
Happy Reading guys
***
Theresa sudah tiba di sebuah apartemen seseorang. Ia sedikit ragu tapi tetap menekan bel. Wajah Theresa terlihat sumringah ketika mendengar suara pintu itu terbuka. Tapi wanita itu mendadak kecewa ketika mendapati yang keluar bukan orang yang ingin dia kunjungi melainkan wanita paruh yang ia yakini adalah pelayan yang dipekerjakan oleh Charles.
“Dimana Charles?” Tanya Theresa.
Pelayan yang bernama Glenda itu terlihat bingung mau jawab apa. Dia mendapat pesan dari majikannya untuk tidak memberitau Theresa kalau Charles ada di dalam apartemen. Ia tidak tau kenapa tuannya itu ingin menghindari gadis ini.
“Saya tidak tau, nona. Tuan tidak ada di apartemen. Tadi pagi dia buru-buru pergi ke suatu tempat.”Jawab Glenda.
“Apa kau tau Charles pergi kemana? Lusa lalu aku mengunjungi pria itu di club tapi dia tidak ada di sana. Kemana dia pergi?” Tanya Theresa yang sedikit kesal.
Ibu Charles memberitaunya untuk segera bertemu dengan Charles, tapi sepertinya pria itu selalu menghindarinya.
Ia sudah pergi ke mansion orang tua Charles tapi tak mendapati pria itu ada di sana.
“Saya tidak tau nona. Tuan tidak ada memberitau kemana dia pergi.” Jawab Glenda.
Dengan perasaan kesal dan kecewa. Theresa langsung pergi meninggalkan mansion itu dengan hentakan kaki yang keras membuat bibi Glenda tertawa kecil.
***
Saat ini Charles tengah duduk di kursi dekat balkon kamarnya.
Bibi Glenda datang membawa secangkir mocca hangat dan meletakkan dekat meja yang ada dihadapan Charles.
“Apa dia sudah pulang?”
“Sudah tuan.”
“Bagus. Terimakasih Bibi.”
“Tapi tuan__”
“Ada apa”
“Sepertinya nona Theresa terlihat marah dan kesal.”
“Aku tidak peduli.”
“Kalau begitu saya kembali ke dapur dulu tuan.” Ucap Bibi Glenda lalu diangguki oleh Charles.
Pria itu kembali duduk termenung. Ia tengah memikirkan sesuatu. Ia memikirkan mengenai perkataannya pada Yasmin semalam.
“Apa aku terlalu keterlaluan? Aku melakukan itu hanya untuk melindungi Fany.”
Terdengar dengusan kasar dari pria itu. Lalu ia kembali menyesap minuman yang telah disediakan oleh Bibi Glenda itu.
Melihat minuman itu lagi-lagi mengingatkannya pada Yasmin. Minuman yang ia minum saat di cafe waktu terasa berbeda dengan buatan bibi Glenda.
Ia sangat suka dengan yang dibuat oleh Yasmin. “Ah sial...” Pria itu meninggalkan tempat hendak pergi entah kemana.
***
Ronald dengan langkah tertatih-tatih, memasuki halaman kediaman kakaknya. Tadi saat digerbang, mobilnya tak diperbolehkan masuk kedalam halaman rumah itu. Tentu saja karena perintah Fany.” Sialan. Dia kakak iparku pula. Jika tidak, mungkin aku akan___ Ah sudahlah.”
Ronald menumpukan kedua telapak tangan pada kedua sisi lututnya. Ia tengah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari. Ia ingin mengeluh tapi langsung ditepisnya karena teringat sedang memperjuangkan seseorang.
Di kamar, Fany mendapat panggilan dari pelayan rumahnya.” Nona. Tuan Darren ada diluar rumah. Apa saya boleh memperbolehkan masuk?” Tanya pelayan itu.
“Iya bibi. Suruh saja dia masuk. Kami akan menyusul turun kebawah.”
“Dia datang. Kau siap?” Tanya Fany pada Della.
“Mau gimana lagi.” Della mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia tidak tau apa yang ingin dijelaskan oleh Ronald.
Di bawah, pelayan itu membuka pintu,” Silahkan masuk tuan. Nyonya sebentar lagi akan turun ke bawah.”
Ronald berteriak ketika masuk begitu saja.“Kakak ipar, dimana kau menyembunyikan kekasihku.”
