I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 18



Sebelum Baca Vote dulu


Happy Reading


(Sebelumnya)


Della keluar dari ruangan bosnya. Ia bingung menanggapi sikap bosnya terhadap Fany. "Kenapa tuan Charles khawatir sama Tiffany? Apa jangan-jangan tuan Charles ada perasaan untuk Fany?” Tebak Della.


"Semoga saja iya,” Ucap Della terlihat sangat senang dan mendukung jika itu memang terjadi.


***


Dilain tempat, acara pernikahan selesai Austin dan Fany sudah selesai. Austin memutuskan untuk pulang sendirian, karena Fany masih ingin bersama Ayahnya dulu. Dua hari menghabiskan waktu bersama keluarga, kini Fany sudah mengantarkan Ayah dan kakaknya ke bandara untuk kembali ke tempat asalnya. "Jaga kesehatanmu, Nak." Pesan Thomas.


"Baik Ayah," ucap Fany lalu segera memeluk Ayahnya dengan erat.


"Kak Alex. Aku akan merindukanmu," ucap Fany yang kini beralih memeluk Alexander.


"Kakak juga akan merindukanmu. Pokoknya jaga kesehatanmu karena saat ini kamu sedang mengandung keponakan kakak," Alex berkata seraya mengelur pucuk kepala Adik perempuannya.


"Baik kak." Ucap Fany sambil tersenyum.


"Good Girl.” Ucap Alex lalu mencubit pelan pipi tembem Fany. Sontak hal itu membuat Fany merasa kesakitan lalu membalas perlakuan kakaknya dengan memukul lengan Alex.


Sejam telah berlalu setelah Ayah dan kakaknya pergi, Fany kini bersiap-siap untuk pergi ke rumah suaminya.Ya suaminya adalah Austin Nero. "Nona. Saya akan mengantarkan anda ke mansion," Ucap Roy yang sudah diutus oleh Austin untuk menjemput Tiffany.


"Baik tuan." Ujar Fany.


"Jangan panggil saya begitu. Santai saja, nona. Kamu cukup  panggil saya Roy saja." Ucap Roy sambil tersenyum.


"Baiklah Roy. Ayo Kita pergi." Ucap Fany sambil membalas senyuman dari Roy.


***


Di sebuah mansion yang cukup luas, terlihat mobil berwarna hitam elegan memasuki halaman mansion itu.Ya itu mobil yang dinaiki oleh Tiffany. Kini dia sudah sampai dirumah milik suaminya. Dia cukup terkejut melihat tempat tinggal milik Austin yang besar dan luas.


"Ayo masuk Tiffany. Austin sudah menunggumu didalam." Ucap Roy.


"Hah? Iya," ucap Fany yang terkejut karena Roy tiba-tiba memanggilnya saat dia sedang asik menatap rumah besar itu. Sedangkan Austin terlihat sedang berbicara ditelepon dengan rekan bisnisnya. Lalu di sela-sela dia berbicara dengan seseorang, tampak Tiffany sudah terlihat di dalam rumah mewah Austin.


"Charles. Bicaranya cukup sampai disini ya. Aku ada urusan penting." Ucap Austin dan setelah mendapat respon dari lawan bicara, Austin langsung mengakhiri panggilan tersebut.


"Tiffany. Kau sudah lama sampai?" Tanya Austin bersuara.


"Aku baru tiba kok, Austin." Ucap Fany.


"Baiklah. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kamar milikmu." Ucap Austin. Austin melangkahkan kakinya ke anak tangga  untuk naik ke lantai atas menuju kamar, sedangkan Fany yang terdiam membisu langsung mengekori Austin dari belakang.


Saat sedang berjalan Fany tidak sengaja tersandung karena tidak memperhatikan jalannya. Beruntung dia tidak apa-apa dan tidak terjatuh sehingga bayi dalam perutnya baik-baik saja.


"Kamu baik-baik saja?" Ucap Austin menyadari kalau Fany tersandung.


"Aku baik-baik saja Austin.” Ucap Tiffany.


"Apa kau yakin? Aku akan membawamu ke dokter. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita." Ucap Austin. Tiffany terkejut mendengar perkataan Austin yang mengatakan ‘Bayi kita’ Fany merasa terharu dan cukup senang, setidaknya dia yakin dan tau kalau Austin pasti akan menyayangi anak mereka.


"Aku baik-baik saja Austin. Kamu jangan khawatir." Ucap Tiffany.


"Baiklah, Jika kamu berbicara seperti itu," Ucap Austin sambil membawa Fany dengan menggenggam tangannya karena dia tidak ingin Fany tersandung lagi, sedangkan tangannya yang satu lagi memegang koper milik Fany.


Kini mereka sudah tiba di sebuah kamar. "Ini kamarmu," Ucap Austin.


