
Sebelum baca beri vote dan Ilke dulu teman teman
Happy Reading
***
Sudah berjalan seminggu Austin dan Fany sudah berbaikan setelah kejadian perang dingin itu.
Karena saat ini tengah weekend, Austin memutuskan untuk menemani sang istri pergi belanja. Mendadak Fany ingin membeli pakaian couple. Mungkin bawaan bayi. Pikirnya.
“Kau serius mau memakai baju couple samaan denganku?” Fany ingin memastikan.
“Kau meragukanku?”
“Tidak. Hanya saja beberapa pria pasti akan tidak mau kalau wanitanya ingin hal itu karena merasa risih dan malu.”
"Tidak semua laki laki Fany. Lagian aku tidak malu memakai baju seperti itu jika kau memang menginginkannya. Aku akan mengabulkannya. Sekarang kau bisa memilih baju yang mana yang kau sukai." ucap Austin ingin membuat wanitanya merasa senang.
"Benarkah? Kau akan memakai apa kupilihkan untukmu?” Ucap Fany.
"Iya," jawab Austin tanpa ragu.
"Aku pegang kata katamu. Ingat! Pria sejati memegang perkataannya. Tidak ingkar janji."
"Awas saja kalau melanggarnya," ancam Fany.
"Iya," ucap Austin dengan serius.
Fany pun mulai memilih baju couple yang akan dia pakai bersama dengan Austin. Mengerjai pria
itu sekali tidak apa apa kan?
Tatapan Fany tertuju pada sebuah baju berwarna pink dan ada corak bunganya. Kebetulan ada untuk pasangannya pula. Terlihat Austin yang menatap nanar kearah baju itu saat Fany mencoba mengambilnya.
"Sial, Apa aku salah bicara?" Austin merutuki perkataannya beberapa menit yang lalu.
Seperti Fany akan benar benar membelinya, terlihat pakaian sial itu sudah masuk kedalam paper bag. Austin merapalkan doa semoga Fany melupakan paperbag itu untuk dibawa ke dalam mansion agar ia bisa membuangnya sejauh mungkin.
Setelah selesai berbelanja baju, Fany mengajak Austin untuk membeli persediaan bahan-bahan masakan. Pukul 5 sore akhirnya mereka sampai juga dimansion.
Seperti keberuntungan Austin tidak berpihak dengannya. Wanita itu tidak melupakan paperbag berisikan barang laknat itu. Austin mendengus kesal lalu mencoba untuk pasrah. Turuti istri sepertinya tidak buruk juga.
"Kau mandi dulu. Aku akan memasak untuk makan malam kita." Ucap Fany mengusap lengan pria itu lalu setelah itu berjalan menuju dapur.
"Baiklah. Nanti aku akan menyusul kedapur," Austin berteriak lalu menaiki tangga, sedangkan Fany hanya bisa mengelengkan kepala. Pria itu sepertinya sedang kesal dengan sesuatu.
Fany tidak mau memikirkan hal itu, dia meletakkan bahan-bahan masak yang dia beli tadi ke atas meja dapur lalu satu per satu memasukkannya kedalam kulkas agar lebih tahan lama dan tetap segar.
Sekarang terlihat Fany sedang mengikat rambutnya dan mencuci tangan. "Baiklah. Aku akan bersiap untuk memasak makan malam kami." Ucap Fany bersemangat.
‘Tapi aku masak apa ya?’ Tanya Fany dalam hati sambil memegang dagunya.
"Bagaimana kalau aku masak capcay saja. Aku rasa Austin pasti belum pernah memakannya," ucap Fany. Wanita itu menjentikkan jarinya. Sepertinya ia sudah memutuskan akan memasak apa malam ini.
"Oke. Menu makan malam kali ini adalah Capcay dan tumis brokoli daging sapi." ucap Fany lalu memakai celemeknya. Dengan segera Fany mengeluarkan bahan-bahan yang ingin dia masak dari kulkas itu lagi.
Kali ini Fany akan memasak Capcay dulu. Pertama ia mencuci semua bahan bahan yang ingin dia masak.
Fany pun memulai masak dengan mengikuti arahan artikel tentang cara memasak capcay yang dia cari google.
