I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 7



...Hello Everyone......


...HAPPY READING...


...Tapi...


...Sebelum baca...


...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...


***


"Baiklah,” jawab Fany terpaksa menyetujui permohonan Austin.


Austin dan Tiffany langsung pergi menuju ke Resto yang ada di hotel itu.


Di saat sudah sampai disana, mereka langsung pergi berjalan menuju meja yang masih kosong. Kemudian Austin memangggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.


“Ya tuan. Anda mau pesan apa?” Kata pelayan itu berbicara dengan sopan.


“Saya mau pesan Croque Monsieur, Salad Nicoise, Steak Frites,” jawab Austin sambil menatap kearah Fany.


“Dan satu botol Absinth dan air mineralnya,” ucap Austin lagi.


“Baik Tuan. Mohon tunggu sebentar ya,” ujar pelayan itu sambil pamit untuk menyiapkan pesanan Austin. Austin dan Fany hanya tersenyum dan mengangguk kepala untuk merespon perkataan pelayan itu.


Setelah beberapa menit akhirnya pesanan Austin pun datang dan pelayanan itu meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja dengan hati hati. Kemudian pelayan itu dengan tersenyum berkata pada Austin dan Fany untuk pamit undur diri dari meja itu.


“Ini untukmu.” Austin menyodorkan salad yang dia pesan tadi kearah Fany.


“Tidak usah, tuan. Terima kasih.” Fany menolak pemberian Austin.


“Tapi saya memesan ini memang untukmu. Kalau kau tidak mau mengambilnya maka saya akan membuangnya ketempat sampah,” ujar Austin. Pria itu hendak berdiri untuk membuang makanan itu.


Tapi dengan sigap Fany memegang tangan Austin, “tidak tuan. Jangan dibuang. Saya akan memakannya. Akan sangat disayangkan kalau makanan ini dibuang,“ ujar Tiffany.


“Nah. Seperti itu lebih baik,” balas Austin sambil tersenyum.


.


“Terimakasih tuan.” Tutur Fany sambil menunduk kepalanya.


“Austin Nero. Panggil aku dengan Austin saja,” ujar Austin menyebutkan namanya.


“Ehh,” Fany terkejut.


“Tidak usah terkejut. Kau jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Cukup panggil aku Austin saja,” pinta Austin yang memang tidak suka dipanggil dengan kata tuan.


“Baiklah tu...eh Austin. Sekali lagi terima kasih atas makanannya." Fany sepertinya masih gugup dan belum terbiasa memanggil nama orang yang ada dihadapan ini.


“Oh iya. Aku belum mengetahui namamu sampai saat ini. Apa boleh kalau kau memberitahu namamu agar aku juga bisa memanggilmu dengan nama saja,” ucap Austin sambil menatap Fany.


“Tiffany Lee, tuan. Panggil Fany saja,” ucap Tiffany tidak sadar bahwa dirinya masih memanggil Austin dengan sebutan tuan.


“Aku sudah bilang padamu jangan panggil aku dengan kata tuan,” ucap Austin terlihat tidak suka dipanggil tuan.


“Maaf, aku hanya belum terbiasa.“ Ucap Fany tidak tahu tau berkata apa- apa lagi.


“Baiklah. Kali ini akan kumaafkan,” ucap Austin.


Tiffany hanya tersenyum membalas perkataan Austin, lalu meneruskan kegiatan makannya. Entah kenapa Austin terlihat sangat menyukai saat melihat Fany tersenyum daripada melihatnya menangis.


Saat sudah selesai makan, Austin permisi untuk pergi ke toilet sebentar dan Fany hanya mengangguk kepala. Setelah mendapat respon Austin pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke toilet.


“Cih. Ternyata kau masih ada di sini, ya.” Patricia tiba-tiba datang bersamaan dengan Christian kerestoran itu dan sedang berdiri ditempat Fany duduk saat ini.'


“Apa salah jika aku masih ada ditempat ini?” Fany bertanya kembali karena dirinya tidak suka dengan perkataan Patricia barusan.


“Terserah kau mau bilang apa. Tapi maaf, nona. Bukankah kata-kata itu juga sebaiknya diucapkan untukmu?” Balas Fany. Ia terlihat marah dan hendak menampar Patricia.


‘Ppllaak’ suara tamparan terdengar jelas ditelinga Fany.