"Dan disana kamarku," Ucap Austin sambil menunjuk kearah sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar Fany.


Mereka pun masuk ke dalam kamar Fany. Terlihat sebuah ruangan yang warnanya bernuansa serba putih, mulai dari dinding, kasur serta perabotan yang ada di dalam kamar itu. "Aku tau kalau kamu suka warna putih." Ucap Austin.


"Iya. Tapi kamu tau dari mana, Austin?" Tanya Tiffany.


"Dari Ayahmu. Kenapa sih kamu suka warna putih? Apa tidak ada warna lain seperti pink atau apa gitu?” Ucap Austin.


"Karena warna putih itu membuatku terasa nyaman dan  juga membuat aku terasa begitu tenang," jawab Fany.


Setelah itu mereka diam dan tak berbicara apa-apa lagi. Setelah cukup lama diam, Austin tiba-tiba berbicara dan mengatakan pada Fany kalau pernikahan mereka ini bukan didasarkan karena cinta tapi karena adanya bayi di perut Fany. Jadi dia mau mereka tidak usah saling memperhatikan seperti layaknya suami istri. Dia juga tidak ingin kalau Ibunya mengetahui hal ini.


"Baiklah Austin.  Kamu tidak perlu khawatir,  aku akan berusaha agar Ibumu tidak mengetahuinya." Ucap Tiffany. Sebenarnya Fany sedikit syok mendengar apa yang Austin katakan, tapi kemudian dia mengerti maksud perkataan Austin.


"Kamu tau kalau aku hanya mencintai satu wanita saja. Dan wanita itu hanyalah Sesilia."ucap Austin. Austin sengaja menekankan nama kalimat itu di hadapan Fany, agar Fany tidak menaruh perasaan padanya. Fany hanya diam saja. Dia tak tahu harus sedih atau senang dengan perkataan Austin padanya. Tapi dia tetap harus mencoba berfikiran positif untuk semua ini.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Austin.


"Hmm iya,"


Setelah Austin pergi, Fany langsung membawa kopernya menuju lemari. Dia ingin menyusun semua barang dan pakaiannya dan segera istirahat. Saat dia membuka lemari, Fany cukup terkejut melihat lemari pakaiannya yang ternyata sudah diisi beberapa baju, tas dan juga sepatu.


"Wah. Semuanya terlihat cantik." Ucap Fany. Lalu setelah itu ia melihat sebuah pesan yang ditulis Austin untuknya didalam lemari itu. Dia mengambil kartu ucapan itu dan membacanya.


"Aku tau kalau kamu terkejut, kamu jangan menolaknya, karena itu semua adalah hakmu dan ini sudah kewajibanku juga untuk memenuhi kebutuhanmu"


Fany terharu membaca tulisan yang ada pada kertas itu.


‘Austin. Jika kamu bersikap manis seperti ini, aku takut jika suatu saat aku akan jatuh hati padamu,’ batin Fany.


***


Di malam hari, Tiffany sudah selesai mandi dan memakai gaun tidurnya. Malam ini, dia belum bisa terlelap. Itu dikarena dirinya sedang berkutat mencari sesuatu di dapur.


Akhir akhir ini Fany sering merasa lapar di tengah malam. Fany membuka pintu kulkas dan ia lagi lagi takjub melihat banyaknya makanan yang ada di kulkas. Semua bahan tersedia lengkap disana. "Aku masak apa ya," Ucap Fany menimbang makanan apa yang ia ingin masak dan enak dimakannya.


"Kamu kenapa belum tidur?" Ucap Seseorang yang tiba tiba muncul didapur.


Fany terkejut dengan kehadiran orang itu.


"Austin. Kamu mengejutkanku.”


“Maaf. Apa yang kamu lakukan disini?”


“Aku sangat lapar. Aku lihat tidak ada makanan yang tersaji disana, jadi aku memutuskan untuk memasaknya sendiri," Ucap Fany.


“Apa itu bawaan bayi?”


“Mungkin.”


"Kamu duduk disana." Perintah Austin.


"Kamu duduk, biar aku yang masak." Ujar Austin.


"Tidak usah Austin. Aku tidak mau membuatmu kerepotan.” Fany merasa tidak enak hati.


"Tidak apa apa Fany,” Ujar Austin.


"Baiklah.” Ucap Fany terpaksa. Ia pun duduk di dekat meja makan dan melihat Austin yang sudah mulai memasak. Austin memilih memasak spaghetti yang menurut cepat disaji.


Fany diam-diam menatap Austin yang tengah memasak itu.


‘Tampan,’ batin Fany yang memperhatikan Austin dengan lekat. Ia baru menyadari ketampanan Austin, Suaminya.


‘Tidak Fany. Hatinya sudah jadi milik orang,’ batin Fany sambil mengelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" Ucap Austin melihat Fany mengelengkan kepala.


