
Happy Reading
***
Pagi hari Austin bangun duluan. Dia melirik ke arah samping. Terlihat istrinya yang masih tertidur. “Kau sangat cantik sekali, Sayang.” Bisik Austin mengecup pipi kanan Fany.
Austin kemudian menyibak selimutnya dan beranjak dari kasur. Tak lupa ia membenahi selimut pada Fany
Austin mulai melakukan aktivitasnya, mulai dari mandi, mencocokan outfit yang akan ia pakai hari ini.
Kini ia sudah selesai memakai jas dan dasinya, kemudian Austin beranjak untuk keluar dari walk in closet. Lelaki itu melewati kasur tempat tidur mereka dan melihat Fany masih tertidur. Austin memaklumi itu. Fany masih tertidur sampai saat ini, itu semua karena kerjaan dia.
Kini Adam tengah ada di dapur. Bahkan sekarang ia menyiapkan sarapannya sendiri tanpa dibantu oleh pelayan. Itu karena ia sendiri yang minta.
Austin memang sudah mempekerjakan beberapa pelayan untuk membantu Fany dikarenakan masa kehamilan Fany yang tidak memungkinkan bagi wanita itu untuk mengerjakan semuanya sendirian.
Setelah selesai sarapan, Austin berjalan menuju garasi mobilnya dan memilih mobil apa yang akan ia pakai hari ini. Matanya mengarah pada Ferrari SF90 berwarna merah. Austin memutuskan untuk memakai mobil itu. Pintu garasi terbuka dan mobil itu segera keluar dari rumahnya membelah jalan.
***
Dengan wajah kusut, Yasmin keluar dari minimarket. Ia membeli belanjaan yang dia butuhkan. Ia membeli beberapa buah anggur dan stoberi. Entah kenapa dia ingin memakan itu.
Suara klakson mobil tiba-tiba mengejutkan Yasmin yang tengah melamun. Perasaan sedih mengerogoti hati Yasmin sirna kala melihat sosok lelaki yang ia kenal.
Yasmin tentu saja terkejut. Ia pun mencoba untuk kabur. Tapi orang itu berhasil menangkapnya dan membekap mulut Yasmin yang mencoba berteriak. Keadaan disekitar situ cukup sepi. Yasmin ingin mencoba melakukan perlawanan tapi tetap saja gagal. Kini dia dimasukkan ke kursi jok belakang.
Dan matanya sukses membulat kala melihat sesosok pria yang paling dia benci. Charles Addison. Kenapa pria itu yang harus berada di dalam mobil ini?
Pria yang menangkap Yasmin tadi adalah John. Tangan kanan Charles. Untuk itu Yasmin mencoba menghindarinya.
Ternyata tadi Charles sudah memperhatikan wanita kecil yang dia kenal. Kemudian dia memerintahkan John untuk membawa wanitanya masuk ke dalam, tentu saja dengan kehati-hatian karena ada calon penerusnya di perut Yasmin.
“Kau. Untuk apa kau membawaku kesini?” Tanya Yasmin
“Itu tidak penting. Sekarang ikut aku.” Tutur pria itu seenaknya.
“Apa maksudmu tuan addison. Kau mau membawaku kemana?” Yasmin ingin keluar tapi langsung dicegah oleh Charles.
Alih alih menjawab, Charles justru menutup pembatas bagian depan dengan kursi penumpang bagian belakang.
“Buka pintunya brengsek. Biarkan aku keluar aku d-da...Hmmpp,”
Charles tiba-tiba menaikan Yasmin untuk duduk dipangkuannya dan langsung mencium bibir wanita itu. Yasmin ingin menghindar tapi tangan besar pria itu menahan tekuk lehernya sehingga membuat Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan tidak membalas ciuman pria itu.
Bak seorang ahli kisser. Charles mengigit bibir bawah Yasmin sehingga wanita itu refleks membuka mulutnya membuat Charles leluasa memasukkan lidahnya sehingga mereka kini saling menyecap. Bukan Charles namanya kalau dirinya tidak bisa membuat lawannya membalas ciuman panas darinya. Cukup lama Charles mempermainkan membuat Yasmin tidak tahan dan ingin kehabisan nafas.
Charles yang mengetahui itu langsung melepas cumbuan itu sehingga tautan benang saliva terlihat dan putus kala ciuman itu terlepas. Yasmin menghirup udara dengan rakus. Sungguh dadanya terasa sesak tadi, dan sekarang sudah cukup membaik.
