
"Apa dia ada di dalam??, apa aku harus menolongnya??"
*Krieeet!!!
Tiba-tiba pintu kamar Rahasia terbuka, membuat Guntur berjalan mendekatinya.
Guntur yang semakin penasaran segera memasuki kamar itu.
"Tunggu aku!" seru Suzy mengikutinya
Sebuah cahaya tiba-tiba menyeret tubuh Keduanya hingga terdampar di sebuah rumah di tepi hutan.
*Aaarrrggghhhh!!
*Bruugghhh!!
yan kitâwadîng pati, lah age maraka, i jang sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sambah, sira sang nataputri. Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahan tuhanira, nora ngong mar?ka malih, angatarana, iki sang rajaputri. Mong kari sasisih bahune wong Sunda, r?mpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinabateng paprangan, srangan si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi. (Kidung Sunda Bait 2.69-2.71)
Sayup-sayup suara kidung membuat Guntur mulai membuka matanya.
"Siapa lelaki itu, apa dia manusia atau hantu?" ucapnya begitu ketakutan.
Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.
Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa. ( Kidung Sunda Bait 3.29)
Seorang lelaki terlihat begitu khusu bersenandung membuat Guntur terpaku dan mendekatinya.
Lelaki itu segera berhenti berkidung saat Guntur berdiri dihadapannya.
"Kau sudah besar cucuku, sudah lama aku menunggumu di sini... akhirnya kau datang juga," ucap lelaki itu mengulurkan tangannya
*********
Kediaman Alvin Syailendra,
"Kau tidak akan pernah bisa mengeluarkannya Kanda, dia sudah mati," ucap Alvin saat melihat Arya berusaha mengeluarkan Leo dari lukisan yang sudah terbakar.
"Kau terlalu lemah kanda, bagaimana jika aku memberitahu mu cara untuk menyelamatkan Leo sahabat sekaligus adik tiri mu itu?" bisik Alvin
"Katakanlah," sahut Arya mendekatkan telinganya
"Kau harus meminum darah wanita itu," Alvin menunjuk lukisan Luci
Sial, kau pikir aku akan meminum darah wanita yang ku sayangi demi Leo, yang benar saja.
"Apa tidak ada cara lain selain meminum darahnya?" tanya Arya
"Hanya darah balung wangi yang bisa membuat kekuatan mu bertambah seratus kali lipat. Selain kau akan semakin kuat, kau juga bisa kembali mengambil singgasana mu di kerajaan Medang, dan aku akan memberikan singgasana itu dengan sukarela jika kau mengijinkan aku memakan tubuhnya," jawab Alvin
"Aish, Lo emang bajing*n Alvin. Lo pikir gue bakalsetuju dengan ide konyol mu itu dasar bedebah sialan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meminum darah wanitaku sendiri!" seru Arya
"Baiklah kalau lo gak mau mengeluarkan mereka dari lukisan itu, maka biarkan aku sendiri yang akan mengeluarkan mereka!" Arya kemudian menjentikkan jarinya.
"Keluarlah!!" serunya berharap mereka yang ada di dalam lukisan segera keluar dari lukisan tersebut.
Beberapa jam kemudian....
"Ah kenapa tidak satupun yang keluar, apa mereka tuli atau aku tidak bisa menembus dimenasi alam bawah sadar mereka?" Arya kebingungan saat jentikan jarinya tak berhasil mengeluarkan satupun dari mereka.
"Apa mereka tidak mau keluar berjamaah, Ah manja sekali. Baiklah kalau begitu aku akan mengeluarkan mereka satu-persatu," Arya kemudian menarik nafas panjang dan kembali menjentikkan jarinya.
"Keluarlah Luci!" serunya begitu lantang
"Gagal lagi, oh ada apa denganku, kenapa aku tidak bisa mengeluarkan Luci dari sana!" keluh Arya
Ia kemudian mencoba lagi untuk melakukannya, namun tetap saja usahanya tidak berhasil.
"Arrrrrghhh!" pekiknya begitu geram
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengeluarkan mereka dari sana Kanda. Kau terlalu lemah untuk melakukan semua ini tanpa Wira Andika. Tanpanya kau bukan apa-apa," ucap Alvin meremehkannya
"Haish... kau memang menyebalkan Alvin!"
