I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 52



I'm Comeback


Typo bertebaran dimana-mana


Happy Reading


***


Fany sedang duduk termenung di kasur miliknya. Ia belum tidur. Tiba-tiba ia merindukan mendiang Ibunya. “Lusa hari ulangtahun Ibu.” Fany bergumam sambil  menatap langit-langit kamarnya. Austin belum pulang dari kantor, jadi ia sendirian di kamar itu.


Fany turun dari ranjang dan berjalan menuju meja yang tak berada jauh dari kasurnya. Dia membuka salah laci meja itu dan mengambil sebuah benda berbentuk buku tebal. Itu adalah buku album foto dirinya bersama orangtuanya. Ia masih menyimpan album itu dengan baik. Bahkan ia membawanya ke New York.


“Ibu aku merindukanmu?” ucap Fany pada sebuah foto yang menampilkan kedua orangtuanya. Ia mengusap potret Ibunya.


Terdengar pintu berdecit petanda ada yang masuk. “Ada apa sayang? Kenapa kau menangis?” Itu suaranya Austin. Dia baru pulang dari kantor. Pria itu terkejut dan khawatir saat mendapati istrinya tengah menangis.


“Tidak ada. Hanya saja tiba tiba aku merindukan ibu.”


Austin mengambil album itu dan meletakkan di atas kasur. Austin mulai memangku istrinya.


“Jadi apa yang harus kulakukan?” Ujar Austin sambil mengusap rambut halus milik Fany.


Mendapat perlakuan seperti itu, Fany langsung menjatuhkan kepalanya pada ceruk leher sang suami.


“Besok kita pulang ke rumahku. Apa boleh? Aku ingin mengunjungi makamnya. Dan lusa adalah hari ulang tahun ibu juga,” Ujar Fany.


“Baiklah. Kita akan ke china besok.” Ujar Pria itu.


“Benarkah?” Fany ingin memastikan.


“Apa yang tidak untukmu sayang.” Ujar Austin.


Fany kembali tersenyum. “Aku semakin menyayangimu sayang,” Fany mencium pipi Austin membuat pria itu kesenangan.


***


Yasmin sedang membersihkan meja yang sudah ditinggalkan oleh pengunjung sebelumnya. Sudah hampir jalan seminggu Yasmin bekerja di sana.


Tiba-tiba datang seseorang yang sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Perhatianya lalu tertuju pada gadis yang sedang membersihkan meja itu. Gadis itu adalah Theresa. Sahabat dari Sesilia.


Theresa menatap kearah Yasmin. Begitu pula dengan Yasmin memperhatikan penampilan Theresa dari ujung kaki hingga kepala.


‘Pasti anak orang kaya.’ Batin Yasmin.


Theresa kemudian membuang muka dan berkata pada orang di telepon.”Aku tidak mau datang ke Athena. Cukup. Jangan ganggu aku.” Theresa dengan angkuhnya mengakhiri panggilan itu.


“Perjodohan apanya. Aku tidak mau. Apalagi aku tidak tau dengan siapa aku di jodohkan,” gerutu wanita itu pelan.


“Nona mau pesan apa?” Tanya Yasmin begitu sudah datang mendekati Theresa.


Tentu saja itu sudah tugasnya untuk melayani pengunjung yang datang.


“Tidak ada. Aku mendadak tidak nafsu makan disini. Lagian cafe ini sangat tidak cocok untukku.” Ujarnya ketus beranjak keluar dari cafe itu.


Yasmin tentu saja berdecak kesal lalu menatap kepergian wanita angkuh itu. "Angkuh sekali dia. Siapa juga yang mau menerimanya disini.” Kesal Yasmin karena ia mendengar apa yang dikatakan oleh gadis sombong itu.


Sore hari Yasmin masih terlihat di dalam cafe. Hari ini ia mengambil shif malam. Menggantikan temannya yang ijin tidak bekerja hari itu. Hitung-hitung  juga mendapat sedikit penghasilan untuknya.


