INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Dendam membara



#Cerita ini hanya Fiktif belaka, nama tokoh, kejadian, kerajaan adalah murni imajinasi author semata #


"Aku yakin, kau bisa melalui hari yang melelahkan ini," Vie membukakan botol air mineral itu dan memberikannya kepada Luci


"Terimakasih Vie, tapi aku tidak bisa menerima pemberian mahluk jadi-jadian seperti dirimu," jawab Luci menampik botol air mineral pemberian Vie hingga terjatuh


"Oh, kau sudah menyadari jika aku bukan sahabat mu rupanya," jawab Vie yang kemudian berubah wujud menjadi sosok Alvin


"Ah sepertinya ucapan Gili benar, sekarang kau sedikit lebih pintar balung wangi," ucap lelaki itu


"Menyingkirlah dari sisinya atau aku akan membunuhmu!" seru Leo menghampiri keduanya


"Owh, ternyata di kehidupan sekarang pun kamu masih tetap menjadi kacung Kang Mas Sayuti, aku benar-benar iri," jawab Alvin


"Tutup mulutmu dan pergilah, hari ini aku sedang malas berkelahi jadi aku akan mengampuni mu kali ini,"


"Hahahaha, kau pasti tidak mau terlihat jelek di depan para penggemar mu sehingga tidak mau berkelahi dengan ku. Ah ... sayang sekali padahal aku sudah mempersiapkan hadiah penawar racun untuk mengobati Luci," ucap Alvin menyeringai


"Apa maksudmu?" tanya Leo


"Luci memang tidak meminum air pemberian ku yang sudah ku beri jampi-jampi, tapi dia sudah menyentuh botol air mineral itu yang sudah ku beri racun mematikan. Jika dalam waktu tiga jam ia tidak meminum penawarannya maka ia akan mati," terang alvin kemudian terkekeh


"Dasar brengsek!" Leo segera menyerang lelaku itu, namun melihat Luci seketika jatuh pingsan membuat ia mengurungkan niatnya dan menghampiri Luci.


"Luci, bangun Lu!" seru lelaki itu menepuk-nepuk pipinya


"Percuma saja, racun itu sepertinya sudah mulai menyebar. So ... cepatlah bertindak sebelum dia mati sia-sia," ucap Alvin kemudian menghilang dari tempat itu.


Leo segera menggendong Luci dan membawanya pulang ke rumah. Arya segera pulang begitu Leo memberitahukan kondisi Luci padanya.


"Maafkan aku Bro, ini semua salahku, andai saja aku tidak lengah dan terus berada di sisinya, aku yakin semua ini tidak akan pernah terjadi," sesal Leo


"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, kau tidak perlulah menyalahkan dirimu sendiri. Sekarang yang terpenting adalah kita harus meminta penawarannya kepada Alvin," jawab Arya


"Kalau begitu biar aku yang akan mengambilnya. Dia bilang akan memberikan penawaran itu jika aku berhasil mengalahkannya," ujar Leo


"Tidak, aku yang harus mengambilnya sendiri. Dari dulu Alvin sangat membenciku hingga ia selalu berusaha menyingkirkan aku untuk merebut tahta raja dariku. Ini adalah peringatan darinya, sampai kapanpun dia akan terus menyakiti orang-orang terdekatku sampai ia mendapatkan apa yang ia mau. Untuk itulah aku harus menyelesaikan dendam ratusan tahun ini." ucap Arya


"Tapi aku takut ini hanya sebuah jebakan untuk membunuh mu, kau tahu kan Alvin adalah orang yang licik,"


"Sejahat-jahatnya Alvin aku yakin dia tidak akan membunuhku, bagaimanapun juga dia adalah adikku aku yakin dia akan memaafkan aku setelah aku menjelaskan semuanya. Lagipula sekarang sudah tidak ada lagi tahta yang kami rebutkan, jadi tidak ada alasan untuknya membunuh ku bukan?"


"Sebaiknya kau jaga dia sampai aku kembali." ucap Arya berpamitan


Arya segera melesat menuju ke kediaman Alvin Syailendra.


Hanya butuh waktu kurang dari lima menit Arya sudah tiba di kediaman Alvin Syailendra.


Akhirnya kau datang juga Kang Mas,


Pintu rumah Alvin tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, begitu Arya berdiri di depannya.


Lelaki itu berjalan perlahan menghampiri Alvin yang sudah menunggu kedatangannya.


"Apa kabar Kang Mas Sayuti," ucap Alvin beranjak dari duduknya


Lelaki yang selalu berpenampilan rapi seperti seorang CEO dengan sepatu fantopelnya yang selalu mengkilap tersenyum menyambut kedatangannya.


"Kabar buruk, karena kau sudah meracuni kekasih ku," jawab Arya begitu santai.


Lelaki itu kemudian duduk di sofa sambil melihat-lihat koleksi lukisan yang terpajang di dinding rumah itu.


"Kenapa kau masih saja mengoleksi para wanita itu, apa kau tidak takut dosa dhimas," ucap Arya sinis


"Hahahaha, jika aku takut dosa mungkin aku sudah bertobat dan tidak menganggu mu. Tapi selama dosa itu tidak kelihatan aku akan terus berbuat dosa dan belum ingin untuk bertobat," jawab Alvin


Arya kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri sebuah lukisan di sudut ruangan.


