
SEBELUM BACA VOTE DULU
LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA YA
Happy Reading
***
Malam ini diruang kamar milik Austin, Fany terpaksa harus ikut tidur dengan Austin dalam posisi berpelukan. Ralat. Austinlah yang memeluk Fany.
Dipagi harinya, Roy masuk ke ruangan Austin. Dia datang untuk menyampaikan sesuatu pada Austin kalau hari ini mereka akan ke kantor Charles.
Austin tidak mendengar perkataan Roy. Pria itu tengah termenung memikirkan kejadian semalam yang membuatnya berbunga bunga. Semalam tidurnya sangat nyenyak sekali karena dia tidur bersama dengan istrinya. Ada perasaan senang pada diri Austin saat tidur bersama istrinya itu.
Tanpa disadari Austin pun tersenyum sendiri dan itu membuat Roy langsung menjitak kepala Austin.
"Sakit sialan....” Austin tersadar dari lamunannya. Kepala terasa sakit karena pukulan mengenai kepalanya.
Ia menoleh kearah Roy. Austin menatap penuh kemarahan pada pria itu."Apa maksudmu memukul kepalaku?" Austin yakin kalau Roy adalah pelakunya.
"Kau tidak mendengar ucapanku dan malah tersenyum sendiri seperti orang gila," ucap Roy.
"Tutup mulutmu! Sekali lagi kau bicara, jangan harap bisa melihat matahari terbit besok, "ancam Austin. Enak saja dia mengatai dirinya orang gila.
Roy tak menanggapi. Ia hanya terdiam karena malas berdebat dengan Austin. "Kau ada keperluan apa datang ke ruanganku?" Tanya Austin.
Roy hanya diam saja.
"Kau tidak punya mulut untuk berbicara?" Tanya Austin dengan kesal.
"Tapi kau menyuruhku untuk diam. Dasar orang tidak jelas," Roy jadi merasa kesal terhadap Austin.
"Ck. Jika aku menyuruh untuk mati, apa kau juga akan mati?" ucap Austin yang berbicara dengan sesuka hatinya.
"Ya tidaklah. Enak saja menyuruhku untuk mati,"
"Hari ini kau akan berkunjung keperusahaannya tuan Addison.” Tutur Roy berbicara langsung pada intinya karena malas berdebat dengan Austin karna perkara itu tidak akan kelar jika dia masih melanjutkan debatnya.
‘Charles?’ batin Austin.
"Baiklah aku akan pergi ke sana." ucap Austin. Austin memakai jasnya dan bersiap untuk pergi ke kantornya Charles.
***
Charles dan Alex terlihat sudah berdiri didepan gedung Addison Company untuk menunggu kedatangan Austin Nero.
Tak lama juga terlihatlah mobil sport hitam baru saja sampai di depan gedung itu, dan itu menandakan kedatangan Austin.
Austin keluar mobil dengan memakai jas warna hitam dan tak lupa dengan kacamata hitam yang membuat Austin tampak memukau. Bahkan terlihat sangat berkharisma.
"Selamat datang Austin,” ucap Charles sambil mengulurkan tangan kepadanya Austin.
"Charles. Senang berjumpa denganmu," Austin menjabat tangan Charles dengan gayanya yang terlihat keren. Tak lupa Austin membuka kacamatanya dan menyelipkannya di belahan kemejanya.
"Alexander." Ucap Austin yang heran melihat kakak iparnya ada disini.
"Oh dia sekarang sekretarisku," jawab Charles.
‘Menarik,’ batin Austin
"Aku sangat terkejut melihat kakak iparku ada disini. Rupanya dia sekretarismu Charles." Ucap Austin dengan nada yang tidak suka. Ia memikirkan Fany yang dekat dengan Charles. Belum Austin malah dibuat pusing dengan kehadiran kakak iparnya yang menjadi sekretaris Charles.
“Ayo kita ke ruanganku,” potong Charles mengajak Austin masuk ke dalam gedungnya.
Semua para wanita yang ada dikantor itu sangat terpukau dengan ketampanan Austin.
Austin yang merasakan itu hanya tersenyum ke arah mereka. Hal itu justru membuat Alex mengumpat didalam hatinya dengan seribu kata serapah untuk Austin.
Mereka melanjutkan perbincangan bisnis ini diruangan rapat, berbicara mengenai masalah kerjasama untuk bisnis mereka kedepannya.
Sejam lebih telah berlalu, kini rapat sudah usai. Charles menyuruh Alex keluar dari ruangannya karena ada hal penting yang ingin bicarakan dengan Austin.
Kini tinggallah mereka berdua dalam ruangan itu. Tentu saja orang itu adalah Charles dan Austin. "Apa kau sangat dekat dengan istriku?" Austin membuka pembicaraan.
"Ya. Kami sangat dekat. Fany adalah teman yang baik bagiku," jelas Charles.
“Sangat dekat ya,” ucap Austin dengan suara pelan sehingga kata-kata itu tidak didengar oleh Charles. Timbul perasaan tidak suka terhadap Charles didalam hati Austin.
Austin tidak senang karena Charles mengatakan kalau dia sangat dekat sekali dengan istrinya. Meskipun hanya sebagai teman, ia tidak suka itu.
Austin mengatakan pada Charles dan mengingatnya untuk jangan pernah coba-coba tertarik pada istrinya.
"Kau tenang saja. Selama dia bahagia bersamamu, aku tidak akan mengambilnya. Tapi jika dia tidak bahagia maka aku tidak akan segan untuk merebutnya darimu," ucap Charles dengan santai.
"Jadi firasatku benar jika kau memang memiliki perasaan pada istriku," ungkap Austin.
“Ya. Bisa di bilang begitu,” ucap Charles sambil tersenyum menanggapi perkataan Austin.
