
"Aaarrrggghhhh!!" Tejo berteriak lantang saat Sukma Pangeran Adipala Sayuti merasuk kedalam tubuhnya.
Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya hingga membuat pemuda itu hampir membunuh dirinya sendiri.
Rasa panas membuatnya menceburkan diri kedalam sungai namun rasa panas itu tak kunjung reda meski ia sudah berendam semalaman di sana.
Rasa putus asa dan hampir mati membuat Tejo Akhirnya keluar dari hutan. Naluri membunuhnya mulai muncul saat mengendus darah segar. Ia membunuh beberapa hewan liar dengan kuku-kukunya yang panjang dan menghisap darahnya. Setelah menghisap darah beberapa binatang barulah rasa panas dan dahaganya hilang.
Ia kemudian membersihkan tubuhnya di sungai dan bergegas meninggalkan hutan dan kembali ke kampung halamannya.
Butuh waktu lama untuk bisa keluar dari hutan kaki gunung Ijen. Ia berkali-kali tersesat karena hutan itu terkenal begitu angker beruntung Arya Tejo memiliki kekuatan supranatural semenjak dirinya dirasuki oleh Sukma Pangeran Adipala Sayuti.
Setelah berhasil keluar dari Hutan Tejo berencana menemui Surti, apalagi kabar Tentara Jepang sudah menyerah kalah terhadap laskar pejuang membuat semangatnya semakin membara.
Namun betapa terkejutnya Tejo saat menyambangi kediaman Surti. Ia terkejut saat melihat keramaian di rumah sang kepala dusun itu.
Karena penasaran Tejo pun bertanya ada apa di rumah itu.
"Hari ini adalah hari pernikahan Surti dengan pimpinan laskar pejuang Marijo," jawab seorang lelaki yang sedang memasang tenda
Betapa terkejutnya Tejo mendengar jawaban dari lelaki itu, seketika dadanya sesak dan jantungnya berhenti berdetak saat membayangkan Surti bersama lelaki lain.
"Kamu gak papa cah bagus?" tanya seorang lelaki membantunya berdiri
"Tidak apa-apa Aki, aku baik-baik saja," Tejo segera bangun dan meninggalkan tempat itu.
Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan pagar rumah itu sebuah suara memanggilnya membuatnya segera berhenti dan menoleh kearahnya.
"Tejo!!" Surti segera berlari saat melihat sosok lelaki yang begitu dirindukannya.
Ia langsung memeluk erat pemuda itu tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya sinis.
"Surti!" seru ayahnya segera menarik gadis itu dari pelukan Tejo
"Kau sudah kalah Tejo, jadi jangan pernah menginjakkan kaki mu lagi disini apalagi menemui Surti jika kau tidak ingin mati!"
"Tapi bukankah kau sudah berjanji akan merestui hubungan kami jika aku berhasil kembali dengan selamat setelah berperang melawan penjajah Jepang?" jawab Tejo balik bertanya
"Apa kau ini dungu Tejo, ah kau memang anak miskin yang tak tahu diri. Kau bahkan tidak tahu apa artinya ucapan ku itu. Baiklah aku akan memberi tahukan dirimu apa maksud perkataan ku itu. Secara etika itu adalah penolakan halus dari ku, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan anak gadis ku kepada rakyat jelata seperti dirimu. Dan aku juga baru tahu jika kau berhasil kembali dengan selamat karena kau lari dari medan perang. Kau lebih memilih menyelamatkan dirimu daripada menghadapi para penjajah. Jadi sayang sekali itu menambah penilaian buruk ku terhadap dirimu, jadi enyahlah dari rumahku sebelum para pejuang mengusir mu," jawab Mardiyono.
"Pasti Marijo yang mengatakan semua itu padamu Ndoro," ucap Arya
"Bagaimana kau tahu?" jawab Mardiyono balik bertanya
"Dia boleh saja mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku, tapi aku tidak akan pernah membiarkannya mengambil wanita ku. Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan Surti di sisiku, meskipun nyawa taruhannya,"
"Tejo," Surti berkaca-kaca saat mendengar ucapan lelaki itu bagaimanapun juga ia begitu terharu dengan keberanian dan ketulusan cinta Tejo.
