INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Menghalau Karma



"Lingsir wengi (Saat menjelang tengah malam),


Sepi durung biso nendro (Sepi belum bisa tidur)


Kagodho mring wewayang (Tergoda dengan bayangmu) Angreridhu ati (Di dalam hati). Kawitane (Awal mulanya), Mung sembrono njur kulino (Cuma bercanda terus terbiasa)


Ra ngiro (Tidak menyangka), Yen bakal nuwuhke tresno (Kalau bisa menjadi cinta)."


Sayup-sayup terdengar suara seorang sinden menyanyikan lagu Lingsir wengi di malam pernikahan Marijo dan Surti.


Angin berhembus kencang menyapu seisi rumah Ki Ponijan, seakan sengaja membangunkan Tejo dari tidur panjangnya.


Desiran angin terus menggaungkan lantunan lagu Lingsir wengi yang mampu membangkitkan para mahluk tak kasat mata dari tidurnya.


Belain angin malam membuat Tejo perlahan membuka matanya.


Taj jauh dari kediaman Mbah Ponijan, Surti yang begitu membenci Marijo berusaha mencari sesuatu untuk bunuh diri. Ia memang tak berniat untuk menjalani pernikahan dengan Marijo apalagi menjadi pendamping hidupnya seumur hidup. Ia kemudian mengambil sebuah pisau kecil dan menyayat urat nadinya. Namun Marijo berhasil memergokinya dan segera menggagalkan rencana bunuh diri Surti.


Dasar jal*ng sialan, kau pikir bisa memulai karmaku dengan membunuh dirimu sendiri,


Marijo yang begitu geram dengan tingkah Surti segera menjambak rambut gadis itu.


"Arrgghhh!"


"Aku tidak mau terkena karma dengan kehilangan wanita yang ku sayangi. Baiklah karena kau begitu ingin mati maka aku akan mengabulkan keinginan mu agar kau bisa menemui Tejo di Neraka." Marijo kemudian merebut pisau dari tangan Surti dan menyayat leher gadis itu hingga ia jatuh tersungkur ke lantai.


*Bruugghhh!!


"Sekarang aku sudah menghapus karma itu dengan membunuh wanita calon istri ku. Dan itu berarti aku tidak kehilangan atau ditinggalkan orang-orang yang ku sayangi tapi aku yang membuangnya, hahahaha!" ucap Tejo terkekeh


*********


Perlahan luka-luka di sekujur tubuh Tejo mulai menghilang. Ia perlahan menggerakkan tangannya. Mencium aroma darah sang kekasih membuat Tejo bangkit dari kematian.


"Surti...." ucapnya getir


Ia segera bangun dan berdiri, "Marijo... tunggulah pembalasan ku!" pekiknya sebelum melesat meninggalkan kediaman Ki Ponijan.


Tejo benar-benar mengamuk malam itu, ia memporak-porandakan kediaman Lurah Mardiyono dan membunuh siapapun yang menghalanginya.


Melihat kemarahan Tejo, membuat Marijo ketakutan. Ia kemudian melarikan diri dari kampung itu untuk menyelamatkan diri.


"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku Marijo, bahkan sampai ke Neraka pun aku akan menangkap mu!" seru Arya Tejo


Hari berganti hari tak membuat Arya Tejo berhenti mencari Marijo. Ia terus memburunya meski berbulan-bulan tak berhasil menemukan lelaki itu.


Untuk memberitahu keberadaannya Tejo sengaja memakan ternak-ternak warga dan meninggalkan jejak serigala di setiap rumah yang di datanginya.


"Aku yakin dengan begini hidup mu tidak akan pernah tenang, suatu saat kau pasti akan mendatangi ku Marijo!"


*********


Sepuluh Tahun kemudian....


"Wah sepertinya kita harus meningkatkan ronda malam agar sapi-sapi kita tidak di curi lagi,"


"Benar, pencurian binatang ternak semakin marak apalagi saat tengah bulan, hadeeh bagaimana ini, padahal lebaran sebentar lagi tapi hewan ternak ku sudah habis di curi," keluh seorang warga


"Benar, dan kabarnya yang mencuri hewan ternak kita bukan manusia. Lihat saja semua binatang ternak tidak ada yang dibawa pergi olehnya. Dia hanya menghisap darahnya lalu meninggalkan hewan itu. Dia juga bahkan sering meninggalkan jejak sebuah gigitan di papan rumah pemilik binatang ternak yang dibunuhnya,"


"Apa kita perlu melaporkan hal ini pada kepala dusun, agar dia mencari orang pintar untuk menangkap mahluk jadi-jadian itu??"


