INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Perangkap



Gili terlihat gamang sembari memegangi penawar racun di tangannya. Lelaki itu terus mondar-mandir di ruang tamu. Ia begitu dilema saat melihat Ki Brojo bersikeras untuk menjadikan Arya sebagai kaki tangannya, sementara ia begitu menginginkan Luci untuk menjadi tumbal terakhirnya.


"Aku harus menyelamatkan Luci bagaimanapun caranya, aku tidak bisa bergantung kepada Ki Brojo atau siapapun. Aku harus mendapatkan tumbal terakhir ku agar aku bisa tetap hidup, aku belum mau mati, masih banyak yang harus aku lakukan," Gili segera mengambil kunci mobilnya dan berlalu pergi


Namun Ki Brojo menghadangnya di depan pintu.


"Kau tidak boleh pergi sekarang, masih banyak yang harus kita lakukan untuk menjadikan Arya sebagai kaki tangan ku," ucap Ki Brojo mencegahnya


"Persetan dengan semua ritual mu Aki, yang aku butuhkan sekarang adalah balung wangi. Kau tahu bukan, jika aku akan sekarat jika tidak mendapatkan darah balung wangi sampai malam ini?"


"Semuanya bisa kau dapatkan setelah kita selesai melakukan ritual untuk menjadikan Arya sebagai sekutu kita. Kau hanya perlu bersabar sampai besok malam, semua akan segera menjadi kita,"


"Cih, kau hanya mementingkan dirimu sendiri Aki, bahkan jika aku menunggu sampai besok pagi mungkin Luci akan mati dan itu berarti aku juga akan mati. Apa ini yang kau inginkan dari awal, kau menyuruhku membunuh Alvin dan sekarang ingin menyingkirkan aku setelah kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan. Dasar brengsek!" gerutu Gili


Pemuda itu kemudian meninggalkan kediaman Ki Brojo meskipun lelaki itu berusaha menahannya. Bukan hanya itu Ki Brojo juga berusaha menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka namun Gili terap bersikeras meninggalkan padepokan Ki Brojo.


Kediaman Arya Tejo.


Setelah meneguk segelas kopi hitam, Guntur mengambil sebatang rokok yang ada dalam baki sesaji dan menyalakannya. Ia kemudian menghisapnya sambil menikmati rasa kretek khas untuk para lelembut itu.


Guntur terlihat begitu menikmati kretek di tangannya, sembari terus mendengarkan ucapan Ki Ponijan. Pemuda itu mencermati setiap ucapan dan saran dari leluhurnya itu Pemuda itu kemudian membuang asap rokoknya ke udara, dan tak lama seperti seorang kesurupan Guntur menari dengan gemulai di bawah cahaya rembulan.


Sementara itu Leo terus mengawasi Luci yang semakin lama semakin membiru wajahnya.


"Bagaimana ini sudah lebih dari tiga jam, aku takut dia sekarat sekarang," Leo kemudian menyentuh kening Luci yang semakin dingin.


Ia kemudian menyusul Guntur yang masih menari sambil menikmati rokoknya.


"Udahan belom ritualnya Gun, Luci sekarat!" seru Leo menghampiri Guntur


"Jangan khawatir cah bagus, Luci akan baik-baik saja," jawab Guntur dengan santai


"Gundul mu, bagaimana dia baik-baik saja jika kondisinya semakin kritis," cibir Leo


"Percayalah, Gili tidak akan membunuh gadis itu karena dia sangat menginginkannya, jadi sebaiknya kita fokus menyelamatkan Alvin agar bisa menyelamatkan Arya lebih dulu," jawab Guntur


"Apa kau tahu siapa yang membuat Luci seperti itu?" tanya Leo


"Alvin,"


"Kalau begitu tunggu apalagi, lebih baik kita selamatkan Luci. Setelah itu baru kita menyelamatkan Arya. Kita tidak perlu menyelamatkan Iblis sialan itu. Lagipula dia tidak akan mati semudah itu bukan," sahut Leo


"Kau benar Leo, tapi Arya meminta kita menyelamatkan Alvin, karena hanya Alvin yang bisa menyelesaikan masalah ini," jawab Guntur


"Apa maksudmu?" tanya Leo


"Bukankah Alvin yang sudah meracuni Luci, jadi aku yakin dia punya penawarnya. Jadi dengan menyelamatkan Alvin kita bisa menyelamatkan semuanya, apa kau mengerti?" jawab Guntur


"Iya Mbah dukun, Btw apa kau sudah mendapatkan wangsit?" tanya Leo


"Tentu saja," Guntur kemudian masuk kedalam rumah dan menghampiri Alvin


"Untungnya yang menusuk Alvin hanya seorang manusia jadi dia masih bisa diselamatkan," ucap Guntur


"Apa Iblis seperti dia bisa mati?" tanya Leo


"Tentu saja, tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Tuhan Sang Pencipta." jawab Gubtur


Ia kemudian mengambil darah ayam cemani dari sesaji dan menyiramkan keatas bagian tubuh Alvin yang terluka. Guntur kemudian memejamkan matanya untuk memanggil sukma Alvin yang sedang melanglang buana.


Selesai memanggil Sukma Alvin dan membawanya kembali masuk ke raganya iapun mulai membuka matanya.


Ajaib tiba-tiba luka di tubuh Alvin langsung mengering dan menutup.


Tidak lama lelaki itu membuka matanya, dan segera bangun.


"Terimakasih sudah membangkitkan aku Aki," jawab Alvin kemudian duduk bersila.


Lelaki itu kemudian memejamkan matanya, dan tidak lama ia menghampiri Luci.


