
...Sebelum baca Vote Dulu...
...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...
(Sebelumnya)
"Saya tidak peduli siapa yang salah di sini tapi yang jelas sekarang Ibu sudah bertekad dan memutuskan untuk menikah kalian berdua." Ucap Delila dengan tegas.
"Apa!" Ucap Austin dan Fany secara serentak.
***
"Austin. Kau sekarang sudah tau kalau dia tengah mengandung anakmu. Kau juga salah disini." Ucap Delila pada Austin.
"Fany. Ibu minta maaf karena kelakuan Austin." Ucap Delila pada Fany.
"Tidak bibi. Semuanya itu tidak kesalahan Austin saja. Saya juga salah disini." Ucap Fany.
"Saya tidak peduli siapa yang salah sekarang. Yang jelas sekarang Ibu sudah bertekad dan memutuskan untuk menikah kalian berdua.“ Final Delila.
"Apa!" Ucap Austin dan Fany secara bersamaan.
"Apa yang Ibu katakan?" Tanya Austin mendekati Ibunya.
"Ibu hanya ingin kalian segera menikah. Ibu tidak ingin kalau calon cucu Ibu lahir. Orangtuanya tidak memiliki status yang jelas." Ucap Delila.
“Ibu ayo keluar sebentar,” ajak Austin pada Ibunya untuk keluar dari kamar. Dia ingin membicarakan sesuatu pada Ibunya.
Mereka pun keluar dari kamar itu. Austin tidak sadar kalau dirinya lupa menutup pintu itu dengan baik sehingga terlihat masih ada sedikit celah dari pintu. Itu karena dia terlalu terburu-buru.
“Apa ibu sadar dengan yang ibu katakan?” Tanya Austin saat mereka sudah ada diluar kamar.
“Ya. Ibu sadar? Apa ada yang salah?”
“Yang benar saja, Bu. Apa ibu tidak salah?” Austin tidak mengerti jalan pikiran ibunya.
"Benar. Ibu tidak salah menyuruhmu untuk menikahinya karena menurut Ibu dia wanita baik baik. Terlebih Ibu juga sangat menyukainya." Ucap Delila.
"Aku tau kalau Fany itu wanita baik-baik tapi Ibu aku tetap tidak bisa menikahinya." Ucap Austin.
"Kenapa kau tidak bisa menikahinya?" Ucap Delila.
"Ibu tau sendiri kan kalau aku sudah memiliki kekasih. Aku sangat mencintai Sesillia. Bagaimana bisa Ibu menikahiku dengan Fany." Ujar Austin.
"Austin. Ingat dia sedang mengandung anakmu. Apa kau ingin anakmu yang ada di kandungan Fany tidak memiliki seorang." Ujar Delila.
"Apa bayi itu benar-benar anakku?" Tanya Austin meragukan bayi yang ada didalam kandungan Fany.
"Kau meragukan bayimu?” Tanya Delila. Dia marah terhadap putranya yang terlihat seperti bajingan saat ini. Austin hanya diam saja.
"Fany mengatakan kalau dia hanya melakukan itu denganmu saja. Gadis polos itu tidak berbohong. Ibu dapat melihat dari tatapannya ketika berbicara dengan Ibu.” Ucap Delila.
“Kita bisa mengugurkan janin itu. Aku akan membayar berapapun yang dia minta.” Ucap Austin.
“Apa kau memang tidak mau bertanggung jawab? Apa kau ingin Fany menggugurkan bayi berdosa itu? Fany juga berpikir untuk melakukan arborsi." Lanjut Delila.
"Arborsi?" Tanya Austin.
"Iya. Fany pernah mengatakan kalau dia ingin gugurkan kandungannya. Dia sangat yakin kalau kau tidak menginginkan bayi itu." Ucap Delila.
"Ibu tau tujuannya melakukan arborsi. Itu karena dia ingin menghindari perkataan orang-orang akan akan mencelanya jika Fany saat mengetahui dirinya tengah hamil tanpa ada status pernikahan.” Ucap Delila.
"Tapi aku tidak punya pilihan lain lagi Ibu. Aku sangat mencintai Sesilia." Ucap Austin.
"Jadi kau ingin mengugurkannya?" Tanya Delila. Austin hanya diam saja.
"Ibu tak habis pikir Austin. Ternyata kau manusia yang tidak memiliki hati nurani." Ucap Delila.
"Sekarang terserah kau Austin. Jika kau ingin melakukan itu ibu akan merasa sangat kecewa padamu. Jangan harap kau memanggilku lagi dengan sebutan "Ibu" karena saya tidak memiliki anak sepertimu yang tidak punya hati nurani. Kau ingat Austin. Bayi itu tidak bersalah sedikitpun. Itu kesalahanmu yang menempatkannya pada rahim Fany." Ucap Delila sambil menitikan air matanya.
"Ibu merasa menyesal pernah melahirkanmu di dunia ini. Ibu juga yakin Ayahmu disana juga pasti akan merasa sedih melihat anaknya tumbuh menjadi pria bajingan dan tidak bertanggungjawab.” Ucap Delila. Ia berjalan masuk kembali kekamar meninggalkan Austin yang diam berdiri terpaku.
