
"Sekarang saatnya kita dinner sambil menikmati indahnya pantai di malam bertabur bintang," ucap Guntur mengulurkan tangannya
Luci segera meraih lengan pemuda itu dan berjalan di sampingnya.
Arya yang penasaran dengan keduanya, diam-diam mengikuti keduanya.
Lelaki itu terus mengikuti Guntur dan Luci ke tempat keduanya menuju ke sebuah tempat dinner yang di desaign begitu indah dan romantis di dekat bibir pantai.
Sial, sepertinya apa yang diucapkan Leo benar, dia pasti akan menembak Luci di tempat ini. Aku tidak bisa membiarkannya,
Tidak, aku tidak akan membiarkan ini terjadi," Arya segera bergegas untuk mengacaukan makan malam Guntur dan Luci, namun saat ia hampir mendekati keduanya, seseorang membekapnya hingga ia tak sadarkan diri.
"Maaf Arya, sepertinya untuk sementara waktu lebih baik kau tidak menganggu ku dahulu,"
Seorang lelaki kemudian mengikat Arya di sebuah gudang restoran.
"Sekarang saatnya untuk mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya," lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya.
Ia kemudian berjalan menghampiri Arya yang masih belum sadarkan diri.
"Sepertinya semuanya berjalan lancar, tidak ku sangka akan semudah ini, " lelaki itu kemudian mencoba memakaikan kalung itu ke leher Arya.
*Grep!!
Arya tiba-tiba terbangun dan menahan lengan lelaki itu.
"Tidak semudah itu Ferguso!" seru Arya kemudian melepaskan pukulannya kearah ulu hati pemuda itu.
*Arrgghhh!!
"Kau... bagaimana kau bisa," ucap Lelaki itu tak percaya melihat Arya tetap terjaga setelah terkena obat bius.
"Kau mau tahu alasannya?" tanya Arya sinis
Ia kemudian segera berubah menjadi sosok Asu Baung hingga membuat lelaki itu jatuh pingsan di hadapannya.
"Karena kau sudah melihat wujud ku maka bersiaplah untuk menyambut Kematian mu," Arya kemudian berjalan keluar dari Gudang.
***********
Sementara itu Luci segera bergegas meninggalkan Guntur, gadis itu berjalan gontai menuju ke tepi pantai.
Kenapa tidak seorangpun yang menyukai aku, apa memang aku begitu jelek sehingga setiap orang yang kusukai pasti menolak ku. Apa memang aku hanya terlihat menawan di kalangan para lelembut hingga mereka begitu menyukai ku. Apa memang semua balung wangi bernasib sama seperti aku, di sukai makhluk tak kasat mata namun tak di sukai oleh manusia.
Luci terlihat begitu kacau, gadis itu begitu getir saat menerima kenyataan jika Guntur tak mencintainya.
Gadis itu mempercepat langkay menuju ke pantai. Ia sengaja berdiri dibibir pantai meskipun ombak sedang tinggi karena laut pasang.
Ia mengusap lembut air matanya yang mulai berjatuhan membasahi pipinya.
Balung wangi,
Gadis itu segera berlari ke pantai dan berteriak meluapkan kegalauannya.
*Aaarrrggghhhh!!!
Tiba-tiba Ombak besar datang dan menyapu Luci yang berada di bibir pantai.
Balung Wangi,
Luci berusaha keluar dari pusaran air yang terus menggulungnya saat melihat sosok wanita memakai pakaian serba hijau.
Gadis itu berusaha berenang agar bisa keluar dari sapuan Ombak yang menyeretnya ketengah pantai. Namun sekuat apapun ia berusaha menyelamatkan dirinya, tetap saja ia tak bisa melawan ganasnya ombak pantai selatan.
"Tejo...."
Arya Tejo yang berjalan kembali ke restoran tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar suara Luci memanggilnya.
"Luci," Lelaki itu segera melesat menuju sumber suara itu.
Arya segera menceburkan diri ke pantai saat melihat Luci tenggelam. Ia segera berenang menghampirinya.
Saat Luci merasakan tubuhnya begitu ringan dan pandangannya mulai gelap tiba-tiba sesosok pria berenang kearahnya.
"Mas Arya,"
Arya segera menarik gadis itu dan membawanya keluar dari pantai.
Ia membaringkan tubuhnya dan mengeluarkan air yang diminum oleh gadis itu.
Luci kemudian memuntahkan semua isi perutnya tepat badan Arya.
"Hueeekkk!!"
"Ah sial," celetuk Arya
"Maaf Mas," ucap Luci tak enak hati
Lelaki itu segera menceburkan diri ke pantai untuk membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya Arya kembali menghampiri Luci.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arya
"Tentu saja," jawab Luci kemudian berusaha bangkit dan berdiri
Ia kemudian berjalan meninggalkan pantai.
