
Suzy terlihat mengendap-endap menuju rumah Arya. Gadis itu sengaja memakai outfit hitam-hitam lengkap dengan kaca mata hitam agar tidak ada seorangpun yang mengenalinya.
"Jadi ini rumahnya, Lumayan besar juga." ucapnya tersenyum tipis
Ia mencoba untuk membuka pintu pagar rumah itu yang tidak terkunci. Dengan sangat pelan dan hati-hati akhirnya Suzy berhasil masuk ke halaman rumah Arya.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku sehingga semuanya dipermudah,
Ia kembali mengendap-endap menuju pintu masuk rumah itu.
"Siapa itu, tidak mungkin ada maling berani masuk komplek ini," Guntur segera menghentikan langkahnya saat melihat seseorang mengendap-endap dihalaman rumah Arya. Ia terus mengawasi gerak-gerik wanita itu dari kejauhan.
Saat mencium gelagat mencurigakan dari orang itu membuat Guntur yang sedang berpatroli segera meringkusnya saat ia mencoba masuk kedalam rumah.
"Arrrrrghhh, lepasin Gue!" seru orang itu terus meronta
"Sebaiknya kamu jelaskan semuanya ke pos nanti," ucap Guntur kemudian memelintir lengan orang tersebut
"Awww!" seru orang itu berteriak kesakitan
"Lepasin Gue, gue bukan maling!" serunya
"Seperti ada keributan di luar," ucap Luci menghentikan makannya
"Sepertinya ada yang sedang mengawasi kita, mari kita lihat siapa orangnya," sahut Arya
Keduanya kemudian beranjak dari duduknya dan segera keluar dari dalam rumah karena suara berisik.
"Ada apa ini, kenapa berisik sekali!" hardik Arya
"Saya menangkap seseorang yang mencurigakan sedang mengintai rumah anda," jawab Guntur memegangi wanita itu
Arya dan kemudian berjalan menghampirinya untuk melihat wajah orang yang berusaha mencuri di rumahnya.
Ia kemudian membuka tudung kepala yang dipakai wanita itu.
"Suzy!" seru Luci begitu kaget saat melihat gadis itu
"Apa kau mengenalnya?" tanya Guntur
"Iya, dia Suzy teman kuliahku," sahut Luci
Guntur segera melepaskan Suzy setelah mendengar jawaban Luci.
"Kalau kau teman kuliahnya, kenapa harus mengendap-endap jika ingin menemuinya," celetuk Guntur
"Itu karena aku hanya ingin memastikan dia benar-benar bekerja di Rumah Arya Tejo saja." sahut Suzy
"Sekarang kau sudah melihat dengan mata kepala sendiri kalau Luci bekerja di rumah ku bukan, so enyahlah dari rumahku!" hardik Arya
"Ah ternyata kau benar-benar kasar, bahkan lebih kasar dari yang diberitakan di media," ucap Suzy
"Aku tahu dengan siapa aku harus berbicara santun dan dengan siapa aku harus berbicara kasar. Andai saja aku tidak memandang ayahmu mungkin aku sudah melaporkan mu ke polisi karena sudah mengganggu ketenangan ku," sahut Arya
"Sebaiknya lo urus teman lo itu," imbuhnya kemudian meninggalkan mereka
"Baik,"
Luci kemudian menarik tangan Suzy dan membawanya pergi.
"Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, atau aku akan mengusir mu,_" ucap Luci
"Lepasin Gue!" hardik Suzy
Gadis itu begitu marah terhadap Luci hingga mendorongnya.
"Awww!"
Beruntung ada Guntur yang langsung menangkap tubuh Luci hingga ia tak tersungkur ke tanah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Guntur memastikan keadaan Luci
"Aku tidak papa,"
"Gadis miskin seperti dirimu tak pantas mengusirku, lagipula kau tidak perlu mengusirku karena aku akan pergi sendiri. Aku sudah senang karena berhasil memastikan posisi mu yang sebenarnya. Ternyata kau hanya seorang pembantu untuknya tidak lebih, dan aku merasa lega. Karena aku semakin yakin tidak ada lelaki tampan apalagi sultan yang mendekati mu. Mereka sengaja membelamu karena merasa iba terhadap mu. Kau tidak lebih dari seorang benalu yang selalu merepotkan orang lain," celoteh Suzy sebelum pergi
Kenapa dia berisik sekali
"Kata siapa tidak ada cogan yang mendekatinya, buktinya aku terus menempel padanya," sahut Guntur
Sial, dia mulai lagi. Pasti dia sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengambil hatinya.
