INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Menyelamatkan Luci



"Tidak akan ku biarkan kau mengacaukan rencana ku!" seru Alvin segera melepaskan pukulan kearah Guntur.


*Blaaashhh!!


Alvin merasakan sebuah pagar gaib menangkis pukulannya, hingga tubuhnya terpental saat hendak menyentuh Guntur.


Lelaki itu terhempas hingga tersungkur ke lantai.


Braakkk!!


"Wah keren, dia benar-benar keren. Tidak ku sangka satpam komplek bisa mengalahkan Alvin si Iblis licik itu," ucap Arya


Sial, bagaimana mungkin dia bisa membalikkan pukulan ku,


Guntur yang mulai kerasukan kemudian menggerakkan tubuhnya seperti seorang yang sedang menari, ia meliuk-liukkan tubuhnya begitu gemulai membuat Alvin semakin geram.


"Apa yang sedang ia lakukan, apa dia sengaja meledekku!" Alvin semakin tersulut emosinya saat melihat Guntur terus menari mengelilinginya.


Alvin segera bangkit dan kembali melepaskan pukulannya kearah Guntur, namun kembali tubuhnya terhempas saat akan menyentuh Guntur.


*Arrrrrghhh!!!


Tubuh Alvin terhempas hingga menghantam dinding bangunan hingga hancur.


Arya berjalan menghampiri bongkahan dinding ruangan yang membentuk sebuah pintu masuk.


"Dia benar-benar membuka gerbang alam gaib hanya dengan menari," Arya segera memasuki pintu alam gaib untuk mencari Luci


Dimana kamu Luci,


Arya terus berjalan melewati padang ilalang hingga tiba ke sebuah perkampungan yang dipenuhi oleh para wanita.


"Dasar bajing*n, ternyata dia menyembunyikan para wanita itu disini,"


Arya segera membebaskan satu persatu wanita yang terkurung dalam desa itu.


Dari sekian banyak wanita yang sudah kau bebaskan kenapa aku tidak melihatnya, dimana kamu Luci.


Arya menghentikan langkahnya saat melihat sebuah patung wanita cantik di sebuah altar persembahan.


"Aku seperti familiar dengan wajahnya," ucap Arya mendekati patung wanita itu


Ia kemudian meninggalkan tempat itu saat tidak berhasil menemukan Luci.


"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Guntur dengan nada sinis


"Apa maksudmu?"


"Kenapa kau tak membebaskannya?" tanya Guntur membuat Arya mengernyit bingung


"Semuanya sudah aku bebaskan," jawabnya lirih


"Tapi Luci, belum kau bebaskan."


"Kalau saja aku bisa menemukannya aku pasti sudah membebaskannya, entah dimana Iblis sialan itu menyembunyikan Luci," ucap Arya kemudian mendekati Alvin dan menjambak rambutnya


"Dimana kau sembunyikan Luci!"


"Sampai kapanpun aku tidak akan menunjukkannya padamu." jawab Alvin tersenyum mengejeknya


Merasa kesal dengan jawaban Alvin, Arya kemudian menghajar pemuda itu bertubi-tubi.


"Stop, sampai matipun kau menghajarnya dia tidak akan pernah membuka mulutnya," jawab Guntur


"Sebaiknya kau ikut aku untuk mencarinya," imbuh Guntur


Ia kemudian memasuki pintu Gaib diikuti oleh Arya. Guntur menghentikan langkahnya dan menatap altar persembahan yang ada di tengah kampung itu


"Kalau kau ingin menyelamatkan Luci maka kau harus mencium patung wanita itu!" ucap Guntur menunjuk patung wanita didepannya


"Kenapa aku yang harus menciumnya, kenapa bukan lo aja!" tolak Arya


"Karena hanya kamu yang bisa melakukannya, suatu saat kau akan tahu kenapa kau harus melakukan ini pada patung wanita itu," jawab Guntur


"Aku akan membantumu menghancurkan altar persembahan ini," ucap Guntur


"Kalau cuma menghancurkan altar persembahan seperti ini aku juga bisa. jadi lebih baik aku saja,"


Arya kemudian mendorong Guntur untuk menjauhi altar persembahan.


Arya mengepalkan tangannya dan kemudian menghantamkannya ke tanah. Sebuah guncangan keras membuat tanah Guntur dan Arya terhempas dari tempat itu.