Dan itu berasal dari tangan Crishtian. Pria itu ternyata langsung menampar Tiffany ketika dirinya  melihat Tiffany yang hendak  menampar Patricia. Bahkan Christian juga menyiram tubuh Tiffany dengan air mineral yang ada dimeja itu sehingga membasahi wajah dan baju Fany.


“Kau dengar ya. Jaga mulutmu. Kau tidak berhak mengatakan kekasihku sebagai wanita penggoda karena kaulah yang lebih cocok mendapat julukan itu,” ucap Christian kemudian memegang tangan Patricia dan membawa dia keluar dari resto itu.


Fany hanya bisa melihat kepergian Christian dan hanya menatapnya penuh kebencian.“Aku akan mengingat ini Christian. Kuharap kau akan menyesalinya,” ucap Fany lalu membersihkan wajahnya dengan tisu dan mengelap bajunya itu. Meskipun sudah di lap, bajunya masih saja terlihat basah.


“Fany. Kau kenapa? Dan bajumu kenapa bisa basah seperti ini?” Tanya Austin yang sudah datang dari toilet dan dia terkejut melihat baju Fany basah padahal tadi sebelum dirinya pergi ke toilet baju Fany terlihat baik-baik saja.


“Aku tidak apa apa, Austin. Tadi saat aku mau minum, gelasnya tidak sengaja terjatuh dan akhirnya mengenai bajuku,” ucap Fany berbohong.


“Kau kok ceroboh kali sih,” ucap Austin .


“Aku memang wanita ceroboh, Austin.” Ucap Tiffany malah membenarkan perkataan Austin.


Setelah itu Austin memangggil pelayan untuk membayar pesanan mereka tadi.


Setelah selesai membayar, Austin terkejut melihat Fany yang menyodorkan uang kepadanya.


Austin sontak menolak saat Fany mencoba memberikan dia uang sebagai pengganti uang yang dia gunakan untuk membayar pesanannya tadi. “Tidak perlu Fany. Kau tidak perlu mengganti uangku,” tolak Austin.


Fany merasa tidak enak hati karena makanan yang dia makan tadi cukup mahal sekali. Sepertinya Austin dapat membaca raut wajah Fany saat ini, “Tidak papa Fany. Aku juga tidak keberatan kok, kau anggap saja itu sebagai pemberian dari seorang teman,” ucap Austin.


“Baiklah. Kalau begitu terima kasih ya Austin.”


“Ehmm sama-sama”


Austin pun menemani Fany pergi keluar dari hotel itu. Ya itu karena Fany buru-buru mau pulang padahal Austin masih ingin berbicara lebih lama dengan Fany. Tapi Austin tidak bisa memaksakan kehendaknya. Jadi mau gak mau Fany harus segera pergi.


“Sekali lagi Terima kasih ya Austin.” Pria itu hanya tersenyum membalas perkataan Fany.


“Baiklah. Aku masuk dulu ya,” ujar Fany saat taksi yang dipesannya sudah datang. Fany pun melangkah kakinya untuk menuju taksi itu. Baru beberapa langkah berjalan tiba dia menghentikan langkahnya.


“Mengenai kejadian semalam. Mari kita lupakan saja.” Ucap Tiffany sambil tersenyum.


Fany cukup terkejut saat mengetahu fakta kalau sebenarnya Austin sudah memiliki kekasih dan itu membuatnya merasa sangat bersalah kepada kekasihnya Austin karena dirinya sudah sudah tidur dengan Austin. Sedangkan Austin yang mendengar itu juga sempat terkejut. Ada rasa sakit yang menyeruak didalam dadanya saat mendengar Fany mengatakan itu.


Austin membalas perkataan Tiffany dengan mengangguk tanda dia setuju untuk melupakan kejadian kemarin itu.


‘Bagus Austin. Semoga kita tidak berjumpa lagi,’ batin Tiffany sambil melihat ke arah luar mobil. Diapun melambaikan tangan ke arah Austin yang diam mematung.


Setelah itu dia duduk bersandar dikursi itu sambil memikirkan kejadian semalam. Tiffany hanya tersenyum pahit dan kemudian berkata lagi dalam hatinya. “Tidak baik jika bersedih terus Fany. Kau harus melupakan kejadian itu. Semuanya. Termasuk Christian si brengsek."


***


To Be Continued...


Jangan lupa beri like dan komentar kalian.


Dan aku harap kalian akan menyukai novelku ini.


Terima kasih karena sudah mau berkunjung


Saranghae...


Salam Manisku pada kalian


Insani Syahputri


^^^25 Januari 2022^^^