INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Pergulatan dua Saudara



*Tok, tok, tok!!


Luci segera berlari meninggalkan pekerjaannya di dapur untuk melihat siapa yang datang bertamu.


Seketika wajahnya pucat pasi saat melihat siapa yang datang berkunjung.


"Kau...." Gadis itu berjalan mundur saat menyadari siapa yang datang hingga ia hampir terjatuh jika Gili tidak segera menangkap tubuhnya.


"Bagaimana kabarmu Luciana?" tanya pemuda itu dengan semburat senyum diwajahnya


Luci segera melepaskan diri dari pelukan Gili, dan menjauh darinya.


"Ada apa kau datang kesini, Mas Arya sedang tidak di rumah jadi sebaiknya kau datang kesini lain waktu saja," ucap Luci mencoba menutup kembali pintu rumahnya dengan wajah ketakutan


"Siapa bilang aku datang untuk menemui Arya, justru aku datang ke tempat ini untuk menemui mu," jawab Gili mendorong pintu dan mencoba masuk kedalam rumah.


Ia berjalan pelan mendekati Luci.


"Jangan mendekat atau aku akan teriak!" ancam Luci


"Kenapa kau begitu ketakutan Lu, bukankah kau bilang aku ini menggemaskan?" ujarnya terkekeh


"Pergi dari sini atau aku akan memanggil sekuriti!" ucap gadis itu kembali mengancamnya


"Panggil saja, tidak akan ada seorangpun yang mendengar teriakan mu!" jawab Gili menyeringai


Lelaki itu kemudian duduk di sofa dengan santainya tanpa menghiraukan ancaman Luci.


"Apa kau tidak menyediakan minuman untuk ku, bukankah kau seharusnya memperlakukan tamu mu seperti seorang raja?" imbuhnya


"Maaf, aku juga bebas memilih tamu mana yang harus aku layani seperri raja, atau aku usir karena tak diharapkan kedatangannya," jawab Luci


"Ternyata kau sangat pintar Lu, pantas saja kau bisa membuat Arya tergila-gila padamu,"


Luci segera berlari keluar meninggalkan rumahnya. Gadis itu benar-benar terkejut saat menyadari ternyata tak ada seorangpun di perumahan itu. Seperti di telan bumi, tak ada satupun orang di lingkungan itu.


Hanya angin yang berhembus membelai rambut Luci membuatnya semakin ketakutan.


Kemana orang-orang itu, Luci benar-benar tak mengerti. Bahkan para sekuriti komplek pun tak ada di tempatnya. Semua orang menghilang seperti sudah direncanakan.


*Tak, tak, tak!!


Suara sepatu pantofel Gili terdengar menggema membuat Luci seketika tahu siapa yang datang mendekatinya. Lelaki tampan itu semakin gemas melihat wajah ketakutan Luci.


"Dimana para penghuni kompleks ini, aku tahu kau pasti menyembunyikan mereka di suatu tempat bukan?" tanya Luci


"Jangan berburuk sangka Luci, aku tidak pernah menyembunyikan siapapun, mungkin mereka sendiri yang pergi dari kompleks ini karena tahu aku akan datang," jawabnya terkekeh kecil


"Dasar pembohong!"


"Sejak pertama aku melihat mu aku sudah jatuh hati padamu, meskipun kata-kata itu terdengar seperti sebuah modus tapi begitulah adanya. Aku bukan orang yang pandai basa-basi apalagi menyembunyikan perasaan ku, aku hanya ingin kau tahu kalau ada manusia yang benar-benar tulus mencintai mu bukan hanya mahluk halus yang tergila-gila padamu balung wangi,"


Luci terkekeh mendengar penuturan Gili, bagaimana tidak rasanya semua yang ia ucapkan hanya kebohongan semata. Bagaimanapun juga Luci tahu betul jika hanya mahluk astral yang menyukainya. Tidak ada seorangpun manusia yang menyukai Balung wangi, setidaknya hal itulah yang membuat Luci waspada dari rayuan lelaki tampan di depannya itu.


