
Sebelum Baca Vote Dulu
Jangan lupa beri Like dan Komen Guys
Happy Reading...
(Sebelumnya)
Lain dengan Alexander, Pria itu malah sedang memikirkan mencari cara untuk menyingkirkan Austin tanpa menyakiti Adiknya. Tak terasa hari sudah sore, Fany pun pamit untuk pulang ke rumah karena takut suaminya akan mencarinya.
Alex sempat kesal karena mendengar adiknya mengatakan Austin dengan sebutan suami.
Memang tidak salah jika Fany berkata seperti itu, tapi dia tidak senang jika adiknya menyayangi orang yang pernah membuat keluarganya bangkrut dan hancur.
***
Austin sudah sampai dimansionnya tapi dia tidak melihat tanda-tanda keberadaannya Fany.
Austin pun memutuskan untuk menghubungi Fany, tapi tidak ada jawaban juga.
Ia mencoba untuk terus menerus menghubungi ponsel Fany, tapi tak ada hasilnya juga nihil. Lagi-lagi ia tak mendapat jawaban. Austin jadi sedikit cemas karena Fany belum pulang.
Entah kenapa terbesit dipikirannya untuk masuk kedalam kamarnya Fany.
Ketika memasuki kamarnya, dia sedikit beruntung karena kamar wanita itu tidak terkunci. Jadi ia bisa masuk kedalam sana.
Austin pun masuk dan melihat Fany sudah ada didalam kamar itu. Lihatlah bahkan wanita itu sudah terlelap. Padahal sedari tadi ia sudah seperti orang gila mencari keberadaannya.
"Pantas saja kau tidak mengangkat telponku, ternyata kau sudah tertidur seperti orang mati," ucap Austin. Pria itu menatap Fany yang tertidur pulas. Karena itulah ia tidak mendengar ponsel yang berbunyi.
Dengan langkah sangat pelan menuju kasur, Austin mendekati Fany dan melihat wanita itu tertidur dalam lelapnya. Kemudian Austin menatap wajah Fany dengan intens.
"Cantik," gumam Austin secara tidak sadar. Saat Austin menatap Tiffany, tiba-tiba saja Fany bergerak dalam tidurnya. Austin yang menyadari itu refleks langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan merangkak menuju bawah ranjang karena takut Fany akan melihatnya berada didalam kamar itu. Austin yang berada di bawah ranjang tersenyum melihat dirinya seperti pencuri yang hampir ketahuan. Ia merutuki tingkahnya yang terlihat sedikit bodoh.
Setelah beberapa menit, dia tidak mendengar suara pergerakan dari Fany melainkan mendengar suara dengkuran halus yang keluar secara teratur. Austin keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kau membuatku jantungan Fany," ucap Austin. Setelah itu ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan melangkah menuju kamarnya sendiri.
Keesokan paginya, Austin sudah bangun lebih dulu sementara Fany masih berada di dalam kamarnya dalam keadaan terlelap.
Di kamarnya Austin terlihat sudah mandi dan juga sudah rapi dengan jasnya dan siap untuk berangkat kerja. Austin keluar dari dalam kamarnya dan berjalan melewati kamar Tiffany.
"Apa dia sudah bangun?” Tanya Austin dalam hatinya sambil menatap pintu kamar Tiffany yang ada dihadapannya. Saat sedang asik dengan pikirannya, tiba tiba orang dari dalam kamar itu keluar.
Benar. Fany keluar dari dalam kamar dan melihat Austin tengah berdiri didepan kamarnya.
Austin masih belum menyadari keberadaan Fany karena dia tengah melamun.
"Ada apa Austin?" Tanya Fany menatapi Austin dengan bingung.
Sontak hal itu membuat Austin terkejut mendengar suara Fany. Ia pun langsung refleks melangkah mundur.
"Tidak ada___ Aku.... Hmm... Hanya sedang lewat. Terus tidak sengaja berhenti di sini. Aku sedang memikirkan pekerjaanku," bual Austin. Lalu pria itu langsung pergi dari situ dan memilih berangkat ke kantor.
“Dia kenapa?” Fany bingung dengan sikap Austin.
Lalu wanita itu hanya mengelengkan kepala saat melihat tingkah konyol Austin pagi ini.
Fany tidak memperdulikan soal itu dan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi.
