I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 51



Hadir kembali.


Happy Reading 🙏


***


Malam hari, Charles membawa mobil kesayangannya membelah jalan kota yang ada di New York. Ia membawanya dengan laju tinggitak peduli dengan pengendara lainnya. Tak terasa mobil miliknya sudah tiba di sebuah tempat yang akan menumpahkan rasa stresnya malam ini. Semalam ia memilih langsung pergi dari rumah orang tuanya karena tidak tahan mendengar desakan permintaan mereka agar dirinya segera menikah.


Charles memasuki club miliknya. Aroma maskulin pria itu menguar di penciuman orang yang dilewatinya. Suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ mengusik pendengaran pria itu. Beberapa wanita malam mencoba menggodanya tapi tak dihiraukan oleh Charles. Tujuannya hanya minum bersama temannya. Langkah besar Charles membawanya menuju private room dan segera memasukinya.


Suara pintu itu ternyata membuat orang yang berada di dalam itu langsung menoleh ke arahnya.


“Charles. Akhirnya kau datang juga.”


James Scott. Teman sekaligus tangan kanan Charles untuk menghandle bar itu menyambut kedatangan Charles.


“Siapa mereka?” Mata Charles tertuju pada beberapa orang yang duduk di sofa ruangan itu.


“Kenalanku. Ayolah.” James menarik tangan Charles.


“Hai ladies. Bolehkah pria tampan ini bergabung disini?” James mengerlingkan matanya.


“Why not. Itu akan sangat menyenangkan kalau dia juga bergabung disini.”


“Saya Meghan. Tunggu___ Bukankah kau pimpinan Addison company?”


“Yes, that’s me.”


“Kau lebih tampan jika dilihat secara langsung.” Puji Meghan.


“Ah, aku cukup tersanjung.” Timpal Charles.


“Aku tidak menyangka perusahaan itu berkembang pesat setelah kau akuisisi.” ucap Meghan.


Charles hanya tersenyum. Ia cukup malas meladeni wanita itu. Tujuan juga pasti sama dengan wanita lainnya yang ingin mendekatinya hanya karena harta.


Malam ini mereka pun menghabiskan waktu minum bersama hingga tengah malam. Tak terasa Charles sudah dalam keadaan mabuk. Semua orang yang berada diruangan itu sudah pada pulang terkecuali Meghan dan Charles. Meghan mencoba mendekati dan menggoda pria itu. Melakukan one night stand dengan Charles sepertinya akan sangat menyenangkan. Pikir Meghan.


“Pulanglah. Jangan ganggu dia.” James masuk kedalan ruangan dan menyuruh Meghan pulang.


“Kau tidak asik. Ayolah.”


“Tidak. Charles tidak suka bermain dengan sembarang wanita.”


“Kau pikir aku wanita sembarangan.”


“Pikir saja sendiri. Sekarang pulanglah.”


Meghan keluar dari private room dalam keadaan berdecak kesal, sedangkan James segera menelpon John untuk segera menjemput tuannya ini.


Sudah 20 menit James menunggu tapi John tak kunjung datang. Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar ditelinganya, “kenapa kau lama sekali datang?” Kesal James.


“Maaf,” balas John sambil membantu James memapah Charles yang sudah sempoyongan.


***


Pagi pagi buta Austin dibanguni oleh Fany. ‘Ya tuhan, Apalagi ini. Jangan bilang kalau dia ngidam lagi,’


Austin mencoba bangun dan mengusap kelopak matanya hinggs ia bisa melihat istrinya dengan jelas.


Kali ini Fany sepertinya akan meminta yang aneh pada dirinya, Austin yakin sekali. Terlihat dari raut wajah Fany yang sepertinya sedang mengharapkan sesuatu darinya.


“Ada apa? Ini masih pagi sekali sayang.”


“Aku ingin bertemu Charles. Lusa kemarin dia tidak datang. Aku ingin memakan kue buatannya waktu itu.”


“Apa-apaan ini. Kau ingin bertemu dengan Charles?"


Fany mengangguk. “Jangan harap.” Austin segera mengambil bantalnya dan hendak pergi ke kamar sebelah.


