I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 35



Sebelum baca vote dulu


Happy Reading


(Sebelumnya)


Austin marah besar. Ia pun langsung pergi dari ruangan itu dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak baik baik saja. "Akhirnya rencanaku berhasil juga. Austin... Kenapa kau sangat mudah dikelabui?" Ucap Sesilia sambil menatapi kepergian Austin dari ruangan itu.


🌷🌷🌷


Disore hari, terlihat Fany sedang berjalan sore disekitaran kompleks perumahan itu.


Secara tidak sengaja bertemu dengan Charles yang kebetulan sedang jogging disekitaran kompleks.


"Fany." Panggil pria itu. Fany membalasnya dengan seulas senyuman.


"Kau sedang apa Fany?"


"Hanya jalan jalan disekitaran komples ini. Aku bosan dirumah terus.” Charles hanya ber oh ria saja.


“Mengenai kejadian malam itu. Maaf tidak bisa membelamu."


"Tidak apa-apa, Charles."


"Aku marah terhadap diriku sendiri karena tidak bisa melakukan apapun untukmu malam itu. Aku hanya bisa diam melihatmu yang selalu dihina oleh mereka."


"Jangan menyalahkan dirimu Charles. Aku tidak apa-apa.” Charles mendekati Fany. Dia menatap wajah Fany dengan Seksama.


"Kenapa kau bisa sekuat ini?" Ucap Charles secara tiba-tiba. Pria itu heran. Entah terbuat dari apa hati wanita yang ada dihadapannya ini.


"Aku tidak akan membiarkan orang sampai menyakitimu lagi Fany. Aku tidak ingin melihatmu menderita." Ucap Charles sambil memeluk Fany.


Fany terkejut dengan perlakuan Charles.


"Charles. Kenapa kau seperti ini?" Tanya Fany sambil mencoba melepaskan pelukan itu.


"Maafkan aku Fany. Aku kelupaan karena terbawa suasana."


Charles merutuki dirinya. Bagaiamana dia bisa sampai kelepasan seperti itu sampai dirinya berani memeluk Fany.


"Baiklah." Ucap Fany.


Sungguh sangat disialkan. Ternyata kejadian itu terlihat oleh Austin dari dalam mobilnya. Pria itu hendak kembali ke mansion tapi tidak sengaja melihat Fany dan Charles berduaan dan berpelukan. Austin menyalahartikan itu semua.


"Jadi benar apa yang dikatakan Sesilia tadi," ucap Austin. Pria itupun menyuruh Roy melajukan mobil itu menuju mansionnya. Fany dan Charles juga tidak menyadari keberadaan mobil Austin yang cukup jauh dari mereka.


"Aku mau pulang,” ucap Fany.


"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Charles.


"Tidak Charles. Aku akan pulang sendiri," tolak Fany. Charles pun terpaksa menyetujuinya.


“Tunggu.”


“Ada apa?” Fany memutar tubuhnya menghadap Charles yang memanggilnya.


“Apa besok kita bisa bertemu?”


“Aku tidak bisa memastikannya. Besok aku ada jadwal check up kandungan bersama Austin.”


Charles jadi kesal kala Fany menyebutkan nama bajingan itu.


“Baiklah. Jika kau ada waktu. Kabari aku ya,”


“Tentu. Aku akan mengabarimu,”


Setelah itu Charles hanya bisa melihat punggung Fany yang berjalan jauh meninggalkannya.


"Keep strong Fany,” gumam Charles pelan. Kemudian Charles pulang menuju apartemennya yang berlawanan arah dengan Fany.


🌷🌷🌷


Fany sudah tiba di mansion. Ia melihat Austin duduk di sofa. Fany seperti memiliki firasat kalau Austin tengah menunggu kepulangannya.


"Akhirnya kau sampai juga," ucap Austin. Ternyata firasatnya benar. Austin memang menunggu kepulangannya.


"Austin. Ada apa?"


