
**Sebelum Baca Vote dulu
Happy Reading...
(Sebelumnya**)
"Aku sudah menjadi pria tidak baik dimata Ibuku. Itu membuatku merasa bersalah.”
“Jadi untuk menebusnya, aku ingin menjadi Ayah yang baik untuk anakku. Tentu saja saat ini Sesilia masih satu-satunya untukku. Aku tidak tau berapa banyak waktu yang akan aku habiskan untukmu agar hatiku berpindah padamu. Jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa berjanji untuk itu. Tapi setidaknya untuk anak kita, aku akan menjadi Ayah yang baik. Jika kau bisa menerima ini, mari kita menikah." Ucap Austin lagi.
Fany menatap mata hazel milik Austin dalam.
Ia terharu mendengarnya dan senang. Apalagi saat Austin mengatakan "anak kita".
“Iya.” Jawab Fany kemudian ia juga mengatakan akan menjadi Ibu yang baik bagi anak mereka.
***
Austin dan Fany telah tiba disebuah mansion luas itu. Fany terlihat menatap kagum ke arah rumah besar tersebut.
"Rumah ini besar sekali.” Gumam Fany berkata sambil menatap kagum kearah bangunan mashion yang terkesan mewah dan elegan.
"Mari masuk. Ibu sudah menunggumu didalam."
"Ibu?" Fany merasa terkejut mendengar perkataan Austin. Fany melangkah kakinya mengikuti Austin dari belakang.
“Iya.” Mereka tiba dipintu utama Mansion yang masih dalam keadaan tertutup.
"Fany." Delila berucap kala wanita paruh baya itu telah membukakan
pintu dan melihat kedatangan Fany. Wanita itu menyambut dengan memeluk Fany. Raut wajah wanita itu terlihat sangat bahagia.
"Ibu sangat senang. Akhirnya kalian setuju juga untuk menikah.”
"Apa Ibu sangat senang?" Kini Austin yang bersuara.
"Hmm. Ibu sangat senang sekali, Austin. Terima kasih sayang." Delila segera memeluk putranya itu.
Austin dapat merasa kebahagiaan yang terpancar diraut wajah sang Ibu. Ibunya terlihat bahagia. Itulah yang membuat Austin tersenyum sambil memeluk erat sang ibu. Sungguh ia tidak tidak tega bila melihat air mata Ibunya jatuh. Itu membuat hatinya sangat sekali.
"Ibu ingin kalian menikah secepatnya. Kalau bisa minggu besok kalian harus menikah."
"Tapi Ibu, apa itu tidak terlalu cepat?" Ujar Austin.
Fany setuju dengan perkataan Austin. Ia juga terlalu terkejut disaat Ibunya Austin mengatakan bahwa pernikahan mereka akan diadakan secepatnya.
"Maaf bibi. Itu terlalu cepat sekali. Aku juga tidak ingin jika pernikahannya diadakan minggu besok." Ujar Fany.
"Kenapa tidak bisa Fany?" Austin Mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Tiffany.
"Karena minggu ini aku ingin pulang kekampung halaman untuk memberitahukan keluargaku yang disana."
"Dimana tempat tinggalmu sayang?” Tanya Delila.
"Saya tinggal di Shanghai Bibi"
"Kau benar Fany. Keluargamu juga harus mengetahuinya," ucap Delila.
"Austin. Kau harus menemani Fany untuk menemui keluarganya," ucap Delila.
"Aku ikut kesana. Ibu jangan bercanda." ucap Austin.
"Ibu tidak bercanda Austin." Ucap Delila.
"Ibu tahu sendiri kalau aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Ucap Austin.
"Ibu tidak mau tau. Kau harus pergi ke sana." Ucap Delila yang bersikeras dengan permintaannya.
"Ibu jangan egois." Ucap Austin.
"Ibu tidak egois Austin. Ibu melakukan ini agar kau bisa mengenali keluarga dari calon istrimu nanti." Ucap Delila.
"Tidak apa apa Bibi. Aku bisa pergi sendiri. Austin pasti sangat sibuk sekali. Aku tidak ingin menganggu pekerjaannya." Ucap Tiffany.
"Tidak apa-apa Fany. Kau jangan khawatir karena pekerjaannya akan di urus oleh Roy."
"Baiklah. Aku tidak bisa menolak kalau Ibu sudah memaksa." Ucap Austin.
"Kapan kau akan pergi ke sana?" Tanya Austin.
"Ibu sarankan kalau kalian pergi ke sana besok saja karena lebih cepat lebih baik biar pernikahan kalian bisa diadakan secepatnya." Saran Delila.
