
"Mungkin uang dua juta bagi anda tidak ada artinya, namun bagi beberapa orang yang itu sangat bernilai. Jangankan dua juta bahkan dua ribu saja sangat berharga bagi mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan. Andai saja mereka punya uang mungkin dia tidak akan mencuri ayam untuk lauk pauk anak-anaknya." ucap Arya membuat Luci begitu terharu mendengar lelaki itu membelanya
"Mas Arya...." Luci berkaca-kaca menatap pemuda itu
"Kau tidak perlu khawatir aku akan membayar uang damai itu," ucap Arya menatap Luci
"Terimakasih banyak Mas," jawab gadis itu sumringah
"Dan kau ibu tiri, aku akan mengirimkan lauk pauk ke rumahmu jadi cepatlah pulang," imbuhnya
"Terimakasih banyak Mas Arya, terimakasih sudah membantuku,"
"Berterima kasihlah pada Luci, karena aku melakukannya demi dia," jawab Arya membuat Luci semakin terharu mendengarnya
Luci kemudian mengantar wanita itu sampai ke depan komplek.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Luci menatapnya Iba
"Tentu saja, Terimakasih banyak sudah menolong Ibu hari ini,"
Luci merogoh saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu kepadanya.
"Ini sedikit buat ongkos ibu pulang, nanti kalau aku sudah gajian aku pasti akan mengirimi mu uang,"
"Terimakasih Luci, padahal selama ini aku selalu memperlakukan dirimu begitu buruk, namun kenapa kamu masih saja peduli padaku," sahutnya berkaca-kaca
"Meskipun selama ini kau selalu jahat padaku, bahkan sama sekali tidak pernah mengakui aku sebagai putri mu, kau tetaplah ibuku. Meski aku tidak lahir dari rahim mu tapi ibulah yang merawat ku dari kecil. Meskipun aku sebenarnya membenci dirimu karena selalu membeda-bedakan aku dengan anak kandung mu tetap saja sampai kapanpun kau tetap ibuku dan aku tidak bisa mengabaikan dirimu," sahut Luci
Wanita itu segera memeluknya erat dan terisak dalam pelukannya.
"Maafkan aku nak, selama ini aku terlalu dibutakan dengan kebencian hingga aku tak menyadari jika kau adalah berlian yang sangat berharga bagiku,"
"Tidak apa Ibu, sekarang pulanglah, aku yakin Agnes dan Evvy sudah menunggu mu di rumah," Luci menghentikan sebuah angkot dan wanita itu segera naik.
Gadis itu melambaikan tangannya dan kemudian mengusap air matanya yang mulai turun membasahi pipinya.
Mulia sekali hatinya, kau tidak hanya cantik parasnya tapi hatimu lebih cantik Luci.
Arya kemudian menghampiri gadis itu, dan berjalan di sampingnya.
"Keren," ucapnya sembari mengacungkan jempolnya
Luci hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Kamu yang keren Mas, thanks ya," ucap Luci lirih
"Sama-sama," ucap Arya kemudian menggandeng lengan gadis itu
"Oh!" Luci hanya ternganga saat melihat Arya menggandengnya sepanjang perjalanan kembali ke rumah.
Sesekali Arya menoleh kearah gadis itu dan tersenyum simpul padanya membuat keduanya tampak malu-malu saat beradu pandang.
Luci langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setibanya di kamarnya. Gadis itu tersipu-sipu mengingat apa yang dilakukan Arya untuknya di rumah makan Pak Gagah.
"Apa Mas Arya menyukai ku??, ah kenapa jantung ini berdebar-debar, tapi bagaimana dengan gadis yang waktu itu bukankah dia Kekasihnya??. Hmm...tapi sikapnya sangat berbeda hari ini. Dia begitu manis padaku, bahkan menggandeng ku sampai ke rumah. Apa aku kegeeran atau memang dia ada rasa padaku. Andai saja dia benar-benar menyukai ku...." ucap Luci bermonolog sendiri di ranjangnya
Gadis itu terlihat bahagia, hingga terus berguling-guling sembari memeluk boneka teddy bear kesayangannya untuk melampiaskan kebahagiaannya.
************
Pagi harinya, Luci menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada sahabatnya Oktavia. Gadis itu menceritakan bagaimana Arya membelanya dan membayar uang damai untuknya.
"Wah so sweat sekali Mas Arya, pasti dia ada something deh sama lo," ucap Vie
"Masa sih?" tanya Luci
"Ya iyalah, secara mana ada cowok mati-matian belain lo sampai bayarin uang damai yang segitu banyak tanpa pamrih kepada orang asing. Pastilah dia melakukan semua itu karena ada rasa sama lo, gak ada api tanpa ada asap kan sis?" jawab Oktavia
"Iya juga sih, tapi bagaimana kalau prediksi lo salah, soalnya cowok tajir dan ganteng sepertinya mustahil jomblo kan?"
