
Sebelum baca beri vote dan like dulu teman teman
Happy Reading
***
"Sepertinya aku tidak mau untuk jatuh cinta dulu. Aku masih belum siap menjadi orang sepertimu yang sudah menjadi budak cintanya Fany," ucap Roy lalu setelah itu memilih untuk langsung keluar dari ruangan itu Kemudian disusul oleh Ronald yang juga langsung berlari keluar dari ruangan itu karena dia juga tidak ingin menjadi bahan pelampiasan dari kemarahan dan kekesalan kakaknya saat ini.
Pada siang hari Roy mendatangi ruangan Austin. Dia memberitahu mengenai agenda rapat yang akan dilakukan oleh Austin dengan Charles.
"Apa! Rapat lagi?" Ucap Austin. Pria itu sepertinya sedang malas untuk bertemu dengan
Roy memicingkan matanya malas, lalu dengan santainya ia menjawab, “Iya.”
"Apa harus hari ini juga?"
"Iya. Kau mau membatalkannya? Ayolah. Jangan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Aku tau kalau kau membenci Charles karena pria itu menyukai istrimu, kan.”
"Baiklah." Jawab Austin dengan pasrah. Lalu Austin menatap jam tangannya dan berkata,
"Sebentar lagi istriku akan datang ke sini untuk membawakan makan siangku."
Roy hanya bingung dan menatap heran ke arah Austin dan dia berkata, "Jadi urusannya denganku, Apa?”
“Bawakan pakaian gantiku kesini?” Perintah Austin. Tidak mungkin dia akan memakai pakaian sial itu pada saat rapat nanti. Apalagi dia akan bertemu dengan Charles. Pria itu pasti akan mengejeknya.
‘Tapi terlebih dahulu, aku akan meminta izin pada Fany,’ batin Austin sambil memperhatikan pakaian yang sedang ia kenakan itu. Sangat menjijikkan.
"Baiklah." Roy segera meninggalkan ruangan itu.
🌷🌷🌷
Siang hari Fany mendatangi kantor suaminya. Semua karyawan Austin yang ada di situ pun menatap ke arah Fany dengan hormat karena mereka semua sudah mengetahui banhwa Fany adalah istri Ceo mereka. Saat tengah di tatapi, Fany malah menundukkan kepalanya sebentar lalu memberi senyuman ke arah mereka semua.
Kini Fany sudah ada di meja Repsesionis . "Apa Austin ada di ruangannya?" Tanya Fany dengan sopan.
"Tuan Austin sudah menunggu anda, Nyonya. Kalau begitu mari saya antarkan ke ruangannya," ucap Repsesionis yang tak kalah sopannya menjawab pertanyaan Fany. Mereka tak berani berlaku tidak pantas pada Fany apalagi menyinggung wanita itu. Yang ada mereka akan dipecat oleh Austin jika berani melakukan hal itu.
Repsesionis itu pun mengantar Fany menuju ruangan milik Austin yang ada pada lantai teratas gedung itu.
"Tuan Austin sangat beruntung punya istri sepertinya. Sudah cantik, baik hati pula lagi." ucap salah seorang resepsionis lainnya saat Fany sudah pergi bersama dengan rekan sekerja mereka.
"Iya. Kau benar," sahut temannya yang lain.
Kini orang dua tadi sudah sampai di ruangan yang mendominasi berwarna abu rokok.
Repsesionis itu mengetuk pintu dan mengatakan bahwa istrinya sudah datang.
"Kakak ipar." Sapa Ronald kebetulan tiba di depan pintu ruangannya Austin bersamaan dengan Roy yang membawa kemeja biru dan jas berwarna hitam.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Resepsionis itu.
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Fany.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya nyonya," ucap Repsesionis itu dan kemudian pergi.
"Kakak ipar. Kenapa datang kesini?" Tanya Ronald.
Fany menunjukkan sesuatu yang ia pegang sedari tadi, "saya membawakan makan siang untuk kakakmu," ucap Fany.
"Apa cuma dia saja?" Protes Roy.
"Makanya cari istri biar ada yang mengantarkan makan siang untuk kalian. Jomblo minggir," ketika Pintu terbuka dan menampilkan sosok Austin.
"Sialan kau," Roy mengumpati pria itu karena kesal dengan perkataan Austin.
