
"Ada apa gerangan Aki datang ke istanaku?" tanya wanita itu begitu ramah
"Aku hanya ingin mencari tahu keberadaan teman kami Arya Tejo dan Luci. Kebetulan keduanya hilang setelah terseret ombak di laut selatan. Apa kau tahu dimana keberadaan mereka?" jawab Guntur balik bertanya
"Mohon maaf Aki, Sepertinya mereka tidak ada disini. Meskipun mereka hilang terbawa ombak tapi ombak itu bukan dari laut kidul. Tapi dari kekuatan jahat seorang penganut ilmu hitam yang sengaja mengkambing hitamkan diriku," jawab wanita itu
"Apa kau tahu siapa dia?" tanya Leo
"Tentu saja Pangeran, kami akan membantumu menemukan teman-teman anda."
Tiba-tiba ribuan kunang-kunang bermunculan di istana itu.
"Ikuti saja kunang-kunang itu, mereka akan membawa kalian ke tempat dukun itu," jawabnya singkat
Leo dan Guntur kemudian bergegas mengikuti kunang-kunang yang mulai berterbangan meninggalkan istana laut kidul.
Sementara itu Arya Tejo masih menyisir jalanan setapak di hutan belantara.
"Sepertinya aku tidak asing dengan hutan ini," Arya mengehentikan langkahnya saat melihat seorang lelaki tengah mengasah golok di depannya.
Di sebelahnya terlihat Luci tengah terikat di sebuah pohon besar.
"Apa akan kau lakukan dukun brengsek!" seru Arya
Dukun itu seketika terkekeh melihat kedatangan Arya.
"Akhirnya kau datang juga Asu Baung," ucap sang dukun menyeringai
"Dasar dukun sialan beraninya kau menyakiti wanita ku!" seru Arya dengan mata merah menyala
"Kau harusnya berterima kasih kepada ku Pangeran Adipala Sayuti, karena aku akan memberi tumbal terbaik untuk mu, agar kau bisa menjadi siluman yang paling sakti dan di segani di jagat alam gaib," jawab lelaki itu sembari menatap goloknya yang sudah tajam
"Aku tak perlu menjadi sakti Aki," jawab Tejo
"Kita lihat saja, apa ucapan mu itu benar-benar tulus atau tidak Pangeran," jawab lelaki itu kemudian menghampiri Luci
Gadis itu begitu ketakutan saat sang dukun menjambak rambutnya dan mengalungkan goloknya lehernya.
"Tolong aku Mas Arya!" seru gadis itu dengan wajah ketakutan
Arya berusaha mendekati mereka namun tubuhnya langsung terpental saat menyentuh pagar gaib yang dibentuk menggunakan kelopak mawar merah dan juga bambu kuning.
Dukun itu tertawa terbahak-bahak saat melihat Arya beberapa kali terpental saat mencoba menerobos pagar gaib yang dibuatnya.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa melewati pagar gaib itu pangeran, karena mawar merah pasti akan mengusir siluman seperti dirimu," ucap sang dukun
Ia kemudian dengan sengaja menggores leher Luci hingga darah segar mengalir membuat semua lelembut penghuni hutan berdatangan ke tempat itu.
*Arrgghhh!!
Luci memekik kesakitan saat Golok itu menyayat lehernya.
Balung Wangi....
Arya menjadi hilang kendali saat mencium aroma wangi darah Luci, beruntungnya ia tak bisa mendekati gadis itu karena pagar gaib yang di buat oleh sang dukun.
Dukun itu kemudian membakar dupa sambil membaca mantera untuk memanggil Semua roh dan semua penghuni hutan untuk berkumpul di altar pemujaan yang sudah ia siapkan.
"Berkumpulah wahai penguasa kegelapan, datanglah... datanglah!!!"
Seketika ribuan bayangan hitam bertentangan di atas altar pemujaan. Luci berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya agar bisa melarikan diri dari tempat itu.
Gadis itu benar-benar takut setengah mati saat sang dukun kembali menghampirinya dengan membawa golok di tangannya.
"Sekarang kau akan menjadi menjadi tumbal terakhir ku balung wangi," ucap sang dukun menyeringai
Luci segera menendang lelaki itu saat ia berusaha mengayunkan golok kearahnya.
Dukun itu terkekeh dan kemudian segera bangun lagi dan berusaha mengayunkan golok kearahnya.
"Tejooo!!" seru Luci membuat Arya Tejo seketika langsung mengaum mendengar teriakannya.
"Auuuuu!!!" lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi sosok Asu baung dan berhasil menerobos pagar gaib yang dibuat oleh sang dukun.
Ia kemudian menarik baju sang dukun dan melempar lelaki itu hingga menghantam pepohonan.
*Buuggghhh!!
Arya kemudian menyerang semua lelembut yang berusaha menyerang Luci.
Ia begitu gesit menghajar satu demi satu makhluk astral yang terus berdatangan untuk memakan sang Balung wangi.
"Tolong aku Mas Arya!" seru Luci saat beberapa mahluk astral menariknya.
Arya segera menghampiri gadis itu dan melepaskan pukulannya kearah mahluk gaib yang menyerang Luci.
*Buuggghhh!!
Tiba-tiba tubuh Arya terpelanting saat terkena tendangan keras sang dukun.
"Mas Arya!" pekik Luci segera berlari menyusulnya, namun sang dukun langsung menarik rambut gadis itu dan menyeretnya.
"Kau tidak boleh pergi kemana-mana balung Wangi," ucapnya menyeringai.