Waktu terus berjalan, tak terasa sekarang Fany tinggal memberi sentuhan terakhir pada masakannya dengan masukkan potongan tomat. Setelah itu Fany mengonsengnya sebentar dan mematikan api kompor. Setelah siap masak Fany pun menyajikan capcay dengan memberikan suwiran daging ayam yang sudah matang keatasnya.
"Akhirnya siap juga," ucap Fany senang.
"Sekarang tinggal memasak tumis brokoli daging sapi," monolognya. Saat dia ingin mulai memasak, tiba-tiba ada yang memeluk Fany dari belakang. Mengganggu kegiatan wanita itu.
"Austin. Aku lagi masak." Ucap Fany sambil melepaskan pelukan itu. Wanita itu sudah tau siapa pelakunya. Orang yang memeluknya adalah Austin yang baru selesai mandi.
"Baiklah. Kau mau masak apa?" Tanya Austin lembut.
"Aku mau masak tumis brokoli daging sapi," ucap Fany lalu meninggalkan Austin untuk mencuci sayur brokoli di wastafel.
"Apa aku boleh membantumu?" Tawar Austin.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh menyentuh apapun yang ada di dapur ini," ucap Fany.
"Kau lebih baik duduk saja disitu saja," ucap Fany memerintah Austin.
Austin merasa gemas saat melihat Fany kini sudah mulai berani memerintahnya. Hal itulah yang membuat Austin langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dan mendudukkan Fany di atas meja dapur.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Fany sambil memukul bahu Austin agar segera menurunkannya.
"Awas. Aku mau masak," ucap Fany lagi yang menyuruh Austin untuk mengeserkan tubuhnya.
"Apa kau sekarang sudah berani memerintahku Fany?" Tanya Austin sambil mengigit gemas hidung Fany.
"Kau adalah wanita yang sudah berani memerintahku setelah Ibuku,"ucap Austin lalu menenggelamkan kepalanya pada dada sang istri. Terasa nyaman bagi Austin.
"Benarkah?”
"Iya,"
Fany mengangkat kepala Austin dari dadanya lalu mengecup bibir sang suami." Dan mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun jika ada wanita lain yang berani memerintahmu. Ingat hanya Fany yang bisa memerintahmu sekarang."
"Termaksud Ibuku," ucap Austin.
"Bodoh. Tadi kau bilang setelah Ibu, jadi Ibukan pengecualian disini." Fany mencubit pelan pinggang Austin.
"Jadi jika Ibu memerintahku. Kau akan membiarkanku melakukannya?"
"Jika seandainya dia menyuruhku untuk menikah lagi, apa kau akan tetap menyuruhku untuk melakukannya?" Tanya Austin yang ingin menggoda sang istri.
"Aku akan membunuhmu, Austin. Sudahlah. Aku tahu kalau Ibu tidak akan melakukan itu, kerena Ibu lebih sayang padaku daripada kau Austin." ucap Fany sambil mendorong tubuh suaminya itu. Mereka sudah membuang waktu yang sia sia disitu.
"Kau terlihat semakin berani sekarang,” ucap Austin sambil mengigit bibir bawahnya karena gemas melihat kelakuan istrinya itu.
"Tenanglah. Aku tidak serius dengan ucapanku tadi. Aku hanya bercanda," ucap Fany sambil berjalan menuju tempat masak.
"Benarkah?" Austin terlihat mengekori jalan istrinya.
“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanya Fany tiba-tiba berhenti berjalan dan memutar tubuhnya sehingga sekarang mereka sudah dalam posisi yang sedang berhadapan.
"Ya Tuhan. Istriku malah meragukanku sekarang."Austin memijat dahinya saat Fany tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu..
"Hanya sedikit," jawab Fany.
"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa percaya sepenuhnya padaku," ucap Austin.
"Baiklah. Jika kau ingin aku percaya denganmu, lakukan satu permintaanku.”
"Apa itu?"
"Besok. Saat ingin pergi kekantor kau harus memakai baju yang aku pilih tadi. Bagaimana?”