"Kalian tenang saja. Aku membawa makanan lumayan banyak. Tadi saat sedang masak, tiba-tiba aku memikirkan kalian juga," Fany tersenyum manis membuat Austin menatap marah pada istrinya itu. Bisa bisanya dia memikirkan pria lain saat sedang masak.
"Jadi tadi kau sedang memikirkan mereka," tutur Austin sedikit cemburu.
Fany mencebik bibirnya, wanita itu tak menghiraukan Austin dan membawa kedua pria lainnya masuk kedalam, “Ayo masuk.” Ajak Fany kepada Roy dan Ronald.
Kesal dan cemburu. Mungkin itu yang tengah dirasakan oleh Austin saat ini. Austin pun terpaksa membiarkan dua makhluk tengil itu masuk ke dalam ruangannya. Sebenarnya tadi dia sudah membayangkan makan romantinya bersama Fany didalam ruangan itu.
Tapi angan-angan itu harus musnah karena kehadiran Roy dan adiknya itu.
Austin terlihat makan dengan penuh rasa kesal yang membuncak didalam dadanya sedangkan Roy makan dengan begitu santai tanpa merasa bersalah sedikipun.
Fany membawa banyak makanan untuk makan siang Austin dan Roy serta Ronald.
Fany memasak makanan khas negaranya seperti La ji zi yaitu makanan ayam pedas kering, ada lagi Hainan Jifan atau yang di kenal dengan nasi hainan yang memang menjadi makanan tradisional china, tak lupa juga dengan makanan Mapo doufu, wonton, dan Dim Sum.
"Ini sangat enak," ucap Roy tengah memakan Mapo doufu itu.
"Tentu saja. Ini masakan istriku," ucap Austin dengan bangga. Roy tidak memperdulikan itu. Dia hanya fokus memakan makanannya.
Saat dia sudah menghabiskan makanannya. Tiba-tiba ponsel Roy berbunyi dan dia mendapat pesan bahwa Charles sedang menuju ke kantor Austin.
Roy menatap kearah Austin, "Apa kau sudah selesai makan?" Tanya Roy.
"Kenapa?" Tanya Austin kembali.
"Charles sudah mau menuju kesini. Mengkin 15 menit lagi dia akan sampai,” ucap Roy.
"Sayang. Apa aku boleh mengganti pakaianku ini?" Tanya Austin berbicara manja dan membuat Roy ingin memuntahkan kembali makanan. Padahal ia baru saja selesai makan, masa harus dikeluarkan lagi.
"Baiklah. Kau boleh menggantinya," jawab Fany yang merasa kasihan dengan Austin. Wanita itu mengusap surai hitam milik sang suami.
"Terima kasih sayang," Austin mencium sekilas bibir Fany.
"Bisa tidak kalian jangan mengumbar kemesraan dihadapan kami?" Ucap Ronald yang masih makan.
"Kau pergilah. Aku akan menunggumu disini," ucap Fany.
“Baiklah. Aku tidak akan lama,” ujar Austin. Sebelum pergi Austin mengecup dahi sang istri.
Austin dan Roy pun pergi meninggalkan ruangan itu. Kini tinggalah Fany yang tengah menemani adik iparnya yang lagi makan.
"Kenapa kau lama sekali makannya?" Tanya Fany dengan lembut.
"Aku terlalu menikmati makanan masakan kakak ipar. Ini enak sekali!" Puji Ronald sambil tersenyum.
"Ini pertama kalinya aku melihat kak Austin takut kehilangan seseorang." Ucap Ronald secara tiba-tiba.
"Aku tahu,"
"Terima kasih karena sudah membuat kakakku berubah menjadi seperti ini Kak. Terima kasih sudah mencintainya dengan tulus," ucap Ronald lagi.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu lagi. Sekarang cepat habiskan makananmu dan kita akan ke bawah untuk melihat kakakmu." Ucap Fany.
“Kak Austin lagi rapat.”
“Aku tahu. Tapi aku ingin menunggu diluar ruangan rapatnya.”
"Baiklah Kak."
Ronald kembali memakan makanannya Setelah Ronald selesai makan, Fany pun langsung membereskan sisa bekal makan itu. Kini Fany dan Ronald pergi menyusul ke tempat Austin yang tengah melakukan rapat bersama dengan Charles.