"Ah benar, kalian memang cocok. Satpam komplek dan pembantu rumah tangga ya kalian memang serasi. Meskipun kamu memiliki
paras yang lumayan tampan tapi tetap saja kau hanya seorang satpam, jadi kau tidak memiliki nilai lebih sebagai seorang pria," sahut Suzy
"Dan kau!" seru Suzy menunjuk kearah Guntur
"Aku yakin kau akan menyesal karena telah membuat lenganku memar, dan aku pastikan kau akan mendapatkan balasan yang setimpal, camkan itu!" imbuhnya
Arya yang merasa geram dengan tingkah laku Suzy kemudian menjentikkan jarinya. Tidak lama tiba-tiba Suzy jatuh dan tergelincir.
"Awww, aduh kakiku... kakiku sakit... arrgghhh!" seru gadis itu kesakitan
"Hei kamu, cepat bantu aku berdiri!" teriaknya
"Maaf aku sedang banyak kerjaan jadi tidak sempat menolong wanita jahat seperti dirimu," sahut Guntur
"Kau juga sama jahatnya denganku, buktinya kau mengabaikan aku tanpa menolong ku. Harusnya kalau kau benar-benar orang baik kau pasti akan menolong siapapun yang sedang kesulitan tidak peduli orang itu baik ataupun jahat bukan?"
"Sebaiknya Mas Guntur lanjutkan saja pekerjaannya, biar aku saja yang menolong Suzy. Tunggu sebentar aku akan memesankan taksi online untuk mengantarmu pulang," ucap Luci
" Setidaknya Upik Abu tetaplah gadis yang baik hati, thanks Upik Abu," jawab Suzy sinis
Tidak lama sebuah taksi online memasuki komplek dan memarkirkan mobilnya.
Suzy berusaha bangun, namun ia tak bisa menggerakkan kakinya yang terkilir.
"Oii satpam komplek, tidak bisakah kau membantu memapah ku sampai ke atas mobil!" seru Suzy
"Maaf aku tak bisa," sahut Guntur
Luci segera menghampiri Suzy dan membantunya berdiri.
"Aww sakit, aku tidak bisa berdiri!. Bisakah kau menggendong ku!" pinta Suzy
"Sepertinya aku tak kuat jika harus menggendong mu, kau lebih besar dariku jadi aku tak sanggup mengangkat mu," sahut Luci
"Haruskah aku merangkak agar bisa sampai ke dalam taksi," gerutu Suzy
Tiba-tiba Guntur menghampiri gadis itu dan menggendongnya
"Aww, kenapa kan tiba-tiba menolongku, bukankah tadi kau bilang tidak ingin menolong wanita jahat seperti diriku, lalu apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Suzy
"Aku juga meminta kepadamu jangan pernah bermimpi aku akan tertarik pada gadis jahat seperti dirimu, karena itu tidak akan pernah terjadi," sahut Guntur kemudian menutup pintu taksi online itu.
Dasar cowok miskin, siapa juga yang akan tertarik denganmu,
"Terima kasih mas Guntur sudah menolong Suzy," ujar Luci
"Kau tidak perlu berterima kasih karena aku melakukannya untuk dirimu. Aku juga berharap semoga kau tidak terlalu baik dengan gadis itu, karena sepertinya dia bukan tipe orang yang yang suka membalas budi atau berbaik hati kepada orang-orang seperti kita,"
"Iya aku tahu, tapi tetap saja aku tidak tega saat melihatnya menderita," sahut Luci
"Kau memang terlalu baik Lu, semoga aku juga bisa seperti dirimu. Kalau begitu aku pamit sampai ketemu lagi besok," ucap pemuda itu kemudian melanjutkan patrolinya.
