I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 38



Sebelum Baca Beri Vote dulu Teman teman


Happy Reading


***


Sesilia sudah kembali ke Tokyo. Saat ini Sesilia tengah berada di laboratorium bersama para temannya dan Profesor lainnya.


Tapi disaat semua teman-temannya sibuk meneliti, Sesilia nampak hanya terdiam saja.


Pikirannya seolah tak berada ditempatnya saat ini. Wajahnya juga terlihat murung. Ia tidak jadi menaghabiskan waktu untuk berlibur. Alasannya karena Austin tidak jadi ikut bersamanya. Pria itu ternyata mencintai Fany yang sekarang masih menyandang status sebagai istri pria itu Sepertinya fakta itu membuat Sesilia stres yang mendalam bagi dirinya. Kehilangan semangat dan seolah tak memiliki tujuan hidup lagi.


“Mereka tidak jadi bercerai,” gumam Sesilia sambil tertawa renyah karena melihat nasibnya yang begitu pahit sekali menerima keadaan yang mana Austin sudah tidak mencintainya lagi.


Setelah waktu istirahat tiba, Sesilia memilih menyendiri di ruang lab itu dan temannya bernama Arnorld Reita pun menghampirinya. Pria blesteran Jepang Amerika.


"Ada apa? Apa ada masalah sampai kau terlihat murung seperti ini?" Tanya Arnold.


“Tidak. Aku baik baik saja,” balas Sesilia.


“Kau harus bersemangat. Jangan lesu seperti ini.” Arnorld menyarankan agar Sesilia harus bersemangat dan berkonsentrasi supaya dia cepat mengambil gelar profesornya.


“Aku ingin bercerita padamu,”


“Baiklah. Aku akan menjadi pendengar setiamu disini. Sini coba cerita padaku,” Arnold duduk di lantai tepat disamping Sesilia.


Sesilia meletakkan kepalanya di bahu pria itu, dia butuh sandaran. "Aku memiliki seorang kekasih. Dulu kami saling mencintai. Saat aku kembali pulang, ternyata dia sudah menikah. Kenyataan pahit yang kuterima sekarang, pria itu malah sangat mencintai istrinya." Ucap Sesilia.


"Bagaimana bisa mereka menikah?" Tanya Arnold.


Sesilia mencerita kejadian yang terjadi pada Fany dan Austin yang tidak sengaja dan melakukan kesalahan yang fatal sehingga membuat mereka harus terhubung dalam sebuah ikatan pernikahan.


"Mungkin itu sudah takdirnya wanita itu untuk bersama dengan kekasihmu. Lupakan dia," tutur Arnold.


Sungguh sebuah saran yang membuat Sesilia merasa jengkel.


"Aku sudah melakukan banyak cara agar dia dan istrinya terpisah, tapi tetap saja mereka tidak bercerai." ucap Sesilia.


"Kan, aku sudah bilang kau harus melupakannya. Kau harus ingat sekuat kuatnya kau menahan seseorang itu jika dia bukan jodohmu, dia akan tetap pergi." Ucap Arnold.


"Begitu juga dengan wanita itu. Meskipun segala cara kau lakukan untuk memisahkan mereka, jika mereka memang di takdirkan untuk bersama, kau tetap tidak akan bisa memisahkan mereka. Kau harus ingat! Jodoh dan semua takdir kita sudah ditentukan oleh Tuhan, Sesilia. Kita tidak bisa untuk mengubahnya selain untuk meneriman itu semua." ucap Arnold.


"Apa yang harus aku lakukan, Arnold. Melupakan? Aku rasa, aku tidak bisa melakukannya.” ucap Sesilia.


"Kau pasti bisa. Memang semua butuh proses. Selama proses itu berlangsung cobalah untuk membuka hati untuk seseorang lagi," ucap Arnold.


Sesilia menjawab," Bagaimana aku bisa hidup dengan hari-hari yang akan kujalani ke depannya? Hari-hari yang akan terasa berat bagiku. Aku takut tak akan bisa melakukan itu. Aku tak bisa melupakannya." Sesilia bimbang. Arnold yang merasakan itu langsung mengusap pundak Sesilia pelan untuk menyemangati wanita itu.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat air mata Sesilia langsung jatuh.


Sesilia tak kuasa menahan air matanya. Dia memegang dadanya yang terasa penuh sesak karena luka.


Sesilia melanjutkan kalimatnya kalau dia rasanya tidak tahan lagi, "Jika saja waktu bisa diputar, aku pasti tidak akan memilih untuk pergi kesini dan pasti akan bersamanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan aku tidak bisa mengubahnya lagi. Kau benar, Aku harus melupakannya." Sesilia pun nangis terisak di dalam dekapan Arnold. Pria itu sengaja memeluk Sesilia untuk memberi rasa nyaman pada wanita itu. Sesilia butuh sandaran seseorang untuknya.


