
...Hello Everyone......
...HAPPY READING GUYS...
...Tapi...
...Sebelum baca...
...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...
***
Malam ini Austin terlihat senang sekali. Terlihat dari senyuman yang tergambar jelas pada wajah tampannya itu. Entah apa yang sedang dia khayalkan hingga sampai bahagia seperti itu. Austin saat ini berada di sebuah hotel yang ada di kota New York. Terlihat pria itu tengah menikmati keindahan kota New York dengan memandang kota tersebut dari balkon kamar hotel yang sudah dia booking tadi. Sekali lagi Austin tersenyum. Pipinya terlihat merah merona saat sedang membayangkan betapa romantisnya lamaran nanti yang akan dia lakukan untuk Sesil. Tapi sebelum melakukan rencana lamaran itu, Austin terlebih dahulu akan memperkenalkan Sesilia kepada Ibunya di hotel itu juga.
Austin tidak menyadari kalau seseorang tengah memperhatikan gerak-geriknya dari gedung sebelah. Betul. Tampak seorang pria yang memperhatikan gerak-gerik Austin menggunakan teropongnya. Sekarang pria itu terlihat sedang mengambil ponsel dari dalam saku jasnya dan hendak menelpon seseorang. Dia berkata agar orang suruhannya dapat menjalankan rencana itu dengan sebaik mungkin. Tak lupa juga pria itu berpesan lagi agar rencana mereka jangan sampai di ketahui orang lain.
“Aku akan membunuhmu, Austin!” Ucap pria itu sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
***
Saat ini Austin sedang berada direstoran yang ada pada hotel tersebut. Disitu Austin tengah menunggu kedatangan Ibunya dan kekasihnya. Tiba-tiba ada seorang pelayan yang mengantarkan minuman kepadanya. Orang itu tersenyum devil. Ternyata dia adalah orang suruhan dari pria yang begitu membenci Austin tadi.
"Tuan, ini adalah wine terbaik yang ada di restoran hotel ini!"ucap pelayan yang sedang menyamar itu. Austin hanya menyuruh pelayan itu untuk meletakkan winenya dimeja tersebut. Pelayan itu melakukannya dan bergegas pergi.
Ditempat lain, Fany mendapat pesan dari Aurora. Dia adalah temannya Fany yang sama kerja disebuah cafe. Aurora mengatakan kalau dirinya melihat Christian datang ke Club tempatnya bekerja. Hati Fany semakin sakit ketika Aurora mengatakan kalau Christian akan mengajak seorang wanita pergi kesebuah hotel. Aurora mendengar percakapan Christian saat dirinya sedang mengantarkan minuman beralkohol itu. Aurora menyebutkan nama hotel yang kunjungi oleh Christian. Saat sudah mengetahui alamat hotelnya, Fany langsung bergegas pergi kesana. Fany ingat betul kalau Christian akan menemuinya untuk mengatakan sesuatu yang katanya sangat penting sekali. Jujur Fany sangat tidak ingin kalau hal itu ada kaitanya dengan apa yang dia dengar malam ini.
Tak lama kemudian Fany sudah sampai disebuah hotel yang ternama di kota New York tersebut.
"Kenapa Christian datang ketempat ini?” Monolog Fany saat sedang ada diloby hotel. Fany semakin berpikiran negatif. Tapi seketika dia langsung mengelengkan kepalanya untuk membuang pikiran kotor itu dari dalam pikiran.
***
Berbeda lagi dengan Sesilia Marvis yang sudah ada di bandara. Ketika dia hendak menghubungi Austin, tiba-tiba Austin sudah menelponnya duluan.
“Kebetulan sekali kamu menelponku sayang!” Ucap Sesilia sambil tersenyum.
“Halo sayang,” ucap Sesilia saat sudah mengangkat panggilan itu.
"Kamu sudah ada dimana?” Tanya Austin menanyakan keberadaan Sesilia.
“Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa datang ke hotel!” Ucap Sesilia yang terlihat sedikit tidak tega untuk mengatakannya kepada Austin.
“Kenapa?” Tanya Austin dengan suara yang terdengar sedikit kecewa.
“Sayang. Sekarang aku sudah ada di bandara! Sebentar lagi aku akan landing ke Jepang. Maafkan aku! Tiba-tiba aku ada project penelitian penting dengan rekanku. Ini syarat agar aku bisa cepat menyelesaikan studiku,” ucap Sesilia menjelaskan kalau dia sedang menyelesaikan tugas akhirnya untuk mendapatkan gelar professornya.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?” Tanya Austin nada bicaranya terdengar sedang marah bercampur ada rasa kecewa.
“Maafkan. Aku karena tidak memberitahumu! Aku tahu kalau yang kulakukan ini sangat salah, seharusnya aku memberitahumu dulu,” ucap Sesilia yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
"Baiklah. Kalau itu sudah jadi keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi!" Austin berbicara pelan dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
Austin terlihat sangat kecewa dan sedih. Padahal dia sudah merencanakan sesuatu yang sangat besar, dimana dia akan melamar Sesilia dikamar hotel itu, tapi rencananya itu sudah hancur karena Sesilia memutuskan untuk pergi. Kini Austin hanya bisa membuang angan-angannya itu sejauh mungkin.