"Maafkan aku Luci, aku memanfaatkan dirimu untuk bisa melukai Arya karena aku tahu hanya engkaulah satu-satunya kelemahan Kang Mas," ucap Alvin


"Sayang sekali Gili sudah merebut penawar racun itu dariku. Tapi jangan khawatir aku masih menyimpannya sedikit," imbuhnya


Saat ia akan memberikan penawaran racun kepada perempuan itu, Guntur segera mencegahnya.


"Kenapa, apa kau ingin melihat Luci mati?" tanya Leo penasaran


"Sebagai pembuat racun aku yakin selain kau memiliki penawarnya kau juga tahu bagaimana cara mencegah racunnya menjalar atau setidaknya bagaimana ia bisa tetap hidup meskipun tanpa penawar racun itu," tutur Guntur


"Dasar brengsek, apa kau tidak lihat kondisinya yang sekarat, apa jangan-jangan lo ingin melihat Luci Mati."


"Bukan begitu, hanya saja kita bisa menjadikan Luci sebagai sandra untuk membebaskan Arya," jawab Guntur


"Hah!" seru Leo begitu tercengang mendengar ucapan Guntur


"Kau benar, bagaimanapun juga melihat sifat serakah Gili, dia pasti akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Luci. Apalagi dia sebenarnya sudah sekarat, dia akan mati jika sampai besok malam tidak meminum darah balung suci." terang Alvin


"Begitu banyak balung wangi di dunia ini jadi tidak harus Luci bukan," sahut Leo


"Hanya balung wangi dengan weton tertentu yang bisa melengkapi syarat untuk menjadi manusia sakti. Dan kebetulan hanya Luci yang memiliki semua itu. Dia adalah Balung Wangi sempurna yang ada di dunia ini. Lahir di alas Ijen yang merupakan tempat bersemayamnya para lelembut, Energi bulan purnama membuat ia semakin bersinar hal itulah yang membuatnya begitu istimewa dibandingkan. Balung Wangi lainnya." terang Alvin


"Lalu bagaimana jika Luci tewas karena kalian tidak memberikan penawar racunnya, apa yang harus aku katakan pada Arya nanti,"


Alvin kemudian meniupkan sesuatu di telapak tangannya hingga muncul tiga tangkai bunga Aster di tangannya.


"Setidaknya bunga Aster ini bisa membersihkan racun yang ada di tubuh Luci," Alvin meletakan bunga itu di atas tubuh Luci.


"Syukurlah, kalau begitu. Lalu apa rencana mu selanjutnya?" tanya Leo


Guntur kemudian menceritakan detail rencananya kepada Leo dan Alvin.


"Kenapa harus Al yang pergi menolong Arya, terus terang saja aku belum mempercayainya seratus persen mengingat ia begitu membenci Arya dan selalu berusaha membunuhnya setiap ada kesempatan," ucap Leo


"Terserah kau sajalah, lagian jangan percaya padaku karena itu musrik," celetuk Alvin


"Sebaiknya kalian berdua akur, karena sukses tidaknya rencana kita tergantung kalian berdua," ujar Guntur.


Alvin dan Leo kemudian pergi meninggalkan tempat itu tinggalah Guntur dan Luci.


Seperti prediksi Guntur tidak lama kemudian Gili mendatangi rumah itu.


"Kasian sekali Luci, apa kalian belum mendapatkan penawarnya?" tanya Gili menghampiri Luci


"Apa kau benar-benar akan membunuhnya dengan tetap membiarkannya sekarat tanpa mencari obat penawar?" imbuh Gili


Guntur hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran pemuda itu.


"Sebaiknya khawatirkan saja dirimu, dan jangan ikut campur urusan orang lain," sahut Guntur


Gili yang emosi segera menyerang Guntur.


"Sebaiknya jaga mulutmu, kau hanya dukun kemarin sore jadi jangan sok tahu!" Gertak Gili


"Bukan sok tahu, tapi karena aku tahu semuanya hingga berani berkata seperti itu. Jika kau benar-benar menginginkan Luci menjadi pengantin mu maka kau harus melakukan apa yang aku minta?" sahut Guntur


"Tentu saja aku tidak mau, lagipula aku butuh penawar racunnya dan kau pasti membutuhkannya untuk mengobati Luci bukan?"


"Aku tidak butuh penawar racun itu, karena jika aku mengambilnya darimu kami tetap akan kehilangan Luci karena kau pasti membawa dia pergi bukan. Bagaimana jika kita melakukan barter?" tanya Guntur


"Barter??" Gili mengernyitkan keningnya


"Hmmm, aku tahu betapa kau sangat membutuhkan Balung Wangi agar bisa terus hidup dan menjadi manusia sakti. Jadi bagaimana jika kita barter Luci dengan Arya?"


"Tapi sayangnya aku tidak menerima barter mayat," jawab Gili


"Jangan Khawatir, meskipun kami tidak memiliki penawaran racun tapi bunga aster yg di genggam Luci sudah cukup untuk menjadi penawar alami untuk menghilangkan racun yang ada di tubuhnya,"


"Apa!!" seru Gili terkejut


"Jadi bagaimana?" tanya Guntur lagi


"Baiklah aku setuju," sahut Gili mengulurkan tangannya


Guntur segera menjabat tangan Gili, namun lelaki itu segera menariknya dan kemudian membanting tubuh Guntur dan memitingnya.


"Kau pikir aku akan bekerja sama dengan manusia lemah seperti dirimu, jangan mimpi!" seru Gili kemudian mengeluarkan belati dari balik bajunya.


"Lepaskan dia atau aku akan membunuhmu!" Seru Alvin tiba-tiba muncul dan mengalungkan pedang iblis ke leher pemuda itu.