Fany sengeja berkata seperti itu karenakan tadi saat di toko, Fany melihat wajah Austin
terlihat cemberut saat dirinya memilih baju couple pilihannya.
"Apa?" Ucap Austin yang tidak percaya dengan kata-kata Fany barusan.
"Tuh kan. Kau tidak mau. Berarti kau memang tidak mencintaiku," ucap Fany.
‘Astaga.Berarti tadi itu hanya akal akalannya saja. Dia ingin menjebakku. Kau memang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, Fany. Harus kuapakan kau. Hm...’ batin Austin menatap Fany dengan intens.
"Baiklah. Aku akan memakainya." ucap Austin merasa terpaksa.
‘Tapi ada harga untuk itu fany. Itu tidak gratis.’ Batin Austin penuh seringai liciknya.
"Terima kasih sayang," ucap Fany sambil tersenyum.
"Kau bilang apa?" tanya Austin yang terkejut saat mendengar ucapan Fany barusan.
Sebenarnya Austin mendengarnya tapi dia berpura-pura tidak mendengar dan menanyakannya lagi.
"Tidak ada. Awas aku mau masak," ucap Fany lalu mendorong tubuh Austin.
Austin pun memaksa Fany untuk mengatakan kata-kata itu lagi tapi Fany tidak mendengar dan fokus pada masakannya. "Kau jangan menganggu. Apa kau tidak lihat kalau aku sedang masak?"
"Kau duduk saja disana! Menganggu saja."
Austin menuruti perkataan sang istri. Ia pergi menuju meja makan. Saat sudah sampai disana, dia melihat masakan yang sudah tersaji di meja itu.
"Apa ini?" Tanya Austin.
"Oh itu Capcay," jawab Fany.
‘Capcay?’ Austin tidak mengetahui nama makanan itu. Pria itu duduk dikursi sembari menunggu sang istri selesai masak.
Austin terlihat sangat bosan karena tidak punya kerjaan. Jadi dia menghampiri Fany lagi dan mengombalinya.
"Kau terlihat cantik sekali meskipun kau sedang memakai celemek," gombal Austin.
"Tapi akan terlihat cantik lagi jika kau tidak memakai apa-apa," ucap Austin membuat pipi Fany merah merona karena malu.
"Kau kesana atau aku akan melempar semua barang-barang yang ada disini padamu." ucap Fany mengalihkan pembicaraan.
Austin kesal. Ia pun terpaksa pergi ke meja makan lagi. Dia pun memilih untuk merapikan meja makan seperti menyediakan piring dan sendok dan lainnya yang akan mereka gunakan untuk makan nanti.
"Akhirnya siap juga," ucap Fany merasa senang sekali sambil menatap ke arah piring yang sudah tersaji hasil masakannya.
Fany pun membawa masakannya itu ke meja makan dan mereka pun memulai makan malam itu. Saat tengah makan pun mereka terlihat sangat romantis karena Austin terus menyuapi Fany meskipun Fany sudah menolaknya.
Setelah selesai makan Fany memilih untuk mandi. Beberapa lama kemudian, Austin masuk kedalam kamar setelah dia keluar dari ruang kerjanya.
Austin mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar dan mulai mencari istri cantiknya itu.
Saat itulah tiba-tiba Fany keluar dari kamar mandi, dengan hanya berbalut handuk dan rambut yang basah. Austin menatap tubuh Fany dengan tangan yang refleks bergerak ingin menarik handuk itu seolah ingin menerkam istrinya saat ini juga. Jakunnya naik turun karena melihat kemolekan tubuh sang istri. Apa Fany tidak sadar kalau ia telah membuat singa sudah bangun dari tidurnya.
Terlihat Fany sedang mengambil pakaian yang ingin dikenakannya malam ini didalam lemari besar itu.
Setelah mendapatkannya Fany pun berlalu menuju ke kamar mandi lagi untuk memakai pakaiannya.
‘Shit. Kenapa aku tidak bisa menahan gairahku saat melihatnya seperti itu?’ batin Austin.
🌷🌷🌷
Austin... Yang sabar ya
To Be Continued
Jangan lupa like dan beri komentar kalian
Saranghae semuanya
By Insani Syahputri
^^^27 Feb 2022^^^