I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 6



...Hello Everyone......


...HAPPY READING GUYS...


...Tapi...


...Sebelum baca...


...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...


***


“Kau siapa?” Tanya Austin terlihat kaget dan marah.


“Kenapa kau bisa masuk kedalam kamarku?” Tanya Austin dengan tatapan yang begitu tajam menyiratkan kalau ia tengah marah .


Fany tidak menjawab. Dia mencoba menahan ngilu dan sakit ketika bangkit dari tidurnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itu. Fany memungut pakaiannya yang berserakan dilantai dan segera bergegas pergi kekamar mandi yang ada di dalam kamar hotel itu untuk membenahi dirinya.


Begitu juga dengan Austin langsung bergegas mengambil pakaiannya yang berserakaan dilantai lalu segera memakainya sebelum Fany keluar dari kamar mandi. Pria itu sedang mencerna sesuatu karena bingung dengan apa yang dia lihat pagi ini. Kenapa mereka berdua bisa polos tanpa ada sehelaipun yang membalut tubuh mereka? Gadis itu___Austin seperti pernah melihatnya. Sekarang pikiran Austin mengarah pada pintu kamar. Bagaimana dia bisa masuk kedalam kamarnya?


Saat sudah selesai memakai pakaiannya, tiba-tiba ponsel milik Austin berdering dan ternyata itu notifikasi pesan dari Sesilia kekasihnya. Austin mengambil ponsel itu dan segera membuka isi pesan yang dikirim oleh Sesilia. 'Sayang. Aku tahu kalau kamu sedang marah padaku saat ini. Maafkan aku ya? Aku janji deh. Setelah studiku selesai, aku akan pulang dan ingin menjadi istrimu. Aku tahu kok kalau kamu ingin melamarku, tapi maaf ya karena aku sudah membuatmu kecewa dengan kepergianku. Sekali lagi maaf ya! Aku sudah tiba di Jepang. Jangan diri dan hatimu baik baik untukku.'


Begitulah isi pesan suara dari Sesilia yang sudah dibaca oleh Austin.


Saat sudah membaca pesan itu, disaat itu juga Austin melihat Fany sudah keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah berpakaian lengkap. Austin pun memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan mendekati Tiffany. Terlihat Austin berjalan sambil menatapnya dengan tajam sehingga membuat Tiffany sedikit takut. "Kau mau uang berapa sebagai kompensasinya agar kau tidak membocorkan kejadian ini pada publik?” Tanya Austin dengan menatap tajam ke arah Fany.


"Maaf Tuan tapi aku tidak membutuhkan uangmu?" Ucap Fany sedikit tidak suka dengan ucapan Austin yang sepertinya sudah menganggap dirinya sebagai wanita malam. Padahal ia sebenarnya korban disini.


"Jika kau tidak membutuhkan uang, terus kenapa kau berada di sini? Apa kau ingin menjebakku supaya kau bisa memanfaatkanku atas kejadian ini?" Tanya Austin sambil memegang dagu Fany dengan kuat.


Dalam pikiran Austin kenapa wanita yang di hadapannya ini tega melakukan hal seperti ini padanya? Fany pun membantah dan berkali-kali dia sudah bilang pada Austin kalau dirinya tidak ada niat untuk menjebak apalagi memanfaatkan Austin. Fany mengatakan kalau dirinya semalam hanya membantu memapah Austin yang mabuk menuju ke kamarnya.


“Setelah itu aku ingin keluar dari kamar ini ketika sudah membaringkanmu dikasur tapi kau malah menarik tanganku dan menindihku lalu aku tidak bisa melawan karena tenagamu lebih kuat dariku,” ucap Fany berbicara apa adanya.


Austin masih tidak percaya dan meminta Fany jangan bersandiwara di depannya. Begitu juga dengan Fany yang bersikeras menjelaskan kalau ia tidak sedang bersandiwara. Austin tidak peduli dengan semua penjelasan konyol Fany. Memang Austin pikir dia akan percaya dengan omong kosong yang dia katakan?


“Tuan. Anda jangan khawatir karena aku tidak akan memberitahu hal ini siapapun dan aku juga tidak bisa menerima uangmu! Anda tenang saja.” Ucap Fany tidak ingin berlama-lama disitu. Ia ingin mencari kekasihnya.


“Aku pergi dulu! Tuan tenang saja, aku akan tutup mulut kok!" Ucap Fany lalu beranjak pergi dari tempat itu. Fany keluar dari kamar itu sambil menutup pintu itu dengan pelan. Saat Fany sudah ada diluar kamar, sejenak dia menyandarkan badannya dipintu itu sambil memikirkan kejadian semalam.


