tentu tidak, aku akan menunggumu di sini," jawab Leo mengerlingkan matanya
Melihat Leo berdiri didepan toilet wanita membuat para mahasiswi langsung mengerubunginya.
"Apa boleh aku berfoto bersama mu?" tanya seorang gadis
"Oh tentu saja," jawab Leo dengan senang hati
"Wah bahagianya jadi Luci, bahkan wanita secantik suzy aja tidak dilirik sama sekali oleh Leo. Tapi dia...Leo bahkan rela menunggunya di toilet, uunch so sweat banget gak sih??" ucap seorang gadis
"Oii, jangan pernah membandingkan gue dengan upik abu itu. Bagaimanapun juga aku bisa mendapatkan yang lebih keren daripada Leo si playboy itu!" gertak Suzy membuat para gadis langsung pergi meninggalkan toilet
"Dasar sial, sebenarnya siapa yang di sukai Luci, bukankah kemarin Arya mengumumkan bahwa dirinya adalah kekasihnya, tapi kenapa sekarang dia malah bersama Leo. Jangan bilang dia selingkuh!" ucap Suzy didepan cermin
Gadis itu mencoba menganalisa hubungan Arya, Leo dan Luci.
"Ah benar, aku yakin gadis miskin sepertinya pasti ingin memanfaatkan situasi saat dua orang cogan tajir mendekatinya. Dasar jal*ng beraninya kau mengkhianati Arya. Tapi... bukankah ini bagus, dengan begitu aku masih ada kesempatan untuk mendekati Mas Arya, terlebih ia sudah membatalkan pertunangannya dengan kak Diana. Baiklah sepertinya aku harus segera bertindak, aku tidak mau kalah lagi dari upik abu itu," Suzy segera bergegas mengejar Luci saat melihat gadis itu keluar dari toilet.
"Oii Upik Abu!" seru gadis itu berlari menyusulnya
*Plaakkk!!
Suzy menampar wajah Luci saat berhasil mengejarnya.
"Dasar jal*ng, beraninya kau berselingkuh di belakang Mas Arya!"
Tak terima dengan perlakuan Suzy, Luci pun membalas gadis itu dengan menampar wajahnya.
"Jangan pernah ikut campur kalau kau tidak tahu permasalahannya!" seru Luci
"Wah sekarang kau benar-benar menjengkelkan Luci, jangan harap aku akan takut padamu hanya karena ada Leo di sisimu!" seru Suzy
Saat gadis itu berusaha menyerang kembali Luci tiba-tiba seorang Pria langsung menahannya.
"Jangan bersikap anarkis di kampus, ingat kalian mahasiswa jadi jaga etika kalian," ucap lelaki itu melerai keduanya.
Ia kemudian menarik Suzy menjauh dari Luci saat gadis itu terus memberontak dan berusaha menyerang Luci.
"Lepasin gue!" seru Suzy meronta saat Guntur membawanya pergi
Sementara itu Leo yang masih melayani keinginan para penggemarnya untuk berswafoto, tidak menyadari jika Luci sudah pergi meninggalkan toilet.
"Ah, benar-benar hari yang menyebalkan!" gerutu Luci
Gadis itu kemudian duduk di bangku taman untuk mencari udara segar.
"Sabar aja Lu, jangan diambil hati semua kata-kata Suzy." ucap Oktavia menghampirinya
"Tentu saja Vie, btw bukankah hari ini kau ijin sakit, terus kenapa datang ke kampus?" tanya Luci
"Aku hanya mampir setelah pulang dari klinik, aku mengkhawatirkan dirimu setelah mendengar cerita dari Leo," jawab gadis itu memberikan duduk di sampingnya
Vie kemudian memberikan sebotol air mineral padanya.
"Aku yakin, kau bisa melalui hari yang melelahkan ini," Vie membukakan botol air mineral itu dan memberikannya kepada Luci
"Terimakasih Vie, tapi aku tidak bisa menerima pemberian mahluk jadi-jadian seperti dirimu," jawab Luci menampik botol air mineral pemberian Vie hingga terjatuh
"Oh, kau sudah menyadari jika aku bukan sahabat mu rupanya," jawab Vie yang kemudian berubah wujud menjadi sosok Alvin
"Ah sepertinya ucapan Gili benar, sekarang kau sedikit lebih pintar balung wangi," ucap lelaki itu
"Menyingkirlah dari sisinya atau aku akan membunuhmu!" seru Leo menghampiri keduanya
"Owh, ternyata di kehidupan sekarang pun kamu masih tetap menjadi kacung Kang Mas Sayuti, aku benar-benar iri," jawab Alvin
"Tutup mulutmu dan pergilah, hari ini aku sedang malas berkelahi jadi aku akan mengampuni mu kali ini,"
"Hahahaha, kau pasti tidak mau terlihat jelek di depan para penggemar mu sehingga tidak mau berkelahi dengan ku. Ah ... sayang sekali padahal aku sudah mempersiapkan hadiah penawar racun untuk mengobati Luci," ucap Alvin menyeringai
"Apa maksudmu?" tanya Leo
"Luci memang tidak meminum air pemberian ku yang sudah ku beri jampi-jampi, tapi dia sudah menyentuh botol air mineral itu yang sudah ku beri racun mematikan. Jika dalam waktu tiga jam ia tidak meminum penawarannya maka ia akan mati," terang alvin kemudian terkekeh
"Dasar brengsek!" Leo segera menyerang lelaku itu, namun melihat Luci seketika jatuh pingsan membuat ia mengurungkan niatnya dan menghampiri Luci.
"Luci, bangun Lu!" seru lelaki itu menepuk-nepuk pipinya
"Percuma saja, racun itu sepertinya sudah mulai menyebar. So ... cepatlah bertindak sebelum dia mati sia-sia," ucap Alvin kemudian menghilang dari tempat itu.
To be continued...
Jangan lupa tinggalkan komen terbaik kalian dan dapatkan hadiah poin 1k untuk best komen yang terpilih.
Terus dukung Inhuman Kiss ya 😘😘😘