Fany terkejut saat melihat ibunya Austin sudah masuk kekamar itu dengan keadaan menangis.
“Bibi,”panggil Fany pelan. Tapi Delila hanya mengambil tas miliknya lalu keluar dari kamar itu lagi meninggalkan apartemen milik Austin.
Sebenarnya Fany mendengar semua percakapan Austin dan Ibunya. Tadi dia berjalan mendekati pintu kamar itu. Suaranya mereka cukup jelas terdengar ditelinga Fany. Austin tidak menginginkan bayi itu.
Fany pun tidak ingin menjadi orang yang egois. Dia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang. Fany sudah yakin dengan keputusannya. Ia mau tak mau harus menggugurkan bayi ini.
"Maafkan Ibu sayang." Fany mengelus perut ratanya.
Austin tiba-tiba masuk kamarnya. Atmosfer diam melingkupi mereka berdua yang kalut dengan pikiran masing-masing.
“Austin.” Mendadak bibir Fany terasa keluh untuk mengatakan sesuatu.
“A-aku tidak akan memaksamu untuk bertanggungjawab,” lanjut Fany. Tapi perempuan itu menatap takut kearah Austin yang hanya diam tak menanggapi perkataanya. Fany langsung berjalan kearah pintu. Dia akan meninggalkan apartemen itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Austin saat menangkap presensi Fany hendak keluar dari kamarnya.
"Aku akan pergi ke rumah sakit." Balas Fany.
"Untuk apa?" Tanya Austin.
"Aborsi. Semakin cepat semakin baik. Kau tidak perlu bertanggungjawab. Kau sudah memiliki kekasih dan aku juga tidak ingin merusak hubungan kalian. Jadi aku putuskan untuk menggugurkannya Austin." Ucap Fany berpura pura tersenyum.
Sebenarnya dia tidak ingin mengugurkan anaknya tapi dia tidak ingin kalau nanti anak itu akan menjadi penghalang hubungan Austin dengan kekasihnya.
Austin hanya menatap ke arah Fany yang tengah tersenyum dan terlihat tenang dan itu membuat Austin semakin frustasi apalagi saat mengingat perlakuan Ibunya tadi.
"Aku akan menemanimu." Ucap Austin. Fany pun menuruti perkataan Austin karena dia ingin Austin melihat anaknya untuk terakhir kalinya.
Mereka pun pergi kerumah sakit. Austin membawa Fany kerumah sakit yang lain, tidak ke rumah sakit tempat Andrew bekerja. Akan sangat bahaya jika Fany dibawa kesana.
Tiba-tiba terdengar suara perawat memanggil nama Fany kemudian berkata kalau kini giliran mereka.Austin dan Tiffany pun pergi menuju ruang dokter.
Fany tengah melakukan pemeriksaan kandungannya terlebih dahulu. Dokter meminta Fany jangan gugup. Di layar tampak janinnya yang masih kecil. Kecil sekali. Hanya berbentuk gumpalan. Dokter menjelaskan kalau janin itu terlihat sehat dan itu membuat Fany merasa senang.
Austin pun ikut melihat ke layar dan berkata pada dokter apa bayinya sekecil ini? Dokter itu pun hanya tersenyum.Dokter juga menjelaskan kalau janin biasanya akan mengenali suara orangtuanya.
Tiba-tiba terdengar suara aneh.seperti Suara detak. Kemudian Austin bertanya pada dokter suara apa itu? Dokter menjelaskan kalau itu suara detak jantung bayi mereka
Austin pun menatap layar monitor dan melihat bahwa benar ada tanda detak jantung bayinya disana. Detak jantung bayinya yang terdengar nyaring dan menggugah perasannya. Bayinya yang masih sangat kecil dan suara detak jantung kehidupan.
Fany juga merasakan hal yang sama dan membuatnya tak tega melakukan aborsi. Terlebih dia mendengar suara detak jantung bayinya. Ya. Bayinya hidup dan sekarang dia malah ingin menggugurkan bayinya ini.
"Apa kalian yakin untuk menggurkan bayi ini?" Tanya dokter itu untuk memastikan keputusan mereka.
Dokter itu sengaja untuk memeriksa kandungan Tiffany terlebih dahulu karna dia pikir kalau mereka mendengar suara detak jantung anak mereka akan membuat mereka berubah pikiran.
"Iya." Ucap Austin masih dalam pendiriannya. Dokter itu kini melihat Fany dan menghela nafasnya karena gagal mengubah keputusan mereka.
Austin dan Tiffany sepertinya ga peduli dengan tergugahnya perasaan mereka akan janin tak bersalah ini. Mereka tetap akan melakukan aborsi. Karena kehamilan ini tak disengaja melainkan karna akibat hubungan yang terjadi di bawah pengaruh alkohol.
Austin hanya bisa menatap Fany. Dokter meminta Fany tanda tangan sebelum operasi. Dokter itu keluar sebentar meninggalkan pasangan itu.
Fany menatap kertas yang ada dihadapannya.