"Lusa. Aku harap kau bisa datang ke pengadilan agama untuk mengurus penceraian kita,"


Seperti terkena petir disiang hari Fany terkejut mendengar perkataan Austin. "Cerai? Lusa?" Fany masih tak percaya.


"Bukankah kita akan mengurus penceraian ini sampai anak kita lahir?" Tanya Fany.


“Anak kita. Are you kidding me?”


“Apa benar dia anak dari benihku? Aku meragukannya. Mungkin saja itu anak dari benih lelaki lain yang tidak mau bertanggung jawab padamu. Jadi kau memanfaatkan karena kejadian saat di hotel itu. Seperti dengan yang direncanakan oleh saudara laki-lakimu itu," cibir Austin.


Hati Fany terasa ngilu dan sakit ketika mendengar perkataannya Austin. Apakah Austin secara tidak langsung mengatakan bahwa dia wanita ******. Dia tidak pernah melakukan itu kepada pria lain selain Austin.


Austin meragukan anak mereka. Bahkan mungkin tidak mau mengakuinya.


“Ini anak kita Austin. Aku hanya melakukannya denganmu,” Fany mencoba untuk menyakinkan Austin.


“Jangan katakan itu lagi, ******. Dia bukan anakku. Aku meragukan bayi yang ada dikandunganmu itu,”


‘Aku tidak tahan lagi Austin. Jika kau tidak mau menganggapnya. Tidak apa. Aku akan membesarkan anak ini sendirian. Hatiku sakit mendengarnya,' batin Fany.


"Baik Austin. Lusa, aku akan datang kesana," Fany sudah bertekad.


“Bagus. Itu lebih baik,” Austin pun pergi menuju kamarnya dan meningggalkan Fany sendirian disana.


Setelah kepergian Austin, Fany langsung tersungkur kelantai. "Aku akan menyerah untuk mendapatkan cintamu, Austin. Aku akan pergi dan membesar anak ini meskipun kau tidak mau mengakuinya. Bagaimana bisa kau meragukan bayi hasil perbuatanmu sendiri," ucap Fany dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi. Ia menangis sesenggukan disana.


***


Saat ini Fany sudah berada didalam kamarnya. Saat ini dia sedang menelpon Alex.


Fany mengernyitkan dahinya saat nomor Alex tidak mengangkat panggilan telponnya.


Fany tidak tahu apakah Alex benar-benar sengaja atau tidak mengangkat panggilannya?


Fany mencoba untuk berpikir positif. Ia tidak mau ambil pusing. Fany pun langsung memberi pesan kepada Alex melalui via Sms.


"Kak Alex. Besok lusa aku akan mengurus perceraianku dengan Austin. Aku berharap kakak bisa melupakan rasa dendam kakak terhadapnya. Aku ingin pergi menjauh dari kota ini dan ingin melupakannya. Aku hanya ingin hidup tenang, kak. Aku mohon padamu. Aku tidak mau kehilangan kakak hanya karena dendam ini. Kita akan pergi ketempat yang jauh dari keramaian bersama dengan Ayah. Apa kakak setuju dengan permintaanku? Lupakan dendam itu dan kita akan pergi menjauh dari kota ini." Begitulah isi pesan Tiffany untuk Kakaknya.


Tak lama kemudian Tiffany mendapat balasan dari Kak Alex. Ternyata Alex memang sengaja tidak mengangkat panggilannya tadi.


"Kenapa? Bukankah itu terlalu cepat? Kau mengatakan kalau kalian akan berpisah saat bayi itu sudah lahir. Apa yang terjadi?" Begitulah balasan sms Alex.


"Tidak ada kak. Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Aku tidak ingin hidup terlalu lama dalam lingkaran keliuarga Nero." Balas Tiffany. Wanita itu berbohong. Ia sengaja melakukan itu agar tidak memicu kemarahan sang kakak.


"Apa kau mencintainya?" Balas Alex.


