I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 29



Sebelum  Baca Vote Dulu


Happy Reading


***


Fany mencoba tersenyum walaupun saat ini dia mungkin merasa sangat kecewa. Tapi senyumannya langsung mengembang ketika dirinya mendengar bel rumah tiba-tiba berbunyi.


Fany pun langsung berlari menuju kearah pintu untuk menyambut kedatangan Austin.


Disaat sudah membuka pintu, senyum Fany langsung memudar dan kini bergantikan wajah kecewa. Padahal Fany berpikir kalau Austin sudah pulang ke rumah.


"Hai Fany." Bukan Austin tapi itu adalah Roy yang  berada dihadapan Fany.


Kedatangan Roy membuat Fany merasa kecewa. Dia sudah berharap bahwa Austinlah yang datang, bukannya Roy. "Dimana Austin?" Tanya Fany sambil mencari sosok Austin dibelakang Roy.


"Oh Pria itu. Dia sedang berada dikantor. Sekarang dia lagi lembur, makanya aku datang ke sini untuk menjemput pakaiannya. Kemungkinan dia akan tidur disana," pungkas Roy.


"Lagi lembur ya?" Tanya Fany dalam perasaan kecewa.


"Iya."jawab Roy.


"Tunggu sebentar ya. Aku akan mengambil pakaiannya,"  Fany langsung bergegas  berjalan menuju kamar milik Austin yang berada dilantai atas.


"Oke."


Begitu juga dengan Roy. Pria itu berjalan menuju sofa. Dia ingin duduk sembari menunggu Fany. "Aku tidak  mengerti sama hubungan mereka. Padahal tadi pagi mereka baik-baik saja.


" Tutur Roy sambil memegang dagunya.


"Malah aku harus berbohong lagi. Padahal sebenarnya Austin sedang berada di apartemenku," Roy mendesah pelan.


Flashback on...


"Roy. Buka pintunya!" Austin berteriak didepan pintu apartemen milik Roy dengan keadaan mabuk.


Pintu itu terbuka. Roy selalu pemilik rumah merasa terkejut melihat kehadiran Austin yang dalam keadaan tidak baik baik saja. "Ada apa denganmu?"


"Malam ini aku ingin menginap disini," putus Austin sambil berjalan masuk kedalam apartemen Roy dengan jalan yang sempoyongan.


"Austin berhenti! Jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kau sampai mabuk seperti ini?" Roy berjalan mengikuti Austin.


"Apa karena Sesilia?" Terka Roy tapi Austin tidak mendengarkannya.


"Atau karena Fany?" Timpal Roy dan itu sukses membuat langkah Austin terhenti.


"Jangan kau sebut nama itu didepanku. Aku sangat benci mendengar nama itu,"ucap Austin sambil mencengkram kaosnya Roy dengan kuat. Roy melihat kemarahan yang terpancar dimata hazel milik Austin.


"Oke." Ucap Roy sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


"Apa kau bisa melepaskannya? Bajuku jadi kusut karena ulahmu,"


Austin pun langsung melepaskan cengkramannya.


"Lagian kau juga tidak bisa tidur disini. Kau pulanglah ke rumah," ucap Roy setelah melihat Austin yang berjalan menuju kesofanya dan tidur disana.


"Aku malas pulang ke rumah," ujar Austin lalu memejamkan matanya. Pikirannya sedang kacau saat ini. Dia ingin beristirahat untuk menenangkan pikirannya.


"Ok. Aku akan mengijinkanmu menginap disini. Tapi cuma malam ini saja," Final Roy.


"Tapi aku tidak punya baju baru untuk kau pakai kekantor besok pagi,” lanjut Roy lagi.


"Kau bisa menjemputnya," Ucapan Austin membuat Roy menatap kesal kepada pria yang ada disofa itu. Dia memerintah dengan seenak jidatnya. ‘Enak benar nih orang,’


"Ok. Aku akan menjemputnya sekarang. Aku akan mengatakan pada Fany kalau kau sedang ada disini," ucap Roy.


"Jika kau mengatakan itu maka aku akan membunuhmu," kala Austin sudah membuka matanya. Ia menatap kearah Roy dengan tatapan yang membunuh.


"Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya. Apa yang terjadi dengan kalian? Perasaan tadi kalian baik baik saja,” ucap Roy.


