
Sejarah singkat Kalung Serigala
Dahulu kala di kerajaan Medang hiduplah seorang Raja bernama Bre Aryo Panangkaran bersama seorang permaisurinya. Mereka dikaruniai dua orang putra yaitu Adipala Sayuti dan Lingga Buana.
Lingga Buana yang arogan selalu ingin menang sendiri dan menguasai semua yang ada di istana.
Sedangkan Adipala Sayuti adalah putra mahkota yang lemah karena ia mengidap penyakit mematikan yang membuatnya selalu mengalah terhadap pangeran Lingga Buana.
Mengetahui keserakahan Lingga Buana dan rasa rendah diri pangeran Adipala Sayuti membuat Bre Aryo Panangkaran merasa khawatir dengan masa depan kerajaan Medang di tangan sang pewaris tahta.
Mengetahui Para Petinggi Kerajaan lebih memilih Lingga Buana untuk menggantikan tahtanya semakin membuat Bre Aryo Panangkaran gusar. Sang Raja kemudian melakukan tapa Brata guna meminta petunjuk Sang Hyang Widhi Wasa untuk masalah yang dihadapinya.
Sang Dewa memberinya petunjuk kepada Raja berupa benih anak laki-laki yang akan menyelamatkan tahta Kerajaan Medang.
Mengetahui Sang Permaisuri yang tidak bisa mengandung lagi maka Aryo Panangkaran kemudian memutuskan untuk mengangkat seorang selir untuk mengandung benih pemberian sang Dewata Agung.
Namun pada kenyataannya tidak ada seorang selirpun yang berhasil mengandung benih pemberian sang Dewa.
Aryo Panangkaran yang kebingungan kembali meminta petunjuk Sang Dewata Agung dengan melakukan tapa Brata.
Sang Hyang Widhi Wasa kemudian menyuruhnya untuk menikahi seorang wanita tuna susila dengan tato mawar hitam di bajunya.
Sang Raja kemudian segera mencari wanita itu di semua lokalisasi yang ada di seluruh kerajaan Medang. Dari ratusan wanita tuna susila akhirnya Aryo Panangkaran mengenali Putri Sekar Wangi dari tato yang dimilikinya.
Setelah menjadikan putri Sekar Wangi sebagai selirnya, kemudian lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Wira Andika.
Kelahiran Wira Andika membuat Lingga Buana kebakaran jenggot. Ia merasa jika Wira Andika akan menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan tahta kerajaan Medang. Untuk itulah dia berusaha mati-matian menyingkirkan Wira Andika dan juga ibunya. Saat usahanya gagal Lingga Buana bahkan menyebarkan rumor jika Putri Sekar Wangi berusaha menyingkirkan sang permaisuri dan kakaknya Adipala Sayuti untuk merebut posisi putra mahkota darinya.
Lagi-lagi usaha Lingga Buana gagal, hal ini tentu saja semakin membuat ia begitu membenci Wira Andika.
Hingga pada suatu hari Lingga Buana berencana membunuh Adipala Sayuti yang sedang sekarat dan berusaha menjebak Wira Andika sebagi pelakunya.
Mengetahui Kakak tercintanya meninggal membuat Wira Andika begitu gusar. Bagaimanapun juga meskipun Adipala Sayuti tak pernah mengakuinya sebagai adik, Wira Andika begitu menyayangi kakak sulungnya itu. Ia bahkan merelakan nyawanya demi untuk menghidupkan kembali sang kakak. Dengan bantuan ibunya yang merupakan jelmaan seorang dewi Wira Andika berhasil menghidupkan kembali Adipala Sayuti yang sudah di bunuh oleh Lingga Buana.
Adipala Sayuti berubah menjadi sosok yang kuat dan penyakitnya seketika sembuh setelah Wira Andika memberikan sukmanya.
Ia kemudian diangkat menjadi Raja menggantikan Bre Aryo Panangkaran sang ayahanda.
Namun Adipala Sayuti tak merasa bahagia setelah berhasil menjadi Raja Medang, ia justru merasa sedih karena kehilangan satu-satunya saudaranya yang begitu mencintainya.
Kesedihan Adipala Sayuti membuat ia menarik dari singgasana Kerajaan Medang. Ia memilih turun tahta dan kemudian mengurung diri dalam sebuah benda pusaka yaitu kalung Serigala untuk bertapa dan menghilangkan kesedihannya.
Semoga penjelasan diatas membuat pembaca gak bingung lagi tentang Leo dan Arya.
*************
*Arrrrrghhh!!