“Kau. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini. Apa kau belum cukup puas merendahkanku.”
“Sudah berapa minggu?” Charles justru bertanya hal lain.
“Apa??”
“Ini.” Jari telunjuk Charles mengarah pada perut Yasmin. Wanita itu terkejut. Apa Charles sudah mengetahuinya?
“Kenapa diam? Dia juga anakku.” Sedari tadi Yasmin hanya diam membuat Charles berdecak kesal.
“Sudah 4 minggu. Tuan, bayi ini bukan milikmu. Jangan terlalu percaya diri kali.” Yasmin membantah.
“Dasar wanita bodoh. Mau membodohiku, hm.”
“John. Kita ke apartku sekarang.” Perintah Charles pada John.
“Hei. Kau jangan seenaknya saja membawaku pergi. Turunkan aku, brengsek.”
“Diamlah. Kau terlalu berisik.”
Charles menulikan pendengaran. Ia memejamkan mata untuk tidur sembari menunggu mereka tiba di apartemen.
Tak terasa mobil mereka sudah tiba di apartemen milik Charles. Pria itu manarik paksa tangan Yasmin untuk ikut bersamanya masuk ke dalam apartemen.
Saat sampai di pintu, Charles melihat seorang wanita sedang menuggu di pintu itu.
“Theresa.”
Wanita itu berbalik. “Charles. Akhirnya kau pulang juga.”
Theresa tersenyum, tapi tidak dengan Yasmin. Wanita itu kebingungan. Dalam hatinya bertanya siapa dan apa hubungannya dengan Charles.
“Kau darimana saja? Aku sudah dua kali datang kesini tapi apartemenmu kosong.” Tutur Theresa.
“Untuk apa kau datang kesini? Aku tidak ada mengundangmu untuk datang kemari.”
“Charles. Aku ini tunanganmu.”
“Sejak kapan kita bertunangan. Itu masih rencana dari keluargaku, lagian aku tidak pernah menyetujuinya.”
“Apa maksudmu?”
Charles menghelas nafasnya sekali. Matanya menatap ke arah Yasmin yang hendak kabur dari situ.
“Kau mau kemana?” Charles menarik ujung baju belakang Yasmin sehingga wanita itu tidak berhasil pergi.
“Aku ingin pergi. Sepertinya urusan kalian penting sekali.” Yasmin tidak ingin mengganggu. Jadi lebih baik dia pergi bukan.
“Aku tidak mengijinkanmu pergi Yasmin.”
“Dan nona Theresa. Biar kuperjelas padamu. Rencana pertunangan itu tidak akan pernah terjadi.” Ujar Charles pada Theresa.
“Apa yang kau katakan Charles.” Theresa ingin marah tapi ia menahannya. Untuk itu ia ingin memptuk itu ia ingin mempertanyakan lagi tentang apa yang Charles katakan barusan. Ia berharap kalau tadi Charles tidak bersungguh-sungguh dalam omongannya tadi.
“Aku tidak pernah menginginkan pertunangan itu terjadi. Aku sudah memiliki calon istri yang ingin kunikahi.”
Yasmin yang mendengar itu langsung syok.
‘Siapa yang ingin dia nikahi?’ Yasmin menatap tajam ke arah Charles, tapi pria itu justru mengatakan sesuatu yang membuat Yasmin lebih syok lagi.
“Ini dia calon istriku. Aku lupa memberitaumu mengenai hal itu. Tapi karena kau sudah ada disini. Jadi aku akan mengenalkannya padamu.” Charles memperkenalkan Yasmin kepada Theresa.
“Kau sedang berbicara apa. Apa maksudmu___” Charles segera menutup mulut Yasmin. Pria itu tidak mengijinkan Yasmin bicara terlalu banyak tentang hubungan mereka yang masih rumit itu.
“Orangtuaku sudah membatalkan rencana itu. Mereka sudah melihat calon menantu mereka. Jadi kuharap kau segera mengerti Theresa.”
Theresa terdiam. “Semoga kau tidak memiliki sifat seperti Sesilia. Kupastikan kau akan menyesal jika berbuat sesuatu pada calon istriku.”
“Karena tidak ada lagi yang ingin dibahas, kau boleh pergi dari sini.” Dengan diam seribu bahasa, Theresa lantas pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya tentu sakit. Jadi karena itu dia memilih pergi dari apartemen Charles.
***
TBC
^^^04/04/2022^^^