
Suasana kampus terlihat begitu sepi, maklum Luci datang ke kampus pagi-pagi buta sehingga belum ada satupun Mahasiswa di kampus itu.
"Sepi sekali, padahal sudah pukul tujuh dan setengah jam lagi kegiatan pembelajaran akan di mulai, tapi kenapa belum ada satupun Mahasiswa atau dosen yang datang. Aneh...." Luci segera menuju ruang dosen untuk mengambil buku modul.
Kali ini Luci mengendus aroma wangi melati saat memasuki ruangan pak Sulaiman.
"Kenapa aku tiba-tiba merinding," ucap gadis itu mengusap lehernya
Ia buru-buru mengambil buku modul dia atas meja Pak Sulaiman kemudian pergi melarikan diri dari tempat itu.
"Syukurlah aku sudah keluar dari ruangan itu, entah kenapa aku merasakan ada yang aneh jika masuk ke ruangan itu. Apa ini hanya perasaanku saja apa memang ruang kerja Pak Sulaiman ada penunggunya??"
"Insting ku biasanya tak pernah salah, kerena meskipun aku tidak bisa melihat mahluk gaib tapi aku bisa merasakan kehadirannya,"
Luci seketika melemparkan buku-buku di tangannya saat melihat mawar putih diatasnya.
"Bunga itu lagi!"
Gadis itu segera berlari keluar meninggalkan ruang kelasnya saat merasakan sesuatu yang tak kasat mata sedang mengintainya.
"Brakkkk!!!
Ia menghentikan langkahnya saat pintu ruangan kelas tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
Ia berjalan mundur manakala mendengar derap langkah mendekat kearahnya.
*Tak, tak, tak!
Makin lama suaranya makin terdengar jelas. membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia berusaha membuka pintu ruangan itu, namun tetap saja tak bisa terbuka.
"Siapapun yang ada di luar tolong bukakan pintu, tolong!" seru Luci terus menggerakkan engsel pintunya
Tiba-tiba sesosok mahluk menyeramkan muncul dihadapannya membuat gadis itu langsung menjerit ketakutan.
"Aargghhh!!!"
*Blub, blup, praang!!!
Seketika lampu-lampu di ruangan itu meledak membuat Luci yang ketakutan langsung menutup mata dan telinganya.
Kenapa mendadak sepi, apa mahluk itu sudah pergi,
Luci memicingkan matanya memastikan mahluk itu sudah tak ada lagi di hadapannya.
"Mas Arya!" serunya begitu terkejut saat melihat lelaki itu tengah mencekik leher mahluk gaib dihadapannya.
Ia kemudian menghajar mahluk itu hingga berubah menjadi kepulan asap hitam.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tejo menghampiri Luci
Gadis itu mengangguk pelan, sembari terus menatapnya.
"Kenapa kau tidak memanggil ku jika dalam bahaya,"
"Aku kira kau akan marah jika aku memanggil namamu, seperti waktu itu. Makanya semenjak saat itu aku tak berani lagi memanggil namamu lagi, aku takut kau benar-benar marah padaku, dan memecat ku,"
"Aish dasar gadis bodoh, tentu saja kau boleh memanggil ku jika kau benar-benar dalam bahaya. So mulai sekarang panggil namaku jika kau benar-benar ketakutan atau dalam kesulitan, aku pastikan akan datang kapanpun dan di manapun," jawab Tejo
"Sungguh, apa kau akan tahu dimana pun aku berada?"
"Tentu saja, aku Arya Tejo memiliki radar yang bisa melacak keberadaan mu dimana pun kau berada. Hanya kamu satu-satunya yang bisa memanggil namaku, jadi berbahagialah karena aku sudah memilih mu diantara ribuan wanita," jawab Arya Tejo menyombongkan diri
"Apa kau ini semacam siluman atau Goblin yang memiliki kekuatan supranatural sehingga bisa mendengar suara ku ketika aku memanggil mu?"
"Anggap saja begitu, anggap saja aku ini Goblin atau Son O Gong yang bisa kau panggil kapanpun kau dalam bahaya,"
"Sekarang ayo pulang aku laper," ucap Arya Tejo menggandeng lengan Luci.
