
SEBELUM BACA VOTE DULU YA
Like dan komen juga.
Happy reading...
(Sebelumnya)
***
Fany terdiam sejenak saat mendengar perkataan wanita yang di hadapannya ini. Fany memang tidak mengenalinya dan hanya bisa mengelengkan kepalanya. "Apakah kamu tahu nama belakang Austin?” Tanya Delila.
"Austin Nero," ucap Fany mengatakan nama belakang Austin.
"Apa kau masih ingat namaku?" Ucap Delila.
"Delila Nero," jawab Fany secara spontan. Fany tiba-tiba tercengang karena menyadari kesamaan nama belakang Austin dengan wanita ini. Ia menatap wanita itu seakan tidak percaya.
"Perkenalkan sekali lagi, saya Delila Nero Ibu dari Austin Nero," ucap Delila.
***
"Apa! Anda I-ibunya A-austin!” Tiffany terkejut dan gugup setelah mendengar perkataan Delila.
"Benar. Saya Ibunya Austin!" Kata Delila sekali lagi yang menjelaskan bahwa dia adalah Ibunya Austin.
‘Oh my god. Aku secara notabene sudah memberitahu langsung kepada Ibunya mengenai kejadian itu!’ batin Tiffany.
"Kenapa diam?" Tanya Delila setelah melihat Tiffany hanya diam dan melamun.
"Tidak ada Bibi," ucap Tiffany tersadar dari lamunannya.
‘Aku harus pergi dari sini!’ batin Fany mencoba ingin pergi di saat Delila mencoba mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang besar lagi.
Fany sudah berjanji pada Austin untuk tidak membeberkan kejadian itu. Dengan bodohnya Fany malah menceritakannya pada orang yang baru dikenalnya dan lebih tepatnya lagi yaitu pada Ibunya Austin. "Kamu mau kemana?" Ucap Delila dan langsung memegang tangan gadis itu saat dirinya menyadari kalau Fany ingin melarikan diri.
"Saya mau kembali ke ruanganku Bibi. Soalnya ini sudah malam dan aku sudah mulai mengantuk. Aku butuh istirahat sekarang!" Bual Fany.
"Baiklah. Kamu duluan kembali ke ruanganmu. Nanti Bibi akan menyusul. Bibi mau menelpon Austin dulu,” ucap Delila tersenyum manis ke arah Fany.
‘Apa! Menelpon Austin.’ Batin Tiffany yang terkejut. Perasaanya mulai tidak enak. Dia takut Austin akan datang kesini.
‘Jangan bilang kalau Bibi ini akan mengatakan semuanya pada Austin. Bagaimana kalau Bibi benar-benar menceritakan mengenai kehamilanku ini?’ batin Tiffany yang mulai gelisah.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bibi,” ucap Tiffany dibalas dengan anggukan Delila.
Tiffany melangkah kakinya dari tempat itu dan kembali ke ruangannya untuk mengambil barangnya. Sesampai disana, dia menulis sesuatu pada secarik kertas dan meninggalkannya dimeja yang ada di samping ranjangnya. Setelah membereskan barangnya Fany pun pergi meninggalkan rumah sakit itu.
"Aku harus pergi dari tempat ini kalau tidak Austin akan datang ke sini. Aku benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya! Fany. Kau tidak boleh ambil resikonya, kau harus cepat-cepat pergi dari sini" Tekadnya. Fany terlihat berjalan tergesa-gesa.
Saat sudah berada di luar rumah sakit, dia terlihat mulai mencari taksi yang akan membawa segera pergi dari rumah sakit itu. "Taksi!" Teriak Fany memanggil taksi yang terlihat melintas kearahnya. Beruntunglah taxi itu segera berhenti dan Fany bergegas menaiki taksi dan menyuruh sang sopir itu untuk mengantarkannya ke alamat rumahnya.
***
Kembali pada Delila yang sedang berada dilobi rumah sakit. Dia terlihat mencari nomor yang tersimpan di kontak ponselnya dan ingin menghubungi nomor tersebut.
Setelah dia menemukan nomor itu, dengan segera Delila langsung menekan tombol panggilan dan panggilan itu pun berdering.
"Syukurlah nomornya bisa di hubungi," ucap Delila.
"Halo. Dimana kau bocah nakal, tengil, bodoh." Delila berkata dengan sedikit geram pada seseorang setelah panggilan itu sudah masuk.
"Halo!" Ucap seseorang dari seberang telpon.
"Roy. Kenapa kau yang mengangkat panggilannya? Mana Austin?" Ucap Delila merasa heran karena dia mendengar suara Roy dan bukannya dari putranya.
"Maaf Nyonya!" Ucap Roy terdengar dari ponsel wanita itu.
"Mana anak nakal itu?” Tanya Delila lagi menanyakan keberadaan Austin.
"Itu. Tuan sedang tidur dikursi belakang mobil, nyonya.” Ucap Roy.
"Tuan baru menyelesaikan rapatnya dikantor. Tadi rapatnya berlangsung lumayan lama karena ada sedikit masalah saat rapat. Jadi sekarang dia sedang tertidur," lanjut Roy lagi.
"Baiklah. Saya tidak tega mengganggu tidurnya Austin. Jadi aku akan menitip pesan saja padamu," ucap Delila.
"Apa itu nyonya?” Tanya Roy.
"Kamu katakan pada Austin untuk datang ke rumah besok pagi karena saya ingin memberitahu sesuatu hal yang penting padanya!" Ucap Delila.
"Baik nyonya!" Ucap Roy.
"Ingat! Kau jangan sampai lupa mengatakannya. Jika dia tidak datang, awas saja kau!" Ancam Delila.
"Ini sangat penting sekali!" Lanjut Delila.