Mereka duduk di kursi yang disediakan di sana. Ada tiga puluh menit lamanya menunggu, akhirnya pintu rungan rapat itu pun terbuka.
Fany terlihat terkejut saat melihat sosok yang ada dihadapannya, ternyata Della dan Jhon juga datang. Fany tahu kalau sekarang Della adalah sekretaris baru Charles setelah Alex mengundurkan diri.
Austin keluar dari dalam ruangan, Fany yang melihat itu langsung mendekati Austin dan memeluknya.
“Ini kenapa terbuka?” Bisik Fany pelan yang hanya bisa didengar oleh Austin.
“Apanya?” Austin menatap ke arah tangan Fany yang terulur pada dada bidangnya.
Ternyata itu. Dua kancing teratas kemeja Austin ternyata terbuka sehingga menampilkan dada bidangnya. Pantas saja Fany langsung segera memeluknya saat Austin keluar dari ruang rapat.
"Apa kau sengaja memamerkan dada bidangmu itu tuan. Kau tahu aku tidak suka kalau kau membagi pemandangan ini pada orang lain," ucap Fany yang masih memeluk tubuh Austin.
"Apakah saat ini kau sedang cemburu?" Fany tidak menjawab. Justru dia memeluk Austin lebih erat lagi. Fany terlihat sedang manja sekali, tidak seperti biasanya. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya.
Ronald yang melihat itu langsung mengabadikan momen itu dengan ponsel canggihnya.
Setelah itu dia langsung mengirimkan beberapa foto yang ia ambil kepada Ibunya.
"Ibu pasti akan senang melihat ini,"
Tiba-tiba Della datang dan mendekati Ronald. Dia sangat terpesona melihat wajah imutnya Ronald. "Kau? Apa yang kau lakukan disini?” .
"Hmm. Sekarang aku adalah sekrestarisnya tuan Charles. Jadi wajar saja aku ada di sini," ucap Della.
Della pun menyerahkan kartu namanya dan berkata, "Lihat ini kalau kau tidak percaya.”
“Baiklah. Aku percaya.”
“Apa kau ada kegiatan minggu ini?”
“Tidak tau. Kenapa?”
“Tidak terlalu penting. Kalau tidak ada, akhir pekan aku ingin mengajakmu keluar. Bagaimana?”
"Aku belum bisa memastikannya. Aku akan menghubungimu sebelum akhir pekan.” Ucap Della yang kembali mengambil kartu namanya.
Rapat memang sudah selesai, tapi Austin meminta maaf pada Fany karena tidak bisa pulang bersamanya. Itu dikarenakan masih ada pekerjaannya yang belum selesai dia kerjakan.
"Maaf ya sayang," ucap Austin.
"Tidak apa. Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,"
"Diakhir pekan ini, aku janji akan membawamu jalan-jalan," ucap Austin sambil mencium puncak kepala Fany.
Lalu tiba-tiba Charles datang mendekati Fany dan Austin. Dia menawarkan tumpangan untuk pulang sama dengan Fany karena kebetulan dia juga akan pulang dan rumah mereka pun searah. "Tidak perlu. Sopir kami akan kesini," ucap Austin yang dilanda cemburu.
"Kelamaan. Ayolah. Jangan cemburu. Aku cuma mengantarnya saja," ucap Charles.
"Dia istriku dan kau tidak berhak untuk mengantarnya pulang," cibir Austin.
"Tidak apa Austin. Lagian Della juga ada di sana. Dia pulang bersama Charles juga.”
"Benarkah?" Tanya Austin.
"Iya tuan Austin. Aku juga akan ada di mobil itu," ucap Della yang membenarkan perkataan Fany.
"Baiklah. Tolong kau awasi dia. Jangan sampai dia mendekati istriku," ucap Austin yang merasa sedikit tenang setidaknya Fany tidak berduaan dengan Charles di dalam mobil itu. Dia tak kuasa menolak permintaan istrinya.
"Baik tuan," ucap Della. Fany pun pulang bersama dengan Charles dan Della, sedangkan Austin kembali menuju ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai.
***
Austin cemburunya tolong dikondisikan
To Be Continued...
By Insani Syahputri
^^^02 Maret 2022^^^