"Hmm. Aku tidak apa-apa, Austin." Ucap Fany merasa ketangkap seperti orang pencuri.


Austin mengendikkan bahunya lalu kembali memasak. Setelah siap memasak, dia menyajikan hasil masakaknya diatas piring dan menghiasnya dengan rapi lalu memberikan kepada Fany.


Fany mengambil makanan yang diberikan Austin dan langsung melahap makanan itu dengan rakus. Dia benar-benar sangat lapar. Mungkin itu pengaruh kehamilannya yang membuatnya makan sangat banyak.


"Kamu pelan-pelan saja makannya. Tenang saja, aku tidak akan memintanya kok," ucap Austin melihat Fany makan dengan cepat seperti takut jika makanannya diambil orang.


"Hmm. Maaf Austin. Aku sangat lapar. Aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini aku sering cepat lapar," ucap Tiffany.


"Mungkin ini karena pengaruh hormon kehamilanmu."


"Benarkah? Kamu tau dari mana, Austin?"


"Aku tau dari Ibuku. Ibu pernah menceritakannya ketika sedang mengandung diriku. Saat itu, dia sering sekali makan karena laparnya dan itu membuat Ayahku kewalahan. Ibu pernah lapar di tengah malam dan saat itu tidak ada yang bisa di masak, akhirnya Ayah memutuskan untuk mencari makanan keluar dini hari," cerita Austin sambil tersenyum.


"Aku sangat yakin jika bayi yang ada di kandunganku ini akan memiliki sifat sepertimu," ucap Tiffany.


"Kenapa kau bisa yakin?" Ucap Austin.


"Karena pengalaman Ibumu sama sepertiku," ucap Tiffany.


"Kamu ada-ada saja,"


"Hmm. Akhirnya kenyang juga."


"Bagaimana masakanku? Enakkah? "


"Tidak.”


"Tidak enak tapi makanan sudah habis,"


"Tapi bohong. Hahaha. Maafkan aku, masakkanmu enak kok," ucap Fany sambil mengacungkan jempolnya.


"Tidak diragukan lagi."


"Kamu kok pintar masak ya, secara kau ini seorang Ceo di perusahaan besar."


"Jadi karena aku seorang Ceo, aku tidak boleh memasak begitu."


"Bukan begitu. Biasanya orang orang hebat sepertimu pada umumnya mempekerjakan Art atau menyewa koki hebat tapi aku tidak ada melihat tanda-tanda orang yang akan bekerja di sini."


"Memang iya. Aku tidak mempekerjakan seseorang untuk mengurusi rumah ini apalagi memasak untukku karena aku tidak ingin ada orang-orang yang menganggu privasiku."


"Oh begitu."


"Tapi karena kamu sudah jadi istriku dan kau sedang mengandung anakku, sepertinya aku harus mempekerjakan ART di rumah ini." Putus Austin.


"Tidak. Tidak perlu Austin. Biar aku saja, aku tidak memerlukannya." Tolak Fany cepat.


"Tapi aku tidak ingin kamu merasa kecapean dan membahaya bayi ini."


"Tidak kok. Lagian aku tidak ingin diganggu orang lain juga."


"Baiklah. Sekarang kamu tidurlah. Ini sudah larut malam tidak baik wanita hamil tidur larut malam."


"Baik Austin." Fany langsung bergesas pergi menuju kamarnya, tapi dia tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Austin. Itu... Aku ingin memberitau kalau besok aku akan mulai bekerja lagi.”


"Kamu tidak boleh bekerja lagi. Lebih baik kamu urus surat pengunduran diri di perusahaan tempat kau bekerja."


"Tapi Austin---"


"Tidak ada bantahan. Aku tidak ingin kamu kecapean karena bekerja dan itu pasti akan membahayakan bayi yang ada di kandunganmu."


"Baiklah.” Ucap Fany dan pergi ke kamarnya.


Keesokan harinya


Fany sudah datang ke kantor dan berniat untuk mengundurkan diri. Dia bertemu Della. Tapi tiba tiba gadis itu langsung memarahinya.


"Kau. Kenapa lama sekali liburannya?" Marah Della.


"Maafkan aku, Della."


"Kau mau kemana?"


"Aku mau ke ruangan tuan Charles."


"Untuk apa?” Tanya Della.


"Kau akan tau sendiri nanti. Aku pergi dulu ya,” Ucap Fany lalu bergegas pergi menuju ruangan Charles. Setelah sampai di depan pintu yang bertuliskan Ceo, Fany mendiamkan diri sejenak dan menghelakan nafasnya.


‘Semoga tuan Charles mengerti dengan kondisiku,’ batin Tiffany.


***


To Be Continued ...


Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya


^^^01 Feb 2022^^^