Gadis itu segera melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya dan berlindung di belakang Tejo.
"Marijo!" seru Mardiyono membuat pemuda itu langsung keluar dari dalam rumahnya.
"Kulo Ndoro," jawab Marijo membungkukkan badannya
"Panggil semua anak buah mu dan seret Tejo pergi dari sini, bila perlu bunuh dia dan buang mayatnya ke hutan,"
"Baik akan saya laksanakan Ndoro," jawab lelaki itu tersenyum sinis
Ia segera bersiul dan tidak lama kemudian puluhan laskar pejuang langsung berkumpul di tempat itu.
"Tangkap Tejo dan habisi!" titah Marijo
Para pejuang awalnya kebingungan saat mendengar perintah sang pemimpin laskar, namun mendengar suara tembakan Marijo membuat para pejuang mau tidak mau harus menyerang Tejo dan membekuknya.
Namun Tejo yang dirasuki sukma Pangeran Adipala Sayuti mampu mengalahkan para pejuang bahkan dalam waktu yang cepat. Tentu saja itu membuat Marijo meradang.
Ia segera membidik lelaki itu dengan senapan miliknya hingga mengenai jantung Tejo.
"Matilah kau sekarang Tejo!" serunya menyeringai
"Tejo, kamu terluka!" seru Surti menutup luka Tejo dengan tangannya
Namun darah Tejo tak berhenti hingga membuat pemuda itu pingsan karena kehabisan darah.
Marijo segera menyeret tubuh Tejo dan membuangnya ke hutan.
"Semoga kau mati dimakan binatang Buas Tejo," ucapnya kemudian menggulingkan tubuh Tejo ke jurang.
Berhari-hari Tejo terkapar di tengah hutan tanpa makanan dan minuman. Tidak seekor binatang buas pun berani mendekatinya.
Entah seperti ada kekuatan magis yang menghalau para penghuni hutan mendekati lelaki itu.
Dalam keheningan malam dibawah siraman cahaya rembulan Tejo merasakan tubuhnya begitu panas rasa haus dan lapar membuat pemuda itu berteriak keras layaknya seekor serigala.
"Auuuuuuu!!!" suara lolongan Tejo membuat para penghuni hutan seketika bersembunyi
Kuku-kukunya yang tajam mulai tumbuh, dan insting membunuhnya seketika muncul saat mengendus wangi aroma darah.
Ia segera bersembunyi saat mendengar derap langkah kaki memasuki hutan.
Ia kemudian langsung menerkam sang mangsa begitu ia tak jauh darinya.
"Tolong!!" seru Surti meronta-ronta saat seekor mahluk berkepala Serigala menerkamnya.
"Surti!" seru Tejo segera melepas tubuh wanita itu
"Bagaimana kau tahu namaku?" tanya Surti begitu terkejut saat mahluk itu menyebut namanya
Tejo segera memalingkan wajahnya saat gadis itu menghampirinya.
"Kau ini manusia atau siluman?" tanya Surti menatap mahluk itu lekat-lekat.
"Kenapa kau ada di hutan malam-malam seperti ini, jika kau tak keberatan aku akan mengantar mu pulang. Bahaya jika wanita seperti dirimu ada di hutan," jawab Tejo
"Kau bisa bicara seperti manusia tapi wujud mu bukan manusia, siapa kau sebenarnya. Kenapa kau tahu namaku dan begitu mengkhawatirkan aku?" telisik Surti
Ia mencoba melihat wajah Tejo namun lelaki itu terus menutupi wajahnya.
