
Sebelum baca vote dulu ya
Jangan lupa likenya juga
Happy reading...
***
“Untuk apa dia ada didepan rumahku? Apalagi ini sudah malam,” Austin menatap ke arah Charles dengan pandangan tajam seolah tak suka. Akhirnya pun Austin memutuskan untuk keluar dari mobil, sementara Tiffany hanya bisa tersenyum hangat menyambut kepulangan suaminya yang tengah berjalan ke arah mereka.
Kini Austin sudah ada di dekat mereka. "Fany. Kenapa kau masih ada diluar? Ini sudah malam dan kau bersama seorang pria," ucap Austin sambil menatap marah ke arah Fany.
"Itu...”
Perkataan Fany langsung disela oleh Charles, "Tadi dia singgah ke rumahku. Kami banyak mengobrol, hingga kami lupa waktu. Tapi kau tenang saja karena dia aman pulang bersamaku. Tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya,”
Kini Austin beralih menatap kearah Charles dan berterima kasih karena sudah menemani istrinya pulang.
"Kalian ada hubungan apa? Sepertinya kalian sangat dekat sekali," tutur Austin.
"Charles. Dia bos ditempatku dulu bekerja," jelas Fany agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
"Apa kau lupa kalau aku bos diperusahaan tempat istrimu bekerja," imbuh Charles.
"Maaf. Aku lupa," ucap Austin sambil menepuk dahinya. Austin baru ingat hal itu, padahal dia pernah bertemu dengan Fany diperusahaannya Charles.
"Sekarang rumahku juga ada disekitar sini dan mungkin kita juga akan sering bertemu," ucap Charles memberitahu Austin. Austin menanggapi itu hanya dengan ber oh ria. Dia bertanya dalam hatinya sejak kapan Charles pindah disekitar kompleks ini dan ada tujuan apa?
“Charles. Aku minta maaf karena sudah membuatmu repot mengantarku sampai kerumah,” ucap Fany tiba-tiba mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Charles
“Tidak apa- apa Fany. Lagian aku tidak merasa terbebani,” ucap Charles sambil tersenyum. Entah kenapa Austin tiba-tiba merasa sangat jengkel mendengar percakapan mereka.
"Ini adalah kesalahanku karena tidak bisa menjemput istriku. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuatmu jadi repot begini. Lain kali itu tidak akan terjadi,” ucap Austin secara tiba tiba dengan menekankan kata istri dan membuat Fany dan Charles merasa sangat heran.
“Tuan Charles. Sekarang anda sudah boleh pulang,” tambah Austin yang memang berniat untuk menyuruh Charles untuk pergi dari rumahnya. Ia harus cepat cepat mengusir hama itu dari sekitar rumahnya.
Setelah mengatakan itu, Austin pun langsung mengajak Fany untuk segera masuk dan meninggalkan Charles sendirian di luar pagar rumah mereka.
Austin dan Fany masuk ke dalam rumah. Saat sudah ada didalam rumah, Austin tiba-tiba berhenti. Austin pun berbalik dan menatap ke arah Fany. "Ada apa?" Ucap Fany terlihat kebingungan. Apa dia telah melakukan kesalahan?
"Sejak kapan kau begitu dekat dengan Charles?" Ucap Austin yang mulai mengintrograsi Fany.
"Sejak aku berhenti kerja dari perusahaan," Jawab Fany dengan polosnya.
"Memang kenapa Austin? Dia sangat baik sekali. Dia juga mengantarkanku sampai rumah dengan selamat," lanjut Fany lagi. Perkataannya tersirat sedang memuji Charles didepan Austin. Meskipun Fany tidak menyadarinya.
"Kau!! Selama kau hidup bersamaku, maka kau jangan terlalu dekat sekali dengannya," ucap Austin dengan penekanan. Ia kesal mendengar Fany memuji pria itu, sementara Tiffany hanya bisa mengangguk sebagai tanda bahwa dia paham dengan apa yang Austin katakan barusan.