Seusai menelpon Sesilia, Austin pun langsung menghubungi Ibunya. Dia mengatakan pada Ibunya agar tidak jadi datang ke hotel karena rencananya itu sudah pupus.
Delila mendapat kabar itu pun hanya bisa menghela napas karena keinginannya untuk mendapatkan seorang menantu lagi-lagi gagal karena kebodohan putranya yang tidak bisa mendapatkan hati seorang wanita. Padahal sebelum itu dia sangat senang sekali kalau putra sudah memiliki kekasih dan ingin segera melamarnya. Tapi rencana itu sudah gagal.
Saat ini Austin sedang menikmati makanan di restoran yang ada dihotel mewah bintang lima itu. Setelah selesai makan, Austin meminum wine yang diberikan oleh pelayan tadi. Karena sedang kecewa dan kesal. Austin tanpa curiga pun langsung meneguk wine itu sampai habis. Austin butuh Wine. Austin merasa kalau wine adalah teman yang paling cocok untuk menghibur keadaanya saat ini. Tanpa disadarinya, ternyata didalam wine itu sudah dicampur dengan obat perangsang. Dari kejauhan pelayan yang mengantar wine tadi hanya bisa tersenyum licik dan senang. Perlu diingatkan lagi kalau pelayan itu adalah suruhan dari orang yang menjadi musuh besar Austin.
‘Aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja!’ batin pelayan itu.
Dari kejauhan pria itu tersenyum bahagia karena rencana akan berhasil sedikit lagi dan pria itu bernama Alexander Lee. “Ini adalah bentuk balas dendamku padamu Austin karena kau sudah membunuh Ibuku! Sebenarnya aku ingin membunuhmu tapi sayangnya aku tidak mau mengotori tanganku ini. Aku hanya ingin membuat berita heboh mengenai skandal dirimu. Aku akan membuatmu frustasi Austin dan dengan berita itulah yang akan menuntunmu kepada kematian! Tunggu saja Austin!" Ucap pria itu penuh dendam.
“Segera kau pesan wanita malam untuk melayani Austin tapi kau jangan lupa untuk mengabadikan moment itu! Suruh dia cepat datang kemari agar dia bisa membawa Austin langsung ke ruangannya! Kalau Austin sudah masuk duluan akan sangat sulit bagi kita bisa mengakses untuk masuk ke ruangan itu dan semua rencanaku pasti akan hancur berantakan!”ucap pria itu saat sedang menelpon seseorang.
Setelah selesai menelpon, pria itu sekilas menatap ke arah Austin yang sudah terlihat aneh. Ada kemungkinan obat itu sudah mulai bereaksi ditubuhnya Austin. Seketika pria itu pun tersenyum dan setelah itu dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Benar saja obat yang tercampur dalam minuman tadi kini mulai bereaksi ditubuh Austin.
Tiba-tiba saja Austin merasa ada gejolak rasa yang aneh dalam dirinya.
“Kau!” Ucap orang yang ditabrak oleh Austin dan orang itu tak lain adalah Fany.
“Panas!” Ucap Austin malah membuka kancing atas kemejanya karena merasa sedikit kepanasan.
“Apa dia sedang demam?” Tanya Fany yang masih tidak tahu apa-apa sambil memegang dahi Austin.
‘Dia tidak deman tapi kenapa dia terlihat seperti cacing kepanasan?’ batin Fany sambil memperhatikan gerak-gerik Austin.
“Tolong beritahu aku berapa nomor kamarmu biar aku bisa membawamu kesana! Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja!” Ucap Fany dalam hatinya timbul rasa untuk membantu orang yang ada dihadapan ini meskipun orang itu sempat meninggalkan kesan yang tidak baik padanya saat di supermarket waktu itu.
Austin masih bisa mengatakan nomor ruangan meski dalam keadaan seperti itu. Saat sudah mengetahuinya Fany langsung memapah Austin menuju kamar Austin. “Tuan, tolong perhatikan langkah kakimu! Kau menginjak kakiku! Apa kau pikir itu tidak sakit?” Ucap Fany yang terlihat sedikit kesal karena Austin tidak sengaja menginjak kakinya.
Austin tidak mendengar ocehan Fany. Mau tidak mau Fany harus bersabar membawa Austin menuju ruang kamar pria yang sedang dia papah itu. Akhirnya mereka sudah ada di depan pintu kamar vip. ‘Sepertinya pria ini dari orang kaya!’ batin Fany.
“Mana cardnya?” Tanya Fany.
“Untuk apa?” Tanya Austin sambil memperhatikan lawan bicaranya. Austin bukan hanya terangsang bahkan pria itu sudah terlihat mabuk mengingat dirinya sudah mengecap beberapa gelas wine.
Pleetak...Fany memukul kepala pria itu, “Ya untuk membuka pintu kamarmu, Bodoh.” Ujar Fany mengatai Austin bodoh. Austin tidak merespon perlakuan Fany barusan justru dia mengambil Card itu dan memberikannya pada Fany.