“Austin. Aku sepertinya tidak ingin menggugurkan bayi ini?”
Perkataan Fany sukses membuat Austin Terkejut.”Kenapa? Apa yang sebenarnya kau rencanakan?” Tanya Austin.
“Aku tidak akan meminta pertanggungjawaban darimu. Aku hanya ingin merawat bayi ini. Aku sangat menyayangi bayi tak berdosa ini. Aku mohon biarkan aku merawat dan menjaganya. Aku janji tidak akan mengusik kehidupanmu.”
“Apa aku bisa mempercayaimu?”
“Kau tenang saja. Aku akan pergi jauh dari kota ini.” Ujar Fany.
“Tidak. Keputusanku sudah Final. Aku tidak bisa mempercayaimu. Tandatangani itu,”perintah Austin. Austin keluar dari ruangan itu. Fany pun hanya mendesah pelan lalu menandatangani surat prosedur itu.
Kini Tiffany sudah masuk ke ruang operasi dan Austin menunggu di luar.
Dia terlihat sangat frustrasi sekali dan dia teringat dengan Perkataan Ibunya dan Fany. Perkataan mereka tergiang-ngiang dibenaknya.
"Jangan harap kau memanggilku dengan sebutan "Ibu"
"Hal yang Ibu sesalkan didunia ini adalah pernah melahirkan mu ke dunia ini."
"Ayahmu pasti akan sangat sedih melihat Putranya tumbuh menjadi pria bajingan dan tidak memiliki hati nurani."
“Aku tidak akan meminta pertanggungjawaban darimu. Aku hanya ingin merawat bayi ini. Aku sangat menyayangi bayi tak berdosa ini. Aku mohon biarkan aku merawat dan menjaganya. Aku janji tidak akan mengusik kehidupanmu.”
Kalimat terus terngiang-ngiang dipikirannya. Tiba-tiba Austin berdiri dan seolah tahu kalau dia harus menghentikannya.
"Apa anda sudah siap? tanya Dokter itu pada Fany.
"Iya." Jawab Tiffany dengan tenang tapi di dalam hati nya dia sangat tidak menginginkan aborsi itu.
Saat Fany bersiap dioperasi, Austin langsung masuk dan menghentikan semuanya. Fany tersenyum.Dokter itu tidak marah. Dia malah tertawa dan senang dengan keputusan Austin.
Austin membawa Fany keluar dari rumah sakit. Sesampainya di luar rumah sakit Austin memasukkan Fany kedalam mobil dan itu membuat mereka merasa sedikit canggung.
Austin mengambil handphone nya dan menelpon seseorang.
"Halo Ibu. Aku akan menikahi Tiffany seperti yang Ibu inginkan.” Ucap Austin.
"Baiklah saya akan ke sana." Ucap Austin dan mematikan panggilan.
Fany pun terkejut mendengar perkataan Austin yang mengatakan untuk menikahinya. Ia tidak terlalu mengharapkan itu. Membiarkan janinnya tetap ada membuat Fany merasa sangat senang. Tapi Austin mengatakan kalau ia akan menikahinya. Fany tidak tau harus mengatakan apa-apa lagi selain diam tercengang.
Austin mengajak Fany pergi ke suatu tempat. Fany pun setuju. Kemudian keduanya kembali berdiam saat Austin sudah melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Tiba-tiba Tiffany bertanya yang mana itu terus mengganggu pikirannya.
"Apa benar, kau yakin mau menikah denganku?" Tanya Fany dengan hati-hati.
Austin hanya menjawab iya.
Fany tau kalau Austin adalah orang yang baik dan nantinya bisa menjadi ayah yang baik juga bagi anak ini. Tapi, saat ini ada orang yang Austin cintai.
"Tapi aku tidak ingin menikah Austin. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian. Terlebih lagi kekasihmu, aku tau kau betapa kau sangat mencintainya." Ucap Fany.
Austin pun menjawab "Apapun itu kenyataan yang sekarang adalah anak di perutmu adalah anak kita bersama. Kenyataan itu sama sekali tidak bisa dirubah." Ucapnya sambil mengemudi mobilnya.
"Aku sudah jadi pria tidak baik di mata Ibu ku, tapi aku ingin jadi Ayah yang baik untuk anakku. Tentu saja saat ini Sesilia masih satu-satunya untukku. Aku tidak tau berapa banyak waktu yang akan aku habiskan untukmu agar hatiku berpindah padamu. Tapi aku berjanji, setidaknya untuk anak kita, aku akan menjadi Ayah yang baik. Jika kau bisa menerima ini kita akan menikah." Ucap Austin lagi.
Tiffany terharu mendengarnya dan senang saat Austin mengatakan "anak kita".
Dia kemudian menjawab kalau dia juga ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak mereka.
🌷🌷🌷
To Be Continued...
Hai readersku jangan lupa beri tanda jempolnya banyak-banyak ya
Dan jangan lupa komen juga untuk memberiku saran dan ide kalian
Jangan lupa beri vote kalian juga ya
Thank you
Love banyak-banyak untuk kalian
^^^29 Januari 2022^^^