I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 21



SEBELUM BACA VOTE DULU


HAPPY READING...


***


"Rapat sudah selesai. Kalian sudah boleh pergi dari ruangan ini," ucap Austin dan para staff langsung beranjak pergi.


"Tuan Nero kenapa? Tidak biasanya dia menutup rapat bulanan ini dengan cepat. Biasanya ia sangat teliti, tapi tadi kulihat ia sepertinya tidak fokus,” ucap salah seorang staff  ketika sudah diluar ruang rapat.


"Kau benar. Tapi aku pikir-pikir bos kita dan sekretaris pribadinya itu sama-sama aneh," ucap staff yang lainnya.


"Biarkan saja. Aku tidak peduli. Yang penting gaji kita besar disini," ucap salah seorang staff lagi. Mereka pun tertawa dan pergi menuju ruangannya masing masing.


🌹🌹🌹


Charles dan Fany kini sudah duduk bersantai bersama di ruang tv. Charles memuji kelihaian Fany dalam urusan pekerjaan membereskan dan merapikan perabotan rumah.


Fany hanya tersenyum kepada Charles. Ia sangat berterimakasih atas pujian yang dilayangkan Charles padanya. Tiba-tiba Tiffany merasa ada yang aneh pada perutnya. Seperti ada yang ingin bergelonjak ingin keluar dari dalam perutnya.


Charles yang melihat perubahan raut wajah Fany langsung khawatir karena wajah Fany terlihat pucat.


"Fany kamu kenapa?" Charles merasa khawatir.


"Dimana letak kamar mandimu?” Tanya Fany sambil memegang mulutnya, menahan sesuatu yang akan keluar sesuatu dari dalam perutnya.


"Ada di sana." Charles menunjukkan letak kamar mandinya.


Fany segera berlari menuju kamar mandi dan berjongkok dekat closet dan memuntahkan semua yang tadi ingin ia keluarkan dari perutnya. Keringat Fany pun bercucuran di seluruh wajahnya setelah memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Ia merasa sangat lemas sekali.


Charles pun datang menyusul ke kamar mandi tamu untuk memastikan keadaan Tiffany.


Saat sampai di sana, dia terkejut melihat Tiffany yang duduk terkelui lemas.


"Fany kamu kenapa?" Charles memegang pundak Fany.


"Aku baik-baik saja Charles. Kau jangan khawatir," ucap Fany sambil tersenyum.


"Tapi wajahmu pucat sekali Fany." Charles menatap wajah Fany dengan intens.


Fany hanya diam. Charles langsung memapah menuju ruang tv dan menduduk Fany di sofa.


"Charles bisa tolong ambilkan obat yang ada didalam tasku,"


"Obat?"


"Iya,"


Charles langsung menuju meja dekat sofa itu dan membuka tas milik Tiffany. Kemudian ia mengambil obat yang ada di dalam plastik. Charles mengeryitkan dahinya kala melihat obat vitamin untuk wanita hamil dan obat pereda mual. Apa Fany hamil? Pikirnya


Lalu Charles pergi ke dapur mengambil segelas air mineral dan memberinya pada Tiffany.


Fany langsung meminum obat itu. Beberepa menit kemudian barulah ia merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Kamu hamil Fany?" Tanya Charles dengan ragu-ragu. Pertanyaan yang sedari tadi menganggu pikirannya.


"Iya."


"Sudah berapa usia kandunganmu?"


"Sudah jalan 6 minggu Charles,"


"Tapi usia pernikahanmu belum ada sebulan Fany,"


"Sebenarnya aku sudah hamil sebelum menikah Charles. Aku jadi malu karena sudah mengatakanya. Ah. Aku tidak tau mau diletakkan dimana wajahku ini," ucap Tiffany merasa malu terhadap Charles sekarang.


Fany berfikir kalau Charles akan menganggapnya sebagai wanita yang tidak baik dan hina.


"Tidak perlu malu Fany. Aku yakin kalau kau wanita baik-baik Fany."


"Coba kamu ceritakan padaku. Kamu anggap saja aku sebagai teman curhatmu dan aku akan mendengar semua ceritamu. Aku yakin pasti ada yang kau sembunyikan," ucap Charles yang memang penasaran kenapa Fany bisa sampai seperti itu.


"Sebenarnya ada kesalahan yang terjadi padaku saat sedang berkunjung ke hotel.


Saat itu dia lagi mabuk dan pria itu ....kami pun melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan."


"Lalu dia tidak bertanggungjawab?"


"Akulah yang memintanya untuk tidak bertanggung jawab dan melupakan kejadian itu. Aku ingin melupakan kejadian itu dengan fokus pada pekerjaanku.


Sudah sampai sebulan setelah kejadian itu, barulah aku menyadari kalau diriku ternyata sedang mengandung anaknya."


"Jadi dia sudah mengetahui kalau kau hamil?"


"Sebenarnya aku berencana untuk tidak mencarinya dan tidak memberitahu kalau aku sedang mengandung anaknya karena aku pernah berjanji dan mengatakan padanya untuk tidak bertanggung jawab."


"Jadi dia tidak bertanggung jawab. Justru pria lain yang malah menikah denganmu?"


"Bukan seperti itu Charles. Dia sudah bertanggung jawab. Itu bermula saat aku ke rumah sakit dan bertemu dengan Ibunya. Aku benar-benar tidak menyadari hal itu. Lalu aku bertemu lagi dengan pria itu saat di kantor. Saat itu aku tidak sadarkan diri dan dia membawaku ke rumahnya. Disitulah ia sudah mengetahui kalau aku tengah hamil anaknya. Lalu Ibunya menyuruh kami untuk menikah."


