
Happy Reading
***
Sesilia sudah kembali ke New York. Dia terlihat duduk di cafe sendirian sembari menunggu seseorang di sana.
“Kak Theresa.” Sapa Sesilia kala melihat orang yang ia tunggu sedari tadi sudah datang.
“Kakak menangis?” Tanyanya. Sesilia melihat mata Theresa yang terlihat sembab.
“Sesilia.” Panggil Theresa.
“Apa pria itu membuatmu menangis, kak?” tanya Sesilia.
Selama di Jepang. Theresa sering bercerita dengannya di telpon. Apalagi akhir-akhir Sesilia mendengar curhat Theresa mengenai seorang pria, tapi Theresa tidak mau menyebutkan namanya.
“Iya.”
“Siapa sih dia. Berani sekali dia membuat kakak menangis.” Sesilia merasa marah.
“Kau masih kenal dengan Charles kan?”
Sesilia terpaku. “Dia orangnya Sel. Pertama kali kakak juga terkejut saat melihat Charles.”
“Kenapa dunia ini terasa sempit sekali ya. Begitu banyak pria, kenapa harus Charles.” Tutur Sesilia yang tidak tau harus berkata apa.
“Jadi apa yang dia lakukan sampai kakak sedih seperti ini?”
“Dia membatalkan rencana pertunangan kami. Dia tidak menyetujuinya,”
“Alasannya?”
“Dia sudah memiliki calon istri pilihannya sendiri, Sel.”
Sesilia tertawa sumbang, “Terus aku harus apa kak?”
“Bantu kakak. Kakak juga akan membantumu mendapatkan Austin. Kakak tau pasti kau masih menyukainya.”
“Aku tidak mau mempunyai urusan dengan mereka kak.”
“Aku sudah nyaman dengan hubunganku dengan Arnold.”
“Kalau untuk masalah ini aku tidak bisa membantu kak. Maaf.” Sesilia berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
“Tapi aku punya saran untuk kakak. Aku mendapatkan ini dari seseorang sehingga aku bisa move on dari masa laluku. Suatu hubungan yang dipaksakan itu tidak baik kak. Semua sudah memiliki takdirnya masing-masing. Aku harap kakak tidak terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan Charles. Bagaimana pun caranya jika dia memang jodoh kakak, dia akan datang sendiri, tapi jika dia jodoh untuk wanita yang kakak sebutkan tadi, mungkin kakak harus melepaskannya. Charles mungkin sudah takdirnya untuk wanita itu.”
“Aku pergi dulu, kak.” Setelah mengatakan itu Sesilia pergi dari cafe itu. Dia sungguh tidak ingin ikut campur dengan orang yang sudah menjadi masa lalunya. Ia hanya fokus pada hubungan barunya dengan Arnold. Pria yang sudah menyembuhkan lukanya dari masa lalu.
***
Sudah seminggu Yasmin di kurung di apartemen Charles. Tapi ia merasa beruntung kala Fany berkunjung ke apartemen itu.
Fany berkunjung bersama seorang wanita yang pernah ia jumpai dengan Charles. Yasmin masih mengingatnya. Wanita yang bersama dengan Charles.
Yasmin baru mengerti, ternyata wanita yang bernama Della itu tidak memiliki hubungan spesial dengan Charles, melainkan dengan Ronald. Yasmin tidak tau karena wanita itu tidak pernah melihat Ronald membawa Della ke rumah selama Yasmin tinggal disana.
Singkat cerita semua permasalah mengenai Yasmin sudah hampir selesai menurut Fany.
Fany sudah membujuk Yasmin untuk menerima Charles. Karena bagaimanapun juga bayi itu membutuhkan sosok ayah. Mengenai perasaan mereka berdua, Fany belum pasti dengan hal itu. Terpenting Charles dan Yasmin harus bersatu dulu, soal hati itu urusan belakangan. Biarlah tumbuh dengan sendirinya pikir Fany.
Kini Fany sedang ada di pusat perbelanjaan bersama dengan Della dan Yasmin. Tentu saja setelah mereka sudah mendapat persetujuan dari pawangnya masing-masing.
Saat sedang asyik berjalan dan tidak memperhatikan jalannya, Fany tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat orang itu terjatuh.
"Maaf," ucap Fany.
"Kau tidak apa apa Fany?" Ucap Della khawatir.
"Aku baik-baik saja, tapi aku sangat mengkhawatirkan nona ini?" Ujar Fany.
"Aku tidak apa-apa, Fany." Ucap orang itu yang langsung memandang ke arah Fany.
"Sesilia." Ujar Fany dan Della bersamaan, tapi tidak dengan Yasmin. Wanita itu lagi-lagi kebingungan.
"Ya aku." Ucap orang itu yang ternyata adalah Sesilia. Orang yang pernah menjadi kekasih hati dari Austin suaminya Fany.
‘Sesilia disini? Apa Austin tahu?? Bagaimana reaksinya saat tahu bahwa Sesilia sedang ada di sini. Apa Sesilia akan mengambil Austin dariku?’ batin Fany.