"Ya. Aku sangat mencintainya tapi sadar kalau dia bukan milikku. Aku tidak akan bisa memilikinya. Lusa hubungan kami akan segera kandas. Aku akan pergi menjauh dari hidupnya. Aku berharap Kakak bisa melupakan rasa dendam padanya. Aku mohon lakukan ini demi aku, Kak. Aku tidak ingin kakak menyakiti pria yang aku cintai. Kita akan pergi ke tempat Nenek yang ada di desa. Aku ingin kesana dan aku yakin kita bisa hidup bahagia disana. Apa kakak bisa melakukan satu permintaanku ini?" Balas Tiffany.


Setelah Fany selesai mengetik dan mengirim pesan itu, Alex tidak ada membalasnya lagi.


Yang paling Fany takutkan adalah kakaknya tidak bisa melupakan dendamnya terhadap Austin. Sampai tengah malam Fany menunggu, ternyata masih belum ada juga balasan dari Alex. Fany terlelah menunggu terlalu lama, pun jadi mengantuk dan tertidur.


🌷🌷🌷


Ke esokkan harinya seperti yang dikatakan Austin semalam, pria itu tidak pergi kerja ke kantor. Terlihat Austin sedang fokus bekerja diruangan kerja miliknya.


Tiba-tiba Fany masuk keruangan itu. "Ada apa?" Tanya Austin dengan ketus.


"Apa kau jadi ikut kerumah sakit untuk Check up?" Ucap Fany. Wanita itu ingat kalau semalam Austin sudah berjanji pada akan menemaninya kerumah sakit. Bukan janji, tapi pria itu hanya mengatakannya saja. Jadi Fany kesana untuk menanyakan itu lagi. Apakah Austin masih berminat?


"Untuk apa aku harus ikut? Dia bukan anakku. Untuk apa aku menghabiskan waktuku pergi kesana," sarkas Austin.


Hati Fany terasa sakit mendengar perkataan Austin yang tidak mau lagi untuk mengakui anaknya. Seharusnya dia tidak datang kesini. Fany sepertinya lupa akan kejadian di hari sore semalam.


"Baiklah jika kau memang tidak mau. Aku pergi dulu." Ucap Fany.


Fany pun beranjak dari situ, tapi Austin tiba-tiba memanggilnya. "Tunggu!" Ucap Austin.


Austin terdiam sejenak. Dia terlihat sedang berpikir dan Fany tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Austin.


"Baiklah. Aku akan menemanimu." Ucap Austin. Sontak Fany langsung tersenyum. Dia merasa senang karena Austin akhirnya mau menemaninya meskipun tidak tau apa yang menyebabkan Austin berubah pikiran. Entah apa yang direncanakan oleh pria itu.


Mereka pun pergi kerumah sakit. Austin membawa Fany kerumah sakit milik Andrew.


"Kau masuk duluan." Ucap Austin pada Fany. Wanita itu hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Austin. Ia masuk sendirian kedalam ruangan spesialis kandungan.


"Kenapa kau menyuruhnya masuk duluan?” Tanya Andrew. Mereka berada cukup jauh dari pintu ruangan yang dimasuki oleh Fany tadi.


"Aku ingin kau melakukan tes dna pada janin yang ada didalam kandungan Fany,” pinta Austin tiba tiba. Andrew langsung memblalakkan matanya ketika mendengar permintaan dari Austin.


“Apa yang kau katakan?” Tanya Andrew.


“Aku hanya ingin memastikan apakah janin itu memang benar anakku atau bukan?" Tutur Austin secara tiba tiba dan itu membuat Andrew terkejut.


"Apa kau meragukan janin itu?" Tanya Andrew lagi.


"Ya. Aku meragukannya," ucap Austin.


"Apa kau tidak mempercayai Fany? Aku rasa dia pasti sakit hati bila mendengar perkataanmu saat ini," tutur Andrew. Pria itu tak habis pikir dengan jalan pemikiran Austin saat ini.


"Lakukan saja pekerjaanmu. Jangan terlalu banyak bicara," perintah Austin.