Tidak ada jawaban. Austin tidak menjawabnya. Pria itu memilih untuk tidur karena kepalanya saat ini sedang sakit sekali memikirkan perkataan Fany dan kakaknya.


"Aku akan pergi ke mansionmu," Roy  berteriak sambil mengambil kunci mobilnya.


‘Apa yang akan kukatakan pada Fany nanti?’ batin Roy ketika sedang berjalan menuju parkiran mobil.


Flashback end


"Ini." Fany sudah ada di ruang tamu dan menyerahkan paper bag berisikan pakaian milik Austin kepada Roy.


"Semuanya sudah ada dalam paper itu," ucap Fany.


"Ok. Kalau begitu aku pergi dulu," Roy berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu harus berhati-hati karena ini sudah larut malam," ujar Fany.


"Terima kasih Fany,” Roy tersenyum karena merasakan kebaikan hati Fany.


Kemudian Fany mengantarkan Roy sampai pintu utama. Setelah Roy meninggalkan mansion itu, Fany langsung menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya.


"Nak. Daddymu saat ini tidak bisa pulang kerumah. Daddy lagi sibuk bekerja. Jadi jangan marah ya," ucap Fany sambil mengelus perutnya. Ia tengah berbicara pada janin yang sedang ia kandung itu. Ia dan calon bayi mereka sangat merindukan sosok Austin saat ini.


🌷🌷🌷🌷


Keesokanya paginya, diruang tamu terlihat Austin yang sudah rapi dengan kemeja yang dia kenakan. "Tidak biasanya kau pergi cepat kekantor," Roy muncul diruang tamu.


"Hari ini aku tidak pergi kekantor,"


"Jadi kau mau kemana?"


"Ada yang ingin aku selesaikan," ucap Austin serius.


"Apa itu?"


"Kau tidak perlu tahu,"  Austin berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Cih. Aku pun tidak mau peduli dengan urusanmu itu." ucap Roy.


"Tunggu! Apa hari ini semua pekerjaan dikantor kau serahkan padaku?" Tanya Roy pada Austin yang sudah ada diambang pintu apartemen.


"Iya.” Balas Austin dengan santai dan kemudian dia keluar dari apartemen itu.


"Dasar bedebah sialan. Kau selalu punya cara untuk menyiksaku Austin," ucap Roy berteriak dan merasa kesal.


🌷🌷🌷🌷


Hari ini Fany terlihat sedang duduk disofa sambil menikmati tehnya.


Ting...Tong...


Suara bel itu menganggu kegiatan Fany. ‘Siapa yang datang?’  batin Fany.


"Austin? Pasti bukan dia. Austinkan pasti sedang kerja dikantornya," terka Fany.


"Apa Mama?" lagi-lagi Fany mencoba untuk menerka.


Fany memutuskan pergi menuju pintu untuk melihat siapa yang sedang berkunjung ke mansion itu. Alangkah senangnya Fany saat sudah membuka pintu itu. Orang yang ia rindukan dari semalam kini sudah ada dihadapannya.


"Austin,"ucap Fany senang saat melihat orang yang di rindukannya kini sudah ada dihadapannya.


"Ini rumah siapa sayang?" ucap seseorang yang muncul dari balik badan Austin.


Ternyata dibelakang Austin, ada seseorang yang sedang bersama dengannya.


Mungkin kerena badannya terlalu kecil dan Austin berbadan tinggi sehingga dapat menutupinya dan Fany pun tidak dapat melihatnya.


"Sesilia. Perkenalkan dia adalah Fany." Austin secara tiba-tiba memperkenalkan Sesilia kepada Fany.


Fany jelas terkejut saat melihat seorang wanita ada dibelakang Austin. Dan hal yang paling mengejutkannya adalah saat Austin menyebut nama wanita itu. Ya dia adalah Sesilia. Kekasihnya Austin. Kini Sesilia sudah muncul. Apakah dia akan diabaikan atau bahkan akan disingkirkan. Itulah yang ada dipikirannya Fany saat ini.


Flashback on


"Sayang kau sudah datang?" ucap Sesilia.


“Iya.” Jawab Austin.


"Ayo ikut aku kesuatu tempat." ajak Austin.


"Kemana?" Tanya Sesilia dengan heran.


"Jangan banyak bertanya. Kamu ikut saja denganku. Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang dan ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Austin.