"Kalau begitu mari kita buktikan, apa benar kau ini manusia biasa atau mahluk jadi-jadian. Karena selama ini tidak ada manusia yang menyukai balung wangi seperti diriku," tantang Luci


"Bagaimana jika aku benar-benar manusia biasa, apa kau bersedia berkencan dengan ku dan meninggalkan Arya?" tanya Gili


"Tentu saja, manusia dan siluman tidak mungkin kan bersatu bukan, jadi untuk apa mempertahankan hubungan yang sad ending," sahut Luci


"Setuju," jawab Gili bertepuk tangan


"Kau benar-benar wanita yang pintar Lu,"


"Sial!" pekik lelaki itu,


"Sekarang kita buktikan apa kau benar-benar manusia biasa atau seorang mahluk jadi-jadian," ucap Luci sinis


Gili berusaha menghentikan Luci saat menyayat lengannya, namun gadis itu lebih gesit dari yang ia duga.


Saat darah segar mulai menetes dari tangannya, membuat suasana di tempat itu semakin senyap. Langit semakin gelap, angin berhembus kencang, dan beberapa bayangan hitam mulai berdatangan ke tempat itu dan mengerubungi Luci.


Wanita itu hanya memejamkan matanya seolah pasrah jika para lelembut itu akan memakannya.


"Dasar brengsek, aku tidak akan membiarkan para demit itu memakan makanan ku," Gili segera melesat menghajar satu persatu lelembut yang mencoba mendekati Luci.


Pemuda itu begitu gesit dan cepat hingga dengan mudah menghabisi para lelembut itu dalam sekejap.


Ia kemudian mendekati Luci dan segera menarik lengan gadis itu. Luci berusaha menolaknya saat Gili hendak membalut lukanya,. Ia terus meronta namun lelaki itu dengan mudah membekuknya.


"Dasar wanita bodoh, apa kau ingin mati konyol dengan mengundang para lelembut itu hah!" maki Gili


"Tentu saja aku akan melakukan apapun untuk mengungkap jati dirimu, mahluk jadi-jadian!" ucap Luci menyunggingkan senyum sinisnya.


***********


Sementara itu, Leo tengah sibuk mencari data tentang Gili. Ia begitu getol menggali semua informasi tentang pengusaha muda itu.


"Kita lihat saja siapa dirimu yang sebenarnya, apa benar ucapan Arya yang menyebutmu sebagai manusia penganut ilmu hitam,"


Tangan Leo terus bergerak lincah di atas keyboard. Seutas senyum mengembang saat ia berhasil mendapatkan data valid tentangnya.


"Jadi dia adalah seorang mayat hidup rupanya, lalu bagaimana dia bisa menjadi sangat sakti??. Apa benar ia mempelajari ilmu hitam seperti dugaan Arya??" kembali ribuan pertanyaan membuat pemuda itu terus berpikir keras hingga membuat sebuah mind map untuk mengungkapkan jati Diri Gili.


"Ternyata Ki Brojo adalah penasihat spiritual keluarga Gili, dan juga Alvin??, bagaimana mereka bisa dekat dengan Alvin Syailendra??" Leo benar-benar tercengang saat menarik kesimpulan atas mind map yang dibuatnya


"Tidak mungkin!!"


"Arrgghhh!!" Leo seketika merasa susah bernapas saat seseorang mencekiknya dari belakang


"Sepertinya aku harus memberi mu pelajaran karena sudah berhasil mengetahui semuanya, adik tiri ku!" seru Alvin kemudian mendorong tubuh Leo hingga ia jatuh terlempar keluar dari ruangannya.


*Prangg!!!..


Alvin terkekeh saat melihat pemuda itu bergelantungan di atas gedung tinggi.


Leo berusaha bertahan dengan mengeratkan cengkraman tangannya.


"Kali ini aku pastika kau akan mati di tanganku anak haram!"


Alvin menggilasnya tangan Leo hingga membuat pemuda itu mengerang kesakitan dan melepaskan tangannya hingga terjatuh dari lantai lima GREENLAND building.


Alvin kembali tertawa terbahak-bahak mengungkapkan kebahagiaannya saat berhasil menyingkirkan Leo.


"Sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi ku untuk membunuh Arya Tejo," ucapnya kemudian membalikkan badannya.


Namun saat akan melangkah pergi tiba-tiba lelaki itu merasakan seseorang menarik kakinya.


Matanya memerah saat menoleh ke belakang, ia tidak percaya begitu melihat siapa yang mencoba menghentikan langkahnya.


"Wira, bagaimana bisa kau...."


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Alvin sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.


"Sekarang aku tidak selemah yang kau bayangkan Alvin??" ucap Leo menyeringai