Luci berusaha meronta agar bosa melepaskan diri dari cengkeraman sang dukun. Mendapat perlawanan dari Luci membuat sang dukun semakin berang, ia kemudian melemparkan pukulan keras kearah gadis itu hingga ia tak sadarkan diri.
Sebuah tendangan keras menghantam tubuh sang dukun, hingga ia jatuh tersungkur saat hendak menebas leher Luci.
"Siapa kau beraninya mengacaukan rencana ku!" seru sang dukun segera bangkit
Namun dengan cepat Leo kembali melepaskan tendangan menyilang hingga dukun itu kembali terjungkal ke tanah.
"Wah bagaimana ini Gun, gue gak bisa melawan para lelembut," ucap Leo mendorong tubuh Guntur saat beberapa bayangan hitam mendekat kearahnya.
"Sebaiknya kau bawa selamatkan Luci dahulu, biar aku yang akan mengurus para mahluk Astra itu," jawab Guntur
Pemuda itu berjalan menuju altar pemujaan dan mengambil segenggam mawar merah kemudian melemparkannya ke arah para lelembut yang mengejar Leo dan Luci.
Kelopak mawar itu tiba-tiba berubah menjadi belati yang kemudian menyayat satu persatu leher para lelembut itu hingga satu persatu mereka menghilang menjadi kepulan asap.
Mengetahui semakin banyaknya lelembut yang terus berdatangan ke hutan itu membuat Guntur segera menghampiri Leo.
Ia kemudian menutup luka di leher Luci dengan segenggam kelopak mawar merah. Ia merobek kemejanya untuk membalut luka Luci.
Guntur kembali melesat kearah para demit yang terus berdatangan dan menghajarnya satu persatu.
"Wah tidak ku sangka Guntur begitu hebat, bahkan lebih keren daripada si Tejo!" celetuk Leo
Mendengar celoteh Leo membuat Arya segera terbangun.
"Ups sore bro, bukan maksudku membandingkan dirimu, tapi ya begitulah keadaannya," jawab Leo sambil terkekeh
"Dasar brengsek!" cibir Arya lelaki itu kemudian melesat membantu Guntur menghajar para lelembut yang masih tersisa.
"Rasanya seperti sedang nonton film kolosal," ucap Leo sambil menikmati makanan dalam baki sesaji
"Ternyata enak juga ya makanan sesaji itu, pantas saja para hantu itu suka marah, jika ada yang memakan sesajinya," Leo tiba-tiba berhenti mengunyah saat melihat sosok Buto Ijo berdiri di depannya.
"Peace, jangan marah ya Mr. Hulk, gue cuma makan dikit dong kok sesajinya, nih gue balikin," ucap pemuda itu kemudian segera meletakkan kembali ayam bakar yang ada di tangannya.
"Huaaaa!!"
Melihat mahluk itu tak kunjung pergi meninggalkannya, Leo akhirnya berlari meninggalkannya.
Namun pemuda itu terpaksa balik lagi karena melihat Buto Ijo itu mendekati Luci.
"Don't Touch her!" serunya memberi peringatan
"Jangan sentuh atau aku akan mengirim mu ke Neraka!" ancamannya lagi
Melihat mahluk itu tak menggubris perkataannya membuat Leo yang sebenarnya takut memberanikan diri melawan mahluk itu.
Ia berusaha melepaskan pukulan keras kearahnya, namun beberapa kali pukulannya tak membuat mahluk itu bergeming sedikitpun.
"Sial, bagaimana pukulan ku tak menyentuhnya sama sekali," ucapnya menatap tangannya yang terasa nyeri setelah beberapa kali menghajar tubuh sang Buto Ijo
"Coba Lagi Bro!" seru Arya menggodanya
"Yes, kamu pasti bisa!" imbuh Guntur menyemangatinya
"Sial, dasar brengsek beraninya kalian menggoda ku!" cibir Leo
"Yuk bis yuk," sahut Arya
"Gaslah Bro, anggap aja tuh Buto Ijo preman tanah abang lo pasti bisa mengalahkannya," sahut Guntur
"Masa sih?"
"Trust me, it's work," imbuh Arya
Leo kembali menghampiri mahluk itu dan kali ini ia melepaskan tendangan menyilang kearah mahluk itu.
Tendangan Leo tepat mengenai wajah sang Buto Ijo hingga membuat mahluk itu begitu murka padanya. Ia segera mencekiknya dan kemudian melempar tubuh Leo menghantam pepohonan.
"Arrgghhh!!" pekik Leo memegangi punggungnya yang terasa remuk
"Wah pasti sakit sekali, kita harus segera menolongnya," ucap Arya
"Biarkan saja dia," tepis Guntur
"Kenapa??" tanya Arya penasaran
"Lihat saja apa yang akan terjadi dengannya," jawab Guntur memberikan segelas kopi padanya.
Leo berteriak keras dan terus meminta tolong kepada Arya dan Guntur saat sang Buto Ijo terus menghajarnya hingga ia babak belur.
Arya yang tidak tega segera bangun hendak menolongnya, namun lagi-lagi Guntur menahannya.
"Jangan dulu, kita lihat sebentar lagi!" ujar Guntur
"Apa kau sengaja ingin melihatnya mati?" tanya Arya sinis
"Kalau aku ingin membunuh Leo, untuk apa alu membawanya ke tempat ini?" sahut Guntur menatap lekat Arya
Benar saja saat sang Buto Ijo kembali melepaskan pukulannya, Leo segera bangun dan menghantamkan tinjunya hingga mahluk itu seketika jatuh tersungkur.
Pemuda itu mengambil golok dari altar pemujaan dan kemudian menebas kepala sang Buto Ijo hingga terpisah dari tubuhnya.