
Sebelum Baca Vote Dulu
Happy Reading
(Sebelumnya)
"Cepatlah datang ke rumah sakit."
"Memang siapa yang sakit?" Tanya Austin sambil mengerutkan dahinya.
"Istrimu sedang sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi yang jelas dia tadi dibawa oleh pria lain dalam keadaan tak sadarkan diri. Bersyukurlah, karena Fany dan bayinya baik baik saja. Hanya saja kaki dan tangan Fany sedikit ada luka lecet dan lebam.
Tapi tenang saja luka luka itu bisa cepat sembuh," ucap Andrew lalu menutup panggilan.
***
Austin terkejut mendengar ucapan Andrew. Setelah panggilan itu diakhiri secara sepihak oleh Andrew. Austin langsung bergegas dan pergi kerumah sakit.
Sesilia melihat Austin berjalan tergesa gesa. "Sayang kau mau kemana?" Sesilia bertanya kemana pria itu hendak pergi. Tapi kemana pikir wanita itu.
"Ada urusan penting!" Ucapan Austin menyiratkan untuk tidak terlalu ikut campur. Setelah mengucapkan itu kemudian Austin pergi meninggalkan Sesilia. Sesampainya didalam mobil Austin langsung melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
Ketika sudah berada dirumah sakit, Austin langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit itu.
Dia melihat Andrew. Austin segera mendekati Andrew untuk menanyakan keadaan Fany, "Kenapa Fany sampai bisa seperti itu?" Tanya Austin saat berjumpa dengan Andrew diloby rumah sakit.
"Dia tidak sengaja ditabrak sama pengendara motor. Kau tenang saja karena pelakunya sudah di bawa ke kantor polisi." ucap Andrew.
"Dimana Fany sekarang?” Tanya Austin pada Andrew. Karena Saat ini mereka masih berada diloby rumah sakit.
"Ikuti aku," ucap Andrew. Austin langsung mengikuti Andrew menuju keruangan Fany.
Mereka sudah berada dilantai tiga rumah sakit itu. Perlahan langkah mereka mulai melambat saat mereka tiba disuatu ruangan, "Dia ada didalam dan sedang menemani Fany," ucapan Andrew membuat Austin kebingungan. Andrew pun meninggalkan Fany.
‘Siapa yang sedang bersama Fany?’ batin Austin. Austin langsung masuk. Dia sangat penasaran dengan orang yang sedang bersama istrinya.
"Charles." Austin terkejut saat masuk dan mendapati Charles yang tengah memegang tangan istrinya dan itu membuatnya sangat marah.
Sama halnya dengan Charles, ia menoleh kearah pintu saat mendengar seseorang memanggil namanya. Charles melihat kedatangan Austin, refleks melepaskan tangan Fany.
"Austin. Kau sudah datang," ujar Charles. Pria mengalihkan keadaan yang dia rasa sedikit canggung dan menegangkan.
"Iya. Jika saja aku tidak datang, mungkin kau akan leluasa melakukan sesuatu yang lebih pada istriku,” cibir Austin.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan Austin," bantah Charles.
"Ck. Aku tidak peduli itu. Sekarang aku sudah ada di sini. Kurasa kau sudah bisa pulang sekarang," ucap Austin mengusir Charles.
"Baiklah. Aku akan pulang. Tolong jaga Fany dengan baik," pinta Charles.
"Tidak perlu memberitahuku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan," sarkas Austin.
"Baguslah. Kalau kau sudah tahu apa tugasmu sebagai seorang suami," ucap Charles seperti mengejek kemudian dia pergi dari situ agar tidak berdebat dengan Austin.
Charles hanya tidak ingin membuat Fany merasa terganggu.
Saat Charles sudah pergi. Kini Austin beralih menatapi Fany yang sedang tertidur. Dia melihat luka yang ada pada lengan tangan Fany. Pada saat itu juga Fany tersadar dari tidurnya dan membuka matanya.
Hal pertama yang dilihat Fany adalah sosok Austin ada didalam ruangan yang serba putih itu bersama dengannya. Memori Fany terputar kembali teringat akan kecelakaan yang dialaminya tadi. Karena itulah kenapa saat ini dirinya bisa berada dirumah sakit.
Tapi siapa yang mengantarkannya? Apa Charles? Fany ingat, sebelum kejadian itu orang yang terakhir kali dia lihat adalah Charles. Tapi melihat sekelilingnya. Dimana Charles?
Hanya Austin yang ada disini.
‘Untuk apa dia disini? Apa dia sedang mengkhawatirkan aku? Apa dia hanya sedang mengkhawatirkan bayi yang ada dikandunganku?’ Itulah yang ada pikirian Fany saat ini
"Austin," sapa Fany.
“Kenapa kau ceroboh sekali? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayi ini?" Itulah kata kata yang keluar dari mulut Austin. Fany terlalu mengharapkan kalau Austin menanyakan keadaannya dulu. Tapi dia sadar kalau dirinya tidak berarti bagi pria itu. Hati Fany terasa sakit saat Austin mengatakan itu
‘Dia hanya mengkhawatirkan anak ini saja. Tapi tidak apa apa, aku sangat senang karena Austin masih peduli pada bayi ini,’ batin Fany lalu memandang kearah perutnya. Ia mengelus perutnya dengan pelan seraya meminta maaf dalam hatinya pada sang anak karena tidak bisa berhati hati dan membuat dalam bahaya.
"Maaf. Lain kali aku akan berhati-hati," ucap Fany. Kata kata itu ditujukan pada Austin.
***
Fany terduduk diranjang sambil mengingat kejadian semalam. Sesilia datang menjenguknya bersama dengan Austin.