"Bagaimana kau tahu aku tinggal di sini?" tanya Luci penasaran
"Apa aku perlu menjelaskan padamu apa alasan ku pergi ke tempat ini dan meninggalkan acara pertunangan ku?" jawab Arya balik bertanya
"Kenapa?" tanya Luci semakin penasaran
Sial, bagaimana kau tidak peka terhadap perasaan ku,
"Jangan bilang kau kesini untuk meminta ku pulang, karena banyak pekerjaan di rumah," jawab Luci
"Tentu saja kau harus pulang, kau harus menjelaskan padaku kenapa kau pergi menghabiskan akhir pekan berdua dengan Guntur," ucap Arya menatapnya lekat
"Memangnya aku tidak boleh pergi berdua dengan Guntur ya?" tanya Luci lagi
"Tentu saja tidak boleh, kau tidak boleh membuat aku khawatir apalagi merasa cemburu saat melihat mu bermesraan dengan Guntur," jawab Arya
"Cemburu??" tanya Luci mengernyitkan hidungnya
"Ah yang benar saja Mas, jangan bercanda deh. Aku tahu Mas Arya pasti berusaha menghibur ku karena tahu jika ternyata selama ini Guntur tak pernah menyukai ku," imbuhnya sinis
"Apa Guntur tak menyukai mu?" sekarang gantian Arya yang terkejut mendengar ucapan Luci
"Iya, ternyata selama ini aku terlalu kegeeran saja," jawab Luci disambut gelak tawa Arya
"Hahahaha,"
Melihat Arya tertawa riang membuat Luci sedikit kesal, gadis itu melupakan kekesalannya dengan memukuli Arya.
"Dasar jahat, teganya kau menertawakan kesedihan ku," ucap Luci
Saat gadis itu hendak masuk kedalam villa Arya segera menariknya.
"Maafkan aku, sebenarnya aku tak bermaksud menertawakan mu apalagi bahagia di atas kesedihan mu," ucap Arya mengusap air mata Luci
"Sepertinya kamu lapar, bagaimana kalau kita makan mie rebus. Bukankah enak makan mie malam-malam saat udara dingin apalagi kalau pakai telor plus cabe rawit hmmm... pasti mantap," ujar Arya mencoba mengalihkan pembicaraan
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan memasaknya untuk mu," sahut Luci
"Tidak perlu, sebagai permintaan maafan dariku biar aku yang akan memasukkannya untuk mu. Kau tinggal duduk manis dan menunggu saja," Arya kemudian mengajak Luci masuk kedalam Vila dan menyuruhnya duduk di meja makan.
Ia kemudian mencari mie instan di dapur.
"Di sana tidak ada mie instan," ia kemudian bergegas menuju ke kamarnya dan kemudian kembali ke dapur membawa dua buah mie instan dan memberikannya kepada Arya.
"Apa kau membawa mie ini dari rumah?" tanya Arya
"Hmm, biar hemat!" bisik Luci
"Dasar!"
Arya kemudian menyalakan kompor dan menaruh panci kecil keatas kompor. Luci tersenyum simpul saat melihat betapa cekatannya Arya dalam memasak mie instan.
"Tara!!" seru Arya membawa dua mangkuk mie instan ke atas meja makan
"Maaf ya gak ada telor ataupun cabe, so nikmati aja apa adanya ya," ucap Arya
"Hmmm,"
Luci segera menyantap mie instan di depannya dengan lahap hingga tak tersisa sampai kuah-kuahnya.
"Kau pasti sangat kelaparan setelah tenggelam tadi," ucap Arya
"Sepertinya begitu," jawab Luci
"Kalau begitu makanlah punyaku, jangan khawatir aku sudah makan sebelum tiba di sini," jawab Arya menyodorkan mie instannya kepada Luci
"Beneran Mas Arya gak lapar?"
"Melihat mu saja sudah membuatku kenyang, jadi makan saja tak perlu sungkan ataupun malu," jawab Arya
"Terimakasih Mas Arya,"
"Miami," jawab Arya membuat Luci terkekeh mendengarnya
"So sweat banget sih Mas Arya,"
"Baru tahu ya kalau aku sweat?"
Luci mengangguk mendengar jawaban Arya.
"Btw kenapa Mas Arya datang kesini dan meninggalkan acara pertunangan Mas dengan Mbak Diana?" tanya Luci
"Itu karena aku mengkhawatirkan mu, aku takut kamu dan Guntur benar-benar jadian."
"Uhuukk!!" Luci langsung tersedak saat mendengar jawaban Arya
Gadis itu segera mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Arya saat melihat Luci tiba-tiba terdiam
"Aku ...."
"Apa aku salah jika mengkhawatirkan dirimu?, apa aku salah jika aku cemburu saat melihat mu dekat dengan pria lain?" tanya Arya seketika membuat wajah Luci memerah