“Apa aku juga yang harus membuka pintu ini?” Kesal Fany sambil memasukkan card itu.
Saat pintu sudah terbuka, Fany pun membawa Austin masuk kedalam kamar. Pintu itupun terkunci secara otomatis. Austin semakin terlihat seperti cacing kepanasan. Hasratnya seakan ingin meledak.
Austin mencoba untuk menetralkan rasa panas yang menjalar ditubuhnya dan langkah kakinya yang masih belum tegap. Begitu juga dengan Fany mencoba bersabar saat berjalan sambil memapah Austin menuju kasurrnya.
Dari luar pintu terlihat mengikuti Fany dan Austin tadi, Ia menggerutu. “Sial. Aku terlambat datang! “ Ucap seorang wanita terlihat marah dan kesal karena pintu kamar Austin sudah tertutup. Wanita itu terlihat berpakaian seksi. Dia pun menelpon seseorang dan mengatakan kalau rencana mereka sudah gagal. Tapi dia mengatakan juga kalau Austin masuk bersama seorang wanita dan itu pasti membuat Alexander terlihat marah saat mendapat kabar itu.
Kembali dengan Fany yang tengah merebah tubuh Austin ke kasur yang berukuran king size itu. “Hei siapapun namamu. Itu___Card kamarmu aku letakkan dimeja ya,” ujar Fany sambil menunjuk kearah meja yang ada disisi kanan kasur itu.
Fany ingin segera pergi untuk mencari keberadaan Christian di hotel ini. Saat Fany ingin pergi tiba-tiba Austin menarik tangannya sehingga Fany jatuh ke dalam pelukan Austin. Austin pun langsung membalikkan tubuhnya dan menindih tubuh Fany.
“Maaf tuan!! Lepaskan aku. Aku harus segera pergi karena aku sedang ada urusan,” ucap Fany yang terlihat berusaha untuk keluar dari kukungan Austin.
“Bukankah kau mengatakan kalau kau akan pergi ke Jepang, sayang?” Tanya Austin yang menganggap kalau Fany itu adalah Sesilia dan itu semuanya terjadi karena efek wine itu pengaruh obat sehingga membuat Austin tidak bisa menagenali lagi orang yang sedang dia kukung itu.
“Aku tidak ada pergi ke Jepang. Maaf tuan. Saya adalah Tiffany Lee bukan Sesilia,” bantah Fany.
Austin yang sudah terangsang tidak menghiraukan perkataan Fany, justru dia langsung menyibak selimut itu sampai jatuh ke lantai. Hasratnya harus segera dituntaskan. Dengan segera Austin langsung mencium Fany yang mana dia menganggap wanita yang sedang dia kukung itu adalah Sesilia. Fany mencoba untuk memberontak saat mendapat perlakuan itu tapi karna Austin memiliki tenaga yang lebih kuat darinya sehingga membuat perlawanannya itu sia-sia saja.
Austin mengigit bibir bawah Fany agar dia bisa mengeskplor mulut bagian dalam milik Fany. Fany spontan membuka mulutnya dan membuat Austin dengan mudah mengabsen setiap sudut dimulut Fany, lidah mereka saling melilit dan saling menukar saliva masing masing.
"Ahh___" Suara desah Fany keluar saat ciuman Austin turun ke lehernya.
"Kau sangat nikmat Sesil," ucap Austin mengira gadis yang tengah dicumbuinya adalah Sesil sedangkan Fany malah ikut larut dalam permainan Austin.
Austin menghentikan kegiatannya. Dia langsung menyingkap pakaian Fany dan pakaiannya dan membuang dengan sembarangan Kini tubuh mereka benar-benar sudah polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
Akhirnya terjadilah malam begitu panjang danpanas bagi mereka karena Austin tidak sekali melakukan itu tapi berkali kali dan brutal. Pukul 03.00 dini hari mereka tertidur karena lelah habis olahraga yang begitu melelahkan.
Keesokan paginya. Fany tampak sudah tak berbusana dibalik selimut putih yang menutupi tubuhnya saat ini. Dia terbangun ketika sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya. Melihat keadaan seperti itu membuat Fany ingin menangis dan merutuki kebodohannya sendiri yang malah ikut terhanyut dalam permainan pria yang sedang tertidur di sebelahnya itu.
Kini harta berharga yang dia jaga selama ini sudah hilang begitu saja. Tak mau berlama-lama dan menunggu pria di sampingnya itu sampai terbangun. Fany pun terlihat ingin bangkit tapi di saat dia ingin bangun tiba-tiba Fany merasakan sakit yang teramat sakit di daerah sensitifnya karena Austin melakukan itu berkali kali sampai pengaruh obat itu hilang.
Saat sedang berusaha untuk bangun tiba-tiba Austin membuka matanya. Dia kaget saat melihat wanita asing ada didalam kamarnya dan dalam keadaan yang sama sepertinya.
“Kau siapa?” Tanya Austin terlihat kaget dan marah.
***
TBC
Beri like dan komentar kalian ya readers
Selamat membaca
BY: Insani Syahputri
^^^24 Januari 2022^^^