"Kalaupun prediksi kita salah tetap saja kamu gak boleh rendah diri gitu. Lo itu manis dan aku yakin banyak kok cowok diluar sana yang suka sama lo. Apalagi tidak semua orang memandang fisik itu sebagai hal yang utama dalam menjalin hubungan, so Semangat!" sahut Vie menyemangatinya
"Ehekk, jangan kepedean deh lo upik abu. Pasti Mas Arya melakukan semua itu karena kasian sama lo. Apalagi lo itu kan pembokatnya so udah pasti di nolongin lo. So jangan merasa kegeeran kalau dia suka sama lo. Asal lo tahu ya kalau Mas Arya itu sudah di jodohin sama gue," ucap Suzy menghampirinya
"Dih hoax, lo kali yang kepedean. Mana mungkin Mas Arya mau di jodohkan sama penyihir kaya lo, ngaca dong Suzy!" cibir Vie
Oktavia yang merasa geram balik mendorong gadis itu, dan keduanya kemudian saling jambak dan jotos.
Luci berusaha memisahkan keduanya, namun alih-alih memisahkan mereka ia justru terhempas saat Vie mencoba menepisnya.
"Awww!!" pekik Luci memegangi sikunya yang tergores
"Kamu tak apa kan?" tanya Vie merasa khawatir
"Sukurin, kena karma kan lo. Makanya jangan sok baik di depan gue!" celetuk Suzy
"Dasar penyihir sialan, belum puas kalau gue belum menghajar mulut berbisanya!" Vie segera berbalik dan berjalan mendekati Suzy
Suzy berusaha menghindar dan menjadikan Agnes sebagai Tamengnya. Namun gadis itu segera melepaskan diri dari cengkraman Suzy dan meninggalkannya.
"Wah sepertinya kamu tidak punya teman lagi, unch kasian!" ejek Vie
"Siapa bilang, temanku banyak tinggal chat aja mereka pasti datang!" sahut Suzy
Gadis itu kemudian meneriaki Agnes agar kembali membantunya menghadapi Vie. Namun Agnes tak kunjung menghampirinya. Gadis itu terus berlalu tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Ah sial, dasar pecundang!" umpat Suzy
"Sekarang kau sendirian, pasti sedih bukan ditinggalkan pas lagi lagi butuh bantuan," ucap Vie meledeknya
Ia kemudian mendekati Suzy dan melepaskan tinjunya hingga membuat gadis itu sempoyongan.
"Awww!" seru Suzy memegangi wajahnya.
Melihat teriakan Suzy, Agnes segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearahnya.
"Suzy!!" ia segera berlari menghampirinya
"Wah bibirmu berdarah!" seru Agnes menghampiri Suzy
"Dasar sialan, kemana aja lo pas gue butuhin!" seru Suzy menepis lengan Agnes
"Sorry, gue hanya berusaha melindungi diri sendiri. Secara nyokap gue lagi kesusahan keuangan, so gue gak mau bikin dia khawatir karena wajah gue yang babak belur," sahut Agnes
"Ish dasar preman pasar, awas aja lo. Pasti gue bales perbuatan lo!" cibir Suzy kemudian meninggalkan mereka.
**********
Sepulang dari Kampus Luci sengaja membuat menu makan malam yang istimewa. Gadis itu berniat memberikan kejutan untuk Arya karena sudah menolongnya.
"Semoga saja Mas Arya suka masakannya,"
*Ting Nong!!
Wajahnya berseri-seri saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Ia segera berlari untuk membukakan pintu dan menyambut kedatangan Arya.
Luci tidak lupa merapikan penampilannya. Ia bahkan memakai riasan tipis hanya untuk menyambut kepulangan sang Majikan.
"Sela...mat datang,"
Senyumnya seketika memudar saat melihat Arya menggandeng lengan seorang wanita cantik.
Seketika ia membalikkan badannya dan mengusap riasan di wajahnya.
"Terimakasih sambutannya Lu, kamu cantik sekali malam ini," ucap Leo segera merangkulnya.
"Terimakasih," jawab Luci mencoba tegar
Leo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap lekat gadis itu.
"Jangan bilang kau sedih karena Arya,"
"Oh tidak kok, siapa yang sedih, aku baik-baik saja kok, swear!" sahut Luci berusaha menyembunyikan kekecewaannya
"Syukurlah kalau gitu, aku takut kamu patah hati karena dia,"
"Tentu saja tidak Le, mana berani seorang asisten rumah tangga seperti ku mencintai majikannya sendiri," jawab Luci kemudian bergegas menuju ke dapur
Siapa bilang kau tak pantas mencintainya, justru kaulah wanita yang pantas mendampinginya, karena hanya dirimulah satu-satunya wanita yang Arya cintai