"Asal kau tahu aku sengaja melarikan diri dari rumah dan menuju hutan ini untuk mencari kekasih ku, aku tidak mau menikah dengan lelaki lain, lebih baik aku mati dimakan binatang buas atau siluman di hutan ini daripada harus menikah dengan lelaki yang sudah menyakiti kekasihku," terang Surti
"Mungkin kekasihmu sudah mati di makan binatang buas, kembalilah pulang dan lanjutkan hidupmu. Kau masih terlalu muda untuk mati," sahut Tejo
"Untuk apa aku hidup jika selalu menanggung kerinduan kepada kekasihku. Lebih baik aku mati menyusulnya agar kami bisa bersatu do Surga," jawab Surti
"Kalau kau ingin memangsa ku, maka makanlah aku. Dengan senang hati aku akan memberikan tubuhku untuk mu," imbuhnya
"Meskipun aku sudah berubah menjadi seorang siluman aku tidak akan pernah menghisap darah kekasihku sendiri, aku tidak bisa membunuhmu Surti," jawab Tejo
"Apa...kau bilang aku kekasihmu?" Surti segera membuka telapak tangan Tejo yang terus menutupi wajahnya
Surti tersenyum getir saat menatap wajah mahluk itu.
" Mata itu...." gadis itu seketika lemas saat netranya bertemu dengan mata Tejo.
"Tubuhmu boleh berubah tapi tatapan itu tak pernah berubah," ucap Surti terisak
"Sekarang kau sudah tahu aku bukan manusia, sebaiknya kau segera kembali pulang, aku akan mengantarmu."
"Meskipun kau berubah menjadi siluman ataupun iblis sekalipun aku tidak akan berhenti mencintaimu Tejo, aku akan terus berada di sisimu dan menua bersama mu seperti janji kita," jawab Surti
"Tapi semuanya sudah berubah Surti, aku bukanlah Tejo yang dulu lagi. Aku seorang siluman yang mungkin bisa saja memangsamu saat kau bersama ku, jadi pergilah dan tinggalkan aku!"
"Jika kau ingin membunuh ku bukankah harusnya sudah kau lakukan tadi. Kenapa kau tidak melakukannya, kenapa kau tidak menghisap darah ku!" seru Surti
"Tubuhmu boleh saja berubah menjadi Asu baung, tapi hatimu tetaplah hati manusia. Kau tetap Tejoku yang dulu." jawab Surti kemudian memeluknya erat
"Lepaskan aku, jika kau terus memelukku seperti ini maka aku bisa saja membunuh mu,"
"Hisaplah darahku jika itu bisa membuat mu lebih baik. Aku tak keberatan jika harus berubah menjadi sosok asu Baung seperti dirimu," jawab Surti
*Srak, srak, srak!!
Mendengar ada suara orang mendekat, Tejo segera memeluk Surti dan membawanya terbang bersembunyi di pepohonan.
"Itu Marijo, mereka pasti akan membunuh mu jika melihat kita bersama, sebaiknya bawa aku pergi bersama mu. Aku tak mau hidup bersama lelaki seperti dia," ucap Surti
Tejo kemudian membawa Surti pergi menemui Mbah Ponijan.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Surti
"Hanya di sini tempat teraman untuk kita, dab aku juga ingin menanyakan sesuatu pada Ki Ponijan," sahut Tejo
Lelaki itu kemudian memasuki kediaman dukun itu. Rumah Ki Ponijan terlihat berantakan, seperti habis kerampokan.
Tejo bahkan menemukan sang dukun terkapar dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Siapa yang melakukan semua ini padamu Aki?" tanya Tejo
"Ternyata benar dugaan ku, kau berjodoh dengan Pangeran Adipala Sayuti. Meskipun kau tidak memiliki kalung itu kau bisa memiliki kekuatannya," jawab Ki Ponijan
"Apa maksudnya?"
"Percayalah padaku, lebih baik kau tidak memakai kalung itu lagi seumur hidup mu jika kau masih ingin tetap menjadi manusia." jawab lelaki itu
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali menjadi manusia?" tanya Tejo lagi
"Suatu saat kau akan tahu bagaimana caranya kembali menjadi manusia," jawab Ki Ponijan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ternyata benar ucapan dukun itu, kau berubah menjadi Asu Baung setelah aku mengambil kalung mu. Tapi sayang sekali kau tidak akan pernah menjadi manusia lagi karena aku akan menghabisi mu disini," ucap Marijo menodongkan senapannya dipelipis Tejo