"Baik Nyonya, saya tidak akan lupa!" Ucap Roy.
Delila sedikit kesal karena putranya selalu saja ingin menghindar darinya. Besok pagi dia akan menghajar Austin. Pikir Delila.
***
"Apa yang di katakan Ibuku?” Tanya Austin. Ia sebenarnya tidak tidur.
"Ibumu menyuruhmu untuk datang ke rumah besok pagi!" Jawab Roy.
“Cuma itu aja.” Austin keheranan.
“Iya,” jawab Roy seadanya.
“Untuk apa?”
“Aku tidak tau,” Roy mengedikan bahunya keatas.
"Tidak biasanya Ibu berkata seperti itu,” pungkas Austin.
“Biasanya seperti apa?” Tanya Roy ingin bercanda.
“Kau tidak kenal ibuku saja. Dia kan selalu blak-blakan untuk menyuruhku datang ke pertemuan membahas soal perjodohan lagi," ucap Austin jengah dengan sikap ibunya. Roy hanya tersenyum melihat temannya itu sedikit pusing menghadapi sikap Ibunya sendiri.
"Kau benar. Tapi Bibi mau mengatakan apa ya? Tadi dia hanya menyuruhmu datang kerumah,” kata Roy.
"Mana aku tahu! Kenapa kau malah bertanya padaku?” Ucap Austin.
“Apapun itu, aku tidak mau tahu. Kau harus pergi ke sana karena Bibi sudah mengancamku jika besok pagi kau tidak datang ke sana," ucap Roy.
“Benarkah? Aku jadi penasaran! Memang apa yang akan di lakukan oleh Ibuku kalau aku tidak datang ke sana?" Ucap Austin.
"Aku tidak tau. Pokoknya kau harus datang!" Ucap Roy. Austin hanya diam saja membuat Roy sedikit kesal.
"Kita sudah sampai!" Ucap Roy lagi saat mobil yang mereka naiki sudah tiba di apartemen milik Austin.
"Baiklah terima kasih, Roy. Kau tidak menginap di sini saja," saran Austin.
"Kau baik padaku. Tidak perlu, aku pulang ke apartemenku saja. Besok pagi aku akan kembali ke sini. Ingat. Kau jangan sampai lupa dengan yang kukatakan tadi," ucap Roy.
"Hn,” Austin hanya berdeham .
"Jangan cuma berdeham saja!" Ujar Roy.
"Dah. Sekarang kau sudah bisa pergi!” Kata Austin dengan nada yang terdengar ingin mengusir Roy.
"Persetan denganmu. Semoga kau dapat nasib sial," ucap Roy kesal dan langsung melajukan mobilnya .
"Aku tidak peduli!" Ucap Austin berteriak dan setelah itu dia masuk ke dalam apartemennya.
***
Setelah Delila mengakhiri panggilan itu, dia langsung bergegas pergi menuju ruangannya Fany. Saat dia masuk ke dalam, Delila terkejut saat tidak mendapati keberadaan Fany.
"Fany. Apa kau ada di dalam?" Ucap Delila sedang mengetuk pintu kamar mandi untuk mengecek keberadaan Fany di dalam sana. Saat dia tak mendapati jawaban, Delila membuka pintu kamar mandi itu dan dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Tiffany.
"Kemana dia pergi?” Ujar Delila. Tak sengaja mata Delila tertuju pada secarik kertas yang ada di meja. Tepat berada di hadapan Delila. Delila pun mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.
"Maaf karena sudah membohongimu, Bibi. Sebenarnya saya tidak punya niat untuk berbohong karena saya terpaksa. Maaf juga karena saya harus memilih untuk pergi dengan cepat dari tempat ini secara diam-diam. Dan mengenai kehamilan ini, bibi tenang saja. Saya tidak akan menuntut pada Austin untuk meminta pertanggungjawaban. Meskipun begitu, saya tidak akan mengugurkannya karena saya akan tetap mempertahankan dan membesar anak ini," isi surat pada secarik kertas itu.
Begitulah isi tulisan yang ada pada kertas yang ditinggalkan oleh Tiffany.
"Gadis yang menarik. Aku akan menemukanmu. Oh tidak. Bukan aku tapi Austin yang akan menemukanmu," ujar Delila dengan mantap. Delila langsung menelpon sopir pribadinya dan menyuruhnya untuk segera menjemputnya.
🌷🌷🌷
"Ah. Akhirnya sampai juga di rumah tercinta," ucap Tiffany kini sudah berbaring nyaman di kasurnya.
"Bagaimana ini? Aku takut kalau Ibunya Austin akan memberitahu semuanya pada Austin!" Ucap Tiffany mendadak gelisah karena kecerobohannya sudah memberitahu pada Ibu Austin mengenai kejadian itu. Bhakan kehamilan pun juga sudah diketahui.
"Bodoh. Kau memang bodoh Fany! Bisa-bisanya kau mengatakan itu langsung pada Ibunya. Ingat Tiffany, kau sudah berjanji pada Austin untuk tidak menceritakan hal itu kepada orang lain. Syukur kalau itu Ibunya Austin, setidaknya berita itu tidak akan sampai ditelinga orang lain.”
“Cepat atau lambat Austin akan mengetahuinya. Bahkan orang lain," guman Tiffany sambil memukul bantal gulingnya.
‘Bagaimana respon Austin saat dia mengetahui kehamilanku? Aku tidak tau apakah dia akan senang atau tidak ?’ batin Fany.
🌷🌷🌷
Hai readersku jangan lupa beri tanda jempolnya banyak-banyak ya
Jangan lupa beri vote kalian juga ya
Thank you
Love banyak-banyak untuk kalian
By: Insani Syahputri
^^^27 Januari 2022^^^