""""""""""""""""""
Pagi itu Luci bersiap-siap untuk menggantikan pak Sulaiman mengajar. Gadis itu mengambil beberapa buku modul dan catatan absen di meja sang dosen.
"Mawar putih!" seru gadis itu begitu terkejut saat melihat sekuntum mawar putih di atas buku absen mahasiswa.
"Kenapa perasaanku tidak enak setiap melihat bunga itu," ia buru-buru menyingkirkan mawar putih itu dang mengambil buku absennya
Luci segera pergi setelah mengambil semua benda-benda yang dibutuhkannya.
Semoga tak terjadi sesuatu dengan ku,
Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai mengajar.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga," Luci segera membereskan buku-bukunya dan meninggalkan ruangan kelas.
Senyumnya seketika mengembang saat melihat notifikasi pesan masuk dari Guntur.
"Kalau sudah selesai, cepatlah keluar. Aku menunggumu di depan," pesan Guntur
Luci segera mengembalikan buku-buku modul ke meja Pak Sulaiman dan bergegas menemui Guntur.
"Tara!!" seru lelaki itu menunjukkan sepeda motor Luci yang sudah di reparasi
"Wah, Sepeda motorku sudah bagus lagi, Terimakasih Mas Guntur sudah memperbaikinya," jawab Luci begitu bahagia
"Semoga kau senang, dengan kejutannya,"
"Tentu saja aku senang sekali, apalagi selama ini belum pernah ada yang memperhatikan ku sampai seperti ini. Sekali lagi terimakasih," sahut Luci
"Kau tahu kenapa aku melakukannya untuk mu?" tanya Guntur
Luci hanya menggelengkan kepalanya.
"Haish, ternyata kau memang tidak peka Lu," ucap Guntur
"Memang banyak yang bilang aku ini cewek yang tidak peka. Tapi aku memang sengaja, aku takut terlalu percaya diri saat menyimpulkan sesuatu hingga membuat ku kecewa saat ekspetasi ku tak sesuai harapan," sahut Luci
"Aku memang selalu berhati-hati karena aku tidak mau kecewa karena terlalu berharap pada manusia. Aku ingin semuanya mengalir bagaikan air saja," terangnya
"Selain baik hati kau juga gadis yang sangat pemalu rupanya, itulah sebabnya aku begitu menyukai mu," ucap Guntur membuat Luci tersipu-sipu
"Apa kau sungguh-sungguh menyukai ku?" tanya Luci tak percaya
"Kalau aku tidak menyukai mu untuk apa aku selalu peduli dan perhatian padamu. Haruskah aku memperjelas lagi ucapanku agar kau tahu aku menyukai mu," sahut Guntur membuat Luci terpana
"Tidak perlu, aku percaya padamu," sahut gadis
"Wah sebuah pemandangan yang benar-benar membuat ku bahagia. Syukurlah jika satpam itu menyukai Luci, setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk mendekati Mas Arya. Aku akan menggunakan ayahku untuk lebih mendekatkan kami. Unnchhh senangnya hatiku!" seru Suzy begitu bahagia hingga ia tak sadar ia terperosok kedalam got
"Arrrrrghhh!!!" jerit Suzy
"Kenapa hari ini kau tampak murung?" tanya Guntur
"Itu karena mawar putih," jawab Luci
"Maksudnya ada yang memberimu bunga Mawar, tapi kau tak menyukai pengirimnya?" tanya Guntur
"Bukan begitu, sudah dua hari aku menemukan bunga itu. Entah kenapa perasaanku selalu tidak enak saat melihat bunga itu. Seperti kemarin, aku hampir saja tertabrak oleh truk jika kau tidak menyelamatkan diriku. Sebelum pulang aku sempat melihat bunga mawar putih di atas sepeda motorku dan membuangnya. Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya tapi yang jelas bunga itu seperti sebuah kode yang memberitahukan sesuatu padaku, tapi aku tidak tahu apa maknanya," jelas Luci
"Apa hari ini kau melihatnya juga?" tanya Guntur
"Iya, Aku melihatnya di atas tumpukan buku di meja dosen," jawab Luci
"Kalau boleh tahu apa kamu memiliki semacam kemampuan supranatural, atau indera keenam untuk melihat sesuatu yang tak kasat mata?" selidik Guntur
"Entahlah, aku memang bisa melihat masa depan seseorang tapi aku sendiri tidak bisa melihat apa yang akan terjadi padaku," jawab Luci
"Tapi kau tidak bisa melihat mahluk gaib?" tanya Guntur
"Benar, aku hanya bisa menerawang sesuatu yang akan terjadi pada seseorang seperti seorang cenayang, tapi meskipun begitu tidak bisa mencegah semua itu terjadi, karena itu adalah takdir Tuhan. Dan Tidak ada seorang manusia yang bisa melawan takdir Tuhan bukan?"
