INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Pesona sang Penakluk



"Semuanya sudah beres, sekarang ayo pulang!" seru Arya Tejo.


"Maaf aku tidak bisa pulang sekarang, aku harus mengajar menggantikan dosen utama. Btw aku belum bilang padamu kalau sekarang aku sudah menjadi asisten dosen, itulah sebabnya aku suka pulang malam ataupun berangkat ke kampus pagi-pagi buta. Maafkan aku baru memberitahukan dirimu." sahut Luci


"Kenapa kau mencari pekerjaan tambahan, apa gaji dari aku belum cukup untuk mu?" tanya Arya Tejo


"Gaji sebagai assisten rumah tanggamu memang tinggi dan sudah cukup untuk biaya hidup dan membayar kuliah. Menjadi assisten dosen adalah cita-cita ku dari dulu. Aku ingin menjadi seorang dosen yang bisa membagikan ilmu yang ku miliki kepada para mahasiswa, jadi bukan karena uangnya Mas," sahut Luci


"Oh seperti itu, terus kau akan membiarkan aku kelaparan pagi ini," seru Arya Tejo..


"Tentu saja tidak, aku sudah mempersiapkan sarapan mu di meja makan," jawab Luci


"Tapi makan sendirian mana enak, seperti kata pepatah gak ada lo gak rame. Jadi aku males makan," sahut Arya manja


"Kalau begitu lihatlah fotoku saat kau makan, anggap saja itu aku yang sedang menemani mu, jadi cepatlah pulang dan sarapan. Aku tak mau sampai kamu sakit," ujar Luci


"Ah kau bisa saja membuat ku terbang ke awang-awang, kalau begitu berikan Photo mu padaku sekarang," ucap Arya tersipu-sipu


"Berikan ponselmu!" seru Luci


Arya segera memberikan ponselnya kepada Luci. Gadis itu kemudian segera bergaya didepan kamera ponsel Arya.


"Sialan, aku kira kamu benar-benar akan memberikan fotomu padaku, ternyata kau malah berswa foto dengan ponselku, dasar narsis!" celetuk Arya


"Mau berfoto denganku?" ajak Luci


"Tentu saja, kapan lagi bisa foto bareng Raja nan rupawan," sahut Arya begitu percaya diri


Lelaki itu segera berdiri di samping Luci dan tersenyum menatap kamera.


"Cheers!"


"Sudah selesai!" seru Luci memberikan ponselnya kepada Arya


Lelaki itu segera mengambil ponselnya dan membuka foto-foto yang Luci Ambil.


Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini. Kenapa aku seperti tidak asing dengan wajah ini, apa aku sudah mengenal Luci sebelumnya.


Arya termenung sejenak menatap foto-foto Luci di ponselnya.


"Bagaimana kalau kita sarapan di kantin," ajak Luci. membuyarkan lamunan Arya


"Kuy," jawab pemuda itu segera mengikuti Luci


Saat keduanya hendak pergi meninggalkan ruangan kelas tiba-tiba pak Sulaiman muncul.


"Bapak!!" Seru Luci terkejut


"Haish, ternyata dia biang keroknya," celetuk Arya


"Biang kerok apa?" tanya Luci


"Oi dosen sialan, kalau mau kaya kau harus bekerja jangan melakukan praktik pesugihan dengan menumbalkan mahasiswa mu!" seru Arya membuat Luci semakin terkejut


"Tumbal... mahasiswa???" Tiba-tiba Luci merasa pandangannya kabur dan tiba-tiba semuanya terlihat gelap.


*Bruugghhh!!


Sepuluh menit kemudian....


Luci merasakan seseorang menepuk-nepuk pipinya dan terus memanggil namanya.


"Lu, bangun Lu... bangun Lu!" seru Vie terus membangunkannya


Perlahan Luci mulai mengerjapkan matanya, samar-samar ia melihat wajah Vie disampingnya.


"Syukurlah, akhirnya kau siuman juga," ucap Vie


"Dimana aku?" tanya Luci


"Yang jelas kamu sedang tidak bersamanya sekarang," goda Vie


"Dih apaan sih,"


"Aish, aku tahu kamu pasti mencari sang Raja nan rupawan kan?"


"Memangnya dimana dia?" tanya Luci


"Tuh kan bener, dasar modus,"


"Dimana Arya, bukankah dia tadi bersama ku?"


"Dia harus kembali ke kantornya karena ada urusan mendadak, dan dia meninggalkan ini untukmu," Vie memberikan sebuah gelang padanya


"Apa ini?"


"Dia bilang benda itu akan melindungi mu dari mahluk halus yang mengganggumu," jawab Vie.