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Austin lagi dan meninggalkan Charles.
“Apa dia sedang cemburu?” Tanya Charles dalam hatinya sambil menatap kepergian Austin.
***
Sore ini Fany memutuskan untuk memasak makan malam yaitu steak medium rare yang mana tingkat kematangan dagingnya hanya 60% bagian dalam daging belum matang sedangkan bagian luarnya sudah matang. Atau bisa disebut sebagai steak setengah matang gitu.
Fany tahu jika Austin sangat menyukai itu. Oleh karena itulah Fany mau memasakkan untuk Austin. Setelah siap memasak Fany langsung menyajikannya di meja di dampingi dengan sebotol Wine.
Ketika ingin duduk disofa sembari menunggu kedatangan Austin dari kamar, tiba-tiba orang yang ditunggu sudah terlihat diujung tangga. "Kau sudah selesai mandi," ucap Fany.
"Iya."
Indera penciuman Austin menangkap aroma sedap dan itu berasal dari meja makan.
Austin pun melangkah kakinya menuju meja makan dan mendapati hidangan makan malam telah tersaji disana. "Kau yang memasaknya?"
"Medium Rare?" Ucap Austin lagi .
"Iya,"
"Dari mana kau tahu kalau aku suka ini?"
"Itu___Aku hanya menebaknya saja,"
Austin menduduki bokongnya dikursi. Saat ini dirinya memang sangat lapar.
Pasalnya dia belum ada makan dari tadi siang tadi. Gigitan pertama sudah berhasil masuk dalam mulutnya. Tak lama kemudian Austin tiba tiba ingin muntah. Dia pun berlari menuju wastafel dapur.
Hoek-hoek ...Terdengar suara muntahan Austin membuat Fany bingung.
"Kau kenapa muntah?" Tanya Fany yang datang menghampiri Austin.
"Aku tidak tahu. Apa mungkin itu ada pengaruh dari hormin kehamilanmu?"
"Mungkin saja," jawab Fany.
“Ayo tidur dikamarku lagi. Entah kenapa aku ingin tidur bersama calon bayiku,” Tiba-tiba Austin memaksa Fany untuk tidur bersamanya dengan alasan ingin tidur didekat anaknya.
“Baiklah,” Akhirnya Fany memutuskan menerima tawaran Austin untuk tidur di kamar Austin. Ini keinginan Austin yang ingin dekat dengan bayi yang ada didalam kandungannya.
“Kau pergilah kekamar. Aku akan menyusul. Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada Roy,” Austin menyuruh Fany pergi duluan ke kamar. Fany pun hanya mengangguk lalu beranjak pergi
Saat Fany sudah pergi, Austin langsung menelpon Roy dan mengatakan pada Roy untuk mencarikan tiket ke Tokyo untuknya. Austin sudah bertekad. Dalam minggu dia akan menemui Sesilia. Austin mengatakan jika situasi saat ini tidak baik untuk Sesilia maupun Fany. Jadi dia berniat menemui Sesilia dan mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Fany. Ia tidak ingin melukai Fany. Bagaimana pun kondisinya, Fany sekarang adalah istrinya dan akan menjadi ibu dari anaknya kelak.
Austin yakin Sesilia pasti akan mengerti.
Roy mengerti dengan situasi Austin, jadi dia pun mengatakan akan mencari tiket penerbangan ke Tokyo secepatnya.
Setelah itu Austin memutuskan panggilan dan pergi ke kamarnya menyusul Fany yang sudah pergi duluan kesana. Saat sudah berada dikamar ia melihat Fany yang sepertinya sudah tertidur.
Austin bergabung kesana, ia berbaring dikasur dengan posisi badan saling memunggungi.
Tiba-tiba Austin berbalik dan memeluk Fany.
Ia mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Fany.
Fany yang sepernuhnya belum tertidur terkejut. Ia membuka matanya dan menatap kearah Austin.
Austin meminta Fany jangan salah paham. Ia ingin dekat berinteraksi dengan anaknya.
"Apa kau punya perasaan padaku?" Austin tiba tiba bertanya seperti itu.
Fany langsung menggeleng cepat dan menjawab tidak. Dia tidak punya perasaan pada Austin. Padahal faktanya Fany sebenarnya sudah mulai mencintai Austin. Perlakuan manis Austin terhadap dirinya membuat Fany diam diam menyukai ayah dari calon anaknya itu.
Lain dengan Austin. Ia tersenyum dan mengatakan hal yang sama juga. Dia juga tidak punya perasaan apapun pada Fany. Tapi Entahlah, ia sendiri masih ragu dengan perasaannya saat ini terhadap Fany. Ia tidak suka Fany jauh darinya. Apalagi dekat dengan Charles sialan itu.
Austin kemudian berkata “Kalau begitu tidurlah. Aku sangat suka dengan posisi ini,” Masih dalam posisi memeluk Fany dan mengelus pelan perutnya.
‘Ya. Kau menyukai. Tapi bagaimana denganku? Bisa-bisa aku akan kena penyakit jantungan Austin’ batin Fany
"Iya," ucap Fany lalu memejam matanya dan mencoba menetralkan rasa gugup dan detak jantungnya. “Tuhan. Aku berharap semoga jantungku baik baik saja.’ batin Fany.
Mereka pun memejamkan matanya. Keduanya pun sama-sama merasakan jantung mereka yang berdetak kencang. Berdebar dengan irama yang berbeda dari biasanya. Meskipun begitu mereka tetap mengabaikan perasaannya dan memilih menutup mata sampai rasa kantuk menyerang mereka.
***
To Be Continued
Jangan lupa beri Like ya untuk mendukung karyaku
I love you all
^^^09/02/2022^^^