"Terserah Ibu." Ucap Austin.
"Tapi___" Ucap Fany tapi terhenti karena Austin memotong perkataannya.
"Besok kita akan ke sana dan aku akan menemanimu." Ucap Austin.
"Maaf karena sudah menganggu waktumu." Ucap Tiffany.
"Tidak apa-apa." Ucap Austin.
Setelah beberapa jam Fany akhirnya pamit pulang karena dia ingin mengemas barang-barang yang akan dia bawa besok.
"Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Austin.
"Tidak usah Austin. Aku akan pulang sendiri," tolak Fany.
"Ini sudah malam. Tidak baik kalau kau pulang sendiri." Ucap Austin.
"Austin benar sayang. Kau harus pulang bersamanya." Ucap Delila.
"Baik Bibi." Kata Tiffany.
"Bukan Bibi tapi Ibu.”
"Hm. Baik Ibu."
"Kami pergi dulu ya Ibu." Ucap Austin.
“Jangan ngebut,” perintah Delila pada Austin.
"Hati-hati di jalan. Beritahu Ibu Fany jika Austin membawa mobilnya ngebut."
"Baik Bu."
Austin pun melangkah kakinya menuju mobilnya dan di ikuti oleh Tiffany.
Sepertinya Austin mendengar perkataan Ibunya karena dia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil itu tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka terlihat diam dan keadaan mobil itu cukup hening karena mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Dan entah apa yang mereka pikirkan saat itu.
"Besok aku akan menjemputmu." Ucap Austin ketika sudah sampai di halaman rumah kontrakan Fany.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah mengantarkanku." Ucap Fany dan setelah itu dia keluar dari mobil.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Austin.
"Iya." Balas Fany dan Austin pun melajukan mobilnya.
"Aku tidak tahu apakah dia terpaksa menikahiku atau tidak." Ucap Fany dan masuk ke dalam rumahnya.
Di apartemennya Austin
"Apakah aku sudah melakukan hal yang benar?" Ucap Austin.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu saat kau datang kembali nanti.” Ucap Austin sambil menatap foto Sesilia.
Dirumah terlihat Fany sudah selesai mandi.
Drrrtt ddrrrt... (Suara dering Handphone).
"Siapa yang menelpon ya?" Ucap Fany dan pergi menuju ranjangnya untuk mengambil handphone.
"Halo Della." Ucap Fany saat mengetahui bahwa Della yang menelponnya.
"Bagaimana kabar mu?" Ucap Della.
"Aku sudah baik-baik saja. Kau jangan khawatir." Ucap Fany.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja."
"Eh kau tahu kalau Tina sudah mengundurkan diri dari perusahaan." Ucap Della lagi.
"Apa! Kenapa dia mengundurkan diri?” Tanya Fany terlihat syok saat mendapat berita itu.
"Karena tuan Austin tidak ingin dia ada di perusahaan itu. Jika dia tidak melakukannya, maka tuan Austin akan melaporkan kejadian itu ke kantor polisi." Tutur Della.
"Apa Austin berkata seperti itu?" Tanya Austin.
"Iya."
"Aku boleh minta tolong.”
“Apa tuh?” Tanya Della.
“Minta izin sama tuan Charles kalau aku tidak bisa datang ke kantor beberapa hari kedepan,"
"Kenapa?"
"Aku mau pulang ke kampung halamanku."
"Kenapa tiba-tiba mendadak?"
"Tiba-tiba aku sangat merindukan Ayah dan saudaraku."
"Baiklah. Aku akan memberitahu tuan Charles"
"Terimakasih."
"Kalau begitu sampai sini dulu ya kita mengobrolnya karena aku mau mengemas barang yang mau kubawa besok."
"Baiklah. Semoga lancar sampai di sana.
I Love You."
"Terimakasih.” Ucap Fany lalu mematikan panggilan.
"Dasar kau Della." Ucap Fany sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia membereskan segala keperluan yang akan di bawa besok.
"Akhirnya selesai juga. Aku mengatuk sekali." Ucap Fany lalu beranjak menuju kasurnya dan tidur.
***
Fany tidak mengerti kenapa Austin harus ikut ke kampung halamannya?
Dimana tempat tinggalnya sangat jauh sekali.
Fany sudah mengabari ayahnya kalau dia akan mengunjunginya. Bahkan Fany juga memberitau kalau ia akan segera menikah.
Setelah beberapa lama pesawatnya mengudara akhirnya mereka sampai di Shanghai.
Kemudian mereka menaiki mobil untuk menuju rumah Fany.