Malam itu semua warga tampak berjaga-jaga di pos ronda. Mereka begitu asyik membicarakan Arya Tejo hingga tak sadar seseorang menguping pembicaraanya. Sebagian dari mereka kemudian berkeliling kampung untuk berpatroli, dan yang lainnya bergegas untuk menjaga kandang-kandang ternak milik warga.


"Semoga saja malam ini aman, atau setidaknya kita bisa menangkap maling itu malam ini,"


"Benar!"


Semua warga terlihat membawa kentongan dan ada pula beberapa orang yang sengaja membawa senjata tombak bambu kuning untuk berjaga-jaga manakala Asu Baung itu muncul dihadapan mereka.


Sementara itu di kediaman kepala dusun.


"Ada desas-desus jika yang suka mencuri binatang ternak warga itu bukan Manusia, jadi kalian harus membawa senjata bambu kuning untuk membunuhnya, usahakan jangan melihat wajahnya saat memergokinya, karena kalian bisa sakit bahkan meninggal karena sakit berkepanjangan. Letakan pula bambu kuning di kandang hewan ternak kalian agar mahluk itu tak bisa mengambilnya," ucap seorang tetua dusun memberikan nasihat kepada para warga di kediaman ki lurah.


Malam semakin larut, para warga yang meronda mulai mengantuk dan tertidur. Melihat suasana dusun yang mulai sepi membuat Arya Tejo mulai memasuki desa itu.


*Srak, srak, srak!!


Aku mencium aroma mu di dusun ini. Aku yakin kau bersembunyi di sini Marijo,


Ia menghentikan langkahnya di sebuah kandang sapi. Saat ia hendak membuka pintu kandangnya, tiba-tiba seorang lelaki melesatkan tendangan kearahnya hingga ia terhempas ke tanah.


"Ternyata benar dugaan ku, bukan manusia yang mencuri binatang ternak warga, tapi seekor Asu Baung yang kelaparan," ucap seorang Lelaki menghampiri Tejo


"Jangan ikut campur urusan ku jika kau masih ingin hidup, pergilah dari sini maka aku akan melepaskan mu," sahut Tejo kemudian bangun dan berdiri


"Tidak ku sangka siluman seperti dirimu masih memiliki jiwa welas asih, aku jadi penasaran apa yang membuatmu datang ke desa ini." sahut oemuda itu


"Bukankah kau bisa saja mencari makanan di tempat mu tinggal??, lalu untuk apa kau membahayakan dirimu dengan muncul di pemukiman warga yang bisa saja menangkap atau bahkan membunuhmu?" tanya lelaki itu lagi


"Sudah ku katakan ini bukan urusanmu, pergilah dari sini aku janji tidak akan memangsa hewan ternak mu, aku hanya ingin meninggalkan jejak ku saja disini," jawab Arya


"Tidak bisa, kau sudah membuat kampung halaman ku menjadi mencekam, maka aku harus mengusir mu dari dusun ini. Lagipula untuk apa meninggalkan jejak, apa kau sedang menunggu seseorang?" jawab lelaki itu


Ia kemudian mengambil bambu kuning di sampingnya dan menyerang Arya Tejo. Arya Tejo terus menghindari serangan pemuda itu tanpa membalasnya.


Namun semakin ia menghindar, lelaki itu justru semakin gencar menyerangnya.


"Baiklah kalau itu mau mu, jangan salahkan aku jika melukai dirimu," Arya Tejo kemudian melepaskan pukulannya kearah pemuda itu hingga ia terkapar di tanah.


"Aku sudah memperingatkan dirimu tapi kau tak mendengarkan aku. Semoga kau bisa bertahan dengan penyakit yang akan menjangkiti mu," ucap Arya Tejo


Ia kemudian menjentikkan jarinya hingga pemuda itu tak sadarkan diri.


**********


Semua warga Seketika membicarakan tentang kemunculan Asu Baung di desa mereka. Bahkan kabar jatuh sakitnya Bayu sang dukun lelaki itu mengusik seorang Marijo.


Marijo yang mulai terusik dengan kemunculan Arya di setiap desa yang ia tinggali, mulai mempengaruhi sang Kepala Dusun untuk menangkap Arya Tejo. Ia merasakan bahaya mulai mengintainya hingga harus mempengaruhi sang lurah untuk mengambil tindakan tegas menangkap sang asu baung.