"Baiklah," ucap Andrew  tidak mau berdebat dengan Austin.


"Ingat. Lakukan hal ini dengan diam-diam. Jangan sampai Fany mengetahuinya apalagi Ibuku." Pinta Austin.


Fany pun melakukan Check up pada bayinya. Andrew  mengatakan pada Fany kalau bayi mereka baik-baik saja


Setelah itu diam diam Andrew menyuruh salah satu perawatnya untuk mengambil cairan amnion atau villi chorialis yang ada pada kandungan Fany.


Andrew terpaksa berbohong kalau hal itu dilakukan untuk pemeriksaan untuk memastikan apakah ada penyakit yang timbul pada janin itu. Fany yang begitu polosnya hanya percaya dengan perkataan Andrew.


‘Kenapa kau harus bertemu dengan pria brengsek seperti Austin? Maafkan dia Fany?’ Andrew berkata dalam hatinya sambil menatap Fany.


Disaat tengah pemeriksaan. Austin mendapat pesan bahwa persidangan penceraian mereka akan diundur sampai 14 hari ke depan karena ada masalah yang terjadi pada pengadilan itu.


Tak lama dari itu Austin juga mendapat pesan dari Sesilia yang mengajaknya untuk pergi meninggalkan kota itu. Sesilia mengatakan kalau dia akan ke Tokyo sekitar dua  minggu lagi.


Sesilia berencana menghabiskan waktunya disana untuk beberapa bulan. Untuk itulah dia mengajak Austin untuk ikut kesana untuk menemaninya.


"Dua minggu lagi. Berarti itu setelah perceraianku dengan Fany," batin Austin sambil melihat layar handphonenya.


"Baiklah." Balas Austin. Lalu dia menyimpan ponselnya.


Benar. Dia harus melupakan Fany. Itulah yang tengah Austin pikirkan.


Setelah semuanya selesai, Austin pun menyuruh Fany untuk pulang duluan dengan menggunakan taksi. Fany tidak bisa menolak karena dia memang tidak punya hak lagi. Itu semua karena sebentar lagi dia akan bercerai dengan Austin.


"Baiklah Austin,” ucap Fany.


"Itu... Sidang perceraian kita akan diundur sampai 14 hari kedepan,” ucap Austin memberitau Fany.


"Baiklah. Aku mengerti," ucap Fany setelah itu Fany pergi dari rumah sakit itu


Setelah kepergian Fany, Austin langsung menemui Andrew. Pria itupun membawa Austin ke ruangannya untuk mengambil dari sampel darah Austin. Andrew mengatakan pada Austin tes Dna dengan mengambil darah cenderung lebih mudah dan cepat untuk mendapatkan hasilnya. Austin hanya mengangguk dan mempercayakan semuanya pada Andrew.


"Aku akan menghubungimu untuk memberitahukan hasilnya," ucap Andrew.


"Kapan hasilnya akan keluar?"


"Paling cepat 12 hari. Secepatnya aku akan memberitaumu,"


"Baiklah. Aku akan menunggunya,"


"Kalau begitu aku pergi dulu,”


"Iya.”


‘Kalau ternyata janin itu benar-benar anakmu.  Aku akan menghajarmu Austin.’ Batin Andrew sambil melihat kepergian Austin.


Dalam perjalanan pulang, Ia tengah berada didalam taksi. Wanita itu memegang perutnya. “Ibu tiba tiba jadi bersedih. Kau juga sama ya. Maafkan Ayahmu. Ibu harap kamu jangan membencinya. Kita akan pergi dari kehidupan Ayahmu. Kita harus pergi...” Fany  berkata dalam hatinya sambil menatap langit langit taksi yang ia naiki.


Fany mendapati notif pesan dari Charles diponselnya. Pria itu bertanya pada Fany apakah Fany memiliki waktu untuk bertemu dengannya?


