I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 30



Sebelum Baca Vote Dulu


Happy Reading


(Sebelumnya)


Fany terduduk dilantai dan menangis. ‘Apa benar jika Austinlah yang sudah mencelakai Mama dan membuat keluargaku hancur.’ batin Fany.


Lalu Fany mengambil cincin yang sudah dilepaskan oleh Austin tadi. Cincin itu sangat berharga baginya, karena itu merupakan bukti bahwa dia pernah terikat oleh pernikahan dengan Austin.


🌷🌷🌷


Dimalam hari Fany duduk sendirian dihalaman depan dengan perasaan sedih. Hatinya cukup sedih mendengar perkataan Austin tadi. Tiba-tiba suara dering hp mengejutkan Fany dari lamunannya. Ternyata itu adalah telepon dari Ayahnya. Ketika melihat nama ‘Ayah’ tertera dilayar handphonenya.  Fany langsung menghapus air matanya dan langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo Ayah,"


"Ada apa? Apakah kau sedang menangis sayang?" Suara khawatir Thomas terdengar dari seberang telepon. Pria disana cukup terkejut mendengar suara Fany yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Tidak Ayah. Aku tidak sedang menangis," Fany berbohong pada ayahnya.


"Tapi kenapa suaramu kedengaran seperti baru menangis sayang?"


"Aku hanya sedang flu Ayah,  jadi suaraku sedikit terdengar berbeda,"


"Benarkah?"


"Iya Ayah. Apa Ayah tidak mempercayaiku?"


"Baiklah. Ayah sangat mempercayaimu. Dimana suamimu? Ayah ingin berbicara dengannya."


"Austin tidak sedang dirumah, Ayah. Dia masih dikantor bersama Roy. Hari ini dia lagi lembur di kantornya," ucap Fany yang lagi-lagi berbohong pada Ayahnya. Fany sengaja berbohong lagi agar Ayah tidak tahu apa yang sedang terjadinya padanya. Dia juga tidak  ingin Ayahnya menjadi khawatir padanya.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Thomas.


"Kami baik-baik saja, Ayah. Tidak ada terjadi sesuatu pada kami," Fany mencoba menyakinkan ayahnya.


"Baiklah. Kalau begitu Ayah tutup teleponnya. Jaga kesehatanmu ya sayang," pesan Thomas pada putrinya.


"Baik Ayah,"


"Katakan pada Austin untuk selalu menjagamu dengan baik," ucap Thomas.


"Aku akan mengatakan itu padanya Ayah," Fany tersenyum miris mendengar perkataan ayahnya. Itu mungkin tidak akan terjadi, mengingat perkataan Austin tadi. Pria itu sudah bersikap dingin padanya.


Setelah telepon itu usai. Tanpa diketahui Fany, ternyata Austin mendengar semuanya dari tempat pria berdiri.


‘Maafkan aku Ayah. Aku terpaksa berbohong. Itu karena aku tidak ingin Ayah menjadi khawatir setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya,’ batin Fany sambil menangis.


"Kau harus kuat, Fany. Kau harus kuat, setidaknya sampai kau berpisah dengan Austin," gumam Fany mencoba untuk menguatkan dirinya.


Austin masih ada ditempatnya berdiri mendengar dengan  jelas apa yang oleh Tiffany katakan. Pria itu sangat terusik mendengar kalimat Fany. Hati nuraninya terganggu mendengar semua itu dan jadi merasa bersalah setelah melakukan hal yang membuat Fany bersedih. Tiba tiba tanpa ada ekspresi, Austin memilih pergi ke kamarnya.


Pria itu kini sudah berada diruangan kamar miliknya. Austin mengingat kenangan saat tidur bersama Fany diatas kasur itu. Sekejap ingatannya tertuju pada Sesilia. Austin  mengenang saat saat bersama dengan Sesilia yang berisi kenangan romantis mereka bersama.


Ya Sesilia, wanita yang dia cintai namun tak bisa dia miliki.


"Sesilia. Seandainya kau datang kehotel saat itu. Ini semua pasti tidak akan terjadi," ucap Austin yang berteriak sambil menangis. Ia masih merutuki masa lalu yang tidak ia bisa putar dan ia perbaiki.