"Sial, bagaimana pukulan ku malah berbalik menyerang ku!" seru Arya kesal


"Sebaiknya jangan sia-siakan tenaga mu, karena kau tidak akan bisa menghancurkan altar itu," sahut Guntur


"Dih sombongnya!" cibir Arya


"Bukan maksudku untuk menyombongkan diri, tapi waktu kita tidak lama. Lihat saja pintu gaib itu, semakin lama semakin mengecil ukurannya. Jika kita berdua tidak segera keluar dari tempat ini maka selamanya kita tidak akab bisa keluar dari sini," ujar Guntur


"Hmm,"


Guntur segera memusatkan konsentrasinya dan segera menghantamkan pukulan tanah. Kembali sebuah gempa mengguncang tempat itu. Seketika Altar persembahan langsung roboh dan hancur.


Guntur segera menyelamatkan patung wanita itu sebelum hancur tertimpa tiang Altar.


"Sekarang aku serahkan patung ini padamu, jika kau ingin menyelamatkan Luci maka lakukan apa yang aku suruh, atau kau akan menyesal karena akan kehilangan dia untuk selamanya,"


"Ah sial, terpaksa gue cium juga nih patung demi Luci," ucap Arya


Lelaki itu segera memejamkan matanya dan mencium bibir patung wanita itu.


Wuushh!!!


Dimana aku???


Arya tampak kebingungan saat menyadari dirinya kembali ke alas Ijen.


"Tejo!!!" suara Ki Broto Seno menggema di seluruh Alas Ijen


"Aku sudah melarang mu untuk tidak membunuh Marijo tapi kau tak mengindahkan peringatan dariku. Kau sudah melanggar pantangan besar yang harus kau hindari jika ingin menjadi manusia kembali. Karena kau sudah melanggar perintah ku maka aku akan mengurung mu di hutan ini selamanya. Bertapa lah agar kau bisa merenungi kesalahan mu dan kau bisa menjadi manusia lagi. Kali ini kau tidak akan bisa keluar dari hutan ini sampai ada seseorang yang bisa mengeluarkan dirimu dari penjara ini," tutur Ki Broto Seno


Selesai memberikan ultimatum kepada Arya, tiba-tiba langit menjadi gelap. Angin kencang berhembus menghempaskan tubuh Tejo.


"Dimana ini??" Tejo mulai mengerjapkan matanya dan menatap sekelilingnya.


"Ternyata aku masih di dalam hutan Ijen, kalau begitu aku harus segera pergi dari sini sebelum Ki Broto datang dan memenjarakan aku!" Tejo segera berlari meninggalkan hutan, namun semakin ia berlari maka ia akan terus kembali ke tempat yang sama.


"Tidak mungkin, apa aku benar-benar terperangkap dalam hutan ini selamanya?. Apa aku benar-benar akan menjadi siluman asu baung yang akan menjadi penunggu hutan ini, tidak...aku tidak mau,"


"Tidaaaaakkkk!!!


"Kenapa aku kembali lagi kesini, bukankah aku harusnya sedang bersama Guntur di rumah Alvin??"


*Srak, srak, srak!!!


Sepertinya ada yang datang ke tempat ini?


Lelaki itu kemudian mengintip siapa yang memasuki alas Ijen dari balik dedaunan.


"Bagaimana mungkin ada manusia yang datang ke hutan ini, apa dia pendaki yang tersesat?" Arya terus mengamati wanita yang berjalan mendekat kearahnya itu.


"Dia sedang hamil??, bagaimana mungkin wanita yang sedang hamil tua berkeliaran di hutan angker seorang diri. Apa dia tersesat atau dia datang untuk bunuh diri??" rasa penasaran membuat Arya terus mengikuti wanita itu.


"Arrgghhh, perutku!" seru wanita itu mengaduh sembari memegangi perutnya


"Apa yang terjadi, apa dia akan melahirkan??. Berbahaya sekali jika ia melahirkan di hutan ini, aku takut para penghuni hutan akan memangsa bayi itu,"


Benar saja, seperti dugaan Arya, wanita itu benar-benar melahirkan bayinya di hutan itu. Tidak lama terdengar Suara tangisan bayi menggema membangunkan para lelembut penghuni Alas Ijen.


Aroma wangi darah sang bayi menyebar keseluruh penjuru mengundang para mahluk gaib mendatangi tempat itu


"Sial, mereka benar-benar datang," Arya segera melesat dan menyambar tubuh sang bayi saat para lelembut itu mencoba memakannya.