Fany berjalan menuju ke kamar mandi dan menggosok giginya. Tapi kemudian dia mengingat tingkah Austin tadi.
Memikirkan kejadian tadi membuat Fany mengelengkan kepala lagi dan tidak mau ambil pusing. Akhirnya ia pun melanjutkan kembali aksi gosok gigi
***
Saat sudah sampai dikantor, Austin langsung pergi menuju ke ruangannya tanpa memperhatikan karyawannya yang menunduk hormat padanya. Ketika memasuki ruangannya. Dia terkejut mendapati seseorang yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disitu?" Ucap Austin dengan kesal.
"Hello Brother," sapa seorang pria lalu bangkit ketika dia mendapati bahwa Austin sudah berada di dalam ruangan.
"Lepaskan pelukan laknat ini," ucapan Austin menggelegar ketika orang itu memeluk Austin dengan erat tapi orang itu tidak mendengarkan malah makin mengeratkan pelukannya.
"Ronald Nero,” ucap Austin dengan geram.
"Baiklah," orang yang dipanggil Ronald itu melepaskan pelukannya. Dia ternyata adalah adik bungsu Austin.
"Kenapa kau kembali? Apa studimu sudah selesai?" Tanya Austin.
"Justru karena sudah selesai makanya aku kembali kesini. Bodoh sekali kau," ucap Ronald mengatai Austin tanpa ada rasa takut.
"Perhatikan kata katamu sebelum kau menyesalinya,”
“Maaf. Kuliahku sudah selesai. Makanya kau datang keacara lulusanku, jangan sibuk kerja saja.”
"Baguslah. Mulai besok kau akan bekerja disini sebagai sekretaris pribadiku," ucap Austin.
Austin merasa kasihan dengan Roy yang sudah menjadi asisten pribadin sekaligus sekretarisnya.
"Apa? Aku jadi sekretarismu. Aku susah payah belajar bisnis diluar negeri tapi aku hanya menjadi sekretaris disini," ucap Ronald yang tidak terima.
"Kau mau membantah?" Ucap Austin sambil menatap tajam kearah Ronald.
"Tidak kak. Aku mana berani," Nyali Ronald menciut. Ia berubah menjadi anak penurut.
"Bagus. Sekarang pulanglah ke rumah," ucap Austin.
"Pulang kemana?" Tanya Ronald dengan polosnya. Austin yang mendengar itu langsung menatap tajam lagi ke arah Ronald. Tidak mungkin Ronald pulang ke rumah miliknya padahal luknut kecil itu tahu kalau dirinya sudah punya istri.
Ronald mendapatkan tatapan seperti itu hanya tertawa.
"Aku hanya bercanda."
"Sampai jumpa lagi brother tersayang," ucap Ronald sambil melambaikan tangannya meninggalkan ruangan Austin.
"Hai Roy," sapa Ronald ketika mereka sedang berpapasan.
“Iya,” lalu memasuki ruangan Austin.
Ronald Nero adalah Adik bungsu Austin yang sudah pulang ke New York City setelah beberapa tahun kuliah di jurusan Perbisnisan.
Austin memang senjaga mengirim Adiknya ke sekolah yang cukup jauh agar dia fokus pada studinya. Austin sengaja menyuruh Adiknya belajar agar Ronald bisa tahu mengenai bisnis dan tahu bagaimana cara menghadapi persaingan bisnis yang ketat.
***
Dimalam hari, saat tengah makan malam. Austin mendapat pesan dari kekasihnya kalau dalam minggu ini Sesillia akan berangkat ke New York.
Tiba-tiba Fany datang ke meja makan, membawa makanan yang dia masak.
Austin pun terkejut dan membuat ponsel itu terjatuh ke lantai. Fany meletakkan makanan itu ke meja lalu menunduk. Ia berniat untuk mengambil ponsel Austin yang terjatuh itu.
Sebelumnya Fany melihat pesan pada layar ponsel Austin, tapi tidak terlalu jelas karena tulisan terlalu kecil untuk dibaca oleh Fany dari atas.
Saat Austin tahu kalau Tiffany akan mengambil ponselnya, dia langsung memegang tangan Fany lalu membawanya kedalam pangkuannya. Sontak itu langsung membuat Fany sukses jantungan. Ia membeku patung.
Austin menatap mata Fany yang tengah kebingungan itu.
“Kau makanlah. Pasti kau sudah lapar,” Ujar Austin.