Mendengar bahwa Fany masuk rumah sakit, Sesilia langsung memaksa Austin untuk menjenguk Fany kerumah sakit. Ia beralasan ingin melihat Fany karena sangat mengkhawatirkan keadaan Fany. Austin hanya menyetujui dan akan meneman Sesilia berkunjung kerumah sakit. Mendengar hal itu membuat Sesilia merasa bahagia.
Sebenarnya bukan itu alasan Sesilia ingin kerumah sakit. Ia hanya ingin memperlihatkan kemesraannya bersama Austin.
Ingin menunjukkan bahwa Austin adalah miliknya. Sesilia sengaja agar Fany tau apa statusnya. Bagi Sesilia Fany adalah orang ketiga dalam hubungannya dengan Austin.
Sesilia tidak akan membiarkan Fany mengambil kekasinya darinya.
Mereka sudah tiba dirumah sakit untuk menjenguk Fany. Cukup lama mereka berada disana membuat dada Fany serasa sesak. Bagaimana tidak, Fany melihat Sesilia yang memeluk bahkan mencium Austin dihadapannya.
Austin. Pria hanya diam dan menerima semua perlakuan Sesilia. Bahkan Austin tidak menatap dirinya. Apalagi berbicara untuk sekedar menanyakan keadaaanya.
***
Fany membuyarkan lamunannya kala mengingat kejadian yang menyesakkan hatinya. "Jangan mengingat itu lagi,” Fany mengusap wajahnya kasar.
Suara ketukan pintu terdengar ditelinga Fany. Dengan segera ia membukakan pintu itu. Pada saat pintu terbuka, Fany terkejut melihat orang yang sedang mengunjunginya. "Charles," sapa Fany. Wajah muram tadi kini terganti dengan senyuman merekah di wajah mungil milik Fany.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Charles. Pria itu masuk begitu saja kedalam kamar inap Fany.
“Menjemputku? Dari mana kau tau kalau aku akan pulang hari ini?” Fany menutup pintu lalu mendekati Charles yang sedang mengupaskan buah untuknya.
“Tidak perlu tau darimana. Kau sarapan dulu.” Charles memasukkan buah Apel yang sudah dia bersihkan kedalam mulut Fany.
“Setelah ini, kita akan membereskan barang barangmu. Kemungkinan Austin tidak bisa menjemputmu,” ujar Charles lalu kembali mengupas kulit buah apel untuk dimakan Fany.
‘Benar. Austin tidak akan menjemputku karena saat ini dia pasti sedang bersama kekasihnya,’ ucap Fany dalam hatinya. Fany mengunyah satu persatu buah yang sudah dibersihkan oleh Charles didalam mulutnya. Sungguh Charles seperti Husband material sekali bagi Fany.
"Sudah. Sekarang bereskan barang barangmu. Aku akan membantu,” ujar Charles saat buah itu sudah habis dimakan Fany.
Charles mengambil sebuah tas. Tiba tiba tangan Fany menghentikan kegiatan Charles saat sedang ingin membantunya. “Biar aku saja. Barang barangku sedikit privasi,” Fany sedikit malu mengucapkannya. Charles mengerti maksud Fany.
“Baiklah.” Charles menduduki dirinya pada sofa dan bermain ponsel disana sembari menunggu Fany menyelesaikan kegiatannya.
Beberapa menit berlalu, Charles menyimpan ponselnya kedalam saku celananya. “Sudah?” Tanya Charles saat Fany berdiri didekatnya. "Hmm. Sudah kok," ucap Fany.
"Ya sudah. Ayo kita pulang," ucap Charles sambil memegang tas Fany. “Biar aku yang bawakan,”
"Iya. Ini cukup berat untuk kubawa. Terimakasih,"
Fany berjalan disamping Charles menelusuri lantai rumah sakit itu. Kini mereka sudah keluar dari rumah sakit. Saat tiba diparkiran, mereka bertemu dengan Roy yang kebetulan ingin menjemput Fany. Tentu saja itu karena perintah Austin
"Roy." Panggil Fany. Sang empunya nama pun segera mendekati Fany.
"Tuan Addison. Kau bersama dengan Fany?" Roy sedikit terkejut melihat kedekatan Fany dan Charles. Roy berpikir kalau mereka sepertinya saling mengenal.
"Ya. Aku akan mengantarkannya pulang ke rumah,"
"Tapi dia akan pulang bersamaku. Ini perintah dari Austin.” Tutur Roy. Pria itu tidak suka Fany dekat dengan Charles.
"Sorry. Akulah yang pertama kali datang menjemput Fany. Jadi dia akan pulang bersamaku," ucap Charles.
"Roy. Tidak apa. Aku akan pulang bersamanya. Dia adalah temanku," ucap Fany.
"Baiklah. Kalau kau sudah berbicara seperti itu, aku sudah tidak bisa membantahnya," pungkas Roy. Charles segera membawa Fany memasuki mobilnya. Saat ingin meninggalkan tempat itu. Charles mengklakson memberitau pada Roy kalau mereka akan pergi.
Roy masih Stay disana. Ia mengambil benda pipih dari saku jasnya untuk menelpon Austin. "Dia sudah pulang sama Charles," ucap Roy memberitau pada lawan bicaranya yaitu Austin.
Tidak terdengar jawaban, sebelum akhirnya orangitu bersuara untuk menyuruh Roy datang ke kantor. "Baiklah. Aku akan kesana," ucap Roy lalu mengakhiri panggilan itu.
***
To Be Continued
Jangan lupa like dan beri komentar teman-teman
^^^17-02-2022^^^