“Sayang,” panggil Fany lirih. Ingin runtuh rasanya pertahanan Austin. Ini dia kelemahan Austin. Ia tidak tahan kalau Fany sudah bertingkah seperti itu.


Austin mencoba mengabaikan panggilan Fany dan tidak ingin menggubrisnya.


***


“Ini enak sekali.” Fany terlihat senang sekali kala mendapatkan apa yang ia inginkan sedari semalam.


Saat ini ia tengah memakan kue yang di buat oleh Charles. Pria itu terkejut saat mendapati kedatangan pasutri ke rumahnya. Padahal kepalanya masih terasa berat sekali karena efek minum terlalu banyak tadi malam.


Sedangkan Austin. Pria itu terdiam seribu bahasa disana.  Dengan berat hati pria itu mengabulkan permintaan Fany. Pria itu akhirnya membawa sang istri berkunjung ke rumah si benalu. Tadi pagi pada saat ia hendak pergi ke kamar sebelah, Fany langsung menangis membuat Austin tidak tega melihatnya.


“Enak?”


Fany mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaan Charles. Hal itu membuat Austin menatap malas ke arah pria itu.


“Maaf. Tidak bisa datang ke rumah hari itu. Mamaku tiba tiba menyuruhku untuk pulang menemuinya,” ujar Charles.


‘Sekalian saja jangan kembali ke sini.’ Batin Austin.


“Tidak masalah. Lagian aku sudah mendapatkan apa yang ku inginkan. Terima kasih.” Fany tiba tiba ingin memeluk Charles karena saking bahagianya.


Mata Austin langsung membulat, tangannya refleks menarik lengan wanitanya agar tidak berbuat macam macam.


“Peluk? Jangan salahkan aku kalau kepala Charles akan hilang disini,” ancam Austin.


“Aku masih bisa mentolerinya saat kau mengatakan hanya ingin makan kue buatannya, tidak memberinya pelukan.” Austin sepertinya marah.


“Ya sudah. Kalau begitu kau saja yang kupeluk.”


Fany menjatuhkan dirinya ke dalam dekapan Austin sehingga mampu membuat api amarah yang tadinya sedang tersulut kini sudah padam kala Fany memeluk pria itu.


Sedari tadi Charles menyaksikan itu hanya bisa tertawa dalam diam, ia tau kalau Austin tidak serius dengan ancamannya. Ia hanya sedang mengertak Fany. Pria itu berkata seperti itu karena cemburu padanya. ‘Dasar pria posesif akut,’ rutuk Charles dalam hatinya.


***


Malam hari Yasmin berlari dengan ketakutan. Hugo. Pria itu berhasil menemuinya lagi.


"Kenapa kau menghindari kami, huh?" Ujar Hugo. Dia tersenyum karena berhasil menemukan mangsanya.


“Kemana pria yang sudah menolongmu itu? Kali ini ku pastikan kau tidak akan selamat. Ayo ikut.” Hugo menarik paksa Yasmin yang tengah berupaya melakukan pemberontakan.


“Lepaskan aku brengsek.” Ujar Yasmin.


Hugo langsung menampar pipi Yasmin. “Diam. Kalau kau ingin nyawamu aman.” Lelaki  itu terlihat sudah muak.


“Kau harus ikut bersamaku,” ujarnya.


“Apa yang ingin kau lakukan padaku?”


“Masukan dia kemobil,” perintah hugo pada anak buahnya. Mereka pun bergegas membawa gadis itu kedalam mobil dan segera pergi meninggal lokasi tersebut.


Ternyata aksi mereka di lihat oleh seseorang. “Tuan. Bagaimana?” John bertanya.


“Ikuti mereka,”Ujar Charles.


Sudah beberapa menit mengekori mobil yang ada di depannya, kini mobil Charles memasuki kawasan sebuah club miliknya. Alis Charles sebelah terangkat ketika melihat beberapa lelaki itu mengajak paksa gadis itu masuk kedalam Club. Dia Yasmin. Hal itu membuat Charles penasaran. Kenapa wanita itu diseret paksa oleh beberapa pria.


Ada masalah apa Yasmin dengan para pria itu. Seakan tau kalau gadis itu dalam bahaya. Charles segera memasuki club miliknya, “kau harus membayarku berapa, nona?” Gumam Charles sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seperti dikejar waktu.