"Ngomong-ngomong, aba benar yang dikatakan Mas Arya kalau Pak Sulaiman sudah mengorbankan beberapa asisten dosennya untuk menjadi tumbal pesugihannya?" selidik Vie


"Sepertinya begitu,"


"Apa itu alasan Kak Gina mendadak berhenti menjadi Asisten dosen dan memintamu untuk menggantikan posisinya?" tanya Vie lagi


"Benar, aku yang menyuruhnya untuk berhenti sebagai asdos pak Sulaiman,"


"Kenapa begitu, apa kau melihat sesuatu yang buruk akan menimpanya jika ia tetap menjadi Asdos Pak Sulaiman?"


"Benar, dan untungnya dia percaya padaku dan mau mendengarkan ucapan ku," jawab Luci


"Aneh, biasanya kau tidak seorangpun mempercayai mu, dan kau tidak pernah berhasil merubah takdir buruk seseorang. Beruntung sekali kak Gina bisa lolos dari maut berkat dirimu. Harusnya dia berterima kasih padamu, tapi dia sekarang malah menghilang," terang Vie


"Tidak ada yang bisa merubah takdir Tuhan, meskipun ia sudah mengetahuinya. Tidak ada yang bisa bersembunyi dari maut karena dimana pun ia bersembunyi Maut pasti akan menjemputnya. Itu semua hanya soal waktu saja, jadi jangan pernah terlalu mempercayai sebuah ramalan karena itu bisa membuat mu menyekutukan Tuhan. Dab Tuhan tidak suka jika kau menduakanNya," sahut Luci


"Wah luar biasa, kau memang keren Luci. Kau tetap saja merendah dan tak pernah menyombongkan diri meskipun memiliki kelebihan tapi kamu tetap merendah dan selalu memberikan nasihat yang keren, maki lope-lope sama kamu," ucap Vie kemudian memeluknya.


***********


Malam itu disebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.


Semakin malam kafe itu semakin ramai membuat para karyawannya harus bekerja ekstra melayani pesanan pembeli.


"Kenapa hari ini aku merasa letih sekali, apa karena ini malam Minggu dan kafe sangat ramai makannya aku kelelahan," Gina sejenak merebahkan tubuhnya di kursi pantry.


Gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja dan mencoba memejamkan matanya sejenak.


"Andai saja ada pekerjaan yang lebih baik dari ini, aku sangat ingin sekali keluar dari kafe ini. Meskipun gajinya lumayan besar tapi pekerjaannya pun sepadan, rasanya letih sekali," celoteh Gina


"Tolong antarkan pesanan ke meja nomor tiga belas," ucap seseorang mengetuk mejanya


Gina segera bangun dan menghampirinya, ia mengambil nampan berisikan menu pesanan pelanggan dan segera meninggalkan ruang pantry.


Rasa ngantuk membuat gadis itu tak menyadari apa yang dibawanya.


"Dimana meja nomor 13, kenapa aku tidak bisa menemukannya," ucap Gina mengucek-ucek matanya


Ia merasakan tiba-tiba lampu ruangan itu mendadak meredup hingga membuat ia susah untuk melihat nomor meja pengunjung kafe.


Tiba-tiba seorang wanita membimbingnya menuju ke meja nomor 13.


"Terimakasih," ucap Gina setelah Wanita itu pergi.


Tanpa ragu-ragu Gina segera meletakkan semua hidangan yang ada di nampannya keatas meja.


"Selamat menikmati," ucapnya tersenyum simpul menatap pengunjung kafe yang terus menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba saja sang pelanggan mengangkat wajahnya dan menatap lekat kearah Gina.


Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya saat melihat wajah lelaki di hadapannya.


"Arrrrrghhh!!!"


*Prannggg!!!


*Bruugghhh!!!


*********


Pagi harinya di kediaman Gina....


Pagi itu Luci dan Vie segera melayat ke rumah Gina saat mendengar berita kematian kakak kelasnya itu.


"Wah tidak ku sangka kak Gina akan meninggal di usia muda, aku benar-benar masih tidak menyangka dia meninggal." ucap Vie begitu getir


"Tapi mengingat ucapan mu tempo hari aku menjadi sadar jika kita memang tidak bisa menghindari maut. Meskipun Kak Gina berhasil lolos menjadi tumbal pak Sulaiman tetap saja ia meninggal juga meskipun bukan sebagai tumbal," imbuhnya


"Benar, tapi mungkin itu sudah menjadi takdirnya jika ia harus meninggal sebagai tumbal pesugihan. Meskipun bukan Pak Sulaiman pelakunya," sahut Luci


"Darimana kau tahu dia meninggal sebagai tumbal pesugihan?" bisik Vie


Luci kemudian menunjuk setangkai mawar putih yang tergeletak di atas peti mati Gina.