‘Ah...lupakan Fany!’ ucap Fany dalam hati.


Tiba-tiba pandangan Fany tertuju pada satu ruangan yang tak jauh dari kamar itu.


Dia melihat sosok orang yang sangat mirip dengan pacarnya saat sebelum pintu itu tertutup ketika pegawai di hotel itu sudah mengantar makanan pada orang yang ada di dalam kamar itu.


“Tidak mungkin. Itu pasti bukan Christian!” Ucap Fany tidak menginginkan kalau orang yang ada didalam ruangan itu adalah Christian.


Tapi dia sangat yakin kalau orang itu sangat mirip dengan Christian. Fany pun mencoba untuk memastikanya dengan mendatangi kamar itu dan langsung mengetuk pintunya saat dirinya sudah ada didepan pintu kamar itu.


“Mudah-mudahan orang yang tadi aku lihat bukan Christian!” Ucap Fany berharap kalau orang itu bukan pacarnya. Setelah beberapa kali mengetuk pintu itu, akhirnya pintu kamar hotel itu pun terbuka.


“Christian!” Ucap Fany tercengang melihat Christianlah yang membuka pintu kamar itu. Dia terkejut melihat Christian ada di dalam kamar hotel itu. Terlihat Christian yang sedang mengenakan kimono putih dengan rambut yang cukup berantakan. Seperti orang yang baru bangun gitu ceritanya.


“Sayang. Siapa yang datang?” Tanya seseorang dari dalam kamar itu.


Seorang wanita berpakaian seksi. Dan lihatlah tanda merah yang ada dileher  wanita itu.


Melihat hal itu hati Fany serasa sedang ditusuk oleh ribuan jarum. Sesak, sakit. Itulah yang dia rasakan saat ini. Tanpa disadari airmatanya jatuh membasahi pipinya.


“Sayang,” monolog  Fany dengan pelan. Bahkan wanita itu memanggil Christian dengan sebutan ‘sayang’. Mereka pasti punya hubungan yang spesial. Pikiran Fany menjadi tidak karuan. Dia berharap kalau dirinya hanya sedang bermimpi.


“Siapa dia sayang?” Tanya seorang wanita itu pada Christian saat melihat Fany berdiri terpaku didepan pintu kamarnya.


"Christian!! Siapa wanita ini?" Tanya Fany sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Maaf seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau?” Tanya wanita itu yang ingin marah.


“Patricia. Masuk kedalam,”  perintah Christian.


“Tidak mau. Aku ingin tau siapa wanita ini? Apakah dia seorang ****** yang ingin mengambilmu,” tutur Patricia yang seketika membuat hati Fany semakin sakit. Dengan segera Fany langsung menampar pipi Patricia.


Christian melihat Patricia sudah ditampar langsung mendorong Fany sampai tubuh Fany tersungkur ke lantai. Lalu Christian menyuruh Patricia untuk masuk kedalam kamar dan menyuruhnya untuk menunggunya disana.


"Kau kenapa menyakitinya?" bentak Christian saat Patricia sudah masuk kedalam dan tak lupa Christian pun langsung menutup pintu kamar hotel itu agar suaranya tidak bisa di dengar oleh Patricia.


“Iya. Aku membentakmu karena kau sudah menyakiti calon tunanganku!” Ucap Christian yang mana kata–kata itu membuat hati Fany semakin tersakiti.


“Calon tunanganmu?  Bukankah kau sudah berjanji akan menemuiku hari ini. Jadi ini yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Fany hatinya sudah hancur remuk dan berantakan.


“Iya!! Dia calon tunanganku dan aku harap kau segera pergi dari hidupku dan tempat ini,” ucap Christian yang ingin mengusir Fany dari tempat itu.


"Kenapa kau tega melakukan ini Christian? Aku pikir kau mencintaiku," ucap Fany yang sakit melihat perlakuan kasar Christian padanya.


"Kau jangan terlalu kebaperan Fany. Aku hanya sedang bermain main saja denganmu. Dan sekarang aku sudah bosan bermain-main dengan wanita polos dan lugu sepertimu. Aku tidak bisa dapat apa-apa darimu. Dan jangan harap kalau aku masih mencintaimu karena aku hanya bermain main saja dengan mu. Ingat Itu!!! Lagian kau tidak kaya dan aku tidak bisa dapat apa-apa jika aku masih tetap bersamamu," ucap Christian tanpa merasa bersalah.


“Apakah harta kau gunakan untuk mengukur rasa cinta Christian?” Fany yang mendengar itu langsung terkejut dan hati terasa sakit dan perih mendengar perkataan Christian.