"Tapi bagaimana kita bisa menangkapnya, jika Mas Bayu yang memiliki kekuatan supranatural saja bisa dikalahkan olehnya," jawab sang kepala Dusun


"Kalau begitu aku akan meminta bantuan guruku untuk menangkap siluman itu," jawab Bayu


"Syukurlah, kalau begitu biar aku yang akan memancing dia keluar. Aku yakin Arya Tejo akan segera keluar dari sarangnya jika melihat ku," jawab Marijo


"Baiklah kita persiapkan semuanya dari sekarang," ucap sang kepala dusun.


Malam itu sengaja para warga tidak ada yang keluar dari rumah mereka. Hanya Marijo yang berada di depan rumahnya, lelaki itu sengaja keluar untuk memancing Arya Tejo agar muncul di dusun itu.


"Aku sudah keluar dari persembunyian ku, sekarang muncullah Tejo. Bukankah kau sangat ingin membunuh ku karena aku telah membunuh kekasih mu. Jadi cepatlah keluar dari persembunyian mu Asu Baung!!" seru Marijo memanggil Arya Tejo


Seketika angin berhembus kencang membuat Marijo segera menutupi wajahnya.


"Aauuuuuuu!!!" Tidak lama kemudian terdengar suara lolongan serigala yang begitu keras, membuat lampu-lampu di dusun itu seketika padam.


"Dia sudah dekat, aku yakin sebentar lagi dia akan segera tiba," seorang lelaki paruh baya kemudian beranjak dari duduknya


Ia segera keluar untuk melihat kedatangan sang Siluman Asu Baung.


"Lepaskan dia!" seru lelaki itu saat Arya Tejo hendak menyentuh Marijo.


"Bunuh dia!" seru Marijo segera lari menjauhi Arya Tejo.


"Ternyata kau masih saja licik Marijo. Ternyata kemunculan mu hanya untuk menjebak ku, dasar bedebah sialan!" seru Arya Tejo


"Kali ini kau pasti akan mati Tejo!" seru Marijo


"Aku harap kalian pergi dari tempat ini sebelum aku bertindak lebih jauh. Ini adalah masalah ku dengan Marijo. Kami harus menyelesaikan masalah pribadi kami agar tidak ada dendam diantara kami di kehidupan berikutnya," tutur Tejo


"Kau... Cih tidak ku sangka kau juga akan kembali memburuku, setelah apa yang ku lakukan padamu. Aku bisa saja membunuh mu waktu itu, tapi aku mengampuni mu, harusnya kau menggunakan kesempatan ini untuk hidup dengan baik bukan malah kembali berusaha membunuh ku." imbuhnya menunjuk kearah Bayu


"Jangan dengarkan dia, ia akan selalu berkata seperti itu untuk melindungi dirinya. Jangan dengarkan dia dan tangkap saja siluman itu!" seru Marijo


Seorang lelaki paruh baya kemudian menghampiri Arya Tejo.


"Lama tak bersua Pangeran Adipala Sayuti, semoga kau masih mengingat ku," ucap lelaki itu membungkukkan badannya dihadapan Tejo.


"Jangan berlagak mengenal ku Aki, sebaiknya engkau pergi dari sini sebelum habis kesabaran ku," sahut Tejo


"Kau pasti masih membenciku Pangeran, hingga tak mengenaliku. Baiklah mungkin aku perlu mengingatkan kembali bagaimana hubungan kita dulu,"


Lelaki itu kemudian menyerang Tejo dengan segala kemampuan supranaturalnya. Ia terus menyerangnya hingga Arya Tejo terpojok dan tumbang.


Melihat Tejo tersungkur di tanah membuat Marijo segera mengambil sebuah Bambu Kuning dan menusukkannya kepada Arya Tejo.


"Matilah kau Tejo!" serunya membuat Arya Tejo memekik kesakitan


"Arrgghhh!!"


"Cukup Marijo, aku hanya ingin menangkap mahluk itu bukan untuk membunuhnya!" seru sang Dukun


"Kita harus membunuhnya guru, karena dia sangat jahat dan bisa saja membunuh warga dusun ini jika mereka tidak memiliki hewan ternak lagi," sahut Marijo


"Kau memang pandai bersilat lidah, aku pastikan akan membunuh mu malam ini apapun yang akan terjadi," Arya Tejo segera mencabut bambu kuning yang menancap di tubuhnya dan melemparkannya kearah Marijo.


"Arrrrrghhh!" Marijo mengerang kesakitan saat bambu itu menancap di punggungnya.


Melihat musuhnya tumbang Arya segera melesatkan pukulannya kearah Marijo. Namun sayangnya sebuah kekuatan dahsyat menghalaunya hingga ia terpental dan terhempas ke tanah.