Baru saja mereka melangkahkan kaki keluar kelas tiba-tiba mahluk gaib lain muncul dan menyerang keduanya.
"Wah ternyata kau belum mati rupanya, beraninya kau menyerang Arya Tejo!" seru lelaki itu meradang
Ia segera melepaskan Luci dan meminta gadis itu untuk bersembunyi di belakangnya.
"Sepertinya aku harus mencari inti dari roh mu. Karena percuma saja aku membunuh mu jika sukma mu masih hidup. Kau akan bangkit lagi, lagi dan lagi kemudian menyerang ku lagi. Mari kita lihat dimana inti sukma mu berada,_"
Arya kemudian menghancurkan semua benda yang ada di ruangan itu.
Namun mahluk itu tak kunjung menghilang malah semakin terkekeh melihat kegilaan Arya Tejo.
"Kau tidak akan pernah bisa membunuh ku Asu Baung," ucap mahluk itu meremehkannya
"Ah begitu rupanya, jangan sombong kau hantu pesugihan. Aku akan segera menemukan inti sukma mu dan mengirim mu kembali ke Neraka," seru Arya Tejo
"Lakukanlah jika kau bisa!" tantang mahluk itu
Tejo menyunggingkan senyumnya manakala melihat sekuntum mawar putih tergeletak di lantai.
"Ternyata mawar itu yang membawa kau kemari, baiklah mari kita akhiri semuanya," Arya segera menginjak-injak mawar putih itu hingga hancur.
Seketika mahluk itu menghilang menjadi kepulan asap hitam.
"Semuanya sudah beres, sekarang ayo pulang!" seru Arya Tejo.
"Maaf aku tidak bisa pulang sekarang, aku harus mengajar menggantikan dosen utama. Btw aku belum bilang padamu kalau sekarang aku sudah menjadi asisten dosen, itulah sebabnya aku suka pulang malam ataupun berangkat ke kampus pagi-pagi buta. Maafkan aku baru memberitahukan dirimu." sahut Luci
"Kenapa kau mencari pekerjaan tambahan, apa gaji dari aku belum cukup untuk mu?" tanya Arya Tejo
"Gaji sebagai assisten rumah tanggamu memang tinggi dan sudah cukup untuk biaya hidup dan membayar kuliah. Menjadi assisten dosen adalah cita-cita ku dari dulu. Aku ingin menjadi seorang dosen yang bisa membagikan ilmu yang ku miliki kepada para mahasiswa, jadi bukan karena uangnya Mas," sahut Luci
"Oh seperti itu, terus kau akan membiarkan aku kelaparan pagi ini," seru Arya Tejo..
"Tentu saja tidak, aku sudah mempersiapkan sarapan mu di meja makan," jawab Luci
"Tapi makan sendirian mana enak, seperti kata pepatah gak ada lo gak rame. Jadi aku males makan," sahut Arya manja
"Kalau begitu lihatlah fotoku saat kau makan, anggap saja itu aku yang sedang menemani mu, jadi cepatlah pulang dan sarapan. Aku tak mau sampai kamu sakit," ujar Luci
"Ah kau bisa saja membuat ku terbang ke awang-awang, kalau begitu berikan Photo mu padaku sekarang," ucap Arya
"Berikan ponselmu!" seru Luci
Arya segera memberikan ponselnya kepada Luci. Gadis itu kemudian segera bergaya didepan kamera ponsel Arya.
"sialan aku kira kamu benar-benar akan memberikan fotomu padaku, ternyata kau malah berswa foto dengan ponselku, dasar narsis!" celetuk Arya
"Bagaimana kalau kita sarapan di kantin," ajak Luci.
"Kuy,"
Saat keduanya hendak pergi meninggalkan ruangan kelas tiba-tiba pak Sulaiman muncul.
"Bapak!!" Seru Luci terkejut
"Hsish ternyata dia biangnya," celetuk Arya
"Oi dosen sialan, kalau mau kaya kau harus bekerja jangan melakukan praktik pesugihan!" seru Arya membuat Luci semakin terkejut