I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 46



Sebelum baca beri vote dan like dulu teman teman


Happy Reading


(Sebelumnya)


Austin sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Austin sedang chattingan dengan seseorang. Terlihat dari mata pria itu yang serius dan jarinya dengan cepat dan gesit mengetik di papan tombol keyboard ponsel pria itu.


‘Dia sedang chat dengan siapa?’ Batin Yasmin yang sangat penasaran sekali.


***


Sebuah mobil memasuki perkarangan luas mansion. Pria memakai kemeja berwarna navy dengan lengan yang sudah tergulung tak beraturan.


“Ayo.” Ajak Roy membawa gadis itu masuk ke mansion milik Austin.


Ketiga berjalan menuju pintu utama. Sesampainya disana, pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang terlihat heran.


“Siapa dia?” Tanya Delila.


“Nanti Austin jelaskan.” Pria itu masuk kedalam. Ia ingin mencari seseorang yang sudah membuatnya rindu uring uringan.


Dia mengedarkan pandangannya mencari istri kecilnya itu. “Sayang.” Panggil Austin.


Austin seperti mendapat sinyal untuk membawanya pergi  menuju ke dapur. Ia memiliki firasat kalau sang istri pasti ada disana. Dugaan Austin benar, ia melihat istrinya tengah menyeduhkan susu hamil untuk diminumnya.


Saat wanita itu ingin minum, Austin menyampirkan tangannya dipinggang wanita itu. Austin memeluknya pelan dari belakang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


“Austin. Awas... Aku mau minum. Biarkan aku tenang sebentar saja.” Cebir Fany. Ia masih kesal pada pria itu.


“Minum saja. Aku sudah nyaman seperti ini.”  Austin tak mengindahkan perkataan Fany.


Fany terpaksa meminum susu hamil yang sudah ia seduh itu sampai tandas. “Enak?” Tanya Austin.


“Menurutmu?” Fany mendelik malas.


“Hehe. Aku tidak tau. Tapi susu yang paling nikmat cuma ini.” Ucap Austin sambil meletakkan tangannya di dada wanita itu. Fany marah ia langsung menepiskan tangan Austin yang kurang ajar itu jauh dari dadanya. “Dasar mesum.”


Fany pergi meninggalkan Austin keluar dari dapur untuk menemui ibu mertuanya. Saat sudah keluar dari dapur, Fany menatap heran dan penuh tanya ketika melihat presensi seorang gadis ada di dekat pintu utama bersama dengan Roy dan Ibu mertuanya. Mereka sepertinya tengah berbincang.


Fany mendekat, “Dia siapa?” Tanya Fany menatap ke arah Roy lalu beralih pada gadis itu.


“Perkenalkan saya Yasmin Roxana.” Gadis itu memperkenalkan diri.


“Tiffany.” balas Fany.


“Sayang.” Suara Austin terdengar. Kini Fany menatap ke arah sang suami berharap memberi jawaban padanya. Ia merasa seperti devaju senfan kejadian hari ini.


“Oh aku lupa...” Seakan mengerti dengan tatapan Fany, Austin pun mulai menjelaskan pada Fany. Semuanya tanpa ada yang kurang maupun ditambahkan.


“Yasmin. Dia Fany. Istriku.” Ucap Austin.


“Baiklah. Malam ini biarkan dia disini. Besok Ibu akan mengajak tinggal bersama Ibu.” Final Delila. Wanita paruh baya itu belum dapat menilai karakter gadis yang ada dihadapannya ini. Tapi untuk was was, ia tidak ingin gadis ini tinggal lama lama disini. Delila cukup kasihan kalau gadis ini anak yatimp piatu dari panti asuhan yang hendak dijual pada seseorang lelaki bejat.


“Terima kasih Nyonya.” Ujar Yasmin.


“Kami ke kamar dulu. Ayo sayang.” Austin menarik pelan tangan istrinya meninggalkan mereka menuju kamar.


‘Ternyata dia sudah memiliki istri,” batin Yasmin tersenyum tipis.


“Nak Roy. Malam ini kau tidur disini. Kau pasti lelah sekali.”


“Baiklah Bibi. Bibi memang yang terbaik.”


Ketiga masuk kedalam, tak lupa Delila mengunci pintu itu dan berjalan mendekati Yasmin.