"Jangan ikut campur urusan ku Aki, aku tidak ada urusan dengan mu apalagi dengan penduduk dusun ini. Aku hanya ingin membalas dendam kepada lelaki yang sudah membuat ku menjadi begini. Aku juga membalas kematian kekasihku, jadi tolong jangan ikut campur. Aku Arya Tejo berjanji tidak akan memangsa hewan ternak warga dusun ini jika aku berhasil membunuh keparat itu!" seru Arya Tejo.


"Tetap saja, meskipun Marijo itu orang jahat kau tidak boleh membunuhnya. Karena dengan membunuhnya maka kau juga tidak akan bisa kembali menjadi manusia lagi. Kau akan hidup Abadi sebagai Asu Baung jika membunuhnya. Apa itu yang kau inginkan?" tanya lelaki itu


"Bagaimana kau bisa tahu, siapa kau sebenarnya?" tanya Tejo


"Aku adalah teman seperguruan Ki Ponijan, sebenarnya akulah pemilik kalung Serigala itu sebelumnya. Selama ini aku sudah mencari mu kemana-mana, tapi tak pernah bisa menemukan dirimu. Maka aku begitu senang saat murid ku Bayu meminta bantuan ku untuk menangkap dirimu. Jadi menyerahlah padaku, aku janji akan membantumu menjadi manusia kembali seperti dulu," jawab lelaki itu


Amarah Tejo seketika luluh setelah mendengar penjelasan lelaki itu ia kemudian menyerahkan dirinya kepada sang dukun.


Ki Broto kemudian membawa Arya Tejo pergi meninggalkan dusun itu.


Lelaki itu membawa Tejo ke Alas Ijen untuk melakukan tapa Brata agar bisa kembali menjadi manusia.


"Bayu akan menjagamu disini selama kau bertapa. Aku juga akan menjenguk mu saat purnama tiba, jadi lakukanlah semuanya dengan baik agar kau bisa kembali menjadi manusia lagi." Ucap Ki Broto kemudian meninggalkan Arya Tejo bersama Bayu.


Mendengar Arya Tejo melakukan tapa Brata di alas Ijen membuat Marijo begitu geram. Lelaki itu masih saja berambisi untuk membunuh Tejo meskipun ia dalam keadaan sekarat.


Ditemani beberapa anak buahnya, Marijo bergegas menuju ke hutan Ijen mencari keberadaan Arya Tejo.


"Aku harus membunuhnya agar hidup ku bisa tenang. Aku tidak mau terus menerus hidup menderita seperti sekarang. Aku tidak pernah bisa menikah dengan wanita yang kucintai seumur hidup ku. Aku tidak mau keturunan ku menanggung karma hanya bisa menikah dengan Wanita yang tidak mereka cintai. Cukup aku yang merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka, karena tidak bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Cukup aku yang menjalani karma ini dan aku juga yang harus mengakhirinya di sini." ucap Marijo


Setibanya di Alas Ijen Marijo langsung menyembelih seekor anj*ng hutan untuk memancing Arya Tejo keluar.


Namun seberapa banyak ia membunuh hewan itu, Arya Tejo tak kunjung keluar dari tempatnya bertapa.


"Baiklah, jika cara ini tidak berhasil maka aku punya cara lain untuk memancing mu keluar,"


Marijo sengaja mengutus anak buahnya untuk menemui Bayu agar menemuinya.


"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Bayu


"Ki Broto memerintahkan aku untuk memberikan darah ini kepada Arya Tejo," jawab Marijo sembari memberikan sebotol darah Anj*ng hutan padanya.


"Kenapa bukan Aki sendiri yang datang ke sini, lagipula sekarang adalah waktunya ia untuk datang mengunjungi kami. Jadi untuk apa mengutus mu kemari?" tanya Bayu


"Itu karena dia sedang sakit, sehingga beliau mengutus ku datang menemui kalian," sahut Marijo


"Bagaimana aku bisa percaya padamu, jika kau benar-benar diutus oleh Guruku," ucap Bayu


"Apa benda ini cukup untuk membuktikan bahwa aku tak membohongi mu?" tanya Marijo menunjukkan sebuah cincin sakti milik Ki Broto


"Baiklah aku percaya padamu," jawab Bayu kemudian mengajak Marijo menemui Arya Tejo


Marijo diam-diam mengambil senjata api miliknya dan menebak Bayu hingga lelaki itu tewas.


"Sekarang penjaga mu sudah tewa, jadi bersiaplah untuk menyusulnya Arya Tejo, hahaha,"