‘Kau harus melakukannya Sesilia. Kau harus melupakan pria itu dan membuka hatimu lagi untuk seseorang. Kau tahu sebenarnya aku sangat mencintaimu. Disaat kau sudah bisa melupakannya dan menerima orang lain masuk dalam hatimu, maka aku akan segera menyatakan perasaanku padamu pada saat itu juga.’ batin Arnold sambil mengelus rambut Sesilia untuk menenangkannya..


🌷🌷🌷


Keesokan pagi, Austin terbangun dari tidurnya. Dia melihat Fany yang sedang duduk di ranjang tengah menatapinya.


"Good morning." Ucap Austin dengan suara terdengar serak, suara khas orang bangun tidur dan itu terdengar cukup seksi ditelinga Fany.


"Sudah bangun. Ayo cepat mandi. Kasian Roy sudah menunggmu." Ucap Fany sambil menarik tangan Austin agar suaminya itu cepat bangun.


“Mandiin,” tutur Austin manja. Ia masih berbaring di sana.


“Tidak. Aku ingin membuat sarapan untukmu. Cepat mandi sana,” Fany sedikit berteriak.


“Oke. Fine.” Austin mendengus kesal. Lalu dengan malas ia bangkit dari tidurnya dan duduk diranjang itu.


"Ayo cepat mandi sana. Waktu terus berjalan Austin." Ucap Fany.


‘Cerewet sekali.’


“Sini dulu,” Bukannya mendengarkan perkataan Fany. Austin malah mendekati wajah istrinya dan menunjuk bibirnya sendiri.


Fany bingung dan tidak mengerti dengan tingkah Austin pagi ini.


"Ada apa?" Tanya Fany tidak tahu maksud Austin menunjuk bibirnya.


"Beri aku morning kiss," ucap Austin.


“Antara otakmu yang sedikit lamban atau kamu yang benaran polos,” Austin kesal karena ternyata istrinya lamban sekali dalam mencerna isyarat darinya. Tapi, sebenarnya Austin sangat senang melihat kepolosan istrinya itu.


Fany yang mendengar permintaan suaminya hanya tersipu malu, lalu berubah menjadi kesal karena mengatainya lamban.


"Tidak. Kau cepat mandi. Aku mau masak, nanti kau terlambat Austin."


"Baiklah. Kalau kau tidak mau, aku lebih baik tidur saja," Austin kembali berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia pun memejamkan matanya.


"Oh come on Austin. Kau jangan kekanak-kanakan. Kau sudah mau jadi seorang ayah, tapi tingkahmu sekarang childish sekali," ucap Fany.


"Biarkan saja childish. Memang salah jika aku minta ciuman darimu. Tidak kan? Kau saja yang tidak mau menuruti permintaan seorang suami," ucap Austin bersungut sungut didalam selimut sana.


Fany menghela nafasnya melihat kelakuan Austin yang selalu membuatnya harus mengelengkan kepala.


Fany berjalan mendekati kasur tempat Austin berbaring. Tangannya terulur menarik selimut yang menutupi tubuh Austin.


“Ada apa? Aku tidak mau mandi,” Austin lalu bergerak untuk membelakangi Fany.


Fany yang kesal langsung menarik pundak Austin sehingga pria itu kini menatap kearahnya.


Austin terkejut dan tentu saja senang mendapat perlakuan seperti itu. Dengan spontan ia mengigir bibir bawah Fany, sehingga wanita itu meringis dan membuka mulut. ******* demi ******* pun dilancarkan dengan gesit membuat Fany sedikit tidak bisa untuk mengimbangi aksi Austin.


Ciuman membara itu pun berlanjut hingga Fany merasa sesak karena kekurangan oksigen akibat ulah suaminya itu.


"Sudahkan. Sekarang kau cepat mandi!"Perintah Fany setelah ciuman itu berakhir.


"Iya-iya. Terima kasih." Austin tersenyum bahagia.


"Hmm. Ya sudah, sekarang kamu cepat pergi mandi,"


“Baik nyonya.” Austin pun beranjak dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit lamanya didalam kamar mandi, akhirnya Austin keluar dan terlihat sudah selesai mandi.


“Aku pikir kamu tertidur lagi didalam sana. Atau melakukan hal lain,” tutur Fany seperti itu lantaran Austin lama sekali berada didalam kamar mandi. Ia pun menyediakan pakaian untuk Austin kenakan.


“Melakukan hal lain apa? Aku tidak mengerti, sayang.” Pancing Austin. Ia sengaja menggoda istrinya itu.