"Baiklah.” Ucap Sesilia. Sesilia mengira kalau Austin akan membawanya menemui Ibunya dan akan mengajaknya untuk menikah. Ternyata Austin malah membawa Sesilia ke mansionnya. Austin sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Sesilia.


Flashback end


"Siapa wanita ini sayang?" Tanya Sesilia.


"Tolong kau masuk kedalam rumah dan tunggu aku dikamar.  Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Sesilia," ucap Austin pada Fany.  Ada yang aneh dengan sikap Austin. Pria itu terlihat sedikit dingin padanya.


"Baik," ucap Fany kemudian masuk kedalam mansion dan menutup pintu itu.


"Siapa dia Austin?" Sesilia berteriak kepada Austin. Semua diluar ekspetasinya. Ia mengira Austin akan membawanya menemui ibu dari pria itu. Tapi yang ia temui seorang gadis yang tinggal satu atap dengan Austin.


Austin pun menghela nafasnya secara gusar dan dengan berat hati Austin berkata, "Sesilia, sebenarnya aku sudah menikah."


Sesilia terkejut mendengan penuturannya Austin. "Apa? Tidak. Pasti kau sedang bercandakan Austin," ungkap Sesilia yang tidak percaya.


"Aku tidak bercanda Sesilia," tutur Austin.


"Wanita yang ada didalam itu adalah istriku," ucap Austin.


"Tidak... Kau sedang berbohong denganku Austin. Kau sedang menghukumku, kan?" ucap Sesilia yang sudah menangis.


Sesilia mencoba tak percaya. Dia bertanya pada Austin kalau ini pasti hanya lelucon? Tapi Austin hanya diam hanya bisa meminta maaf pada Sesilia. Seolah itu penegasan kalau ini bukan lelucon. “Aku sudah menikah dengan wanita yang kau temui barusan.” Itulah  kenyataannya. Sesilia langsung jatuh duduk terkulai lemas di lantai itu.


"Tolong katakan kalau ini lelucon Austin." Ucap Sesilia yang masih berharap kalau perkataan Austin itu hanya lelucon belaka.


"Aku tidak berbohong, Sesil." Ucap Austin.


"Pantas saja, aku merasa ada yang berubah darimu. Aku dengan bodohnya tidak menyadari itu. Bahkan panggilanmu padaku juga sudah berubah Austin," pungkas Sesilia. Austin tidak memanggilnya dengan ‘sayang’ padanya.


"Kenapa hatimu bisa berpaling dengan cepat Austin?" Lanjut Sesilia lagi yang masih menangis.


"Maaf... Saat ini wanita itu sedang mengandung anakku.  Aku sebagai Ayah sudah tugasku untuk bertanggung jawab," ucap Austin yang membuat hati Sesilia semakin sakit.


"Aku mohon untuk menungguku. Setelah anakku lahir, aku akan menceraikannya dan akan menikahimu agar kau akan menjadi Ibu dari anakku," ucap Austin.


"Tidak Austin. Aku tidak mau jadi Ibu untuk anakmu yang tidak lahir dari rahimku," ucap Sesilia. Sesilia kemudian memilih pergi dan Austin mencoba untuk menghentikannya.


"Jangan mencoba untuk menghentikanku Austin atau aku akan semakin membencimu."ucap Sesilia dan kemudian dia berlari meninggalkan mansion itu.


***


Sedangkan dibalik pintu, Fany menangis mendengar perkataan Austin tadi.


‘Ibu pengganti. Apa aku hanya sebatas itu? Hm... Sadarlah Fany... Kau bukanlah siapanya Austin. Kenapa kau terlena hanya karena sikapnya yang manis padamu.’


Baru semalam Fany merasa senang karena perlakuan Austin yang manis, dan sekarang dihancurkan dengan ucapan pria itu yang bagaikan jarum menusuk hulu hatinya.


Ya Tiffany tidak pergi kekamarnya melainkan berdiri dibalik pintu dan mendengar semua perkataan mereka.


"Apa aku akan menyerahkan anakku disaat Austin menceraikanku?" Lirih Fany.


Tiba tiba Fany terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Dia melihat Austin sudah masuk kedalam, kemudian Fany refleks membalikkan badannya dan langsung menghapus air matanya.


"Aku tahu, kau pasti sudah mendengar semua perkataanku tadi,“ ungkap Austin.


"Baiklah. Berarti aku tidak perlu menjelaskan soal itu lagi," ucap Austin .