Tiba-tiba ia melihat keadaan luar cafe. Ia melihat 2 mobil mewah datang dan terparkir rapi dihalaman luas cafe itu.


Pandangan Yasmin melihat 2 sosok pria dan seoranh wanita memasuki cafe itu. Tapi Yasmin terfokus melihat sesosok pria yang berpakaian casual itu. Memakai celana jogger warna khaki dipadukan dengan kaos dan sneakers berwarna putih. Pria itu berjalan dengan wajah tegasnya dan langkah yang panjang. Pandangan terangkat lurus kedepan sambil tangan kirinya diselipkan di saku celana. Sungguh membuat Yasmin sedikit terpesona.


“Ini tiga kali aku melihatnya tapi aku masih tidak mengingat nama pria itu,” ujar Yasmin kala menatap kedatangan Charles bersama James dan kekasih dari pria itu.


Yasmin langsung mengeleng kepala. Ini tidak benar pikirnya. “ Untuk apa kau harus tau namanya,” tutur Yasmin.


“Permisi. Nona kesini,” Panggil James pada Yasmin.


Mereka baru pulang dari suatu tempat. Tiba tiba dalam perjalanan pulang mendadak kekasih James lapar. Mau tak mau James menghubungi Charles untuk menepi ke cafe yang tak jauh dari mereka. Disini mereka. Dicafe tempat Yasmin bekerja.


Kembali ke Yasmin yang datang mendekati orang-orang yang baru memasuki cafe itu. Yasmin sedikit gugup. Yasmin tidak tau apa alasan dari kegugupannya itu.


“Good evening sir, can I help you?”  Kata Yasmin dengan ramah dan tak lupa memberi senyuman pada pengunjung cafe itu.


“Bisa saya melihat menunya.”


“Oh. it is a menu,” Yasmin menyerah buku menu itu pada James.


“Apa yang ingin anda pesan tuan?” Tanya Yasmin.


“Sayang. Kamu mau pesan apa?” Tanya James pada kekasihnya.


Yasmin pun bersabat menunggu mereka berunding ingin memesan apa. Tapi ia jadi salah tingkah sendiri ketika mata Yasmin yang tidak sengaja menangkap sosok pria itu tengah memperhatikannya.


Benar. Charles tengah memperhatikan Yasmin sedari tadi. ‘wanita ini kerja disini,’


‘Apa Austin tau? Kenapa pria itu tidak mempekerjakan wanita ini di kantor miliknya?’ Setelah itu Charles tersenyum tipis. Tidak tau apa arti dalam senyumannya itu.


“Saya ingin kentang goreng, burger, dan hotdog ,” jawab Alessia.


“Yes of course. What would you like to drink?”


“I want to drink water and Caremel latte ice.” Ujar Alessia.


 “Apakah ada pesanan tambahan, nona?” Tanya Yasmin lagi.


“Apa kalian tidak makan?” Tanya Alessia pada kedua pria tampan itu.


“Tidak sayang,” jawab James.


“ Aku pesan minuman saja. Aku pikir Cappucino hot sangat nikmat.” Ujar James lagi pada Yasmin.


“Tuan ini tidak memesan juga?” Tanya Yasmin dengan ragu sembari menatap ke arah Charles.


“Cappucino hot saja,” Ujar James.


“Tidak.” Tolak Charles langsung.


“Mocca panas tapi jangan terlalu manis.” Ujar Charles pada Yasmin langsung.


“Baik. Tunggu sebentar, tuan. Pesanannya akan saya antarkan sekitar 10 sampai 15 menit.” Ujar Yasmin lalu pergi meninggalkan meja itu.


15 menit kemudian


Yasmin pun datang bersama temannya bernama Yena membawa nampan berisi pesanan mereka. ”Ini pesanan mu tuan.” Yasmin lalu meletakan pesanan minuman mereka, sedangkan Yena meletakkan pesanan makanan.


“Sure. Thankyou.” Jawab James dengan senyuman.


30 minutes After having the meal, James  bersuara. “Excuse me. Waiter.”