"Benar, dalam dunia supranatural mawar putih sering dipakai sebagai bunga utama dalam urutan kembang tujuh rupa. Mawar putih yang melambangkan sebagai ratunya bunga memberikan pesan perpisahan jika itu hanya setangkai." terang Luci


"Maksudnya Gina sudah mendapatkan pesan itu sebelum dia meninggal??"


"Benar, seperti diriku yang berkali-kali mendapatkan pesan itu, Gina juga sepertinya belum paham makna pesan mawar putih itu." tandas Luci


"Wah mengerikan sekali, kenapa aku tiba-tiba jadi merinding begini," Vie segera menggeser posisi duduknya di belakang Luci


"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Vie saat melihat Luci memejamkan matanya


"Lu...Lu...oi!" seru gadis itu mengguncang tubuh Luci yang tak berkutik meskipun ia sudah berteriak memanggil namanya


"Aaarrrggghh!!" Luci segera membuka matanya


"Apa kau melihat sesuatu?" selidik Vie penasaran


"Tidak ada apa-apa, aku hanya mengantuk saja karena semalam aku harus begadang mengerjakan tugas kuliah,"


"Astaga, aku kira kau kerasukan, ternyata malah molor. Sue!" cibir Vie


"Kalau gitu kita pulang yuk, rasanya aku pengin menghabiskan liburan ini dengan rebahan di kamar," ujar Luci


"Kuy,"


Kedua gadis itu kemudian berpamitan dan segera pulang meninggalkan rumah duka.


*Dreet, dreet, dreet!


Luci segera memeriksa notifikasi pesan masuk dari ponselnya.


"Sepertinya aku tidak bisa pulang bareng denganmu Bestie, mas Arya memintaku membelikan beberapa keperluan pribadinya. Jadi aku harus pergi ke swalayan untuk membelikan barang barang tersebut," ucap Luci


"Ok, kalau gitu hati-hati, awas jangan tidur di swalayan," jawab Vie


"Tentu, sampai jumpa besok Bestie!" seru Luci melambaikan tangannya


"Dadah!" sahut Vie kemudian melesatkan motornya meninggalkan kediaman Gina


Sementara itu, Luci segera memesan ojek online untuk mengantarnya ke swalayan terdekat.


Ia kemudian segera mencari beberapa keperluan Arya dan segera membayarnya ke kasir.


"Jadi totalnya tiga ratus tiga puluh lima ribu rupiah," ucap sang kasir


Luci segera memberikan kartu kreditnya kepada kasir itu.


"Terimakasih, selamat berbelanja kembali," ucap sang kasir kemudian mengembalikan kartu kredit Luci


"Wah banyak sekali belanjaannya, kenapa dia tidak membeli sendiri barang-barang pribadinya. Kenapa harus aku, why always me,!" gerutu Luci kemudian membawa belanjaannya keluar


*Brakkk!!


Karena buru-buru gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang hingga belanjaannya tumpah ke lantai.


"Astoge!" seru Luci saat beberapa under ware pesanan Arya Tejo berceceran di lantai swalayan.


Semua pengunjung tampak menertawakan gadis itu yang sedang memunguti beberapa pakaian dalam pria.


"Astoge malu-maluin banget sih, kenapa aku harus belanja banyak under ware pria,"


Tiba-tiba seorang lelaki membantunya memunguti barang-barangnya yang tercecer dan memberikannya kepada Luci.


"Terimakasih," ucap gadis itu membungkukkan badannya


"Wait, Sepertinya aku pernah melihat mu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya lelaki itu


"Oh... sepertinya kita pernah bertemu di kantor GREENLAND INDONESIA," jawab Luci


"Benar, kalau tidak salah waktu itu kau mengantarkan makanan untuk Arya Tejo, apa benar?"


"Iya benar,"


"Perkenalan saya Gili CEO GA Company," ucap Lelaki itu mengulurkan tangannya


"Saya Luci, Asisten rumah tangga di rumah Mas Arya," jawab Luci


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya lelaki itu mengernyitkan keningnya


"Iya saya ARTnya Mas Arya," bisik Luci


"Tapi bukankah waktu itu dia bilang kamu ini karyawannya?"


"ART kan juga karyawan Pak," jawab Luci menyunggingkan senyumnya


"Wah kau benar, maaf bukan maksud ku merendahkan profesi mu, hanya saja aku sedikit terkejut saat tahu kau ini cuma seorang ART. Padahal kalau aku lihat hubungan mu dengan Arya sepertinya sangat dekat bahkan lebih dekat daripada seorang Art dengan majikannya,"


"Ah, anda terlalu berlebihan, hubungan kami biasa aja kok, dan kami juga tidak dekat," sahut Luci menepuk pundak Gili


"Oh maaf, aku suka kelepasan," sahut Luci segera membersihkan kemeja Gili


Tiba-tiba gadis itu terdiam sejenak dan memejamkan matanya.


