
"Cerita ini hanya Fiktif belaka, Semua adegan, tokoh, setting, alur adalah murni imajinasi author, so harap bijak dalam membaca.#
Wangi sekali aromanya, pasti Luci sedang memasak," Leo segera beranjak dari ranjangnya dan bergegas menuju ke dapur
"Kamu masak apa sih Lu, kok aromanya wangi banget?" tanya Leo
"Semua makanan kesukaan Mas Arya," jawab Luci
"Kesukaan ku gak ada?" tanya Leo lagi
"Aku tidak tahu makanan kesukaanmu jadi Aku tidak masakin makanan favorit mu. Beritahu aku apa makanan kesukaanmu, besok pasti aku akan membuatkannya untukmu," jawab Luci
"Oklah kalau gitu," Leo kemudian segera duduk dan menikmati sarapannya
"Mas Arya kemana, kok belum bangun?" tanya Luci
"Dia masih sedang ke luar negeri untuk melakukan perjalanan dinas, mungkin selasa dia baru balik lagi ke Indonesia, so kamu yang sabar ya. Kalau rindu telpon saja dia atau video call kalau pengin lihat wajah nyebelinnya," sahut Leo
"Oh begitu, tapi semalam aku masih melihat dia, memangnya kapan dia jalan?"
"Semalam setelah menina bobokan kamu,"
"Astagfirullah yang bener Le!" seru Luci tak percaya
"Benerlah masa gue bohong. Apa lo gak ingat semalam Arya dan kamu ehek dulu sebelum dia pergi ke Singapura," sahut Leo
"Yang bener Le, masa sih aku sama dia....," Luci segera memegangi badannya
"Tidak mungkin, aku yakin tidak terjadi sesuatu antara aku dan Mas Arya," imbuhnya
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Seorang lelaki dan wanita berada dalam satu kamar mustahil bila tidak terjadi apa-apa. Sebaiknya kau telpon saja Arya tanyakan pada dia apa yang sudah ia lakukan padamu," jawab Leo.
"Oh, nanti saja telponnya Sekarang aku harus berangkat ke kampus," Luci kemudian segera berkemas dan pergi ke kampus.
**********
Kampus Jayabaya.
Setibanya di kampus Oktavia sudah menyambut Luci didepan ruang kelasnya.
"Pagi bestie, apa kabar?" sapa Vie sumringah
"Pagi Vie, Alhamdulillah aku baik. Akhirnya bisa lihat kamu lagi di kampus, seneng banget deh kita bisa curcol lagi," jawab Luci memeluknya erat
"Alhamdulillah, berkat bantuan mu dan Mas Arya aku bisa kembali sehat lagi, thanks ya Lu,"
"Sama-sama," jawab Luci
"Btw gimana dengan lowongan pekerjaan di sekolah itu, apa kamu jadi mengajar di sana?"
"Tidak, aku sudah memutuskan untuk membatalkan rencana mengajar di sana. Lagipula kontrak kerjaku berhasil diperpanjang jadi aku tidak mungkin keluar dari perusahaan itu. Kau tahu kan tidak ada tempat kerja yang nyaman dan menyenangkan selain di perusahaan tersebut," jawab Vie
"Syukurlah kalau gitu, aku ikut senang."
"Lalu bagaimana dengan kamu, apa kau masih menjadi assisten dosen Pak Sulaiman?" tanya Vie
"Pak Sulaiman mengundurkan diri sebagai dosen, so secara otomatis gue juga jadi pengangguran lagi sekarang," sahut Luci
"Kita berdua memang ditakdirkan bukan untuk jadi pengajar, unnchhh mengsad," ujar Vie memeluk Luci
"Btw nanti malam di perusahaan gue ada party, lo mau ikut gak?" tanya Vie
"Memangnya boleh aku ikut?"
"Tentu saja, gathering party kali ini emang dikhususkan untuk karyawan dan keluarganya. So lo harus ikut ya, bila perlu ajak tuh Si satpam ganteng Guntur,"
"Ok, aku akan mengajaknya, tapi aku gak janji dia bakal ikut apa gak," jawab Luci
"Ok sans aja, kalau di gak ikut kita bisa cari gebetan disana, kali aja kita ketemu cowok tajir disana,"
**********
Pukul 14.00 waktu Singapura.
Arya terus menatap ponselnya.
