INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Siapa dia???



"Tunggu!" seru Arya


Guntur segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Arya.


"Kalau boleh tahu siapa yang kau temui di Alas Ijen?" tanya Arya


"Seorang kakek yang menganggap ku sebagai cucunya," jawab Guntur


"Bisakah kau gambarkan ciri-ciri lelaki itu?" tanya Arya lagi


"Aku tidak bisa menggambarkan fisiknya secara jelas, hanya saja dia memiliki tahi lalat di bawah mata kirinya," jawab Guntur


"Ah, ternyata dunia memang sempit, tidak ku sangka kau adalah keturunan dari Ki Ponijan," ucap Arya dengan mata merah membara


Arya berjalan mendekati Guntur dan kemudian menghajarnya.


*Buuggghhh!!


"Dasar pembohong, tidak mungkin kau adalah keturunan Ki Ponijan, dia itu lelaki suci yang tak pernah menikah, jadi jangan membohongi ku anak muda!" seru Arya kembali menghajar Guntur hingga darah segar keluar dari ujung bibirnya


"Jika kau memang benar keturunan Mbah Ponijan maka bersiaplah untuk mati, karena aku akan membalas dendam padamu atas apa yang dilakukan kakek mu padaku!"


Arya mengurungkan niatnya saat hendak melepaskan pukulannya untuk kali ke tiga


"Sebentar, sepertinya aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas untuk manusia yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri ternyata menipuku dan meninggalkan ku sendirian dalam kebingungan,"


Kali ini Arya melepaskan tendangannya hingga Guntur jatuh tersungkur. Lelaki itu mencoba bangun sembari memegangi perutnya.


"Sebaiknya kau cepat pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi jika masih ingin hidup!" hardik Arya


Guntur segera pergi begitu mendengar lelaki itu mengusirnya.


"Wah, Ternyata menyeramkan sekali jika Mas Arya sedang marah," ucap Suzy


"Kau juga enyahlah dari hadapanku sebelum aku juga menghajar mu!" seru Arya


Wah sadis sekali, tapi aku suka. Cowok seperti Arya paling tampan kalau lagi marah. Dia tampak begitu sexy.


Suzy tersenyum-senyum menatap Arya.


"Oi, cepat angkat kaki atau aku akan melempar mu keluar!"


"Iya... aku pergi, bye!" seru Suzy segera berlari menyusul Guntur.


Kau pikir aku akan mempercayai bualan mu, dasar brengsek!


*************


Kediaman Ki Brojo Anom.


*Tok, tok, tok!!


Guntur mengetuk pintu rumah guru spiritualnya, berharap lelaki itu akan membantunya.


"Apa yang terjadi padamu??, kenapa wajahmu babak belur seperti ini?" tanya Ki Brojo Anom


begitu terkejut melihat wajah babak belur Guntur


"Katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa antara leluhur ku dengan Arya Tejo. Kenapa ia begitu murka kepada ku dan sangat ingin membunuh ku?" tanya Guntur begitu ketakutan


"Jadi Arya Tejo yang melakukan semua ini padamu?" tanya Ki Brojo


"Benar Aki, dia bilang ingin membalas dendam padaku atas apa yang sudah dilakukan kakekku padanya?"


"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh kakekku hingga ia begitu marah padaku?" tanya Guntur lagi


"Apa dia tahu siapa kakek mu?" jawab Ki Brojo Anom balik bertanya


"Tentu saja, Arya Tejo bilang dia sangat dekat dengannya, dia juga bilang jika kakek mengkhianatinya itulah yang membuatnya begitu marah dan ingin melampiaskan dendamnya padaku?"


"Bagaimana dia tahu kau adalah keturunan orang yang sudah mengkhianatinya?" tanya Ki Brojo Anom


"Itu karena aku tidak sengaja masuk ke dalam kamar rahasia yang ada di rumahnya. Di sana aku bertemu seorang kakek tua yang mengaku sebagai leluhur ku,"


"Jadi kau memberitahukan tentang kakek mu itu pada Arya?"


"Benar, dia hanya bertanya bagaimana ciri-cirinya dan kemudian langsung tahu siapa kakek buyut ku itu,"


"Oh begitu rupanya, baiklah aku paham sekarang," ucap Ki Brojo Anom


Jika kakek mu adalah orang yang membuat Arya begitu murka, mungkin kau adalah orang yang selama ini aku cari???


"Kalau begitu kau harus ikut aku untuk menemui seseorang," ucap Ki Brojo Anom


"Untuk apa guru?" tanya Guntur


"Nanti kau juga akan tahu kenapa aku membawamu menemui orang itu,"


Malam itu Ki Brojo Anom mendatangi kediaman Alvin Syailendra bersama Guntur.