"Fany. Seandainya kamu tidak ada niat untuk menghancurkan keluargaku. Saat ini kita pasti sudah bersama dan hidup bahagia. Aku sudah  mulai menyukaimu dan menerimamu sebagai istriku tapi kau malah menghancurkannya," ucap Austin lagi. Pria itu tengah dilema.


"Tuhan. Kenapa kau mempermainkan takdirku?" Ucapan Austin terdengar pilu. Austin meninju dinding kamarnya sampai membuat tangannya terluka. Malam ini Austin terlihat sedih dan frustrasi yang sudah bercampuk-aduk. Bahkan Austin mencoba untuk tertawa didalam tangisnya. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Tawa kesedihan, itulah yang dirasakan Austin saat ini.


Sementara itu dikamar lainnya, Fany terduduk lemah diatas kasur itu.


Dia juga merasakan kesedihan, sama halnya dengan yang di rasakan oleh Austin.


Fany menangis dan meluapkan kesedihannya. Fany menyandarkan kepalanya diatas kedua lengan yang bertumpu dikedua lututnya. Ia tidak sanggup untuk mengangkat kepalanya.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya Austin terlihat sudah selesai mandi. Saat ini ia sedang memilih dan memakai setelan jas yang ada di walk in clocet miliknya.


Setelah bersiap-siap, Austin turun dari lantai atas. Ketika sudah sampai lantai bawah dia melihat Fany sudah menyiapkan sarapan pagi. Meskipun hubungan mereka sedikit renggang karena kejadian kemarin, tidak membuat Fany melupakan tugasnya sebgai seorang istri.


Fany akan tetap menjalankan tugasnya, Ya setidaknya  sampai anak ini lahir. Setelah semuanya berakhir, dia akan pergi dari rumah ini bahkan dari negara ini juga.


Austin yang melihat itu mencoba untuk mengabaikannya. Tanpa mempedulikan Fany, Ia langsung keluar dari rumah dan menunggu mobil jemputan didepan gerbang untuk ke kantornya .


Saat ini Austin tengah menunggu Roy untuk menjemputnya. Fany yang melihat Austin keluar langsung beranjak dan pergi keluar dari rumah juga. Ia ingin memberikan bekal makanan untuk Austin bawa kekantor.


Sesampai disana, dari kejauhan Fany masih melihat suaminya yang sudah siap menunggu mobil jemputan. Fany tersenyum kala ia melihat Austin yang sangat tampan dengan setelan jas yang dia kenakan hari ini. Meskipun hari ini bukan dia yang memilih pakaian itu.


Ah. Austin memakai apapun akan tetap terlihat tampan dan mempesona tentunya.


Fany tersenyum kearah Austin, merasa seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Ia ingin memberikan bekal itu pada Austin. Tapi belum sampai ia mendekati pria itu, tiba tiba Austin memasuki mobil yang baru tiba.


Austin pergi begitu saja. Meninggalkan Fany yang terdiam memegang bungkusan bekal makanan yang akan ia beri pada suaminya. Fany yakin kalau Austin pasti melihat bekal itu.


Tapi... Fany hanya bisa mendesah pelan dan tersenyum pahit. Roy yang menyaksikan itu hanya mengklaksonkan mobilnya kepada Fany. Wanita itu hanya membalas dengan lambaian tangan. Tidak tau apakah mereka melihatnya atau tidak?


‘Kupikir, disaat kau membawaku kekantormu. Aku mengira kau sudah mau menerimaku dan akan bisa hidup bersamamu. Tapi ternyata itu hanya khayalanku saja,’ batin  Fany saat menatap kepergian mobil suaminya.


***


Disofa terlihat seorang gadis yang duduk dengan mata yang terlihat sedikit bengkak. Ia baru selesai menangis. Kini gadis itu hanya duduk sambil termenung.


"Kau kenapa Sesilia? Dari semalam kau hanya menangis saja?" Tanya Theresa. Sahabat dari Sesilia. Gadis yang termenung itu adalah Sesilia. Semalam dia datang ke apartemen Theresa, sahabatnya. Untuk meluapkan kesedihan yang tidak diketahui sebabnya oleh Theresa.


Jelas sekarang Theresa bingung dengan sikap Sesilia yang tidak tahu kenapa sahabat itu hanya menangis dari semalam. Sesilia tidak mau bercerita dengannya.