Tiba-tiba Arya merasa kesakitan hingga ia terguling-guling ke lantai.
Lelaki itu merasakan jantungnya seperti di tarik hingga darah segar keluar dari mulutnya.
Melihat Arya yang mengerang kesakitan membuat Guntur segera mendekatinya untuk menolongnya.
Namun Arya segera mendorong lelaki itu saat berusaha menolongnya.
"Pergi kaub, aku tidak butuh bantuan mu!" serunya sembari memegangi dadanya
Luci segera berlari menghampiri Arya yang terlihat pucat pasi.
"Kau pasti sangat kesakitan!" seru Luci menatapnya gusar
Saat Luci meraih tangannya Arya kemudian pingsan dalam pelukannya.
"Tenanglah aku pasti akan menyelamatkan mu," ucap Luci
"Biar aku yang akan membawanya pulang, sebaiknya kau carikan saja taksi untuk kami," ucap Guntur kemudian memapah tubuh Arya Tejo
Luci segera pergi untuk mencari taksi. Setelah menunggu hampir dua puluh menit akhirnya sebuah taksi melintas di depan kediaman Alvin.
"Karena Arya tak menginginkan kehadiran ku, maka aku minta kau menemani Luci mengantar arya pulang. Biarkan aku yang akan membawa motormu dan mengikuti kalian dari belakang," ucap Guntur meminta bantuan Vie
"Ok,"
Vie segera memberikan kunci motornya dan masuk kedalam taksi.
Sudah hampir dua hari Arya Tejo terbaring sakit di rumahnya, Luci tidak berani membawa lelaki itu ke rumah sakit karena Guntur melarangnya.
Tepat di hari ke tiga saat purnama bersinar terang, Guntur kembali menjenguk Arya untuk melihat keadaannya.
Entah kenapa Guntur terlihat berbeda malam itu. Ia memakai baju hitam-hitam seperti seorang paranormal.
Pemuda itu membawa sebotol darah binatang yang sengaja ia sembunyikan agar Luci tak mengetahuinya.
"Sekarang saatnya kau bangun Tejo," Guntur mengangkat tubuh Arya Tejo kemudian membawanya keluar menuju kamar Rahasia.
Ia membaringkan tubuh lelaki itu di sebuah tikar pandan dan kemudian menyiapkan sesaji di depannya.
Sebelum memulai ritual, Guntur terlebih dahulu membuka mulut Arya Tejo dan membantunya meminum darah segar yang dibawanya.
"Sekarang kau akan kembali pulih Tejo, mungkin alunan suara kidung Lingsir wengi akan membantu membangkitkan sukma mu yang berkelana mencari saudaramu," ujar Guntur
Ia kemudian menutup Pintu Kamar Rahasia itu saat melihat Luci mencoba melihat apa yang dilakukannya.
Aroma kemenyan mulai menyeruak mengisi ruangan kamar itu, Guntur kemudian mengambil daun sirih dari sesaji dan mengunyahnya.
"Lingsir wengi, Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang, Ngerindhu ati
Kawitane, Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane, Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta, Kadung lara, Sambat sambat sapa. Rina wengi, Sing tak puji ojo lali,Janjine muga bisa tak ugemi...."
Suara merdu Guntur mampu membuat Arya Tejo perlahan membuka matanya.
"Kau sudah bangun Le?" tanya Guntur yang sudah di rasuki oleh Ki Ponijan
"Guntur, bagiamana kau bisa memanggilku dari kematian?" tanya Arya begitu terkejut
"Sekarang tidak penting kau menanyakan itu padaku, yang jelas Kau harus membawa Leo kembali agar kau tetap hidup Tejo. Yang Leo ucapkan itu benar, dia memang ada di hatimu. Meskipun Alvin berusaha menyingkirkanya dengan membakar lukisannya, tetap saja dia tidak bisa membunuhnya karena sebagian jiwanya ada dalam dirimu. Namun sebaliknya, kau tidak akan bisa hidup jika dia juga mati di alam sana. Hanya kau yang bisa merasakan dia masih hidup atau sudah mati. Hanya kau juga yang bisa melacak keberadaannya karena kalian saling terhubung, jadi sekarang rasakan apa dia masih hidup atau sudah matu?" ucap Guntur
"Aku masih merasakan denyut jantungnya meskipun lemah Gun," jawab Arya
"Kalau begitu sekarang saatnya kau menyelamatkannya, sekarang pejamkan matamu dan carilah keberadaan Leo dengan mata batin mu. Aku akan berusaha membantu mu semampuku," sahut Guntur