"Benar,"


"Ada perlu apa dia memanggil mu?" tanya Guntur


"Bukan dia yang memanggil ku, tapi aku yang ingin menemuinya," jawab Brojo Anom


"Tapi apa bisa menemui orang penting seperti dia tanpa membuat janji terlebih dahulu," sahut Guntur


"Orang sepertinya akan lebih welcome terhadap orang-orang seperti ku daripada rekan bisnisnya," jawab Ki Brojo


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Kadang yang kau lihat tak seperti yang kau bayangkan Guntur, hidup itu sawang sinawang jadi jangan menilai buku dari covernya. Karena tak selamanya yang cantik di luar belum tentu cantik hatinya," terang Ki Brojo Anom


"Kau benar Aki,"


Tidak lama seorang lelaki membukakan pintu untuk mereka.


"Silakan masuk, Mas Alvin sudah menunggu anda," ucap lelaki itu mempersilakan keduanya masuk


"Terimakasih,"


Setibanya di ruang utama, Alvin Syailendra tersenyum menyambut kedatangan keduanya.


Guntur merasakan ada hal aneh saat bertemu dengan Alvin Syailendra. Tubuhnya tiba-tiba bergetar dan dadanya terasa begitu sesak seperti ada kekuatan gaib yang menolak kedatangannya.


"Selamat datang Ki Brojo Anom?" sapanya begitu ramah


"Senang bertemu denganmu, silakan duduk,"


"Terimakasih Mas Alvin," jawab Brojo Anom segera duduk di hadapannya


"Apakah dia pemuda yang ingin kau pertemukan dengan ku?" tanga Alvin menatap lekat Guntur


"Benar, tapi... bagaimana anda tahu aku datang ke sini untuk mempertemukan anda dengan murid ku Guntur,"


"Orang seperti dirimu harusnya sudah tahu siapa aku dan kenapa kau menemui ku, kenapa kau malah pura-pura bodoh dihadapan ku. Ap kau sengaja meremehkan kekuatan ku!" gertak Alvin


"Maafkan saya Mas Alvin, aku hanya terkejut saja. Ternyata kau lebih sakti dari yang kudengar," sahut Ki Brojo merasa menyesal


"Kalau begitu tinggalkan kami berdua!" seru Alvin


"Baik," Ki Brojo kemudian segera berpamitan dan meninggalkan Guntur bersama Alvin


"Begitu banyak manusia di dunia ini yang mendambakan memiliki kekuatan supranatural, tapi kenapa kau justru ingin menghilangkannya?" tanya Alvin membuka obrolan dengan Guntur


"Awalnya aku begitu ketakutan dengan keistimewaan yang aku miliki, sampai-sampai hidupku menjadi tak tenang. Aku begitu tersiksa dengan kemampuan ku itu hingga tak bisa menikmati hidupku. Sampai suatu hari aku mencoba untuk bunuh diri namun Ki Brojo menyelamatkan aku."


"Begitu rupanya, baiklah katakan padaku jika kau sudah siap untuk melakukan ritualnya," ucap Alvin


"Ritual???, ritual apa, maaf aku belum paham?" tanya Guntur


"Tentu saja ritual untuk melenyapkan kemampuan supranatural mu itu. Bukankah Kau datang ke sini untuk itu?" jawab Alvin balik bertanya


"Awalnya memang begitu, tapi sekarang aku berubah pikiran. Seperti pesan kakekku, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Jadi aku akan memanfaatkan kelebihan ku itu untuk membantu orang lain," jawab Guntur dengan polosnya


Tiba-tiba bola mata Alvin berubah memerah saat mendengar jawaban Guntur.


"Sepertinya kau harus menggunakan kemampuan mu itu di alam gaib bukan di sini," ucap Alvin kemudian menjentikkan jarinya


Dalam sekejap Guntur menghilang dari hadapannya.


"Tidak ada yang boleh mengetahui identitas asliku, jadi maafkan aku jika aku harus menyingkirkan dirimu," Alvin kemudian menyalakan korek api dan bersiap membakar lukisan di tangannya.


*Wuushh!!


Tiba-tiba saja Arya melesat dan mengambil lukisan dari tangannya.


"Sial, kembalikan lukisan itu dan jangan pernah ikut campur dalam urusan ku!" hardik Alvin membuat seisi rumah itu berguncang


"Tentu saja aku harus ikut campur, karena kau akan memusnahkan satu-satunya orang yang bisa menjadikan aku manusia kembali," jawab Arya begitu enteng


"Dasar bodoh, kau pikir kau akan kembali menjadi manusia setelah meminum darah selama tujuh puluh lima tahun lamanya. Jangan bermimpi Arya, kau tidak akan pernah menjadi manusia kembali," sahut Alvin


"Kita lihat saja nanti, apa ucapku atau ucapan mu yang benar setelah aku mengeluarkannya dari lukisan ini,"


"Kau tidak akan bisa mengeluarkannya Arya!"


Alvin segera melepaskan pukulannya kearah Arya hingga lelaki itu terhempas dan lukisannya terlepas dari tangannya.


"Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku tanpa Wira Andika," Alvin kembali mengambil lukisan itu dan segera menyalakan korek api di tangan kirinya.


Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui. Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna. ( Kidung Sunda pupuh 2).


Tiba-tiba tangan Alvin bergetar, membuat ia menjatuhkan lukisan di tangannya.


Sebenarnya siapa dia???,