Tejo kemudian melepaskan pukulan tenaga dalamnya kearah Alvin, namun dengan mudahnya Alvin membalikkan serangan Arya hingga menghempaskan tubuh pemuda itu keluar dari kediamannya.
"Sudah ku bilang kau bukanlah siapa-siapa tanpa Wira Andika," ucap Alvin menginjak kaki Arya
"Aku akan memberikan waktu padamu selama dua puluh empat jam untuk membebaska Lucu kekasih mu itu. Tapi jika dalam kurun waktu itu kau tak bisa mengeluarkannya maka jangan salahkan aku jika aku harus memakannya," imbuhnya kemudian menghilang dari pandangan Arya.
"Dasar brengsek, beraninya kau mengancam ku." ucap Arya begitu kesal
"Lalu bagaimana caraku menyelamatkan Luci dan juga Leo. Aku takut di benar-benar memangsanya. Apa aku harus ke alas Ijen untuk meminta petunjuk Pangeran Adipala Sayuti?. Sepertinya memang harus begitu," Arya segera bergegas kembali ke rumahnya.
************
"Siapa kau, kenapa kau memanggilku kemari?" tanya Guntur
"Jangan pernah takut dengan kelebihan yang kau miliki. Jangan pernah lari saat ada seseorang yang membutuhkan bantuan mu karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Kelebihan yang kau miliki adalah berkah yang harus kau syukuri. Banyak orang yang ingin memiliki kekuatan supranatural yang kau miliki hingga mereka harus memakai jalan pintas untuk mendapatkannya. Tapi kau mendapatkannya secara alami. Dari semua keturunan ku hanya kau yang mewarisi kekuatanku, jadi gunakanlah kekuatan itu untuk membantu sesamamu. Jangan berusaha menghilangkan kekuatan itu apalagi memusnahkannya. Suatu hari kau akan bersyukur karena memiliki kemampuan istimewa itu," ucap lelaki tua itu
"Apa kau tahu makna kidung yang baru saja aki senandung kan untuk menyambut mu?" tanya lelaki itu
Guntur hanya menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu,"
"Kidung pertama berisikan bagaimana Raja Sunda menyemangati para tentara perangnya saat mendapat tekanan dari pihak Majapahit. Beliau sang Prabu Siliwangi selalu percaya jika mereka pasti bisa mengalahkan pasukan gajah Mada dengan kekuatan yang mereka miliki. Aku juga ingin menyemangati dirimu sama seperti yang dilakukan prabu Siliwangi kepada pasukannya. Selemah apapun dirimu yang sekarang aku yakin suatu saat kau bisa mengendalikan kekuatan mu, kau tinggal menunggu waktu saja untuk bisa menikmati kehidupan mu yang istimewa itu," jawab lelaki itu
"Kenapa kau begitu ingin aku menggunakan kemampuan supranatural ku?" tanya Guntur
"Berpuluh-puluh tahun aku menunggu kelahiran mu hanya untuk membayar rasa bersalah ku kepada seseorang. Aku harap kau bisa melakukannya untuk ku," jawabnya lirih
"Apa yang harus aku lakukan??" tanya Guntur
"Arrrrrghhh!!"
Tiba-tiba terdengar teriakan Suzy membuat Guntur segera meninggalkan lelaki tua itu dan menghampiri Suzy.
Guntur begitu terkejut saat melihat sosok lelaki tinggi besar mencekik leher Suzy.
"Bagaimana ini aku tidak bisa menolongnya," Guntur begitu ketakutan melihat mahluk itu hingga keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Aku harus segera pergi dari sini jika tidak ingin bernasib sama seperti Suzy," ucap lelaki itu kemudian berlari meninggalkan Suzy.
"Tolong aku Pak Satpam!" seru Suzy begitu mengiba
Mendengar suara gusar Suzy membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.
Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, jadi gunakanlah kekuatan supranatural mu untuk menolong sesamamu,
"Ah kenapa aku egois sekali!" Guntur segera berbalik dan menghampiri mahluk gaib itu.
"Aku yang sudah membawanya kemari, jadi aku harus menyelamatkan nyawanya!"
Makhluk itu berusaha menjauhinya, saat Guntur melangkahkan kakinya mendekatinya.
"Jika memang aku memiliki kekuatan supranatural seperti yang di bicarakan kakek itu maka aku akan menggunakannya untuk menyelamatkannya!" seru Guntur menatap tajam Gondoruwo dihadapannya