Kini, didalam ruangannya Austin tengah menatap foto sang kekasih. Tapi entah mengapa kebersamaan Tiffany dan Charles tadi mengusik pikirannya.
"Dasar tak tahu malu," Austin mengumpat kepada Charles.
“Beruntung dia adalah rekan bisnis dan juga temanku. Kalau tidak, dia akan habis ditanganku," ucap Austin lagi.
"Awas saja. Jika dia kelewatan batas, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya."
Austin pun keluar menuju dapur untuk mengambil air minum karena dia merasa sangat haus hanya karena memikirkan Charles dan Fany tadi.
Sama halnya dengan Fany. Wanita itu tiba-tiba Fany juga datang ke dapur. Dia sempat terkejut karena melihat keberadaan Austin didalam dapur itu juga. Fany pun mendekatinya.
"Apa kau ingin sesuatu?" Tanya Fany.
"Tidak perlu," jawab Austin dengan cuek.
"Oh... Kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Fany lalu pergi kekamarnya.
"Cih. Dia langsung pergi begitu saja." Ucap Austin kesal. Pria itu juga langsung pergi kekamarnya.
\*\*\*
Dipagi hari, Ibunya Austin datang berkunjung kerumah Austin untuk melihat keadaan menantunya. Austin terkejut melihat Ibunya yang sudah ada di pintu utama rumahnya.
Bagaimana tidak terkejut, dia takut kalau Ibunya akan mencari Tiffany.
Mengingat Fany saat ini masih tidur dikamar yang tak sama dengannya. Ingat. Mereka pisah ranjang.
"Mana menantu kesayanganku?" Tanya Delila sambil melirik ke seluruh sudut ruangan.
"Itu...Dia... " Austin sedang mencari alasan agar Ibu tidak naik ke atas untuk mencari Tiffany.
"Ibu. Aku di sini," ucap Fany. Ia tengah menuruni anak tangga.
"Sayang..." ucap Delila sambil menghampiri Fany dan langsung memeluk menantunya.
Fany pun membalas pelukannya Delila.
‘Cih. Dasar anak kecil. Tapi syukurlah dia sudah bangun.’ Ucap Austin dalam hatinya.
Setelah dua jam berada dirumah anaknya dan berbincang dengan menantu kesayangannya itu. Delila pun pamit pulang karena ada urusan mendadak yang harus dia kerjakan. "Ibu pulang dulu ya,"
"Ibu. Kalau Ibu mau berkunjung kesini, langsung telpon aku. Jangan asal main datang dan buat orang terkejut," ucap Austin berbicara seperti itu karena tidak ingin kejadian seperti tadi sampai terulang kembali.
“Ibu hanya mau kasih surprise sama kalian. Tidak apa apa kan sayang?" Tanya Delila pada menantu kesayangan itu.
"H-he. Iya Ibu," ucap Tiffany dan itu membuat Austin langsung melotot ke arah Tiffany.
"Pokoknya jika Ibu mau ke sini langsung telpon aku saja," pinta Austin yang tidak ingin di bantah.
"Baiklah. Ibu mengerti. Pasti kalian merasa terganggu karena kedatangan Ibu. Tenang saja, ibu tidak akan mengganggu kalian," ucap Delila tersenyum nakal dan Austin mengerti dengan arah perkataan Ibunya. Tiffany yang polos hanya bisa tersenyum dan mengangguk kepala dan itu membuat Austin mengelengkan kepalanya.
\*\*\*
Akhirnya Delila pun pergi meninggalkan kediamannya Austin. "Kamu pergilah bersiap-siaplah," Ucap Austin mendadak.
"Memangnya kita mau pergi kemana?" Tanya Fany yang merasa heran.
"Nanti kau akan tau sendiri."
Tanpa berpikir lama, Tiffany pun langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk segera bersiap-siap. Jujur dia sebenarnya sangat penasaran dengan perkataan Austin yang tiba-tiba mengajaknya untuk pergi kesuatu tempat.