“Baik Bibi.”


***


Dikamar Fany tengah duduk termenung dibalkon sambil memikirkan seorang gadis yang pulang bersama suaminya itu. Fany merasa devaju kala mengingat kejadian saat dengan Sesilia dulu. Sedangkan Austin, pria itu kini sedang mandi. Fany membuang nafas kasar. Ia tengah memikirkan sesuatu. Fany hanya takut kalau gadis itu akan mengambil Austinnya.


Austin sudah selesai mandi. Pria itu lagi lagi mencari keberadaan sang istri. Ternyata Fany ada dibalkon tengah termenung disana. Austin melangkah kakinya menemui Fany.


Fany terkejut kala ada orang yang memeluknya dari belakang. Ia tersenyum dan Austin tidak tau itu. Fany berbalik dan menepiskan tangan suaminya sehingga pelukan itu terlepas.


“Jangan peluk aku. Peluk saja wanita yang kau temui dipesta sana.”


Austin tidak menjawabnya. Dia malah langsung mencium bibir Fany dan memeluknya lagi tapi kali ini begitu erat. Austin tahu hanya dengan cara seperti itu dia bisa meredam kecemburuan sang istri.


“Kau marah. Maafkan sayang aku. Aku hanya bercanda sayang.”


“Aku tidak marah. Selingkuh saja sana.”


“Tidak mau. Maafkan aku sayang.”


Austin mengecup bibir sang istri berkali kali.


Dengan sedikit gugup Fany pun bertanya "Apa yang kau lakukan? Apa kau sengaja ingin membuatnya terpesona dan aku tidak jadi marah padamu?" Walau pun saat ini dia sedang marah tapi Fany menerima ciuman itu berkali kali dan membalas pelukan hangat sang suami.


"Hmm iya. Tapi aku minta maaf ya. Aku janji tidak akan membuatmu marah lagi," ucap Austin manja. Sungguh menggemaskan pria ini malam ini.


Fany seolah terhipnotis dan mengaku kalau dia tidak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya dia tidak ingin semudah ini memaafkan Austin.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu.”


Mendengar hal itu membuat Austin tersenyum licik. Ia sepertinya ingin melakukan sesuatu pada Fany, tapi wanita itu tidak mendapatkan sinyal itu.


“Kali ini giliranku. Aku akan menghukummu karena mengabaikanku saat berada di Seattle." Austin mendadak mengendong Fany ala Bride Style dan membawanya menuju kamar mereka.


Saat sudah sampai di dalam kamar, Austin langsung membaringkan tubuh Fany dengan pelan di atas kasur empuk mereka.


Lalu Austin dengan cepat mengukung tubuh Tiffany agar wanita itu tidak kabur.


"Apa yang kau lakukan Austin?" Tanya Fany.


"Menghukummu tentunya,” ucap Austin yang tersenyum nakal.


“Itu kesalahanmu. Kenapa harus aku yang dihukum?” Fany mencoba memberontak ingin keluar dari kukungan Austin.


Austin terkekeh, “Itu memang salahku, tapi bukan berarti kau harus mengabaikan telpon dari suamimu sayang. Kau membuatku mati dibunuh rasa rindu disana,  jadi aku ingin kau membayarnya sekarang.”


"Ingat Austin. Aku tengah mengandung anak kita," ucap Fany yang menggunakan calon anak mereka sebagai pawang  agar suaminya itu tidak jadi melanjutkan aksinya.


"Tentu saja. Aku selalu mengingat itu Fany. Aku akan tetap melanjutkan hukuman untukmu tanpa melukainya," ucap Austin. Tanpa banyak bicara lagi, Austin pun memulai menjalankan aksinya. Mulai dari mencium sampai mengecap setiap inci dari lekuk tubuh istrinya.


Sedangkan Fany hanya bisa pasrah atas setiap perlakuan dari Austin yang begitu bergairah dan nikmat.


Waktu berjalan dengan cepat. Mereka pun kini saling menikmati permainan yang mereka ciptakan sendiri sehingga permainan itu baru berakhir saat Tiffany sudah merasa begitu lelah.


Tiffany merasa begitu lelah bercampur dengan kantuk yang sudah menyerang akhirnya membuat dia langsung tertidur.


***


To Be Continued


By Insani Syahputri


^^^08 Maret 2022^^^