Mengingat dirinya sedang sendirian dan yakin Austin tidak akan mencarinya. Fany pun membalas pesan Charles dan mengatakan kalau dia bisa bertemu dengannya saat ini juga.


Sepertinya Charles senang sekali. Buktinya pria itu dengan cepat membalas pesan dari Fany.


Charles bahkan langsung memberitau lokasi tempat dimana mereka akan bertemu. Setenglah itu Fany memberitau pada sopir taksi untuk mengantarkan kealamat sesuai dengan yang diberikan oleh Charles.


***


Charles dan  Fany sudah bertemu disebuah taman bermain. Kebetulan taman itu tidak terlalu ramai dikunjungi oleh orang.


Mereka duduk berdua dikursi yang ada ditaman itu. Mereka berbincang sedikit. Charles sedikit bingung melihat Fany saat ini. Fany kebanyakan melamun sejak tadi bertemu.


Bahkan saat ini Fany lagi lagi termenung,  Charles pun segera menyadarkan Fany yang melamun, “Fany?”


Fany tersadar mendengar panggilan Charles dan meminta maaf karena sedikit mengabaikannya.


“Apa kau sedang ada masalah?”


“Tidak. Aku baik baik saja.” Charles hanya mengiyakan saja. Ia tau bahwa Fany tengah berbohong. Charles pun  mengajak Fany  untuk pergi mencari makanan enak.


Saat ini Charles dan Fany sudah berada disebuah Cafe. Saat mereka berdua sudah duduk, Charles dengan segera memanggil pelayan cafe itu.


Fany melihat dan mendengar Charles berbincang ramah dengan  kedua pelayan itu. Begitu juga sebaliknya. Fany menatap itu hanya bisa tersenyum.


Kini hidangan yang mereka pesan kini sudah tersaji. Mata Fany berbinar. Wanita itu merasa sangat takjub melihat makanan yang ada dimeja itu.


“Kau suka?”


“Iya.” Fany mengangguk cepat membuat Charles senang.


Charles tertawa dan berkata, “Silahkan dimakan. Kau harus banyak makan. Badan terlihat sedikit kurus padahal kau tengah mengandung. Biasanya ibu hamil berat badannya akan bertambah. Tapi sepertinya itu tidak berlaku padamu.” Charles mempersilahkan Fany untuk memakan terlebih dahulu.


Charles dan Fany sudah selesai makan. Mereka berdua masih berada dicafe itu. Suasana disana sedang sepi. Hanya ada mereka berdua.


“Fany.”


“Ada apa?” Fany menoleh kearah Charles.


“Aku tau kau sedang ada masalah. Cerita padaku... Jangan memendamnya sendiri.” Charles pun memberanikan untuk mengatakannya. Ia tau kalau Fany sedang tidak baik baik saja. Fany menatap kearah pria itu. Raut wajah yang tadinya bahagia kini berganti menjadi raut wajah sedih. Fany tidak bisa menyembunyikannya. Ia mencoba untuk bersikap baik baik didepan saja, tapi Charles masih mengetahuinya. Sebegitu pekanya Charles pada Fany.


Charles ingin Fany mau berbagi cerita padanya.


“Aku....” Bibir Fany terasa keluh untuk mengatakannya.


Melihat itu Charles langsung menarik tubuh mungil Fany kedalam pelukannya. Mendekapnya, “Tidak apa. Ceritanya perlahan saja. Aku akan mendengarnya,


“Aku akan bercerai dengan Austin.” Ungkap Fany.


Charles terkejut. “Bercerai? Apa yang terjadi? Apa karena aku dekat denganmu?” Fany dengan cepat langsung membantahnya. Tapi Fany tidak mau menceritakan alasan kenapa Austin menceraikannya. Ia yakin kalau Charles pasti akan marah.


“Cukup Fany. Dia sudah terlalu melukaimu. Jangan menangis lagi. Tidak apa, kalau kau tidak mau menceritakan semuanya padaku,” Charles menenangkan Fany yang menangis didalam pelukannya.