Melihat Tiffany yang sudah pergi ke kamarnya. Austin pun langsung menelpon Roy.
"Tolong kosongkan semua jadwalku hari ini," ucap Austin.
"Kenapa?" Tanya Roy. Terdengar suara pria itu dari ponsel milik Austin.
Hal itu membuat Austin marah karena Roy terlalu banyak bertanya.
"Kau lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jangan kembali bertanya padaku," ucap Austin berteriak lalu mematikan panggilan.
Disana Roy menggerutu karena sikap Austin yang terlalu memerintah.
Lain halnya dengan Austin. Setelah telepon dan marah-marah ke Roy, tiba-tiba ponsel Austin menerima panggilan masuk atas nama Sesilia.
‘*Sesilia*,’ batin Austin. Ia jadi galau, tapi pada akhirnya Austin memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Halo sayang. Apa kau sedang sibuk?" Ucap Sesillia manja dari seberang telepon yang merasa sangat senang karena akhirnya Austin mau mengangkat telponnya.
"Kapan kau akan kembali ke New York?" Tanya Austin. Setiap Sesilia menelpon, selalu kata kata itu yang dilontarkan oleh Austin.
"Secepatnya Austin. Apa kau sudah sangat merindukanku?" Ucap Sesilia.
"Tidak Sesilia. Hanya saja ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Austin.
"Aku..." ucap Austin tapi terhenti. Austin memutuskan panggilan secara sepihak karena ia melihat Fany sudah selesai dan sedang menuruni tangga. Austin menelan ludahnya. Terlihat jakunnya yang naik turun karena melihat penampilan Fany terlihat sangat cantik. Sepertinya Austin terpesona.
"Kau sudah selesai?" Tanya Austin hanya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Iya. Tapi kita mau pergi kemana?" Tanya Tiffany.
"Nanti kau akan mengetahuinya," ucap Austin. Pria itu menarik tangan Fany lalu mengajak sang istri untuk masuk kedalam mobilnya. Setelah itu Austin menyuruh sopir itu untuk segera melajukan mobilnya.
🌷🌷🌷
**Di** **Tokyo**
Sementara itu, Sesilia menatap ponselnya dengan heran. Selama ini belum pernah Austin menutup telepon dan mengakhiri perbincangan lebih dulu. Tapi tadi Austin melakukannya. Ada apa ini? “Apa yang terjadi?” Tanya salah satu temannya pada Sesilia.
“Hah. Tidak ada,” jawab Sesilia secara asal.
\*\*\*
Hari ini Charles sedang melakulan interview untuk mencari sekretaris barunya. Charles pun pergi menuju ruang interview, tapi dia hanya berdiri dekat pintu dan melihat kearah dalam ruangan melalui kaca pintu itu. Setelah beberapa lama mengamati, akhirnya dia melihat seseorang dan dia merasa kalau orang itu akan cocok jadi sekretarisnya.
Charles memerintah Jack untuk membawa orang tersebut masuk kedalam ruangannya. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya orang itu tiba di ruangan Charles.
"Selamat siang Mr Charles Addison," ucap orang tersebut.
"Selamat siang juga Mr Alexander Lee," ucap Charles.
"Hai sobat. Akhirnya aku bertemu juga denganmu," ucap Charles langsung memeluk Alex.
Pria itu adalah Alexander Lee. Saudara kandung dari Tiffany Lee. Dia berteman baik dengan Charles sejak dari kuliah. Dulu mereka pernah satu kampus. Tapi karena insiden kebangkrutan keluarga Lee membuat Alex harus kembali ke negara asalnya untuk membantu orangtuanya.
Meskipun sudah berteman, Charles sampai sekarang tidak mengetahui fakta bahwa Fany adalah saudara dari temannya yaitu Alexander.
"Terima kasih karena sudah menerimaku bekerja disini, Charles. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini," ucap Alex.
"Kau adalah temanku dan sebagai teman sudah seharusnya aku menolongmu,” ucap Charles.