“Dengarkan aku baik-baik. Demi mempertahankan hubungan ini kau harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, seperti hari-hari sebelumnya. Kau jangan sampai memberitahukan hal yang kau dengar tadi kepada Ibu.  Biar aku sendiri yang akan memberitahukannya," ucap Austin.


“Baik.”


"Lalu___"  ucapan Austin terhenti sehingga membuat Fany sabar menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Austin.


“Lalu apa Austin?” Mencoba untuk terlihat baik baik saja.


Bukannya menjawab. Austin justru melepas cincin pernikahannya didepan Fany dan menaruh cincin itu di atas amplop cokelat yang dibawanya.


Rupanya Austin sudah mengurus surat perceraian dengan Fany. "Tolong kamu tanda tangani ini." Ucap Austin.


"Setelah anak itu lahir maka aku akan mengurus perceraian kita secepatnya," ucap Austin.


Tiffany mengambil amplop coklet itu lalu membuka untuk melihat isinya.


Dia terkejut membaca semua isi didalam surat cerai itu. Austin menjelaskan kalau saat bayi itu lahir, maka tidak ada lagi alasan untuk mereka mempertahankan pernikahan ini. Jadi otomatis mereka bercerai setelah bayi itu lahir. Dia akan memberikan kompensasi sesuai permintaan Fany. Dengan syarat hak asuh bayi itu akan jatuh ditangan Austin.


Bukan hanya itu, ada yang membuat Fany terkejut yaitu dia tidak diperboleh untuk bertemu dengan anaknya saat sudah lahir dan dia harus pergi meninggal kota itu sejauh mungkin.


Fany hanya diam, sekuat tenaga dia menahan tangisnya agar tak jatuh didepan Austin. Ini begitu menyakitkan hatinya. Dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya saat sudah lahir nanti.


"Kenapa aku tidak bisa menemui anakku nanti Austin?" Tanya Fany.


"Karena aku yang menginginkannya. Dan buang pikiranmu jauh-jauh kalau berniat untuk merebut hak asuhnya denganku karena itu tidak akan berhasil," ucap Austin.


"Aku sudah tahu kalau semua yang terjadi pada kita dan itu semua karena rencana kakakmu," ucap Austin.


"Apa maksudmu Austin?"


"Aku sudah mendengar semuanya Fany. Kau hamil anakku dan menikah denganku. Bahkan kau juga berniat ingin mengambil semua hartaku," ucap Austin sedikit berteriak.


"Meskipun aku sudah mengetahui semua rencana busuk keluargamu, aku masih tetap bersikap baik padamu. Itu semua karena saat ini kau sedang mengandung anakku. Karena itulah aku masih mengijinkanmu tinggal disini,”


"Tapi___" ucapan Fany terhenti karena Austin memotong perkataannya.


"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kau tanda tangani ini," ucap Austin.


Fany dengan kesedihan yang mendalam mau tak mau harus menandatangani surat cerai itu.


“Baiklah. Terimakasih Austin. Terimakasih karena kau mau menerima anak ini dan menyayanginya.”


Fany tampak mengambil pulpen yang ada diatas meja dan melakukan sesuatu pada dokumen itu. Setelah selesai, Fany berkata, "Aku tidak menginginkan kompensasi ini Austin, karena itu sama saja aku menjual anakku padamu."


Lalu Fany menyodorkan surat cerai itu kembali kepada Austin. Austin menerimanya dan pergi kekamarnya dan meninggalkan Fany yang tengah bersedih.


Tapi langkah Austin terhenti sejenak saat sedang berada ditangga dan dia berkata, "Ingat Fany. Aku tidak akan membiarkan rencana busuk kakakmu itu berhasil, karena aku yang akan memastikan keluarga Lee akan lebih hancur terlebih dahulu." Lalu Austin pergi.


Tiffany terduduk dilantai dan menangis ‘Apa benar jika Austinlah yang sudah mencelakai Mama dan membuat keluargaku hancur saat itu?’ batin Fany.


Lalu Fany mengambil cincin yang sudah di lepaskan oleh Austin tadi.


Itu sangat berharga baginya karena itu merupakan tanda ia pernah menikah dengan Austin. Dimana Fany yang dengan bodohnya telah jatuh hati pada pria itu.


***


To Be Continued


Bagaimana pendapat kalian dengan part ini?


Salam dariku


Insani Syahputri


^^^12 Feb 2022^^^