"Coba cerita padaku. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu? Kenapa kau sampai kau seperti ini?".


"Apa Austin menyakitimu?" Tebak Theresa.


"Dia sudah menikah kak," ungkap Sesilia sambil menangis.


Theresa sudah menduga, pasti itu karena Austin. Tunggu. "Apa kau bilang? Menikah?” Theresa terkejut.


“Kau pasti sedang bercandakan?" Tanya Theresa. Dia mencoba untuk memastikannya lagi.


"Kakak juga berpikir seperti itu, kan? Sama aku juga. Tapi ini benar Kak, Austin sudah menikah. Bahkan istrinya sedang mengandung anaknya." Jelas Sesilia.


"Jangan bilang perempuan yang waktu itu adalah istrinya," ucap Theresia. Perempuan itu mengingat sesuatu saat ketemu dengan Austin direstoran. Wanita yang bersama dengan Austin. Theresa masih mengingatnya dengan baik.


"Apa dia berdarah Asia?" kata Theresia yang mengingat wajah Fany.


"Iya. Dia adalah istrinya Austin Kak," ucap Sesilia yang membenarkan perkataan Theresa.


"Tapi kenapa Austin menikah dengannya? Apa hati Austin bisa langsung secepat itu berpaling saat kau pergi kejepang dalam beberapa bulan ini?"


"Austin pria yang bertanggungjawab, Kak. Wanita itu sedang mengandung anaknya dan Austin harus bertanggung jawab atas anak itu." imbuh Sesilia lagi.


"Apakah kau ingin melupakannya?"


"Aku tidak bisa melupakannya begitu saja kak. Aku sangat mencintainya,"


"Tapi Austin sudah tidak bisa kau miliki lagi," ucap Theresia. Itulah faktanya saat ini.


"Austin mengatakan padaku untuk menunggunya. Dia kalau dirinya akan menceraikan wanita itu saat bayi itu sudah lahir. Dia ingin menikahiku dan menjadikanku sebagai Ibu dari anak itu. Tapi aku tidak menginginkan itu kak," ucap Sesilia.


"Kenapa kau tidak mau? Jangan bodoh Sesilia!" Pungkas Theresia.


"Aku tidak mau Austin menikahiku karena hanya menjadikanku Ibu dari anaknya padahal anak itu tidak lahir dari rahimku," ucap Sesilia.


"Apakah kau mencintainya?" tanya Theresia dengan serius. Tangan wanita itu menangkup wajah Sesilia dan menatapnya dengan lekat.


"Iya Kak. Aku sangat mencintainya," jawab Sesillia.


"Dengarkan apa yang Austin katakan... Maksud kakak, kau harus harus mengambil seharusnya yang menjadi milikmu."


"Maksud kakak? Aku tidak mengerti,"


"Mungkin saja wanita itu sudah merencanakan semuanya untuk merebut Austin,"


"Aku tidak mengerti. Bisakah Kakak menjelaskannya secara detail,"


"Kau tahu kan kalau Austin itu pria kaya dan dia juga tampan. Bisa saja wanita itu menjebak Austin dengan berpura pura hamil anaknya. Kita tidak tahu apakah itu benar anaknya Austin atau bukan... Tapi tidak perlu pedulikan itu, yang jelas sekarang yang perlu kau lakukan adalah mengambil Austin darinya. Jangan sampai wanita itu membuat Austin semakin berpaling darimu," ucap Theresia.


"Kakak benar. Aku harus mengambil Austin darinya.  Austin itu hanya milikku seorang,"


Sesilia menghapus airmatanya. Kini dia terlihat ingin merencanakan sesuatu.


🌷🌷🌷


Hari ini Ronald Nero sudah bekerja diperusahaan Nero Corp.


Di ruangannya, Austin mendapat pesan dari Sesilia yang mengatakan bahwa dia bersedia menunggu Austin dengan syarat Sesilia harus tinggal di Mansion itu juga. Austin hanya menatap pesan itu dengan raut wajah yang tidak terbaca.


"Kak. Kenapa kau hanya termenung saja? Apa kau sedang memikirkan sesuatu Kak?" Tanya Ronald.