"Tunggu!!!, jangan pergi!!!"


Luci begitu gusar saat melihat seorang gadis terus mengejar seorang lelaki yang sama sekali tak berpaling padanya meskipun gadis itu bersusah payah mengejarnya.


Saat ia berusaha membantunya berdiri, tiba-tiba seorang pria mengulurkan tangannya membantu gadis yang terjatuh itu.


Berbaliklah dan selamatkan kekasih mu,


"Apa kau baik-baik saja!" seru Gili menjentikkan jarinya didepan Luci yang terus bengong menatapnya.


"Ah iya," jawab gadis itu gagap


"Kenapa kau menangis, apa ucapan ku tadi menyakiti hatimu?" tanya Gili


"Ah tidak, aku hanya gak enak saja kalau sudah mengotori kemeja mu," sahut Luci kemudian kembali membersihkan kemeja pemuda itu


"Tidak masalah, lagipula kemejaku masih bersih jadi jangan khawatir," jawab Gili


"Begitu ya, terimakasih atas pengertiannya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, aku yakin Mas Arya pasti sudah menunggu ku," ucap Luci


"Kalau begitu kita bareng saja, kebetulan aku juga akan ke rumah Arya untuk membicarakan pertemuan kami besok,"


"Benarkah?"


"Tentu saja, parcel yang aku beli ini sengaja ku beli sebagai buah tangan untuk Arya,"


"Wah kebetulan sekali, jadi enak," jawab Luci sumringah


"Kalau begitu biar ku bantu membawakan belanjaan mu," Gili segera mengambil belanjaan Luci dan membawanya menuju ke mobil.


Selesai memasukkan semua belanjaan Luci ke Bagasi, Gili segera masuk kedalam mobilnya.


"Kenapa duduk dibelakang?" tanya Gili


"Itu...karena aku gak enak jika harus duduk di samping mu, secara kamu ini kan seorang CEO sementara aku hanya seorang ART," jawab Luci begitu polos


"Justru dengan duduk dibelakang kau malah merendahkan aku, kau memposisikan dirimu sebagai majikan dan aku sebagai sopir mu. Jika kau benar-benar menghormati ku maka duduklah disamping ku karena aku bukan sopir mu," jawab Gili


"Oh, maaf aku tidak tahu Pak, kalau begitu aku akan segera pindah ke depan. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Luci segera keluar dan pindah ke depan


Gili tertawa kecil melihat kepolosan Luci.


"Tidak apa, santai saja, anggap saja aku ini temanmu, dan jangan panggil aku pak, panggil saja aku Gili atau Mas Gili," jawab lelaki itu


"Iya Mas,"


"Nah gitu kan enak kedengarannya," Gili kemudian melesatkan mobilnya menuju ke kediaman Arya Tejo.


Satu jam kemudian keduanya sudah tiba di rumah Arya, Gili membawakan belanjaan Luci masuk ke rumah Arya.


"Kenapa pagi-pagi begini hatiku terasa begitu nyeri," ucap Arya saat melihat keduanya dari balkon


"Itu tandanya kamu jelous sama mereka," celetuk Leo menghampirinya


"Tidak mungkin, mana mungkin aku cemburu dengan Gili, tidak mungkin lelaki perfect seperti dia menyukai Luci si upik abu bukan?"


"Bisa saja, buktinya Arya Tejo sang Raja nan rupawan juga sudah mulai mabuk kepayang dibuatnya, apalagi seorang jones seperti Gili," sahut Leo


"Lihat saja, ia begitu antusias membawakan belanjaan Luci, kalau bukan karena cinta semuanya mustahil terjadi pada cowok angkuh seperti dia," imbuh Leo


"Bisa saja, pasti dia sedang tebar pesona atau ada udang di balik bakwan,"


"Dia bisa saja modusin banyak wanita cantik, tapi kenapa ia malah memilih Luci yang buruk rupa. Memang Cinta membutakan segalanya," sahut Leo


"Ish!!" cibir Arya


"Sepertinya aku harus tanya sama Luci, pelet apa yang dipakainya hingga para cogan begitu tergila-gila dan menempel padanya, bukan hanya CEO saja yang tergila-gila karenanya, tapi sekuriti kompleks juga sepertinya terkena jerat asmara sang penakluk pria," tutur Leo terkesima menatap kegusaran Guntur yang terus menatap Luci dari kejauhan.