"Kenapa dia masih ada di sini?" tanya Arya memperhatikan lukisan Juleha


"Itu karena dia yang memilih tinggal di sana, pelacur itu lebih memilih terkurung di lukisan itu daripada membuat malu putranya, ah benar-benar menyebalkan. Andai saja Romo dan Ibu juga memperlakukan aku seperti pelacur itu memperlakukan Wira," tukas Alvin dengan bara dendam di matanya


"Apa karena hal itu kau meracuni Luci??"


"Tentu saja, aku sudah berjanji pada diriku akab membuat mu hidup penuh air mata, aku akan memperlihatkan kepada Romo bahwa anak kesayangan tidak akan pernah hidup bahagia selama aku masih hidup," jawab Alvin


"Itu karena mereka tidak pernah menganggap ku sebagai putranya, mereka tidak menyayangi ku. Mereka pilih kasih," jawab Alvin


"Kamu salah Dhimas, justru karena mereka melakukan itu menyayangi mu,"


"Omong Kosong!" sanggah Alvin


"Sudah menjadi aturan bagi kerajaan Medang untuk memberikan tahta kerajaan kepada putra pertama. Namun tahta itu secara otomatis akan turun kepada putra kedua sang Raja jika sang putra mahkota sakit keras atau meninggalkan. Romo tahu usiaku tidak akan lama untuk itulah dia memberikan tahta itu padaku agar tidak terjadi kudeta saat ia memberikannya langsung padamu, apa sekarang kau mengerti?" tanya Arya


Seketika Alvin berkaca-kaca mendengar penjelasan Arya Tejo.


"Sekarang berikan penawar itu padaku?"


Alvin masih tak bisa berkata-kata, pemuda itu kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Tidak lama seorang wanita datang membawakan kopi untuk keduanya.


"Silakan diminum Mas," ucap wanita itu ramah


"Terimakasih," jawab Arya kemudian menyeruput kopi itu


"Cepat berikan penawarnya, aku tak punya banyak waktu lagi," desak Arya


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengambilnya," jawab Alvin beranjak dari duduknya


Baru saja Alvin akan memberikan penawaran racun kepada Arya tiba-tiba seorang lelaki menusukkannya.


"Kau??, beraninya kau mengkhianati ku," ucap Alvin kemudian mendorong Gili menjauh darinya


Ia segera mencabut belati yang tertancap di tubuhnya, "Pedang Iblis??" ucapnya membelalak


"Benar, hanya pedang iblis yang mampu membunuh Iblis bukan, sekarang kau tidak bisa meremehkan aku, karena tidak ada yang abadi di dunia ini," ujar Gili menyeringai


"Dasar pengkhianatan, aku pasti akan membunuhmu!" seru Alvin mencoba bangkit dan menyerangnya


Ketika Gili akan menusuk Alvin untuk kedua kalinya Arya segera melepaskan pukulannya hingga Gili terhempas menghantam benda-benda di sekitarnya.


"Kau juga tidak bisa membunuhku Tejo, sebentar lagi kau juga akan bertekuk lutut di kakiku,"


"Jangan mimpi anak muda!" seru Arya kemudian kembali menyerang Gili


Namun tiba-tiba Arya berhenti dan memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Sebaiknya kau jangan banyak bergerak Tejo, kerena semakin banyak bergerak kau akan semakin melemah, karena racun yang sudah kau minum akan semakin menyebar," ucap Gili


Arya yang semakin lemas jatuh terkulai di lantai. Tidak lama Ki Brojo pun datang menghampiri mereka.


"Tidak ku sangka akhirnya aku berhasil membalaskan dendam leluhur ku juga. Mulai sekarang aku akan mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya dan menjadikan Arya Tejo sebagai kaki tangan ku, hahahaha!" seru Ki Brojo anom


"Dasar manusia laknat, kalian bersekongkol untuk mengkhianati ku rupanya." Alvin berusaha bangun meskipun pandangannya mulai kabur.


"Selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan kalian memperbudak kakakku. Jika memang dia harus mati maka hanya aku yang boleh membunuhnya bukan kalian!" seru Alvin berusaha menyerang Gili dengan pedang Iblis di tangannya.


Namun serangannya terus meleset karena ia mulai kehilangan penglihatannya.


"Sepertinya kau sudah sekarat sekarang Yang Mulia. Baiklah aku akan mengakhiri penderitaan mu sebagai ucapan terimakasih ku karena kau sudah membangkitkan aku dari kematian," ucap Gili merebut pedang iblis dari tangan Alvin


"Sekarang saatnya menemui Malaikat Maut Alvin Syailendra,"


Tidak, kau tidak boleh membunuhnya,


Arya segera bangkit dan menggunakan sisa tenaganya untuk menahan serangan Gili.


"Dasar bodoh kenapa kau melakukan hal konyol itu," ucap Alvin begitu gusar melihat Arya Tejo kembali tersungkur ke lantai


"Pergilah, dan selamatkan dirimu!" ucap Arya kemudian melepaskan kilatan putih kearah Alvin hingga pemuda itu seketika lenyap dari tempat itu.


To be continued...


Jangan lupa tinggalkan komen terbaik kalian dan dapatkan hadiah poin 1k untuk best komen yang terpilih.


Terus dukung Inhuman Kiss ya 😘😘😘