"Kenapa dia tidak menelpon ku, apa dia sama sekali tak pernah memikirkan aku. Oh jahat sekali, setidaknya jika tak mau menelpon kirim sms kan bisa masa dia tidak mengucapkan terima kasih padaku, setelah aku menyelamatkan nyawanya dari kematian." keluh Arya
"Apa benar cintaku bertepuk sebelah tangan, oh kasian sekali kamu Tejo, apa aku terlalu kasar padanya hingga dia tidak tertarik padaku sama sekali. Atau aku terlalu tampan sehingga dia minder untuk terlalu dekat dengan ku, ah aku bisa gila jika sehari saja tak tahu kabarnya," Arya begitu gelisah menunggu telpon dari Luci
"Apa aku telpon Leo saja, dan menanyakan kabarnya, tapi nanti Leo meledekku. Ah terserah aja, yang penting aku harus tahu kabarnya sekarang, apa perlu aku melakukan teleportasi untuk melihat wajahnya, tapi jarak antara Singapura Jakarta terlalu jauh, aku harus menggunakan kekuatan ekstra untuk bisa menembus jarak antara dua negara,"
"Aku tidak peduli, asalkan bisa melihatnya apapun akan ku lakukan meskipun aku harus menebusnya dengan nyawaku,"
*Dreet, dreet, dreet!!
Wajah Arya seketika berseri-seri saat melihat notifikasi pesan masuk dari Luci.
"Akhirnya dia kirim SMS Juga, ah senangnya dapat sms dari Luci," ucap Arya menciumi ponselnya
Ia kemudian membuka pesan dari Luci.
"Mas Arya, hari ini aku akan pulang malam karena harus menghadiri gathering party bersama Vie,"
"Ah ternyata dia mengabari kalau akan pergi ke pesta, manis sekali," Arya tersenyum-senyum menatap layar ponselnya
"Sebaiknya aku jawab apa ya, ok silakan atau jangan malam-malam pulangnya, atau segera panggil namaku jika dalam bahaya, ah enaknya jawab apa ya??"
"Apa kau pergi dengan Guntur?" jawab Arya
"Tidak, hari ini dia giliran shif malam jadi tak bisa pergi ke pesta bersama ku," jawab Luci dengan emot sedih
"Yes, syukurlah dia tidak pergi dengan Guntur, rasanya bahagia sekali. Hmm... sekarang aku balas apa lagi ya??"
"Selamat bersenang-senang, ingat jangan pulang malam-malam, dan segera panggil aku jika kamu dalam bahaya," jawab Arya
"Ok Mas, Terimakasih," sahut Luci
"Gitu doang, masa dia gak nanya kabar gue, sudah makan atau belum, ya ampun Luci kamu gak peka banget," Arya kembali murung saat Luci tak lagi mengiriminya pesan.
"Beginikah rasanya bertepuk sebelah tangan, rasanya sakit banget,"
"Arrrrrghhh!!!" teriak Arya meluapkan kekesalannya.
*********
Malam itu Luci terlihat cantik dengan gaun berwarna hitam yang membalut kulit kuning langsatnya. Oktavia tiba di rumahnya dan segera membawa gadis itu pergi menuju ke tempat pesta.
"Ah sial, kenapa Arya selalu saja menyuruhku menjadi mata-mata yang harus mengawasi dan Menjaga Luci. Sebenarnya apa istimewanya gadis itu sehingga ia begitu tergila-gila padanya. Padahal secara fisikly Dona lebih segalanya dari Luci. Selain cantik dia juga kaya raya dan pewaris tunggal perusahaan ayahnya, tapi kenapa Arya malah melabuhkan cintanya kepada Luci bukan kepada Dona. Cinta selalu datang disaat yang tepat tanpa syarat. Cinta akan merubah pribadi seseorang untuk merebut hati sang pujaan hati." Leo segera melajukan mobilnya mengejar Oktavia yang membawa pergi Luci.
"Apa disini pestanya?" Leo kemudian memarkirkan mobilnya dan segera turun.
"Sepertinya aku sangat familiar dengan tempat ini??, apa aku pernah ke tempat ini sebelumnya?" Leo menatap sekelilingnya rumah mewah itu. Matanya terus berselancar mencari sesuatu yang begitu mengusik jiwanya.
Ia kemudian menghentikan langkahnya.
"Kenapa dia ada disini??, apa yang sebenarnya dia lakukan??" Leo terhenyak saat melihat Juleha dihadapannya.
"Lama tak bertemu, apa kabar Leo?" sapa Juleha mendatanginya
Jangan lupa bantu like komen dan Favoritkan ya guys.
Yuks berikan komentar Terbaik mu di kolom komentar, dan nantikan kejutan dari Author.
Salam sayang dari Zahra.. muaaaach!!!