Mendengar itu membuat Fany langsung tersadar dan turun dari pangkuan pria itu. “Maaf,” Hanya itu kata kata yang keluar dari mulut Fany.
Austin segera mengambil ponselnya yang ada dibawah kursi miliknya. Sejujurnya tadi Austin seperti itu karena dia tidak ingin Fany melihat isi pesan dari Sesilia.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan sedikit canggung setelah kejadian tadi.
Saat makan malam sudah selesai, Fany pun langsung bergegas kedapur untuk mencuci piring bekas makan malam mereka tadi.
Lain dengan Austin. Pria itu kembali menatap layar ponselnya dan membalas pesan dari Sesillia dengan kata "Hmm."
Fany selesai mencuci, tiba-tiba Austin datang ke dapur. "Sudah. Kamu tidur saja. Ini sudah larut malam,” ucap Austin.
"Iya. Ini juga sudah siap kok," jawab Fany.
Mereka berjalan keluar dari dapur dan pergi manaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Tunggu," panggil Austin saat mereka berdua tiba didepan kamarnya milik Austin.
"Ada apa?"
"Kau jangan membuat dirimu lelah karena terlalu banyak bekerja di rumah. Kau harusnya menjaga kesehatanmu dan bayi kita," ucap Austin membuat Fany yang mendengarnya terasa terharu.
"Iya Austin,"
"Sudah. Masukah duluan ke kamarmu dan langsung tidur," ucap Austin sambil menggerakkan dagunya menunjuk pintu yang ada disampingnya membuat Fany bingung.
"Kau yang masuk duluan. Kan itu kamarmu. Kamarku ada di sana." Ucap Fany dengan polos
Dia mengatakan kalau ini kan kamarnya Austin, tapi kenapa Austin malah menyuruh masuk duluan. Akhirnya Austin sadar kalau ini memang kamarnya.
"Maaf."
"Tidak apa-apa.” jawab Fany.
Fany pun masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Austin yang sudah berada di dalam kamarnya. Di dalam kamar Fany tersipu malu mengingat saat Austin memangkunya tadi.
Sementara Austin yang ada didalam kamarnya juga mengutuki dirinya sendiri. Dirinya tadi pasti gila. Bagaimana bisa ia memangku Fany kedalam pangkuannya.
DiTokyo
Sesillia pun berkemas dan berniat segera terbang ke New York .
Ia ingin pulang. Ada firasat aneh dalam dirinya sehingga menyuruhnya untuk segera pulang.
Sesillian juga sudah bertekad untuk mengatakan pada Austin bahwa dia bersedia untuk menikah dengannya dan tak akan meninggalkannya lagi.
"Aku akan segera datang sayang. Tunggu aku."
***
Ronald sudah tiba di kediamannya keluarga besar Nero. Seharusnya dia tiba dirumah semalam tapi dia menundanya dan memilih menginap di hotel.
"Ibu. Aku sangat merindukanmu." Ronald memeluk Ibunya dari belakang saat dia melihat Ibu sedang menyiram tanaman bunganya.
"Ronald! Ini kamu Ronald anakku," ucap Delila.
"Iya Bu," jawab Ronald.
“Bukankah kau akan kembali seminggu lagi,”
“Tidak. Aku mempercepatnya karena sudah sangat merindukan ibu dan rumah ini,”
"Ibu juga sangat merindukanmu, Nak.”
“Oh ya. Besok aku sudah bisa mulai bekerja sebagai sekretarisnya, kak Austin." Aduh Ronald.
"Apa? Dasar anak itu. Dia mengirimmu sekolah jauh jauh tapi dia hanya menjadimu sebagai sekretarisnya," ucap Delila yang geram dengan anak pertamanya.
"Tidak apa Ibu. Aku senang kok jadi sekretarisnya kak Austin."
"Oh anakku yang baik. Kau sudah makan?"
"Belum Bu," Manja Ronald pada Ibunya. Maklum itu efek Ronald belum memiliki kekasih sampai saat ini. Bukan karena tidak mau tapi karena ia enggan menaruh hati pada hati perempuan.
"Ayo masuk kedalam. Ibu akan memasak makanan yang enak untukmu,"
"Let's go." Mereka pun masuk kedalam mansionnya sambil tertawa riang.
***
To Be Continued
Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian.
I love you all
Insani Syahputri
^^^08 Feb 2022^^^