“Sebenarnya aku lagi sibuk? Tapi aku masih punya rasa manusiawi untuk menolongmu?”


Suara dentuman musik terdengar di telinga Charles. Dia berjalan menelusuri area club itu dan seketika manik matanya  mengarahkan  pada beberapa wanita yang sedang menari poledance dengan erotis membuat Charles ingin bergabung kesana dan menyaksikan lebih dekat.  Tapi niatnya kesini bukan untuk itu. Dia mencari kemana  para lelaki itu membawa sang gadis pergi.


Madam Margaret. Mucikari dan penyedia stok wanita malam di club itu. Charles mengingat wanita berumur itu. James sering menceritakan tentang madam itu padanya. Dengan segera dia pergi kesana. Dan benar saja, Charles melihat mereka yang terlihat sedang berbicara pada Madam Margaret. Sedangkan sang gadis terduduk dengan keadaan terikat.


Charles mendekat dan dengan segera melayangkan beberapa bogeman pada bos lintah darat itu.


“Charles.” Madam itu terkejut. Wanita itu mengenal pemilik club itu.


“Dia mencuri kekasihku. Kurang ajar. Sialan kau.” Charles lagi-lagi memberi pukulan pada lelaki itu.


“Sayang. Maaf aku sedikit terlambat. Jika saja aku tidak melihatmu saat dicuri tadi, mungkin aku akan merutuki diriku. Maaf.” Charles berkata seraya melepaskan ikatan pada gadis yang tengah kebingungan itu.


“Diam dan jangan banyak bicara kalau kau ingin selamat,” bisik Charles.  Dalam kebisuan gadis itu membalas perkataan pria yang ada di depannya itu. Gadis itu berharap banyak agar pria itu membawanya keluar dari tempat haram ini.


“Kenapa kalian menjual kekasih Charles padaku? Kalian ingin menghancurkan usahaku?” Madam Margaret marah.


“Orangtua gadis itu memiliki utang pada kami dan dia tidak bisa membayarnya sekarang. Jadi kami berencana menjual putri asuhnya. Kami tidak tau kalau dia kekasih dari pria itu,” ujar lelaki tersebut sambil sesekali meringis kesakitan.


Charles langsung mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Dia melemparkan selembar cek dengan nominal angka yang cukup banyak. Gadis itu membelalakan matanya. Itu bahkan melebihi 3 kali lipat dari utangnya.


“Kau.” Tunjuknya pada madam Margaret.


"Segera urus mereka. Atau aku benar-benar akan membuatmu jatuh miskin,” ancam Charles pada Margaret.


Margaret tentu saja terkejut. Dia tidak mau jatuh miskin. Dengan segera dia menyuruh bodyguard yang berjaga di luar ruangannya untuk menangkap ketiga pria itu dan segera membereskannya.


Charles membawa gadis itu keluar dari ruangan di susul dengan beberapa bodyguard yang menarik paksa orang-orang yang sudah membuat usaha margaret terancam hancur.


***


“Terima kasih tuan. Aku akan segera membayar uang tuan.” Yasmin menunduk mengungkapkan rasa terima kasihnya.  Dia sedikit pusing kala mengingat angka nominal yang tertulis di cek itu. Bagaimana dia akan menggantinya?


“Tidak perlu.”Jawab Charles.


Yasmin terkejut.“H-he. Maksudnya?” Dia tidak mengerti.


Tidak memberi jawaban, justru pria itu malah pergi memasuki mobil yang sedari tadi ada didekat mereka dan melaju pergi menjauh dari Yasmin.


“Bagaimanapun. Terima kasih karena sudah menolongku,” ujar Yasmin terdengar tulus. Yasmin ingat. Pria itu adalah tamu yang berkunjung ke tempat Austin.


Yasmin pulang ke mansion. Delila sudah tidur. Ia sangat mensyukuri itu. Dengan segera ia berlari ke kamar untuk menghindari orang baik yang sudah mengijinkan dia tinggal disitu.


***


To Be Continued


Terima kasih sudah membaca novel ini 🙏


Silahkan tinggalkan jejak kalian dengan cara memberi Like Vote serta Komentar


Salam manis dariku


Insani Syahputri


^^^19 Maret 2022^^^