Fany mencoba mengabaikan perkataan Austin. Hal itu membuat Austin menatap intens ke arah Fany yang tengah memilih setelan jas yang akan dia pakai hari ini. Austin pun mendekati Fany dan memeluknya dari belakang.


“Hal lain apa? Hmm. Bicara yang jelas Fany.” Austin mengigit pelan daun telinga Fany membuat wanita itu merasa geli dan merinding.


Tidak tahan mendapat perlakuan seperti itu, Fany langsung mendorong tubuh Austin.


“Kamu kenapa? Aku hanya bercanda saja tadi. Itu karena kamu lama sekali di dalam kamar mandi. Sarapanmu saja sudah selesai kubuat, tapi kau masih betah di dalam sana,” Fany kesal.


“Marah ya.” Austin mendekati Fany.


“Mau apa lagi?” Tanya Fany garang.


"Tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu." Ucap Austin lalu membawa Fany ke dalam pelukannya.


"Austin aku merasa sesak. Kasihan anak kita jika kau memelukku seperti ini," ucap Fany lantaran Austin memeluk dengan erat.


"Maaf." Austin melepaskan pelukannya.


"Ini. Pakai dengan cepat! Kamu pakai di dalam kamar mandi. Awas jangan lama." Ucap Fany sambil menyodorkan pakaian yang dia dipilih untuk Austin.


Austin lalu mengambilnya dan berbalik kearah kamar mandi. “Perintah segera dilaksanakan Nyonya.


"Nyonya... Nyonya. Cepat. Aku tunggu disini." Ucap Fany.


"Apa kamu ingin aku memakainya disini? Biar lebih cepat. Kan ada kamu yang bantuin nanti,"


Fany meraih lengan Austin. Bermaksud untuk membawa pria itu agar segera pergi ke kamar mandi. Tapi pendangan Fany tertuju pada lengan Austin membuat wanita itu sedikit khawatir.


"Lenganmu ada lebamnya, Austin. Apa kau tidak merasa kesakitan?" Ucap Fany merasa khawatir saat melihat luka lebam pada lengan kekar Austin.


"Tidak sakit. Kau jangan khawatir! Paling 3-4 hari lebamnya akan berkurang ." Austin berkata seolah terlihat biasa saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan


"Tidak bisa dibiarkan. Kamu tunggu disini," ucap Fany.


Austin melihat Fany keluar dari kamar. Ternyata wanita itu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa es dalam kulkas.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Fany langsung pergi ke kamar lagi. Austin terlihat bingung saat melihat istrinya membawa beberapa es yang terisi pada wadah kecil itu.


"Itu untuk apa?" Tanya Austin.


"Duduk saja. Pokoknya jangan banyak tanya! Karena aku akan mengompres luka memar pada lenganmu," perintah Fany.


Austin hanya bisa menuruti perkataan Fany dan langsung duduk di pinggiran kasur.


Fany membungkus beberapa es batu dengan handuk kecil yang dia ambil dalam lemari, dan meletakkannya di lengan Austin untuk mengompres luka memar itu.


“Pegang.” Fany menyuruh Austin untuk memegang benda itu. Dengan patuh, Austin menurutinya.


"Sampai berapa lama aku akan seperti ini? Pegal tau." Tanya Austin.


"Itu makanya aku menyuruhmu untuk memegangnya. Bersabarlah. Paling selama 15 – 20 menit biar bengkak dan nyerinya bisa berkurang," ucap Fany.


"Baiklah. Jika aku seperti ini terus, aku bisa terlambat ke kantor.”


Austin berpikir sejenak, “tapi tidak masalah jika aku tidak bekerja hari ini, karena kita bisa bermain-main seperti ini di sini," Austin berkata sambil tertawa cengengesan.


Fany langsung memukul lengan Austin saat Austin mengatakan seperti itu jika dia tidak pergi bekerja.


"Auw... Sakit. Nanti lenganku semakin tambah luka lebamnya dan kamu pasti akan mengompresnya selama 20 menit lagi. Setelah itu aku benar-benar tidak akan bisa berangkat ke kantor karena ulahmu," ucap Austin sambil menahan sakit. Sebenarnya bekas pukulan dari ibunya semalam memanglah sakit tapi Austin menahannya dan membiarkannya begitu saja. Dia sengaja menahannya agar terlihat gentle dihadapan Fany.


"Maaf ya. Salah sendiri kenapa harus bicara seperti itu," ucap Fany sambil mengelus lengan Austin dengan pelan.


‘Ya tuhan. Apa salah jika aku menggoda istri sendiri?’ Ucap Austin dalam hatinya.


🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir untuk membaca


**To Be Continued**


Jangan lupa beri Like dan vote untuk mendukung karyaku ya


Dont forget


**Like dan komentar kalian**


Saranghae semuanya


Insani Syahputri


^^^24 Feb 2022^^^