"Tapi aku minta maaf karena hanya bisa menjadikanmu sebagai sekretarisku," Lanjutnya lagi.
"Tidak apa teman. Justru aku malah senang, setidaknya aku dapat pekerjaan," ucap Alex.
"Baiklah. Ayo kita ke Club untuk merayakan pertemuan kita ini," ajak Charles.
“Ayo.”
Mereka pun meninggalkan perusahaan dan pergi menuju ke Club
🌷🌷🌷
Tiffany dan Austin pun sampai disebuah restoran yang sangat mewah.
"Untuk apa kita kesini?” Ucap Fany sambil menatap kearah luar mobil.
"Aku sangat lapar dan aku ingin kau menemaniku makan,"
"Aku bisa memasak untukmu. Disini pasti makanannya mahal sekali," ucap Tiffany.
"Lain kali kau bisa memasak untukku, tapi hari ini aku mau makan disini bersamamu. Kau jangan khawatir karena hartaku tidak akan habis jika aku makan di sini setiap hari," ucap Austin yang menyombongkan diri. Dengan berat hati Fany pun turun dan berjalan bersama Austin memasuki Restoran itu.
Setelah sampai disana, mereka langsung dilayani dengan baik. Makanan yang harganya sangat mahal bagi Fany, kini sudah tersaji dimeja. Jujur Tiffany belum pernah memakan makanan yang dihidangkan dimeja ini.
"Silakan dinikmati tuan dan nyonya," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Terima kasih," ucap Tiffany. Tiba tiba suara alunan piano nan syadu terdengar di telinga Tiffany.
Rupanya Austin menyewa seorang pianis untuk memainkan piano mengiring mereka selama makan berlangsung. Tiffany berterima kasih kepada Austin karena ini terlihat seperti kencan untuk mereka berdua seperti sepasang kekasih. Jujur Tiffany memang belum pernah berkencan sehingga dia terharu dan senang diperlakukan seperti itu oleh Austin.
Austin terlihat senang melihat Fany tersenyum bahagia. Dia tidak merasa terganggu dengan perkataan Fany yang mengatakan kalau mereka terlihat seperti sedang berkencan.
Tak terasa kini mereka sudah selesai makan. Bahkan Austin sudah membayat bill makanan yang mereka pesan tadi. Mereka pun beranjak dari kursi dan keluar dari restoran itu. Saat dipintu restoran tiba-tiba ada seorang gadis cantik yang langsung menyapa Austin.
"Hai Austin," ucap gadis itu.
“Theresa," Sapa Austin.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Theresa.
"Not bad," jawab Austin.
"Dia Siapa?“ Tanya Theresa saat melihat Fany masih berdiri disamping Austin
"Dia..." Ucap Austin tapi terhenti karena tiba-tiba Theresa menerima panggilan masuk.
"Austin. Aku masuk ke dalam dulu ya. Temanku sudah menungguku di dalam," ucap Theresa dan langsung masuk kedalam restoran.
"Oke," jawab Austin.
"Siapa wanita tadi?" Tanya Fany saat Theresa sudah masuk ke dalam restoran.
“Dia adalah sahabat dari Sesilia kekasihku,” jawab Austin.
Fany tiba-tiba merasa ada yang menjanggal diperasaannya, seperti perasaan tidak senang dan tidak suka saat Austin menyinggung soal kekasihnya.
‘*Kekasih. Ya tuhan. Kenapa aku bisa melupakan fakta kalau Austin memiliki orang yang kini sangat ia cintai. Bodoh kau Fany*,’ Batin Fany mencoba untuk terlihat baik baik saja.
Austin yang tidak bisa peka terhadap perasaan Fany saat ini hanya bisa melangkahkan kakinya menuju mobil dan langsung diikuti oleh Tiffany dari belakang.
\*\*\*
***To Be Continued***...
***Thank you***...
***Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya***
***Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian***.
***Salam manisku***
***Insani Syahputri***
^^^***05 Feb 2022***^^^