"Jadi bagaimana responnya?"


"Dia cukup kaget. Kupikir ia tidak mau menerima keputusan ibunya. Jadi aku mengatakan pada mereka untuk mengugurkan bayi ini. Aku tau kenapa dia menolaknya, karena saat itu aku ingat dia pernah mengatakan kalau dia memiliki seorang kekasih yang sangat dia cintai. Aku tidak akan memaksanya."


"Jadi dia setuju dengan permintaanmu. Mengugurkan bayi ini,"


"Ya saat itu dia setuju. Lalu kami pergi ke rumah sakit. Kami sudah mengurus administrasinya. Tapi entah kenapa dia tiba tiba membatalkan rencana untuk mengugurkan bayi kami."


"Kau benar. Setidaknya dia masih menyayangi bayi ini."


"Kau bilang dia punya kekasih?"


"Iya.”


“Aku jadi mereka bersalah pada gadis itu. Aku pengganggu hubungan mereka dan membuat hubungan mereka jadi berantakan."


"Kau jangan berkata seperti itu Fany. Ini hanya kesalahan takdir yang sedang mempermainkanmu. Jadi sekarang dia menikah denganmu tanpa ada rasa cinta?"


"Aku tidak peduli soal cinta Charles. Dia sangat peduli dengan bayi ini sudah membuatku merasa senang."


"Jika orangtuanya tidak saling mencintai, bagaimana anak itu akan mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya Fany?" Kata Charles.


"Dimana sekarang kekasihnya berada?” Lanjut Charles.


"Aku tidak tahu Charles. Soalnya itu, dia tidak pernah menyinggungnya didepanku."


"Bagaimana jika kekasihnya tiba-tiba datang? Apa dia akan menceraikanmu dan meninggalkan kalian nantinya?"


"Aku sudah siap menerima kenyataan itu Charles. Jika dia melakukan itu dan menceraikanku maka aku hanya bisa menerimanya." ucap Fany.


"Lagian kami menikah karena kesalahan. Jadi aku harus menerima jika suatu saat dia akan menceraikanku," ucap Fany lagi.


"Siapa pria itu?  Kau bilang dia pernah datang perusahaanku."


"Dia... " Fany ragu untuk mengatakannya.


"Aku janji untuk tidak mengatakan pada orang lain. Ini akan menjadi rahasia diantara kita berdua." Charles tau kalau Fany takut mengatakan itu padanya.


"Dia Austin Nero." Jujur Fany.


"Apa?Austin?" Charles mengatupkan bibirnya yang tadinya terbuka karena terkejut mendengar perkataan Fany.


"Iya. Kau mengenalnya?"


"Dia rekan bisnisku dan kami juga berteman."


"Apa? Charles aku mohon padamu untuk berpura pura tidak tau dengan semua yang telah aku katakan tadi.”


“Jangan katakan padanya.” Mohon Fany lagi.


"Tapi kenapa Fany?"


"Karena aku tidak ingin ia membenciku. Aku takut dia tidak suka dan akan berdampak pada anakku nantinya," ucap Fany.


"Baiklah. Aku akan berpura seakan tidak tau. Kau tenang saja.”


"Terima kasih Charles."


"Diantara teman tidak perlu berterima kasih Fany."


Fany merasa senang dan lega mendapatkan teman untuk berbagi cerita dengan Charles.


Beruntung ia mengenal Charles. Waktu terus berjalan, Fany tidak sadar kalau dia sudah kebanyakan bicara. Ia menoleh kearah jendela dan melihat ternyata hari sudah malam.


Fany beranjak dari duduknya. Ia ingin pulang.


Kali ini ia memilih untuk jalan kaki karena jarak rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kediaman milik Charles.


Charles khawatir karena Fany memilih untuk pulang sendirian. Pria itupun memaksa Fany agar ia bisa menemani Fany untuk pulang.


"Tidak apa apa Charles. Aku bisa pulang sendiri.”


"Tidak Fany. Bahaya kalau kau pulang sendirian. Bagaimana jika nanti kau diculik para preman di kompleks ini?"


"Haha. Tidak mungkinlah Charles."


"Aku serius Fany. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Baiklah Charles. Aku tidak bisa menolak permintaanmu. Ayo antar aku pulang."


Charles senang. Ia pun bersiap menemani Fany pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Berjalan sambil bercerita membuat perjalanan mereka tidak terasa tiba di depan rumah Austin.


"Sekarang aku tidak heran lagi jika rumah besar ini milik suamimu," ucap Charles saat mereka sudah ada di depan gerbang.


Lalu sorot sinar lampu mobil menyilaukan Charles dan Tiffany. Mereka menoleh ke sumber cahaya dan mendapati Austin yang keluar dari mobil itu. Austin menatap penuh makna pada Charles, begitu juga sebaliknya.


Austin pun mendekat dan menyimpan banyak tanya dihatinya. Apa hubungan Charles dengan istrinya? Dia bahkan tak melepaskan pandangannya pada Charles yang tengah bersama istrinya di jam malam seperti ini.


‘Darimana mereka? Kenapa mereka bisa seakrab ini?Ini lagi, kenapa dia pulang jam malam seperti ini,’ Batin Austin sambil menatap kearah pria itu, seakan tidak suka dengan keberadaan Charles disitu.


***


To Be Continued...


Salam dari Author


Insani Syahputri


Love You All


^^^04 Februari 2022^^^