"Wah ternyata sudah banyak yang berubah di sini padahal baru satu tahun lebih aku tidak pulang." Ucap Fany melihat bangunan tinggi dari dalam mobil.
Austin terdiam tanpa arti dan hanya melihat Fany tengah sibuk mengamati perubahan kampung halamannya. Mobil mereka pun tiba di rumah yang cukup sederhana.
Keluarga Fany memang sederhana. Dulu mereka sempat tinggal di rumah yang besar tapi karena perusahaan Ayahnya mengalami kebangkrutan dan membuat mereka jatuh miskin.
Saudara laki-laki Fany yang bernama Alexander Lee sempat meminta bantuan kepada perusahaan lain tapi perusahaan itu tidak menepati janjinya dan membuat perusahaan mereka memang tidak bisa untuk ditolong lagi dan terpaksa harus gulung tikar.
Setelah beberapa minggu mengalami kebangkrutan, Ibu Fany meninggal dunia karena kecelakaan mobil dan itu disaksikan oleh saudaranya Fany.
Fany langsung turun dari mobil dan berlari kecil menuju rumah yang sangat dia rindu. Dia meninggalkan Austin yang masih ada di dalam mobil karena tidak sabar lagi untuk bertemu dengan orang yang sangat dia cintai.
"Ayah. Aku sangat merindukanmu." Ucap Fany sambil memeluk Ayahnya dengan erat.
"Apa kau tidak merindukan kakakmu ini?" Ucap laki-laki itu.
"Aku juga merindukanmu kak Alex." Ucap Tiffany.
"Mana calon suamimu sayang? Katamu dia datang bersamamu ke sini."ucap Ayah Fany mencari keberadaan calon menantunya.
"Nah itu dia Ayah." Ucap Tiffany sambil menunjuk kearah pintu dimana Austin sudah ada disitu.
"Kak Alex. Tunggu lepaskan tanganku." Ucap Fany karena Alex tiba-tiba menarik tangannya.
"Ikut kakak sebentar. Ada yang mau kakak bicarakan." Ucap Alex membawa Fany kekamar milik Fany.
Sesampainya disana Alex dengan segera mengunci pintu itu. "Apa yang ingin kakak bicarakan?" Ujar Fany.
"Kau mau menikah dengannya?" Ucap Alex.
"Iya."
"Kakak tidak setuju."
"Tapi kenapa kak?"
Alex tidak menjawab pertanyaan adiknya."Apa tidak ada laki-laki lain yang ingin kau nikahi selain dia?"
"Aku harus menikah dengannya kak."
"Tidak bisa Fany. Kenapa kau membantah perkataan kakak?"
"Karena aku memang tidak bisa menikah dengan pria lain disaat aku mengandung anaknya." Tutur Fany.
"Apa kau bilang? Mengandung anaknya? Apa kau hamil?" Ucap Alex.
"Iya." Uca Fany dan itu sukses membuat Alex menampar pipi Fany.
"Kakak menamparku?" Ucap Fany yang menangis sambil memegang pipinya.
"Kenapa kau bisa mengandung anaknya? Apa dia memaksamu?”
"Aku tau kalau kau wanita baik-baik Fany dan kau tidak akan pernah mau melakukan hal kotor itu. Aku akan membunuhnya." Ucap Alex yang ingin menemui Austin untuk memberi pelajaran padanya karena telah membuat adiknya sampai hamil.
"Jangan Kak." ucap Fany memeluk kakaknya dari belakang untuk menenangkan Alex yang tengah marah.
"Aku akan menjelaskan semuanya kak." Ucap Fany.
"Apa yang ingin kau jelaskan Fany?"
"Waktu itu aku sedang menemui seseorang di sebuah hotel kak. Saat itu aku tengah menolong Austin yang terlihat sangat mabuk dan semuanya terjadi begitu saja. Dia tidak bersalah sepenuhnya. Semua karena pengaruh alkohol."
'Pantas saja pintunya sudah terkunci saat itu. Fany ternyata ada disana,' batin Alex.
"Maafkan kakak, Fany." Alex memeluk adiknya.
"Iya kak. Tapi kenapa kakak tidak ingin kalau aku menikah dengannya?"
"Karena kakak tidak menyukainya."
"Tapi aku harus menikah dengannya. Jadi kakak harus setuju."
"Hmm."
'Tapi Kakak tetap tidak akan menyukainya karena dia telah membuat perusahaan Ayah bangkrut. Berkat Ayah Austinlah, semua para investor tidak ingin memasukkan dana untuk perusahaan kita, Jadi kakak harus membalaskan dendam untuknya. Mobil pria itu bahkan sudah menghilangkan nyawa Ibu, Fany.' Batin Alex.