“Sayang.” Ucapnya kala melihat Della.
Pandangannya tertuju pada Della. Mata gadisnya terlihat sembab. Pasti dia nangis seharian. Pikirnya.
Ronald menarik tangan Della membuat gadis itu kaget. “Kau mau membawanya kemana? Ronald...” Teriak Fany tapi Ronald pergi begitu saja keluar dari rumah itu.
Kini Mereka sudah tiba ditaman rumah itu. Keadaan disitu cukup sepi.
“Sayang. Apa yang kau lihat tadi pagi. Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Kami tidak melakukan apa-apa.” Ronald berusaha menjelaskan, tapi Della memintanya pergi saja.
Bukan itu yang ingin Della dengar. Ia hanya ingin tau kenapa perempuan itu bisa ada diapartemen Ronald.
“Tidak sayang. Aku tidak akan pergi sebelum masalah ini selesai.” Ronald mengelengkan kepalanya.
“Semua sudah selesai. Hubungan kita sudah selesai. Kau bisa bersama dengan perempuan itu.”
“Tidak. Kita belum putus. Aku tidak memiliki hubungan sama Clara.”
“Oh jadi namanya Clara.”
“Fuck.” Ronald Frustasi. Ia memegang bahu gadisnya dan menatapnya dengan sendu.” Aku mencintaimu. Aku merutuki masalah yang terjadi hari ini. Ini semua terjadi karena kebodohanku. Jika saja aku memberitau hubungan kita pada Ibu. Mungkin Ibu tidak akan mencari gadis untukku. Ibu pikir aku tidak memiliki kekasih makanya dia berniat menjodohkanku dengan gadis pilihannya. Itu makanya semalam Ibu membawa Clara ke apartemenku. Kami sedikit minum hingga tidak sadarkan diri dan sudah tertidur. Jujur. Kami tidak melakukan apa-apa. Kamu bisa melihatnya di cctv apartemen. Persetan dengan itu. Aku tidak menginginkannya sayang. Aku hanya ingin kamu. Aku mohon jangan bilang hubungan kita sudah berakhir. Hatiku sakit mendengar itu.” Ronald ingin menangis. Terlihat dari manik mata pria itu yang berkaca-kaca.
Della segera memeluk Ronald. “Kau tau aku jadi lemah melihatmu seperti ini.” Della tidak tahan menahan egonya ketika melihat tatapan Ronald yang sendu itu.
Ronald membalas pelukan kekasihnya dan meminta maaf.
“Aku juga tidak mau hubungan kita berakhir karena aku sangat mencintaimu. Tapi___” Della jadi menangis.
“Jangan menangis sayang.” Ronald menenangkan Della kemudian melepas pelukannya, ia mulai membelai wajah Della.
“Kita jumpai Ibu ya. Sekarang juga.” Ajak Ronald.
Della mengangguk. “Ayo.” Ronald memegang tangan Della dan hendak membawanya pergi.
Dari dalam kamarnya Fany senyum-senyum sendiri melihat sepasang kekasih yang ada ditamannya. “Baguslah kalau mereka sudah baikan.” Fany beranjak menuju kasurnya untuk tidur. Ia sungguh lelah karena meladeni tingkah Della yang kekanakan. Ia tida merasa terbebani. Bagaimanapun Della adalah sahabatnya
“Kita tunggu papa ya nak. Biar bisa manja seperti itu.” Fany mengelus perut buncitnya.
Flashback on
Delila ternyata hendak melakukan perjodohan pada Ronald. Kini tinggal pria itu yang belum menikah. Jadi Delila menginginkan cucu dari putra keduanya itu. Singkat cerita Ibunya membawa seorang gadis yang bernama Clara datang bersama ke apartemen Ronald.
Tentu saja kedatangan mereka cukup di sambut oleh Ronald.
Mereka pun makan malam. Ronald terkejut saat mendapati Ibunya meletakan dua botol wine diatas meja makan.
“Tidak ada wine, makan malam jadi tidak lengkap.” Ujar Delila.
Mereka makan dan minum hingga mereka kehilangan kesadaran. Tapi tidak dengan Delila. Wanita itu pergi meninggalkan apartemen dan kedua manusia itu yang sudah terlihat sedikit mabuk.