"Tidak ada," jawab Austin datar.


"Apa kau sedang memikirkan kak Fany?"


"Aku bilang tidak ada! Apa kau tidak mengerti juga.” Austin berteriak.


"Lebih baik kau lakukan pekerjaanmu,” imbuh Austin lagi.


"Apa yang harus aku kerjakan?"


"Antarkan berkas ini ke perusahaan Charles." Austin melemparkan dokumen itu ke atas meja dekat Ronald.


"Baiklah," ucap Ronald lalu mengambil berkas itu.


Ronald pun menjalankan perintah dari kakaknya. Ia pergi keperusahaannya Charles dengan hati yang kesal karena Austin memerintahnya dengan sesuka hati.


Bahkan saat sampai diperusahaannya Charles, dia pun masih merasa dongkol sampai dia tidak sadar sudah menabrak seseorang. "Apa kau tidak punya mata?" Ucap seorang gadis yang tak lain adalah Della.


Ronald mengambil berkas dokumen yang sudah berserakan itu . Setelah itu dia berdiri.


Ronald terdiam dan menatap gadis yang ada dihadapannya. "Apa kau tidak bisa perhatikan jalanmu?" Ucap Della lagi tapi Ronald hanya diam dan hanya menatapinya.


"Halo. Apa kau bisa mendengarkanku? Kau tidak tuli kan?” Della mencoba menyadarkan Ronald dari lamunannya.


"Maaf. Saya Ronald Nero sekretaris Austin Nero.” Tutur Ronald dengan sopan.


"Oh jadi kamu sekretarisnya Austin. Perkenalkan Saya Della. Senang bisa berkenalan denganmu," ucap Della juga memperkenalkan dirinya.


"Tunggu. Apakah kau adiknya Austin?” Della sedikit terkejut setelah mendengar nama bekalang mereka sama.


"Iya," ucap Ronald.


‘Cih. Apakah setega itu Austin sampai membuat adiknya bekerja sebagai sekretarisnya sendiri,’ batin Della.


"Ada apa datang kesini?" Tanya Della.


"Aku mau mengantarkan ini ke kak Charles," ucap Ronald sambil menunjukkan berkas file yang dia pegang.


"Oh. Kalau begitu mari saya antar ke ruangannya," ajak Della yang menawarkan untuk mengantar Ronald menemui Charles.


"Baiklah," Ronald berucap kemudian bergegas mengikuti Della dari belakang menuju ruangan Charles.


🌷🌷🌷


Sore ini Fany terlihat sedikit lelah karena dia baru saja menyelesaikan yoga khusus untuk wanita hamil. Fany mengikuti intruksi dari video yang dia tonton dari tv besar yang ada diruangan tengah.


Setelah itu Fany memutuskan untuk duduk disofa. Saat sudah duduk dia melihat ke arah pintu.


Dia melihat Austin yang sudah pulang dari kantornya. Tapi hatinya sedikit sakit saat melihat kepulangan suaminya bersama dengan Sesilia.


Saat ini Sesilia ada dimansion ini juga. Terlihat wanita itu sedang memegang koper miliknya.


"Mulai hari ini dia akan tinggal disini," ucap Austin pada Fany.


"Kamarmu ada sebelah sana," ucapan Austin yang kini beralih pada Sesilia sambil menunjukkan kamar untuk wanita itu. Setelah berucap Austin melangkahkan kakinya menuju ke kamar miliknya sendiri yang ada dilantai atas.


Kini tinggallah Fany dan Sesilia diruang tamu itu. "Kamu jangan berharap untuk bisa mengambil Austin dariku," sarkas Sesilia.


Terlihat Sesilia mendekati Fany. "Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut yang seharusnya menjadi milikku," ucap Sesilia lagi menatap Fany penuh kebencian.


"Aku tidak ada merebut Austin darimu," bantah Fany.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya rencanamu, tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan Austin jatuh ke tanganmu. Setelah anak itu lahir, kau harus angkat kaki dari rumah ini," ucap Sesilia. Kemudian Sesilia meninggalkan Fany dan menuju kamarnya yang sudah di tunjuk Austin tadi.


***


To Be Continued


Salam manisku


Insani Syahputri


Saranghae semuanya


^^^14 Feb 2022^^^