"Lalu untuk apa kau memiliki kemampuan melihat masa depan jika kau tak bisa merubahnya?" tanya Guntur
"Aku hanya bisa memperingatkannya, setidaknya orang itu bisa lebih hati-hati dan mawas diri," jawab Luci
"Wah kau masih muda tapi begitu bijaksana, aku jadi semakin kagum padamu," sahut Guntur
"Oh iya, hari ini aku masih harus mengajar untuk menggantikan dosen, jadi kita tidak bisa pulang bareng lagi,"
"Kalau boleh tahu kau pulang jam berapa, aku tidak keberatan jika harus menunggu mu," sahut Guntur
"Mungkin setelah Isya, apa kau masih mau menungguku?"
"Mungkin aku harus pulang terlebih dahulu setelah itu aku akan menjemputmu lagi saat kau selesai mengajar,"
"Ok, sampai ketemu lagi nanti malam," jawab Luci kemudian bergegas masuk lagi ke kampusnya.
Ada yang mengikutinya, apakah dia mahluk suruhan sang siluman Asu Baung,
Guntur terus menatap kepergian Luci hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
Lelaki itu kemudian mendatangi kediaman Ki Brojo Anom untuk menanyakan sesuatu padanya.
"Ada mahluk gaib yang selalu mengikutinya akhir-akhir ini, dan itu adalah mahluk yang sama yang membuatnya hampir tertabrak truk malam itu. Apa aku harus memberitahunya atau tidak?" tanya Guntur saat menemui Ki Brojo
"Tentu saja banyak mahluk gaib yang tertarik padanya, gadis itu begitu wangi seperti mawar putih sehingga menarik para lelembut untuk mengikutinya," sahut Ki Brojo
"Kenapa bisa begitu?" tanya Guntur lagi
"Karena dialah wanita pilihan, dia bukan wanita biasa. Itulah sebabnya Arya Tejo berusaha mendekatinya dan selalu ingin berada disampingnya. Wanita itu adalah penyelamatnya yang akan membuat hidupnya tetap abadi. Ia akan semakin kuat jika bersamanya dan akan binasa jika keduanya berpisah," sahut Ki Brojo
"Apa Arya Tejo tahu semua itu dan sengaja memanfaatkannya?"
"Tentu saja, dan kau...kalau kau ingin hidup normal maka dekatilah gadis itu. Jauhkan dia dari Arya Tejo, dengan begitu kau akan bisa hidup normal dan tidak melihat hantu lagi. Kau tidak akan tersiksa dengan kemampuan mu itu Guntur. Jika kau berhasil memisahkan mereka maka aku bisa mengembalikan kalung itu dengan mudah kepada Arya Tejo. Dia tidak akan punya pilihan lain selain memakai kalung itu untuk bisa hidup abadi," tutur Ki Brojo
"Tapi kenapa Luci, apa dia sehebat itu hingga Aryo Tejo yang begitu sakti begitu membutuhkannya untuk bisa hidup abadi?" Guntur semakin penasaran dengan penjelasan Ki Brojo, lelaki itu terus menggali informasi dari guru spiritualnya itu.
"Jika kau ingin tahu jawabannya, maka carilah informasi yang banyak mengenai Arya Tejo dari wanita itu, kau akan mendapatkan jawabannya dari sana,"