Hingga pagi Ronald terbangun karena dikejutkan oleh teriakan seseorang.
“Ronald. Kenapa kau tega melakukan ini padaku?” Ucap gadis itu menangis. Ronald kenal dengan suara itu. Itu Clara. Jadi siapa yang ia peluk. Mata Ronald langsung terbuka lebar. Ia mendapati Della dekat pintu yang sudah menangis.
Ternyata ia dan Clara tidur berpelukan dikasur. Mereka hanya tidur dan tidak melakukan hal yang aneh. Terbukti dari pakaian mereka yang masih aman-aman saja.
Ini masalah aman melainkan darurat. Della melihatnya tidur seranjang dengan Clara.
“Aku kecewa denganmu Ronald.” Della keluar dari kamar itu.
“S-sayang. Ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Ronald bangkit dan berniat mengejar kekasihnya.
Sesampainya di basement, Ronald melihat mobil Della sudah melenggang pergi jauh. “Ah sial.” Ronald menyugar rambutnya gusar.
Ia kembali ke apartement untuk mengambil kunci mobil. Sesampai di sana Ronald melihat Clara sudah bangun.
“Dia kekasihku. Kau pulanglah. Lupakan soal perjodohan yang ibuku lakukan. Persetan dengan itu. Aku tidak akan setuju. Aku sangat mencintai kekasihku.”
“Maafkan aku. Gara-gara aku kekasihmu jadi sedih. Baikah aku akan pulang.” Tanpa banyak berkata Clara pergi meninggalkan Apartemen itu.
Begitu juga dengan Ronald, ia pergi keluar dari apartemennya menuju rumah Della untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Tapi sesampainya di sana, Ronald tidak mendapati kekasihnya berada di sana.”
Ronald semakin sakit kepala saat ponsel Della tidak dapat dihubungi. Ronald menghubungi Charles, tapi pria itu mengatakan kalau Della ambil ijin libur hari ini. Ronald tengah frustasi saat ini. Ronald pergi ke kantor untuk meminta tolong pada Austin.
Ponsel Austim berbunyi. Austin terlihat malas sekali untuk mengangkatnya dan membiarkan sampai suara dering itu berhenti. Tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi.
***
Ronald sudah tiba di kantor. Di sana ia dimarahi oleh Austin dan Roy karena dirinya sudah telat datang ke kantor.
“Maaf Kak. Tapi aku sedang ada masalah.”
“Dia dapat masalah besar. Aku yakin kalau hubungannya dengan Della pasti berakhir.” Roy tertawa kecil. Ronald yang merasa sedang diledek hanya memberi pukulan kecil pada Roy.” Diamlah.” Tukas Ronald.
“Ada apa sebenarnya?” Austin tidak mengerti dan tidak tau apa yang terjadi pada Ronald dan Della. Padahal hubungan mereka terlihat aman-aman saja.
Ronald menceritakan semua tanpa ada yang ditutupinya. Austin dan Roy kini tertawa. Mereka menertawai kebodohan Ronald. “Ibu memang seperti itu. Ku pikir cuma aku saja yang pernah menjadi korbannya tapi kau juga. Tapi aku bersyukur setidaknya kita beda cerita dan aku beruntung bisa memiliki Fany sekarang.” Austin tertawa.
“Aku sudah pernah menyarankan padamu untuk memberitau soal hubunganmu dengan Della pada Ibu. Tapi kau menundanya.” Kata Austin.
“Ck. Pantasan saja Ibu kalian membawa Clara keapartemenmu. Bibi sudah kebelet antara kau cepat nikah atau punya calon cucu lagi.” Roy masih tertawa.
“Jangan salahkan Clara dan Ibu. Salahkan kebodohanmu. Jika saja kau mengenalkan Della pada Ibu. Aku yakin Ibu tidak akan melakukan perjodohan konyol itu.” Tutur Austin.
“Kalian jangan menyudutkanku. Aku datang kesini kesini untuk meminta bantuan bukan meledekku.” Ronald kesal.
“Aku hanya meminta saran pada kalian. Aku harus apa?”
“Jadi kau ingin kami melakukan apa? Dia aja tidak mendengarkanmu apalagi kami.” Kata Roy berdiri. Ia mengambil minuman yang ada di meja yang tak jauh darinya.