Yasmin  yang sadar dipanggil datang mendekati meja itu lagi. “Yes sir.”


“Tolong bawakan tagihannya.” Pinta James.


“Ini tagihannya tuan.”


“Ini bayaran tagihannya dan juga tip untukmu. Pelayananmu sangat baik.” Ucap James yang sudah membayar tagihan itu.


“Terimakasih, Tuan. Silahkan berkunjung lagi ke sini lain waktu.” Kata Yasmin pada mereka. James dan kekasihnya hanya mengangguk dan tersenyum.


“I will.” Charles justru langsung mengatakan ‘iya’.


Yasmin meninggalkan meja itu. Begitu juga dengan rombongan Charles. Mereka pergi keluar dari dalam cafe itu.  Sebelum keluar dari pintu Charles mengarahkan pandangannya dan melihat sekilas sosok Yasmin yang berjalan memasuki area dapur cafe itu. 


“Kau menyukainya?” Tanya James merangkul pundak pria itu.


“Siapa?”


“Waiter tadi. Kau bilang akan datang kesini lagi. Kau mau kesini untuk menemuinya?”


“Ck. Tidak. ” Bantah Charles.


“Karena aku mengatakan akan datang kesini. Kau langsung menyimpulkan kalau aku menyukainya. Ck. Yang benar saja.” Kata Charles sembari menjatuhkan tangan James yang bertengger dipundaknya lalu pergi mendahuluinya kemudian memasuki mobil berwarna merah itu.


“Dia kenapa?” Tanya Alessia saat melihat mobil Charles sudah melaju dan meninggalkan kawasan cafe itu.


“Tidak usah pedulikan dia. Kau menginap diapartemenku ya.”ujar James merengkuh pinggang kekasihnya sambil mengendus- endus pipi Alessia.


***


Sesuai dengan janji Austin, pria itu membawa sang istri pulang ke kampung halaman. Bahkan mereka sudah meminta ijin pada Delila kalau mereka berdua akan tinggal selama seminggu disana.


Saat ini Austin tengah menemani sang istri pergi mengunjungi makam  Ibu mertuanya. Fany meletakkan bunga yang sempat ia beli tadi sebelum pergi ke makam sang ibu. Bunga tulip. Bunga kesukaan Ibunya.


“Ibu. Selamat ulangtahun.” Ucap  Fany.


“Tadi ayah dan kak Alex sudah datang kesini. Kini giliran Fany. Maaf kalau Fany sangat jarang berkunjung ke sini.” Wanita itu berbicara dengan sendu.


“Aku merindukanmu.”  Fany tertawa kecil. Kemudian terdiam membisu. Austin sedari tadi hanya diam melihat istrinya tengah berbincang pada makam itu. Mungkin untuk melepaskan rasa rindu yang sudah tidak tertahankan lagi.


“Ibu. Lihat. Aku tidak datang sendirian ke sini. Suamiku ikut bersamaku.  Aku sudah menikah, bu. Jangan marah padanya. Oke.” ucap Fany. Kini wanita itu terlihat sedang berdoa dengan serius.


‘Maaf karena sudah membuatmu pergi. Jujur aku saat itu tidak sengaja. Ibu... Sebagai permintaan maafku, biarkan aku merawat putrimu dan membuatnya bahagia. Restumu sangat berarti bagiku.’ Batin Austin.


Angin berhembus lembut sore itu. Fany menatap makam Ibunya dan dalam hati ia berkata, “Ibu. Aku hanya mengunjungimu.” Ucap Fany lalu tersenyum.


“Kami pamit pulang dulu.” Austin membantu Fany berdiri lalu mereka meninggalkan makam itu. Sebelum berjalan Austin mengelus pusara makam Ibu mertuanya. “Kamu pulang dulu, Ibu.” Ucapnya kemudian  berjalan meninggalkan makam yang ditinggali dua buket bunga yaitu tulip dan daisy.


***


To Be Continued


^^^23 Maret 2022^^^