“Aku tidak ingin menangis. Tapi air mata ini terus keluar.” Ujar Fany menangis pilu. Mendengar hal itu membuat hatinya seperti ikut tersayat. Ia tidak suka melihat Fany menangis seperti itu.


“Aku mencintaimu Fany. Cukup. Lupakan dia. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini,” ungkap Charles. Tubuh Fany menegang kala mendengar pengungkapan Charles. “Maaf Charles... Jangan seperti itu.” ucap Fany.


“Kenapa Fany? Apakah kau mencintai pria brengsek seperti Austin.” Fany diam. Melihat itu Charles sudah tau apa jawabannya.


“Fany... Pria itu sudah terlalu sering menyakiti hatimu. Kenapa kau masih mencintainya?”


“Aku tidak tau Charles...”


“Sudah. Jangan menangis lagi.”


“Iya. Aku sedang mencobanya.”


“Apa kau tidak memiliki perasaan sedikit saja terhadapku?” Tanya Charles.


“Maaf Charles. Aku akui memang kalau aku merasa nyaman denganmu. Tapi aku sadar kalau itu hanya sebatas teman. Maaf...”


“Tidak apa. Aku senang melihatmu jujur dengan perasaanmu terhadapku,” jawab Charles dengan tenang tapi ia sedikit tidak suka karena Fany hanya menganggapnya sebagai teman.


“Aku akan berbicara dengan Austin untuk memikirkan tentang perceraian itu sekali lagi.” Charles berharap Austin mau mengubah pikirannya.


“Jangan... Tidak perlu menemuinya,” bantah Fany.


“Kenapa? Aku akan membuat Austin mengubah keputusannya,”


“Tidak. Kumohon padamu.”


“Bukankah kau mencintainya?”


“Iya. Tapi aku mohon jangan lakukan itu.”


“Baiklah.”


“Aku sangat bangga padamu. Kau banyak menanggung beban, tapi kau tetap terlihat tegar.” Charles mengusap rambut Fany.


“Terima kasih Charles.”


“Oke. Meskipun kau menolak cintaku. Kita masih bisa berteman lagi, kan? Ayo kita berteman lagi.”


Fany menatap kearah Charles. “Iya.” Fany menangis pelan.


“Kau menangis lagi.”


“Tidak...” Fany segera menghapus air matanya.


“Kenapa Austin bodoh itu mengabaikan wanita tulus sepertimu?”


“Jangan terluka lagi. Kumohon padamu. Aku akan mendukungmu....” Charles sekali lagi memeluk Fany. Ia menguatkan hati Fany sebagai sebatas teman.


***


Kini tibalah hari yang paling ditakuti oleh Fany. Ya. Hari ini adalah hari penceraiannya dengan Austin. Setelah semuanya selesai, mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi.


Fany mengambil surat akte pernikahan mereka yang ada pada laci mejanya. Wanita itu menghela nafasnya secara gusar, bahkan sampai hari ini dia tidak mendapatkan pesan dari Alex. Tak mau berpikir panjang, Fany langsung pergi ke pengadilan sendirian.


Sesampai disana, dia sudah melihat Austin yang sudah lama menunggu kedatangannya.


Kini mereka harus menunggu dikursi tunggu karena ada satu pasangan yang sama seperti mereka mengurus penceraian ditempat itu.


Mendadak Fany ingin ke toilet untuk mengeluarkan sesuatu. Ia pun permisi pada Austin untuk pergi ketoilet.


Tanpa disengaja, Fany meninggalkan tas dan ponselnya yang ada disamping kursi Austin duduki. Saat tengah asik duduk, Austin mendengar suara notifikasi pesan masuk diponsel milik Fany.


Austin terlihat penasaran. Dia pun langsung mengambil ponsel milik Fany dan membuka pesan tersebut. Austin terkejut ternyata itu pesan dari Alex. Dia pun membaca isi pesan kakak beradik itu dengan saksama.


***


To Be Continued


^^^20-02-2022^^^