“Minum dulu. Biar stresmu hilang.” Ujar Roy memberikan air mineral pada Ronald.
“Coba telpon dia.” Saran Roy.
“Sudah. Tapi tidak diangkat,”
“Coba terus sampai diangkat.”
“Pakai ponselku. Siapa tau diangkatnya.” Roy menyerahkan ponselnya pada Ronald.
Dilain tempat, Della masih menangis. Fany menatap nanar kesekitar kamarnya yang sudah berserakan kertas tisu. Ia harus membereskannya sebelum Austin pulang.
“Mau sampai kapan kau nangisnya?” Fany dengan kesal.
“Kalian kenapa sih?”
“Siapa?”
“Kau dengan Ronald. Bodoh.” Fany semakin kesal.
“Tadi Ronald datang kesini. Kalian kau ada masalah diselesaikan. Bukan sembunyi kayak gini.”
“Ronald selingkuh.” Ungkap Della.
“A-apa? Are you serious?”
“Iya. Tadi pagi aku melihatnya tidur seranjang dengan perempuan?” Dekka semakin nangis seunggukan.
“Jadi gimana? Kau mau putus?”
“Ga tau. Aku sayang dia.”
Tiba-tiba ponsel Della berdering lagi membuat mereka berdua menoleh kearah ponsel itu.
“Nomor tidak dikenal.”
“Biarin saja. Itu pasti Ronald.” Ujar Della yang sudah tau siapa yang menelponnya.
Mereka pun membiarkan ponsel itu berdering beberapa kali. “Angkat aja. Sakit tau telingaku mendengarnya.”
“Aku malas meladeninya.” Ujar Della.
“Biar aku saja yang angkat. Aku bilang apa?”
“Terserah deh mau bilang apa? Fany aku sakit hati dengannya.” Della menangis lagi.
Fany mengambil ponsel Della yang masih berdering tapi kali ini ‘My love’yang tertera di layar ponsel itu.
Fany pun mengangkat panggilan itu, lalu mengatakan.” Kita putus.” Fany segera menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan itu.
Della seketika tercengang mendengar apa yang Fany katakan barusan.
” Putus.”
“Ya. Kan kau bilang terserah aku mau ngomong apa.”
“Tapi tidak itu juga Fany. Huwa... Berarti hubungan kami sudah kandas?”
“Belum tentu. Jangan nangis. Kita tunggu Ronald datang kesini. Aku yakin Ronald kenal suaraku. Kalau dia benar-benar mencintaimu. Dia pasti akan datang kesini dan tidak mau hubungan kalian berakhir. Biarkan saja dia datang dan menjelaskannya.”
“Bagaimana kalau dia tidak datang?”
“Ronald pasti akan datang. Aku kenal dengan Adik iparku itu.Firasatku mengatakan seperti itu.” Ujar Fany lalu berbaring dikasurnya.
Di kantor, Ronald terlihat terpatung saat mendengar kata”putus” dari ponselnya barusan, sedangkan Austin dan Roy hanya menahan diri untuk tidak tertawa agar tidak semakin melukai perasaan Ronald. Mereka berdua cukup jelas mendengar panggilan yang hanya beberapa detik itu.
“Apa aku tidak salah dengar?” Gumam Ronald yang serasa tidak percaya.
“Kau tidak salah dengar. Della meminta putus darimu.” Roy justru memperjelasnya. Sungguh tak punya hati.
“Tapi aku tidak asing dengan suara itu. Kenapa suaranya seperti milik Fany.” Kini Austin yang berbicara.
Ronald seketika sadar. Tadi suaranya agak berbeda. Itu bukan Della melainkan kakak iparnya.
“Tidak akan. Kita tidak boleh putus.” Gumam Ronald beranjak dari duduknya.
“Kau mau kemana?” Tanya Austin.
“Kerumah kakak.”
“Ngapain?”
“Menyusul Della. Dia ada disana.”
“Pekerjaanmu disini banyak sialan.” Umpat Roy.
“Pekerjaan ini lebih sulit dan sangat penting. Aku ijin libur, Jadi aku pergi dulu.” Ronald melambaikan tangannya.
“Sialan. Lebih baik tadi kau tidak usah datang.” Decak Roy.
Flashback end
***
TBC
Bu Insani Syahputri
^^^28-03-2022^^^