Christian tidak menjawab, ia justru masuk kedalam kamar dan menutup pintu itu dengan keras. Fany hanya bisa menangis tersungkur di lantai itu. Saat mendapat perlakuan kasar dari Christian. Dia juga merasakan sakit hati yang paling dalam saat mendengar kalau hubungan mereka ternyata hanya sekedar bermain-main saja.


"Apa dia kekasihmu?" Tanya Patricia pada Christian saat sudah ada di dalam kamar mereka.


"Tidak sayang. Hanya kamulah kekasihku dan sekarang kamu sudah menjadi tunanganku. Mana mungkin aku tega menghianatimu dengan memiliki wanita lain sepertinya," ucap Christian sambil menampilkan senyum palsunya.


“Jangan pikirkan tentang wanita tadi. Mending kita pikirkan tentang masa depan kita saja,” ucap Christian sambil memeluk Patricia.


“Baiklah. Aku percaya kata-katamu!” Balas Patricia sambil membalas pelukan Christian yang tanpa diketahuinya sedang tersenyum kemenangan dibelakang Patricia.


***


Saat ini pikiran Fany sedang blank. Tanpa Fany sadari, ternyata sedari tadi Austin mendengar dan melihat kejadian yang barusan terjadi. Sebelumnya Austin tengah berada di dalam kamar sambil mengingat kejadian yang terjadi semalam.


Alangkah terkejutnya Austin di saat dirinya sudah mengingat kejadian semalam. Kini dia sudah mengingat semuanya dan membuat Austin merasa bersalah dengan wanita itu. Austin pun memutuskan untuk mengejar wanita itu dan meminta maaf padanya.


Saat Austin sudah ada di luar pintu kamarnya, dia tak sengaja mendengar dan melihat kejadian yang sangat menyakitkan bagi Fany. Saat semuanya sudah terlihat aman, Austin pun berjalan melangkah mendekati Fany yang terduduk dilantai sambil menangis .


“Orang seperti itu tak perlu kau tangisi lagi!" Ucap Austin dan membuat Fany terkejut karna dia baru menyadari keberadaannya Austin.


"Terima kasih tuan atas sarannya!" Ucap Fany sambil menghapus air matanya.


"Oh iya. Ada apa Tuan datang kemari? Apa ada yang ingin tuan katakan?" Ucap Fany lagi yang menanyakan kedatangan pria itu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin membicarakan hal penting denganmu," Ucap Austin.


"Terima kasih tuan. Tapi tidak hal yang perlu dibicarakan tuan! Mengenai kejadian semalam lebih baik kita lupakan saja dan aku tidak akan menuntut apapun terhadapmu," ucap Tiffany yang terlihat tidak ingin membahas kejadian semalam.


"Aku minta maaf atas kejadian yang terjadi semalam,” ucap Austin yang tiba-tiba minta maaf kepada Fany.


"Tidak apa-apa tuan. Aku akan melupakannya dan tidak akan meminta pertanggungjawaban dari tuan karena ini juga salahku," ucap Fany sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Fany hanya tidak ingin Austin melihat wajahnya yang terlalu menyedihkan sekali.


Untuk itulah dia berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan lawan bicaranya.


Austin tidak menjawab. Justru dia hanya menatap Tiffany yang terlihat berusaha untuk menghindari tatapannya. “Apakah kau sudah sarapan?” Tanya Austin yang beralasan karena dia terlihat tidak tahu tahu harus melakukan apa-apa lagi. Fany hanya mengelengkan kepalanya saja.


“Kalau begitu ayo kita sarapan dulu lalu setelah itu kau boleh pergi,” ajak Austin.


“Tidak usah tuan. Aku akan pergi dari hotel ini,” jawab Fany menolak ajakan Austin.


“Aku mohon sekali ini saja,” pinta Austin yang terlihat memohon sekali pada Fany untuk menerima ajakannya.


“Baiklah,” jawab Fany yang terpaksa menyetujui permohonan Austin.


Austin mengulurkan tangan untuk membantu Fany bangkit. “Terima kasih,” ujar Fany.


Mereka pun langsung pergi menuju ke Resto yang ada di hotel itu. Di saat sudah sampai di sana mereka langsung pergi berjalan menuju meja yang masih kosong.


***


TBC


Hai teman readersku aku kembali lagi untuk melanjutkan revisi novel ini.


Jangan lupa beri like dan komentar kalian ya.


Selama membaca semuanya.


BY: Insani Syahputri


^^^24 Januari 2022^^^