"Sayang aku di sini," ucap Sesilia yang berteriak sambil melambaikan tangan pada orang yang ada di belakangnya Fany.
‘Sayang? Apa itu Austin?’ batin Fany lagi.
Fany pun langsung membalikkan badannya untuk melihat dan memastikan orang tersebut.
Fany cukup senang dan terkejut karena orang itu bukanlah Austin.
‘Siapa laki laki ini?? Sepertinya bukan orang sini? Apa mereka sedang ada hubungan spesial?’ batin Della sambil memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah.
"Hai." Sapa Arnold pada Fany dan Della serta Yasmin.
"Hai juga" balas mereka bertiga.
"Kau pasti terkejutkan? Kau tenang saja aku sudah melupakan Austin kok, karena aku sudah sangat mencintai tunanganku ini." Ucap Sesilia.
"Tunangan?" Ucap Fany.
"Iya. Kami sudah bertunangan sebulan yang lalu di Jepang," ucap Sesilia.
"Sayang. Ayo kita pergi, nanti kita bisa terlambat." Ucap Arnold dalam bahasa jepang.
"Oke. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Maaf tak bisa berbicara lama-lama dengan kalian, karena kami sedang ada urusan yang sangat penting," ucap Sesilia.
"Tidak apa-apa kok," ucap Fany.
Sesilia dan Arnold pun pergi dari situ, sedangkan Fany masih sedikit terkejut dengan apa yang barusan dia lihat.
"Baguslah. Dia sudah bisa melupakan Austin." Ucap Della.
“Wanita tadi siapa?” Tanya Yasmin.
“Sesilia.” Jawab Della.
“Dia masa lalunya Austin dan Charles tentunya. Semuanya dia____” Tuturnya lagi tapi langsung terhenti kala Fany dan Yasmin menoleh ke arah Della saat mendengar wanita itu bergumam sesuatu.
“Tapi kan, kalianlah pemenangnya.” Elak Della.
“Hehehe. Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ayo kita lanjut belanja.” Della langsung berjalan duluan.
***
Usia kandungan Fany sudah memasuki bulan kedelapan, perutnya kian membesar membuat Fany jadi mudah kelelahan apalagi ketika sedang membersihkan rumah. Austin saja sempat bingung di buat oleh Fany padahal sudah ada pelayan tapi Fany masih bersikeras untuk melakukan pekerjaan itu.
Pagi ini, Fany tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum Austin pergi ke kantor. Dari arah tangga, Austin menuruni satu persatu anak tangga.
Ia sudah siap dengan setelan jas yang di pilih oleh Fany tentunya.
“Good morning wife.” Sapa Austin lalu memeluk Fany dari belakang.
Beberapa kecupan Austin layangkan di pipi Fany yang terlihat sedikit berisi itu.
“Lelah?” Ucap pria itu lalu diangguki oleh Fany.
Austin menggerakkan kedua tangannya lalu memegang perut Fany yang besar itu dan sedikit mengangkatnya sehingga membuat Fany merasa sedikit lega.
“Thank you,” ujar Fany lalu menoleh ke arah belakang menatap wajah sang suami yang kini kian perhatian padanya.
“Sudah selesai.” Ujar Fany.
Austin melepaskan tangannya dari perut Fany lalu beralih memegang makanan yang baru selesai dibuat sang istri.
“Biar aku yang bawakan.”
Sesampainya di meja makan, Austin mendudukkan Fany di kursi yang ada di sampingnya dengan hati-hati.
“Tunggu disini. Jangan beranjak dari kursi ini.” Austin kembali ke dapur lagi untuk mengambil minuman yang juga sudah di saji oleh Fany dan membawanya ke meja makan.
Fany dan Austin kini saling menyantap sarapan mereka. “Nanti aku akan cepat pulang.” Ucap Austin memberitau Fany.
Tiba-tiba Austin mengendus- endus jasnya. “Kenapa?” Tanya Fany.
“Sepertinya aku lupa memakai parfum,” ujar Austin.
“Benarkah?” Fany mencoba mendekati Austin untuk memastikannya padahal tapi sepertinya Austin sudah tercium wangi tadi.
Saat Fany mendekat untuk mengendus bau Austin, Fany justru dikejutkan dengan tindakan Austin yang tiba-tiba mengecup dahi Fany.
Sepertinya Austin sudah menemukan hobinya yang baru lagi. Tapi Fany justru merasa bahagia diperlakukan seperti itu. Dengan sedikit tersipu malu, Fany menguburkan wajahnya di dada bidang milik Austin dan memeluknya dengan erat.
“Aku sangat mencintaimu.” Ujar Austin.
“Hm.. Apa sudah selesai?” Suara lain mengganggu suasana romantis Austin dengan istrinya. Dia adalah Roy yang tiba-tiba datang untuk menjemput Austin.
“Sialan kau Roy.”
‘Aku lagi yang salah. Padahal dia yang menyuruh aku untuk menjemputnya.’ Batin Roy lalu pergi ke parkiran. Roy merasa lebih baik menunggu disana dari pada di dalam mansion itu.
***
TBC
^^^04/04/2022^^^