"Kakak jangan beritahu Ayah ya."
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita ketemu calon suamimu."
Mereka keluar dari kamar dan bertemu dengan Austin yang tengah berbincang dengan ayah mereka didekat meja makan.
"Perkenalkan. Saya kakaknya Alexander Lee." Ucap Alex mengulurkan tangan kepadanya Austin.
"Austin Nero. Calon suaminya adikmu." Ucap Austin menjabat tangannya Alex.
"Sudah. Ayo kita makan dulu." Ucap Ayah Tiffany.
Mereka pun duduk dan makan dengan tenang.
Fany menaruh lauk di piringnya Austin dan itu pun langsung membuat Thomas ayahnya Fany melotot kepada putrinya.
Ternyata Ayahnya cemburu dan tidak rela dengan keputusan Tiffany untuk langsung menikah. Thomas tidak mengetahui kalau putrinya tengah mengandung cucunya.
Dia cemburu karena sepenting apa Austin itu di mata putrinya sampai-sampai Fany mengabaikannya saat makan. Biasanya Fany selalu meletakkan lauk di piringnya tapi sekarang dia tidak melakukannya.
Jadi tidak mau memberikan restu semudah itu. Dia bahkan sudah membuat rencana untuk mengetes calon menantunya itu. Kalau calon menantunya itu gagal dalam satu hal saja maka mereka tidak boleh menikah. Lain dengan Alexander yang menatap tajam ke arah Austin dan saat Austin menoleh ke arahnya dia langsung berpura-pura tersenyum.
Fany sangat perhatian pada Austin sampai-sampai membuat ayahnya cemburu. Wajar saja Fany seperti itu karena Austin adalah tamu di rumah mereka dan akan menjadi suaminya.
Melihat kecemburuan Ayahnya, Fany langsung berusaha merayu Ayahnya dengan memberinya perhatian yang sama seperti yang di lakukannya pada Austin.
Sambil makan, Ayah tak buang waktu untuk menginterogasi Austin.
"Apa pekerjaanmu nak?"
"Saya bekerja di perusahaan yang saya jalankan sendiri, Mr Thomas"
"Jadi kau Ceo di perusahaanmu."
"Bisa di bilang begitu." Austin menjelaskan bahwa perusahaannya bergerak di bidang IT dan sejenis dalam pengembangan Software lainnya.
"Saya hanya buka usaha rumah makan kecil disini." Ucap Thomas dan Austin hanya tersenyum.
Malam ini Austin terpaksa harus tidur di sofa karena tidak ada ruang lagi dan itu membuat Fany tidak enak hati. Tengah malam, Ayah Tiffany mengendap-endap keluar kamar.
Mengecek apakah Austin sudah tidur atau belum.
"Aku akan setujui kalian menikah." Ucap Thomas dan pergi menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Ayah Fany mengajak Austin lari pagi.
"Ke mana mereka Kak Alex?" Tanya Tiffany.
"Mereka pergi lari pagi."
"Kakak tidak ikut?"
"Malas."
"Baiklah. Kalau kakak berkata seperti itu."
Ayah Fany dan Austin pun sudah sampai di rumah dan Thomas langsung masuk ke dalam rumahnya. Fany langsung menemui Austin yang tengah duduk di kursi depan rumah.
"Maaf karna semalam membuat orang terhormat sepertimu tidur di sofa." Ucap Tiffany.
"Tidak apa apa. Lagian aku juga sering tidur di sofa apartemen."
"Oh Begitu."
"Apa Ayah ada menyulitkanmu?"
"Tidak ada. Justru aku malah senang berbicara dan bercanda dengan ayahmu."
“Aku baru tau kalau kau itu orang yang humoris.”
"Tidak terlalu begitu. Hanya sesekali saja dan pada orang tertentu saja,”
"Beruntung ya Sesilia punya kekasih sepertimu."
"Hmm."
"Apa kau punya orang yang kau cintai?" Tanya Austin.
"Hmm ada."
"Apa kau masih mencintainya?"
"Mungkin perasaan itu masih ada."
"Kau harus melupakannya?" Ucap Austin yang sepertinya tidak menyukai jawaban Fany.
"Kenapa?"
"Karena kau akan segera menikah." Ucap Austin dan masuk kedalam rumah.
🌷🌷🌷
**To be Continued...
Love you all
By Insani Syahputri**
^^^30-01-22^^^